
"Aku pasti akan merindukan kalian!" Ucap Via pada Blair dan Lili yang akan berangkat menuju Southdiff.
"Huaa! Lili, kenapa kamu harus pergi?" Ucap Lea.
"Benar! Kenapa tidak tinggal saja bersama kami?" Tanya Leo.
"Maafkan aku, tapi bukankah menyenangkan ketika kalian libur, datanglah ke sana. Aku akan menjadi pemandu untuk kalian!" Kata Lili yang bersemangat. Ia tidak ingin Lea dan Leo yang ia anggap teman dan keluarga menjadi sedih atas kepergiannya.
"Benar juga sih... Jaga dirimu baik-baik Lili!"
"Ini ada hadiah dari kami!"
Lili menerima sebuah kotak dan membukanya.
"Wah.. Apa ini? Sepertinya aku pernah melihat ini di kamar Via?"
"Iya itu adalah alat untuk berkomunikasi jarak jauh. Kalian bisa berbincang lewat benda itu" jelas Zack.
"Terima kasih Duke atas segalanya. Saya tidak bisa membalas semua kebaikan anda" kata Blair.
"Iya sama-sama, jagalah diri kalian!"
"Apa sebelum berangkat kalian akan pergi ke Istana?" Tanya Via.
"Benar Via, kami ingin berpamitan dengan yang mulia"
"Sangat di sayangkan kalian tidak bisa ikut di pesta" Ucap Leo.
"Maafkan saya Lord, ujian militer akan berlangsung sebentar lagi. Saya tidak bisa ketinggalan"
"Tidak apa Blair!"
"Kalau begitu kami pamit dahulu" Lili dan Blair menaiki kereta kuda. Kereta itu mulai berjalan menjauh dari Mansion.
"Huft... Terasa sepi sekali ya!"
"Ayo kita kembali Leo!" Lea dan Leo dengan berjalan gontai pergi ke dalam.
Ketika Zack dan Via juga ingin kembali ke dalam, sebuah kereta berhenti tepat di depan mansion Effenberg.
"Selamat pagi, Duke dan nona cantik! Saya datang membawa pakaian kalian!" sapa Luze dengan gembira dari jendela kereta.
"Wah.. Luze kau sudah datang!"
"Benar nona!"
"Kalau begitu ayo masuk kedalam" Mereka bertiga masuk ke dalam untuk mencoba beberapa pakaian yang telah mereka pesan.
"Anda terlihat sangat tampan Lord!" Ucap Louis. Ia membantu Leo mengenakan pakaiannya.
"Terima kasih Louis! Apa kau sudah membuat pakaian juga dengan Stella?"
"Tentu saja sudah, tinggal menunggu saja besok dari madam Rosell"
__ADS_1
"Ah... Kau membuat di sana ya?"
"Benar Lord, apa ini juga di buat di toko madam Rosell?"
"Bukan, ini dari toko madam Sunny!"
"Wah.. Ternyata bagus juga ya!"
Giliran Zack yang mencoba pakaiannya. Setelah memakai nya ia keluar dan memperlihatkan pada yang lain.
" Apa ada keluhan Duke?" tanya Luze.
"Tidak ada, sangat enak di kenakan!"
"Syukurlah, sekarang saatnya kita melihat lady Lea dan juga nona cantik!"
Lea dan Via memasuki ruangan dengan mengenakan gaun. Semua orang terpana dengan kecantikan mereka berdua.
"Berhentilah memanggilku Nona cantik, panggil saja Via!"
"Tidak... Tidak... Anda memang pantas di panggil nona cantik, bahkan Duke saja tidak berpaling melihat anda..." Ucap Luze sambil menahan tawa.
"Haha... Bagaimana dengan ku? Terlihat imut bukan?" Kata Lea percaya diri.
"Huh... Imut apanya? malah terlihat sepert--"
"Tentu saja imut sekali Lady Lea!" Potong Louis. Itu lebih baik dari pada mereka beradu mulut.
...****************...
"Saatnya kita panggil mempelai pria, yang mulia putra mahkota Alex Lorenzo Beasley" Suara tepuk tangan dari para hadirin di sana terdengar dari luar. Alex masuk menaiki altar dan berdiri di depan penghulu.
"Selanjutnya yang di tunggu-tunggu, mempelai wanita. Beliau merupakan seorang putri dari kerajaan Cordelia. Silahkan masuk putri Zenith Cordelia de valois!" Zenith memasuki ruangan bersama ayahnya diikuti tepuk tangan yang sama.
Zenith kini telah berdiri di hadapan Alex. Mata mereka bertemu. Senyum manis mengembang di wajah mereka.
Setelah mengikat janji suci, mereka telah sah menjadi sepasang suami istri.
"Wahh... Putri Zenith sangat cantik sekali!" Kata Leo kagum.
"Paman Alex juga sangat tampan!" Sambung Leo.
Setelah acara pernikahan mereka berbondong-bondong ke istana menaiki kereta tanpa atap agar Alex dan Zenith bisa menyapa secara langsung para rakyat.
Seluruh jalanan sudah di bersihkan untuk kereta lewat. Para rakyat sudah berada di tepi untuk menanti Alex dan juga Zenith.
"Ibu kenapa ramai sekali?"
"Hari ini adalah hari bahagia, sayang! Pernikahan yang mulia Alex dan putri Zenith" Ucap ibu pada anak balita yang berada di pangkuannya.
"Wahh.. Aku ingin melihatnya!" Anak itu sangat antusias melihat mereka.
Alex dan Zenith sudah berada di tengah-tengah rakyat. Mereka sangat menanti akan keberadaan mereka.
__ADS_1
Seusai perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka telah tiba di istana. Alex menuntun Zenith memasuki aula dan duduk di kursi yang telah di sediakan. Mereka berdua harus berada di sana sampai acara selesai.
Via sangat menikmati pesta tersebut, namun ia juga ingin keluar dari sana. Ia merasa banyak para wanita bangsawan melihat ke arahnya.
Via memang terbiasa dengan tatapan itu tapi ia benar-benar ingin pergi dari sana.
"Via" Sontak Via menoleh ke arah suara tersebut.
"Ah... Zack!" Entah mengapa raut wajah Via seketika berubah senang.
"Apa kamu merindukanku? Kenapa kau begitu senang sekali?" tanya Zack.
"Bu-Bukan begitu, aku hanya ingin keluar saja dari sini!"
"Kenapa? Apa para wanita itu menggangu mu?" Zack melihat sinis ke arah sekumpulan wanita itu, mereka langsung salah tingkah.
"Sudahlah tidak apa! Tapi kalau kamu mau keluar, ayo!" Zack mengajaknya keluar. Di perjalanan keluar, mereka berpapasan dengan Hans. Via yang melihatnya langsung melepaskan genggaman Zack dan membungkuk sopan pada Hans.
"Salam kepada yang mulia Hans" Ucap Via yang diikuti Zack.
"Lama sekali tidak melihat kalian berdua! Bagaimana kabar kalian?" Tanya Hans.
"Sangat baik, kami harap anda juga begitu!" Ucap Zack.
"Haha... Tentu saja aku baik! Ternyata kau masih sama saja Zack, ingat perkataan dulu? Kau harus menjaga Via dengan baik!" Hans memukul pelan pundak Zack.
"Tanpa kau minta aku sudah pasti menjaganya. Kalau begitu kami pergi dulu!" Zack dan Via bergegas pergi meninggalkan Hans.
Hans tersenyum tipis melihat mereka berdua. "Apa aku juga harus mencari seorang wanita? Huft... Menyusahkan"
Hari kedua, hari penobatan Alex dan Zenith sebagai raja dan ratu di kerajaan Lorenzo.
Para hadirin juga tak kalah banyaknya seperti kemarin. Acaranya pun berlangsung dengan khidmat tanpa ada gangguan.
Yang mulia ratu, ibu dari Alex berdiri di singgasana. Di hadapannya sudah ada Alex dan Zenith.
"Hari ini aku nobatkan kalian sebagai raja dan ratu di kerajaan Lorenzo. Semua tanggung jawab aku serahkan ke kalian"
"Baik yang mulia!" Ucap mereka berdua.
Semua orang berdiri di hadapan raja dan ratu mereka. Mereka semua bersorak gembira atas penobatannya.
"Apa kau lelah?" Tanya Alex yang sudah di singgasana Raja.
"Tidak. Ada apa?" Kata Zenith.
"Aku khawatir kau merasa tidak nyaman harus duduk lama di sini"
"Tidak apa Alex, tidak mungkin aku turun dari sini untuk kepentingan diriku, aku sudah menjadi bagian dari ini semua" Ucap Zenith. Alex tersenyum mendengarnya dan menggenggam tangan Zenith dengan lembut.
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
__ADS_1
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