
Setelah Blair tidak jadi diasingkan, ia bekerja di kediaman Effenberg. Ia melakukan apa yang ia bisa. Mulai dari memasak, membantu pekerja lain, dan juga membantu Lea mempelajari teknik pedang.
Mungkin Zack kurang setuju dengan pilihan Alex, namun melihat Blair bekerja dengan keras ia dapat menerima Blair sebagai bawahannya.
Begitu pun dengan Via. Ia merasa senang melihat Lili yang bahagia dapat berkumpul dengan kedua kakaknya lagi.
...****************...
Suasana sore yang begitu hangat. Disertai angin sepoi-sepoi yang sejuk. Terlihat dedaunan dan bunga-bunga menari mengikuti arah angin yang membawanya.
Sama halnya dengan seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda. Dengan penuh keyakinan ia beranjak dari duduknya. Kedua kakinya mulai melangkah perlahan. Merasa berjalan jauh ia merasa bangga akan dirinya.
"Aku berhasil!" Gumam Via.
Ia terus melangkah tanpa berhenti. Walaupun ada sedikit nyeri di bagian perutnya ia tetap berjalan. Sampai akhirnya ia hampir tak kuasa menahan nyeri itu dan hampir terjatuh.
Untung saja seseorang dengan sigap menangkapnya sebelum Via jatuh ke tanah.
"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau berjalan jauh dari kursi mu?"
"Du-Duke?!" Via melihat wajahnya yang sangat khawatir padanya.
"Saya... Hanya ingin mencoba berjalan saja..." Kata Via.
"Huft..." Zack hanya menghela nafas panjang.
Aduh... Pasti dia marah nih... Batin Via.
"Maaf Duke! Saya akan... Kembali ke kursi saya... Aaa..." Via menjerit kecil ketika Duke langsung menggendongnya.
"Anda mau membawa saya ke mana?" Tanya Via yang ternyata Zack membawanya makin menjauh dari kursi rodanya.
"Kupikir kamu mau melihat matahari terbenam?" Ucap Zack. Ia membawa Via ke sebuah gazebo yang terdapat bangku di sana. Dengan pelan ia meletakkan Via ke atas bangku.
"Wahh... Sudah lama tidak melihat pemandangan ini..." Gumam Via.
Zack hanya tersenyum mendengarnya.
Matahari mulai terbenam dan bulan sebagai pengganti atas kepergian matahari.
"Hari mulai malam, lebih baik kita segera masuk" Ucap Zack.
"Tapi saya masih ingin disini..." Kata Via.
"Huft.. Baiklah" Zack langsung pergi setelah meninggalkan sepatah kata padanya.
Kenapa lagi? Apa dia masih marah? Padahal aku hanya bosan saja di kamar terus... Batin Via.
Tak lama setelah itu, Zack kembali datang dengan membawa sesuatu ditangannya.
"Ah.. Anda kembali... Saya pikir anda-" Perhatian teralihkan melihat benda yang tak asing baginya.
"Itu...?"
Zack langsung melilitkan sebuah syal di leher Via.
"Kenapa? Kau pikir aku membuangnya? Aku tidak sekejam itu..." Kata Zack.
__ADS_1
Ternyata dia masih menyimpannya yaa... Batin Via.
"Diluar sangat dingin, nanti kau bisa sakit"
"Terima kasih Duke! Apa anda tidak dingin juga?"
"Tidak apa-apa, pakai saja"
Suasana kembali hening. Via merasa tidak enak dirinya hanya memakai syal yang sudah dibawakan Zack. Via membalikkan badannya ke arah Zack. Lalu mengalungkan tangannya pada Zack.
"A-Apa yang kau lakukan?!"
"Anda khawatir jika saya sakit, begitu juga saya... Khawatir jika Anda sakit..." Kata Via.
Karena syal tersebut panjang, Via juga melilitkannya pada Zack.
Aku harus mengatakannya pada Via... Tapi mulai dari mana? Batin Zack.
Ugh... Apa aku jujur saja dengan Zack tentang kemarin? Batin Via. Mereka berdua sibuk dalam pikiran masing-masing.
"Via, aku..."
"Duke!" Kata Via dan Zack bersamaan. Seketika mereka terdiam dan tertawa bersama.
"Haha... Anda saja dulu..." Kata Via.
"Ahah... Tidak! Kau saja duluan, aku tidak begitu penting" ujar Zack.
