
...WARNING!!!!...
Mohon kebijakan dalam membaca ya... Memang tidak ada adegan yang jelas tapi jika membacanya bisa memikirkan hal-hal lainππ»
Jangan baca ketika lagi puasa ya guys...ππ»
Waktu terus berjalan, acara yang akan di laksanakan itu akan dilakukan besok lusa. Tapi para pekerja mulai bekerja keras menyiapkannya.
Sang Raja yang setiap waktu mengontrol para pekerja. Melihat ada yang tidak bekerja, ia langsung akan memberi hukuman atau pergi dari tempat itu.
Melihat Merlin yang tak jauh darinya. Ia sangat rajin. Tidak ada pekerjaan yang lewatkan sedikit pun. Austin melewati ke arahnya. Hembusan angin membuat rambut merlin berterbangan dan tanpa sengaja menyentuh wajah Austin.
Semerbak wangi dari rambut tersebut bisa di rasakan oleh Austin. Langkahnya sempat terhenti. Merlin seketika berbalik dan terkejut akan kehadiran Austin.
"Ah... Maaf yang mulia! Rambut saya... Mengenai wajah anda" Kata Merlin gugup.
"Tidak apa" Austin melanjutkan perjalanannya lagi.
"Huft... Untung kau selamat Merlin! Kalau tidak... Kehk!" Ujar teman sebayanya.
Raut wajah Merlin terlihat tegang. Ia tau maksud dari temannya itu. Ia pun melanjutkan pekerjaannya.
...****************...
Hampir setiap saat Austin terus memantau Merlin dengan alasan melihat para pekerja yang lain. Ia merasa terpancing dengan kecantikannya. Ia sempat berpikir akan menjodohkannya dengan pangeran.
"Ayahanda! Setelah pesta ini kita harus pergi ke makam ibunda kan?" Kata Claude pada Austin di ruang kerjanya.
"Hmm... Tentu saja kita akan ke makam ibu mu. Ohiya bagaimana kabar tunangan mu? Lama aku tidak berjumpa dengannya?" Kata Austin.
Ini pasti Raja dan ratu sebelum menikah! Batin Mira.
"Ah.. dia baik-baik saja. Besok dia akan ke sini"
"Hmm... Kenapa kita tidak mempercepat saja pernikahan mu?" Sontak pertanyaan itu membuat Claude malu.
"Ap- Apa maksud ayah? Aku hanya... Masih ada yang harus ku kerjakan! Lagipula dia masih belum siap juga"
Hahaha... Wajah malu nya sangat lucu. Pasti Raja sangat mencintai ratu. Batin Mira.
"Huft... Kau ini! Apa dia mempunyai lelaki yang dia suka? Kalian bahkan baru sekali bertemu. Aku khawatir dia memiliki lelaki lain"
"Entahlah..." Wajah Claude berubah sedih mendengar hal itu.
"Aku memiliki kenalan seorang gadis yang sangat cantik. Jika kau mau akan ku kenalkan dia padamu"
"Siapa itu ayah?"
"Besok kau bisa melihatnya. Dia seorang pembantu di istana ini"
"Apa?! Ayah menyuruh ku menikahi seorang pembantu? Bagaimana bisa?" Claude mulai tidak mengerti pikiran ayahnya.
"Tenang dulu Claude! Memang kasta kalian sangat berbeda, tapi bukankah kalian harus memikirkan anak-anak kalian? Keturunan mu harus memiliki tampang yang cantik dan tampan, jika itu terjadi juga harus di lahirkan dari wanita yang cantik"
"Tapi aku... Aku tidak mau Ayah, untuk saat ini aku tidak ingin menikah terlalu cepat. Aku akan memberitahu keluarga Effenberg" Claude pergi meninggalkan ruangan ayahnya.
"Huft... Anak itu! Apa yang ia pikirkan?"
Hari yang ditunggu-tunggu pun di mulai. Pesta di laksanakan dengan sangat megah dan meriah. Kalangan bangsawan dari kelas atas sampai bawah menjadi tamu di istana. Mereka saling menikmati sajian yang telah di siapkan.
