
Suara ricuh mulai terdengar dari aula tengah. Hans dan Zack beraksi menumpas para prajurit istana yang telah di kendalikan oleh seseorang.
"Hei Zack! Kau masih bertahan?" Ucap Hans di sela-sela pertarungannya.
"Tentu saja!"
"Tapi ini banyak sekali! Mereka seperti melakukan kloning di setiap orangnya"
"Tidak masalah buat ku!"
Alex terus berlari mendengar suara pertarungan di dalam sebuah aula. Di mana aula itu merupakan tempat singgasana Raja, Ratu, dan juga putra mahkota.
CEKLEK...
Alex melihat Hans dan Zack bertarung melawan para prajurit istana. Dan di kursi itu terlihat seseorang telah memakai mahkota kerajaan.
Siapa lagi kalau bukan Blair yang memang menginginkan tahta tersebut. Blair tersenyum menikmati pertunjukan yang ada di hadapannya.
Apa yang terjadi? Kenapa mereka melawan para prajurit istana? dan lagi kenapa bajingan itu bisa duduk di tempat Raja?! Batin Alex.
...****************...
"Sekarang kau lihat kan? Para prajurit kesayangan mu telah mengkhianati pemimpin... Kasihan sekali" Ucap Blair yang tiba-tiba di belakang Alex.
"Kau mau bergabung atau hanya ingin menonton bersama ku?" Blair yang lain mendatangi Alex lagi. Kini di hadapannya banyak sekali sosok Blair mengerumuni dirinya.
Apa-apaan ini?! Kenapa banyak sekali? Batin Alex.
Langsung saja Alex menebas tubuh Blair dengan pedangnya. Sosok itu seketika lenyap seperti angin. Ia melanjutkan pada Blair yang lain. Hal serupa terjadi pada semua Blair itu.
"Hei Alex! Jangan terperdaya dengan bayangan itu! Sosok asli pasti yang ada di sana!"
"Benar! Jangan membuang-buang tenaga mu Alex!"
Alex seketika sadar bahwa yang ia lakukan hanyalah sia-sia. Sekarang ia hanya fokus pada orang yang tengah duduk menikmati pertarungan itu.
"HIAAA!" Alex berlari cepat ke arah Blair yang merupakan sosok asli.
BUGHH!
Tubuh Alex hampir terpental. Ternyata sekumpulan orang berbaju hitam bersusun mengelilingi Blair untuk melindunginya.
"Hahahahah! Kasihan sekali... Coba saja jika ingin menyentuh ku kau harus melawan para pengikut ku yang setia" Kata Blair dengan santai nya sambil meminum anggur yang dibawakan oleh bawahannya.
"Ck! Sialan!" Alex menyerbu para sekumpulan orang berbaju hitam. Dengan tubuh yang masih lemah itu ia mampu membasmi setengah para sekumpulan itu.
"Hosh... Hosh... Hosh..." Mereka sangat kewalahan mengalahkan dari sekian banyak orang di sana. Mereka berkumpul di tengah-tengah aula dengan di sekeliling mereka para bawahan Blair.
...****************...
DUGH... DUGH... DUGH.... BRUAKK!
Pintu kamar itu terbuka dengan kerasnya. Ada tiga orang berbaju hitam memasuki ruangan yang didiami oleh Via, Ratu dan si kembar.
"Hah?! Ini pasti berbahaya!" Pekik Leo.
"Kalian semua cepat berlindung di belakang ku" Titah sang Ratu. Ia mulai menyerang musuh itu dengan sihirnya. Pertarungan yang sangat sengit antara ratu melawan ketiga orang itu.
Via dan si kembar hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Ratu yang hampir lengah, melihat salah satu dari ketiga itu mendekati Via. Untung saja Ratu cepat menyerang dengan cepat.
"Kalian! Pergilah dari sini! Mereka biar aku saja yang urus!" Titah Ratu. Karena tidak ada hal yang bisa mereka lakukan, akhirnya mereka memutuskan mengikuti perintah Ratu.
Sembari keluar dari kamar itu, Ratu masih melindungi mereka sampai mereka keluar.
"Ayo cepat!" Kata Via.
Mereka bertiga berlari di lorong-lorong. Mereka masih mencari tempat yang aman. Sayangnya, mereka bertemu dengan orang-orang berpakaian hitam. Mereka berlari lagi kembali ke arah sebelumnya.
__ADS_1
"Oh tidak, bagaimana ini?" Pekik Lea. Mereka terkepung oleh orang-orang itu.
"Tidak ada pilihan lain, Lea! kerahkan seluruh kekuatanmu."
"Baik!"
Lea dan Leo ancang-ancang untuk menyerang dengan di belakang mereka Via. Ia tidak bisa melakukan apa-apa karena tidak memiliki sihir seperti mereka.
Ukh, kenapa di saat seperti ini aku tidak berguna! Batin Via.
Aksi mereka di mulai. Lea dan Leo dengan gesitnya menghantam para musuh dengan cepat. Walaupun begitu, makin banyak pula para musuh berdatangan dari arah lain.
"Via, kita harus pergi dari sini sebelum mereka berdatangan!" Kata Leo.
Mereka berlari lagi mengarahkan mereka di sebuah pintu besar. Tidak ada jalan lain selain pintu tersebut. Terdengar dari dalam suara pedang dan hantaman yang cukup kuat.