"Ba-Baiklah... waktu saya tertusuk itu... Saya ada mengatakan pada anda, kalau saya... Eum..." Via agak sedikit ragu mengatakannya.
"Sa-Saya.. Mencintai anda Duke! Tapi saya tau, saya tidak berhak mencintai anda, jadi..." Via menghentikan perkataannya. Ia melihat Zack tampak tertegun sebentar.
Sudah kuduga! Harusnya aku tidak mengatakan itu tadi..! Batin Via.
"Ma- Maaf duke!"
"Untuk kau meminta maaf, huh? Aku sangat senang mendengarnya!"
Via yang tertunduk lesu langsung menatap mata Zack. Zack langsung memeluk Via dengan hangat.
"Sudah kubilang, kau hanya milikku seorang. Tidak boleh ada yang menyentuhmu ataupun mengganggumu" Kata Zack sembari melepaskan pelukannya.
"Hiks.. Hiks.. Terima kasih Duke!" Via merasa terharu mendengar hal itu.
"Kenapa kamu menangis?"
"Saya hanya berpikir saya tidak layak mencintai anda karena saya hanya orang biasa disisi anda"
"Tidak peduli kau siapa? Dari keturunan mana? Aku tidak peduli itu." ucap Zack. Ia mengelus lembut wajah Via dan mendekatkannya padanya. Bibir mereka bertemu. Entah berapa kali Zack memulainya duluan.
Dengan pelan, Zack menjauh sedikit dan merogoh saku celananya. Lalu ia memberikan pada Via.
"Apa ini?" Tanya Via.
Zack membuka sebuah kotak berwarna merah dan terlihat sebuah benda mewah dan cantik. Via kembali menatap Zack dengan tatapan bingung.
"Maukah kamu menikah denganku?" Tanya Zack. Sontak Via terbelalak melihat Zack.
__ADS_1
Zack melamar ku?! Tidak mungkin! Apa yang dia pikirkan? Batin Via.
"Eung... Duke, bu-bukankah ini terlalu cepat?" Kata Via terbata-bata.
"Menurut ku tidak, kita sama-sama saling mencintai kan" Ucap Zack.
"Tapi Duke, saya belum bisa memikirkan sampai ke sana... Maafkan saya" Via merasa tidak enak mengatakan hal itu. Walaupun mereka sudah saling menyatakan, tapi menikah terlalu cepat bagi mereka.
"Ah iya... Aku mengerti" Kata Zack menunduk lesu.
Tanpa mereka sadari ada tiga orang yang dari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.
"CK.. CK... CK.. Aku kasihan sekali dengan papa..."
"Ya, papamu itu!"
"Hei! Itukan papamu juga!"
"Sudahlah, beliau kan papa kalian berdua!"
Lea dan Leo saling memandang sinis.
"Louis tidak asyik ah!" Kata Lea.
"Hehe.. Apa saya melakukan kesalahan?" Ucap Louis.
"Papa kan memang pertama kalinya mencintai seseorang, jadi dia tidak tau hal-hal yang harus dilakukan" Kata Leo.
"Huft... Apa yang harus kita lakukan? Louis, bantulah kami!" Kata Lea.
"Eum... Saya kurang yakin, tapi bagaimana dengan liburan? Duke kan sudah lama tidak meliburkan dirinya..." Kata Louis memberikan saran.
"Liburan? Bukan ide yang buruk! Kita juga sudah lama tidak liburan, kan Lea!" kata Leo.
"Hmm.. Benar juga!" ucap Lea menyetujui.
...****************...
Akhirnya mereka memutuskan pergi ke Southdiff, sebuah kota yang terletak di bagian selatan.
Di sana terkenal dengan keindahan pantainya dan juga kota-kota besar yang sengaja disusun sama rata. Hal itu merupakan daya tarik bagi orang-orang yang berkunjung ke sana.
"Wahh... Indah sekali!" Pekik Lea.
"Benar, aku ingin tinggal disini!" Kata Lili.
Mereka semua menikmati keindahan kota. Namun tidak dengan Zack yang raut wajahnya memperlihatkan ketidaksenangan dengan liburan kali ini.
Andai saja aku menolak liburan yang menjengkelkan ini! Batin Zack.
...****************...
Wahh... kira-kira kenapa Zack tidak menikmati liburannya ya? 😅
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋
__ADS_1