Austin tengah bersiap-siap di ruang kerjanya. Ketika ingin keluar ia baru sadar sepatu yang telah disiapkan masih berada di kamarnya.
Asisten Austin masih memantau keadaan di bawah. Akhirnya seseorang masuk ke ruang kerjanya. Terlihat Merlin datang membawa sepatu milik Austin.
__ADS_1
"Permisi yang mulia, Tuan Luke meminta saya membawakan sepatu anda" Kata Merlin lalu meletakkannya di atas meja.
Ternyata Luke yang merupakan asisten Austin, teringat akan sepatu yang lupa ia berikan. Karena terlalu banyak pekerjaan ia meminta Merlin membawakannya.
"Begitu rupanya. Baiklah pakaikan pada ku!" Perintah Austin. Merlin hanya menuruti perkataan sang raja.
"Kau sangat cantik di antara pembantu yang lain" Kata Austin.
Merlin hanya terdiam. Ia sudah biasa mendengar hal itu.
"Sudah terpasang yang mulia"
Austin berdiri dan keluar dari ruang kerjanya bersama Merlin di belakang.
"Kau! Siapa namamu?" Tanya Austin.
"Na- Nama saya Merlin yang mulia"
"Merlin... Nama yang bagus! Mau kah kau bekerja di bawah ku? Akan ku naikkan gaji mu bulan ini dan seterusnya. Kau tinggal mengikuti perintah ku saja"
Mendengar hal itu Merlin mengangguk setuju. Ia sangat senang gajinya akan di naikkan.
"Baik yang mulia saya akan bekerja dengan giat!" Kata Merlin penuh semangat.
"Hahaha... Baiklah kalau begitu!"
Suasana berganti setelah Merlin akhirnya bekerja di bawah raja. Pekerjaan sedikit berbeda dari sebelumnya. Setiap pagi ia harus membersihkan ruang kerja Austin, membereskan kamar tidurnya serta Claude dan juga membantu tuan Luke jika ada kendala.
"Huft... Agak melelahkan dengan pekerjaan ini. Tapi aku harus semangat! Demi gaji ku yang akhirnya naik.." Gumam Merlin.
Ketika Austin dan Claude sarapan, waktu itulah yang Merlin gunakan untuk membersihkan kamar mereka bergantian. Setelah kamar Austin ia bergegas pergi ke kamar Claude.
Di saat yang bersamaan, Claude menyelesaikan sarapannya dengan cepat dari biasanya karena ada hal yang harus ia lakukan. Ketika ingin masuk ke dalam kamar, betapa terkejutnya melihat Merlin yang sedang berberes di sana.
"Hei! Siapa kau!? Kenapa kau masih di sini?" Pekik Claude. Sontak Merlin menoleh ke arahnya.
"Bukan! Bukan itu yang ku maksud! Kenapa kau sangat lamban sekali! Kau harus selesai sebelum pemilik kamar kembali!" Kata Claude.
"Tapi... saya tidak tau, maaf pangeran"
"Ada apa ini!" Suara berat itu muncul dari belakang Claude. Austin yang juga baru selesai sarapan melewati kamar Claude dan mendengar keributan.
"Apa gadis ini yang ayah maksud?" Bisik Claude pada Austin setelah kesalahpahaman terselesaikan.
"Iya, bagaimana kau? menyukai--"
"Tidak! Dia biasa saja! Bagiku dia hanya gadis kotor yang tak tau malu" Kata Claude. Merlin merasa tidak terima di Katai seperti itu. Tapi ia hanya terdiam.
"Claude! Kau tidak boleh seperti itu! Huft... Kau bilang ada yang ingin di selesaikan"
"Baiklah aku pergi!" Claude pergi meninggalkan Austin dan Merlin di sana.
"Maafkan dia" Kata Austin.
"Ah tidak apa-apa yang mulia justru saya yang harusnya meminta maaf" Kata Merlin.
Bagaimana bisa raja meminta maaf pada ku? Batin Merlin.
"Tapi bagaimana menurutmu dengan pangeran? Apa kau tertarik?" Kata Austin. Pertanyaan itu sangat aneh bagi Merlin. Ia hanya bisa menjawab jujur dan tidak melukai hati raja.