Karena para musuh itu berlari ke arah mereka, mereka terpaksa masuk ke dalam sana.
CEKLEK....
Ternyata pintu itu merupakan aula tengah yang terdapat Zack, Hans, dan Alex yang tengah bertarung.
Zack melihat kedatangan mereka dan langsung pergi ke arah mereka.
"Apa... Apa yang kalian lakukan di sini? Di mana ratu?"
"Papa! yang mulia ratu juga sedang bertarung dengan mereka di kamar..."
"Iya papa! Beliau menyuruh kami keluar dari sana..."
"Tapi banyak juga dari mereka berkeliaran di mana-mana." Ucap Lea dan Leo bergantian.
"Benar Duke, kami tidak ada pilihan lain selain memasuki ruangan ini"
"Huft... Di sini juga berbahaya, jadi--"
Pedang yang dilemparkan musuh mengarahkan pada Zack. Untung saja Leo mengetahui dengan cepat. Zack berhasil menghindari serangannya.
Zack menuntun mereka untuk menemukan tempat yang aman. Tapi sayangnya mereka terkepung di sana. Langkah Via sempat terhenti karena melihat sosok yang ia kenal berada di singgasana Raja.
"Blair...?" Gumam Via.
"Via awas!" Zack sengaja menjatuhkan Via karena ada serangan yang mengarah nya.
"Oh astaga! Maafkan aku, aku tidak bermaksud Via!" Kata Alex.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Zack.
"Ah... Iya Duke!"
Alex dan Hans menghampiri mereka. Sudah tidak ada jalan keluar untuk Via dan si kembar. Alhasil ia terperangkap di pertarungan itu.
"Hahahahah!! Kau benar-benar menyusahkan sekali Via!" kata Blair dengan angkuhnya.
"Jangan dengarkan dia" Kata Zack.
Mereka melihat para musuh kembali berdatangan setelah mereka mengalahkan para prajurit yang telah di cuci otak mereka. Entah siapa yang melakukannya.
"CK! Mereka makin banyak!" Kesal Hans.
"Huft... Kita hanya perlu mengulur waktu sampai bala bantuan datang dari istana mu Hans" Kata Alex.
"Kenapa tidak menggunakan portal saja, bukankah akan cepat" Kata Lea. Seketika semua terdiam.
"Kalau saja Orang itu tidak di sana (Blair), kita bisa saja pergi dari sini dan memperkuat kekuatan kita. Tapi... Jika satu jam mahkota itu berada di kepalanya itu berarti kekuasaan ini akan dia kuasai." jelas Alex.
Begitulah sistem dari setiap kerajaan. Karena mahkota itu bukan sembarang mahkota yang bisa dipakai dan juga ada aturan untuk mendapatkan kekuasaan.
__ADS_1
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Kata Hans.
Dengarkan aku baik-baik! Kata Alex melewati telepati.
Wahh... Kita bisa terhubung lewat telepati juga. Kata Lea.
Aku punya rencana, jadi aku mohon bantuan kalian semua. Kata Alex.
Mereka semua mengangguk mengerti. Mulailah mereka menyerang para musuh itu yang kian banyak. Sambil membicarakan rencana mereka.
Hans dengan sekuat tenaga menuntun Alex untuk sampai mendekati Blair. Sedangkan Lea, Leo dan Zack tetap di tempat mereka dengan Via di tengah-tengah mereka.
Ukh... Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus kulakukan? Batin Via.
Melihat sebuah kayu yang mungkin berasal dari para prajurit yang menjadikannya alat untuk menyerang. Ia mengambilnya dan ancang-ancang jika ada musuh yang ia lihat.
"Via? Apa yang kau lakukan?" Tanya Zack melihat tingkah Via yang ingin menyerang.
"Saya hanya ingin mengeluarkan bakat terpendam saya saja!"
"Hah? Bakat... Terpendam?"
"Duke! Tunduk!" Spontan Zack mengikuti perintah Via. Ia langsung mengayunkan tangannya dan memukul kepala itu dengan kerasnya.
DUAGH!
"AKH--"
BRUKK!
"Ini, yang kamu maksud?"
"Haha iya, ayo Duke kita kalahkan mereka semua!" Kata Via bersemangat.
"Hmm.. Baiklah" Kata Zack tersenyum kecil.
Mereka berempat mulai mengambil posisi dan mulai beraksi. Sama halnya dengan Alex, kini ia jarak antara cukup dekat. Satu yang ia incar yaitu mahkota yang ia curi dari raja.
"Aku hanya perlu memberi sentuhan kecil pada mahkota nya agar terjatuh" Gumam Alex. Ia mulai menggerakkan tangannya. Sihir yang ia miliki menuju pada mahkota tersebut.
"Sedikit lagi... Kumohon"
PSHHH!
"Hah? Dia hilang ke mana?"
Blair tiba-tiba menghilang. Padahal sedikit lagi ia hampir menjatuhkan mahkota itu.
"Kau mencari ku?"
DEG...
Aku lupa, sebelumnya dia melakukan ini tadi. Batin Alex.
BUGHH!
"AKH...."
BRUKK....
"Kasihan sekali, rencana mu sangat mudah di tebak" Kaya Blair. Ia kembali pergi ke singgasana meninggalkan Alex yang tersungkur di lantai.
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋
__ADS_1