
Malam tanpa dihiasi bulan dan bintang. Awan-awan gelap mulai menutupi langit malam. Angin dengan halusnya masuk di ruangan sampai ke tubuh Merlin.
Kilatan petir mulai memperlihatkan cahayanya. Pertanda hujan akan segera tiba. Merlin terduduk di atas ranjang dengan pakaian setengah terbuka. Ia masih memegang pisau kecil yang sudah berlumuran darah.
Kini ranjang tersebut penuh dengan darah Austin. Ia tergeletak tak berdaya di pangkuan Merlin.
"Hosh... Hosh... Aku-- Aku berhasil...?" Gumam Merlin. Ia berdiri dengan gontai dan pergi ke kamar mandi. Ia mulai membersihkan diri kedua kalinya. Setelah itu membersihkan pisau kecil dan juga lantai.
Ia mengenakan pakaian yang baru ia pakai di pesta tadi. Setelah di rasa sudah selesai urusannya di sana, ia pun pergi tanpa ada jejak sedikit pun.
Di perjalanan, hujan mulai turun membasahi dirinya. Ia merasa bersyukur atas hujan. Karenanya tidak ada bekas jejak kaki di tanah dan para pengawal akan kesusahan mencari pelakunya.
Walaupun banyak tantangan sebelum melakukan pembunuhan berencana, ia rela tidur bersama dengan Austin yang hampir saja merebut perhiasannya kedua kalinya.
Namun ia lakukan demi membalaskan perbuatan Austin pada dirinya dan juga Blair, anak Merlin dan Austin.
Kini hatinya menjadi lega, tetapi ada hasrat untuk membuat Blair menjadi pewaris tahta walau dari rahim pembantu seperti dirinya.
Hal itu ia urungkan karena yang harus ia pikirkan sekarang adalah melindungi Blair dari orang-orang jahat.
...****************...
Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Kini Blair telah tumbuh menjadi anak yang sehat berkat kerja keras Merlin seorang.
Ia juga harus menerima cacian dari orang-orang sekelilingnya. Karena itu keinginan dia ingin membuat orang-orang bungkam bahwa Blair juga termasuk keluarga kerajaan semakin menggebu-gebu.
"Bagaimana aku bisa kembali lagi ke istana? Aku ingin membuat Blair menjadi raja selanjutnya" Kata Merlin pada nenek Sia. Beliau yang menjaga Blair ketika Merlin bekerja di kedai.
"Sangat susah sekali! Setelah raja terdahulu mati dengan mengenaskan penjagaan di Kerajaan jadi semakin ketat" Kata nenek Sia yang sudah tau perihal tentangnya.
"Tapi ada satu cara yang mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama" Sambungnya.
"Apa itu nek?"
"Kau harus masuk di sebuah keluarga bangsawan, tidak perlu harus kalangan atas. Paling tidak kau bisa berlindung sementara di keluarga tersebut"
"Sepertinya agak sulit"
"Kau coba saja, di kedai mu pasti banyak para bangsawan yang lalu-lalang di sana. Sekarang pergilah untuk bekerja"
"Baik, aku pergi dulu"
Ia telah sampai di tempat bekerja. Di kedai tempat ia bekerja sangat ramai pengunjung. Namun bukan untuk menikmati menu-menu yang ada di sana melainkan melihat Merlin bekerja. Kecantikannya masih membuat orang-orang tertarik padanya.
Aku tidak mau dengan para lelaki bodoh ini! Bisa-bisa rencana ku akan gagal. Batin Merlin.
"Hey! Berikan aku anggur manis semanis dirimu" Goda lelaki yang ada di sana.
"Siapa yang setuju Merlin menemani kita disini!"
"Aku! Aku setuju"
"Nah Merlin mari kita minum bersama"
Merlin hanya bisa mengelus nafas panjang. Itu sudah menjadi pekerjaannya sehari-hari. Ia cukup duduk di tengah-tengah para lelaki dan hanya terdiam menyimak mereka membicarakan sesuatu.
"Terima kasih Merlin untuk hari ini!"
Setelah dua jam lebih Merlin menemani mereka akhirnya mereka selesai dan pergi.
"Huft..."
"Sabar Merlin, berkat mu kedai jadi ramai" Kata salah satu temannya di kedai tersebut.
"Permisi!" Seorang lelaki datang dengan pakaian yang cukup sederhana.
"Yang ini kau saja yang layani" Kata Merlin sembari pergi meninggalkan tempatnya.
"Benarkah? Kelihatannya dia adalah bangsawan. Aku jarang melihatnya kemari"
"Tunggu, apa? Bangsawan?" Kata Merlin yang kembali mendekati temannya.
"Iya, biasanya yang jarang kemari itu para bangsawan mulai dari kalangan atas sampai bawah. Berbeda dengan para lelaki bodoh itu yang hanya menghabiskan uangnya saja"
"Biar aku saja yang tangani!"
"Eh? Kenapa tiba-tiba?"
Merlin mengambil buku menu dan berjalan ke arah lelaki itu.
Aku hanya perlu berkenalan dan pastinya dia akan langsung terpikat padaku. Batin Merlin.
"Permisi tuan, perkenalkan nama saya Merlin. Ada yang bisa saya bantu?" Kata Merlin sambil tersenyum manis pada lelaki itu.
"Eung... Apa perlu sampai memperkenalkan diri dahulu?" Katanya.
"Benar tuan, tidak ada salahnya bukan"
"Benar juga, baiklah nama ku Arden, Arden Chase" Kata Arden.
Ternyata benar, dia seorang bangsawan.
"Anda ingin memesan apa?"
__ADS_1
"Pilihkan saja menu utama yang ada di sini"
"Baik tuan"
Temannya itu di buat bingung oleh sikap Merlin yang berubah. Beberapa saat kemudian Merlin kembali membawakan makanan hangat dan minuman untuk dihidangkan.
"Wah, kelihatannya enak sekali" Puji Arden.
"Silahkan dinikmati tuan"
Arden menikmati makanan itu dengan lahapnya.
"Maaf tuan, karena kedai agak sepi bolehkah saya menemani tuan makan?" kata Merlin.
"Ah, ya boleh saja" Kata Arden lalu menyantap lagi makanannya.
Sial, kenapa dia terlihat tidak terpikat oleh ku? Batin Merlin.
"Apa yang anda lakukan di kota terpencil ini?" Tanya Merlin membuka suara.
"Aku sedang mencari obat untuk istri ku"
Deg! Sudah punya istri ternyata.
"Ah begitu rupanya, pasti anda sangat mencintai istri anda"
"Benar sekali, aku sangat mencintai dia dan anak perempuan ku. Kapan-kapan aku akan mengajak mereka ke sini"
Percakapan itu membuat Merlin patah semangat. Bukan hal itu yang ia ingin dengar dari Arden.
Setelah selesai menghabiskan semua makanan, Arden membayar dan pergi. Merlin memasang wajah cemberutnya.
"Hei, tumben sekali kau mendekati pria duluan?" Kata temannya.
"Huft... Apa hanya dia bangsawan yang pertama kali ke sini?" tanya Merlin.
"Benar sekali, tapi sepertinya dia bangsawan kalangan bawah, dilihat dari gayanya saja sangat sederhana."
Kalau memang hanya dia yang bisa membuat ku menjadi tempat berlindung sementara, aku harus mendekatinya bagaimana pun caranya!
...****************...
Keesokan harinya, Arden datang berkunjung lagi untuk mencari makan malam. Ia memang tidak tertarik dengan wanita lain selain istrinya. Makanya ia tidak terpikat oleh Merlin.
"Hei Merlin tuangkan anggur itu untuk ku!" Para lelaki yang tergoda pada Merlin lagi-lagi memintanya untuk menemani mereka.
Namun melihat Arden datang, ia bergegas keluar dari para lelaki itu dan menghampiri Arden.
"Loh, mau ke mana dia?"
"Selamat datang tuan, anda datang lagi!" Kata Merlin senang.
"Ah ya, aku ke sini untuk makan malam. Tolong bawakan aku makanan yang sederhana saja"
"Baik tuan tunggu sebentar"
Tak lama kemudian Merlin datang membawa makanan.
"Ini tuan silahkan dinikma--"
"Merlin! Cepat kemari!" suara lelaki itu membuat suasana Merlin menjadi buruk.
Dasar! mengganggu saja!
"Maaf, tapi bukannya kalian sudah lama kutemani?" Kata Merlin.
Salah satu lelaki itu datang dan mencoba menarik tangan Merlin.
"Aaaa!"
"Kau ini, jadi berani mengatakan hal itu pada kami ya, ayo cepat kami butuh hiburan..."
"Tapi aku tidak mau!"
"Lepaskan dia!" Kata Arden.
Lelaki itu terdiam dan melihat ke arah Arden.
"Bukankah dia bilang tidak mau, selain itu... Aku memintanya untuk menemani ku. Jadi jangan ganggu kami!" Kata Arden dan menarik tangan Merlin.
"Cih! Sial..." Lelaki itu langsung pergi kembali ke gerombolannya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa tuan, terima kasih"
Singkat cerita, Arden dan Merlin menjadi akrab. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain. Karena itu Merlin membantunya menemui seorang tabib untuk menyembuhkan istrinya.
Setelah mendapatkan obat, Arden kembali ke kediamannya. Selama seminggu lebih Merlin tak kunjung melihat Arden lagi.
Namun suatu hari Arden kembali menemui Merlin. Ia berterima kasih karena telah mempertemukan ia dengan tabib. Istri kembali cukup pulih.
Arden kembali ke sana untuk membeli lagi obat tersebut pada tabib. Namun hal itu membuat Merlin tidak begitu senang. Sampai akhirnya ia meminta tabib tersebut mengganti obatnya agar penyakit istrinya semakin parah.
__ADS_1
Tabib hanya menuruti ucapan Merlin karena ia telah di sogok dengan beberapa koin emas. Pada saat itu Arden membeli obat padanya dan tabib itu memberikan obat tersebut pada Arden.
Ia kembali lagi ke kediamannya. Namun setelah itu berbulan-bulan Arden tak kembali menemui Merlin.
Merlin berinisiatif pergi ke sana bersama Blair. Hanya dengan cara itu mereka dapat berlindung agar bisa masuk ke istana dan memberikan tahta kerajaan pada Blair.
Namun tak mudah menemukan Arden. Sampai ia bertemu dengan salah satu penduduk yang ada di sana.
"Permisi nyonya, apa di sini ada yang namanya Arden Chase?" Tanya Merlin.
"Ah, tuan Arden? Siapa yang tidak mengenal nya di sini? Aku sangat kenal dengannya."
"Benarkah, apa anda bisa memberitahu dimana dia berada sekarang?"
"Hmm... Dari sini cukup jauh, tapi ada apa kau ingin bertemu dengannya?"
"Eung,, itu... Aku hanya ingin menjenguk istrinya yang sakit"
"Sayang sekali, istrinya sudah meninggal sebulan yang lalu."
"Benarkah?"
"Jika kamu ingin ke sana, ikuti saja jalanan ini sampai kamu menemukan pertigaan belok kanan"
"Terima kasih nyonya"
"Ya sama-sama"
Merlin dan Blair melanjutkan lagi perjalanannya.
"Ibu, kita mau ke mana? Arden Chase itu siapa? Apa dia kenalan ibu?" Tanya Blair.
"Iya dia kenalan ibu. Ohiya, sihir mu jangan sampai terlihat orang lain ya, kalau Ketahuan akan apa?"
"Akan di culik dan akan di kurung di bawah tanah" Lanjut Blair.
"Benar sekali, jadi hati-hati!" Merlin menyadari kalau sekarang ia berada di wilayah kerajaan. Maka dari itu Blair harus menjaga identitasnya sebagai keluarga kerajaan.
Mereka pun sampai di kediaman Arden. Sekarang rumah itu terlihat sangat sepi sekali. Tidak ada penjagaan sama sekali di depan gerbang.
"Apa boleh langsung masuk saja?" Gumam Merlin. Tiba-tiba seseorang dari belakang menghampiri mereka.
"Siapa kalian?"
"Aaaa!"
"Hah!? Merlin?" Kata Arden terkejut dengan kedatangannya.
"Tu-- Tuan?"
"Apa yang-- Kalian lakukan di sini?"
...****************...
Merlin dan Arden berada di ruang kerjanya sedangkan Blair tengah menunggu di ruang tamu.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud masuk begitu saja. Tadi tidak ada seorang pun di luar" Kata Merlin.
"Tidak apa-apa, memang tidak ada orang di luar setelah istri ku meninggal"
"Saya turut berdukacita atas nyonya chase" Kata Merlin.
"Iya, dan sekarang apa alasan kamu datang kemari?" Tanya Arden.
"Itu, saya berhenti dari kedai karena tidak nyaman dengan perilaku mereka. Padahal waktu anda membela saya saat itu saya sangat senang dan merasa nyaman bersama anda" Kata Merlin.
"Ternyata mereka masih mengganggu mu ya. Aku juga tidak bisa mampir ke sana setelah istri ku meninggalkan kami. Putri ku pasti sangat sedih atas kepergian ibunya."
"Tidak apa tuan, saya mengerti. Justru saya yang terlalu merepotkan Anda. Dan apa anda tidak ingin mencari pendamping lagi terutama untuk putri tuan?" Kata Merlin.
"Ah... Kalau itu aku belum memikirkannya"
Ishh... Kenapa susah sekali membujuk dirinya? Sepertinya aku harus melakukan hal itu. Batin Merlin.
"Begitu rupanya, Tapi tuan..." Merlin mulai mendekati Arden dan memegang tangannya.
"Apa saya bisa tinggal di sini sementara? Anda boleh memperkerjakan saya di bagian dapur atau bersih-bersih. Saya tidak ada tempat tinggal lagi tuan" Kata Merlin.
"Ah... Ba-- Baiklah" Kata Arden sembari melepaskan tangannya dan sedikit menjaga jarak.
"Kamu dan anak mu bisa tinggal di sini" Kata Arden
"Terima kasih banyak tuan. Saya akan bekerja keras untuk anda!"
Dan begitulah Merlin dan Blair dapat tinggal di sana dengan berbagai rencana yang sudah di rancang oleh Merlin.
...***************...
Maaf ya masa lalu Merlin agak membutuhkan banyak bab🙏🏻
mungkin salah satunya karena cerita ini sebentar lagi akan tamat.
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
__ADS_1
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