"Beliau sangat tampan, tapi saya kurang tertarik yang mulia"
"Haha... Syukurlah..." Austin pergi meninggalkan Merlin setelah mengatakan hal itu. Sedangkan Merlin hanya tercengang mendengarnya.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat. Merlin melaksanakan tugasnya dengan baik. Karena sudah lama tidak bertemu Ken ia pun memutuskan pergi menemuinya.
TRANG! TRANG!
Terlihat Ken yang masih bekerja di sana. Merlin setia menunggu sembari membawakan makan siang untuk mereka nanti.
Dari kejauhan Ken melihat Merlin. Senyum sumringah muncul di wajah Ken. Ia pun menghampirinya.
"Hahh... Merlin? Sedang apa di sini?" Tanya Ken.
"Aku... Membawa makanan. Kerjanya sudah selesai?"
"Iya, kalau gitu ayo cari tempat yang nyaman" Kata Ken yang padahal saat itu belum waktunya jam istirahat. Merlin dengan senang hati bersama Ken pergi ke tempat biasa mereka.
Mereka terlihat senang sekali menghabiskan waktu bersama. Apalagi Ken memiliki perasaan pada Merlin. Tapi ia tidak berani mengungkapkan hal itu. Ia tidak tau Merlin juga menyukai dirinya.
Tampak dari kejauhan seseorang melihatnya dari kejauhan. Orang itu langsung datang menghampiri mereka berdua.
"Merlin!" Kata orang itu. Sontak Merlin mencari sumber arah tersebut.
"Ya- Yang mulia?!" Mereka berdua beranjak dari duduknya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah banyak tugas yang harus kau lakukan?" Kata Austin dengan raut wajah datarnya.
"Ah.. Iya yang mulia, tapi..."
"Dan kamu! Bukankah yang lain masih bekerja? Bagaimana kau bisa meninggalkan mereka?"
"Maaf yang mulia, ini salah saya yang mengajak Merlin makan siang" Kata Ken berbohong.
"Ken...?" Gumam Merlin.
"Kembalilah bekerja!" Ken kembali ke tempat kerjanya. Sedangkan Merlin hanya tertunduk mengikuti Austin di belakang.
"Nanti malam aku akan pergi. Cepat kemas barang-barang ku!" Perintah Austin.
"Baik yang mulia" Merlin pergi meninggalkan Austin dan membereskan barang-barangnya. Ada perasaan sedih yang ia rasakan.
Malam itu Austin pergi sehingga Merlin dapat beristirahat lebih cepat. Namun sebelum itu ia harus membereskan kembali kamar Austin setelah membereskan barang-barangnya.
Malam itu sangat sunyi. Para pekerja lain telah menyelesaikan pekerjaannya dan beristirahat. Begitu pula dengan Merlin. Ia bergegas kembali ke kamarnya. Namun ketika ingin membuka pintu, pintu tersebut telah terbuka duluan.
Terlihat Austin yang kembali begitu cepat. Merlin sangat terkejut. Bagaimana tidak, lagi-lagi ia melakukan kesalahan dua kali dengan masalah yang sama.
"Ah.. Yang mulia? Cepat sekali anda kembali?" Kata Merlin sembari mengambil tas yang Austin pegang.
Merlin meletakkan tas itu di atas meja. Dari arah belakang, Austin dengan tiba-tiba memeluk erat tubuh Merlin.
"Yang mulia!? Apa yang anda lakukan?" Kata Merlin panik dengan Tingkah laku rajanya.
"Aku sangat lelah! Temani aku malam ini" Kata Austin.
"Tapi yang mulia, saya tidak bisa- Aaaa!" Austin menggendong Merlin dan menjatuhkannya di atas ranjangnya.
"Apa yang anda lakukan yang mulia?"
"Sudah ku bilang kau harus menuruti perintah ku!"
"Jangan! Ku mohon..."
π€« Mohon kebijakan dalam membaca ππ» terlebih lagi kalau puasaπ jangan ya...
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini π
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi π