
"Jawab pertanyaan ku!"titah Arjuna dengan suara berat penuh penekanan.
"I.. iya. Ta.. tapi Mas Juna ja.. jangan seperti ini!"ucap Kinara yang terbata-bata karena merasa gugub, tidak berani menatap wajah suaminya yang hanya beberapa centimeter dari wajah nya. Jantungnya terasa ingin meledak, napasnya terasa tercekat.
"Kenapa?"tanya Arjuna tepat di telinga Kinara, bahkan hembusan napas Arjuna terasa hangat di leher Kinara, membuat bulu-bulu di tubuh Kinara berdiri. Kinara pun tidak mampu menjawab, menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya.
Dengan susah payah Arjuna menahan tawanya agar tidak meledak melihat ekspresi Kinara dengan wajah yang terlihat ketakutan, gugub, dan malu bercampur menjadi satu. Sungguh, ingin sekali Arjuna menggigit Kinara, karena saking gemasnya melihat ekspresi istrinya itu.
Perlahan Arjuna menyingkir dari atas tubuh Kinara, lalu duduk bersandar di headboard ranjang. Kinara pun menghembuskan napas lega.
"Katakan!"titah Arjuna tegas, membuat Kinara tersentak dan langsung ikut duduk di samping Arjuna.
"Di.. dia adalah Doni, dulu, aku pernah menolongnya saat dia ingin bunuh diri. Waktu itu dia dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh obat-obatan terlarang. Ibunya juga sakit-sakitan karena terlalu memikirkan kondisi Doni yang tidak punya gairah untuk hidup karena kekasihnya meninggal dalam sebuah kecelakaan,"
"Aku berhasil membujuk Doni agar mau menjalani rehabilitasi untuk menyembuhkan kecanduannya terhadap obat-obatan terlarang. Akhirnya setelah satu tahun menjalani rehabilitasi, Doni dinyatakan sembuh, walaupun masih dalam pengawasan dokter. Tapi setelah sembuh, dia malah menyatakan cinta padaku,"
"Aku menolaknya karena aku memang tidak punya perasaan apa-apa padanya, selain simpati dan kasihan padanya dan ibunya. Tapi dia terus saja mengejar-ngejar aku. Hingga setahun lalu, aku ditugaskan untuk mengajar di kota ini. Aku pergi dari kota itu secara diam-diam tanpa diketahuinya. Namun beberapa hari yang lalu, dia mengetahui nomor telepon ku dari salah seorang temanku. Bahkan kemarin siang dia menghadang motor ku di jalan," jelas Kinara panjang lebar, menunduk tanpa berani menatap Arjuna.
"Bagaimana aku bisa percaya kalau apa yang kamu katakan itu benar?"tanya Arjuna seraya memicingkan sebelah matanya.
"Mas Juna bisa bertanya pada ibu,"sahut Kinara.
"Bagaimana jika ibu juga berbohong karena bersekongkol dengan mu?"tanya Arjuna lagi, menatap Kinara yang duduk di sebelahnya.
"Kami tidak suka berbohong,"tegas Kinara.
"Siapa yang tahu? Bisa saja kamu memang punya hubungan dengan pria itu. Laki-laki dan perempuan selama satu tahun bersama, tidak mungkin tidak punya hubungan apa-apa,"ucap Arjuna menunjukkan ekspresi tidak percaya nya, memalingkan wajahnya dari Kinara.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan agar Mas Juna percaya? Aku benar-benar tidak mencintai dia dan tidak punya hubungan apa-apa dengannya,"ujar Kinara dengan wajah yang terlihat kesal, namun terkejut saat Arjuna tiba-tiba menghadap ke arah nya.
"Lalu, apa kamu mencintai aku?"tanya Arjuna menatap tajam Kinara,.membuat Kinara nampak serba salah. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari Arjuna. Hingga akhirnya memilih mengangguk sebagai jawabannya tanpa berani menatap Arjuna..
"Aku tidak percaya,"ucap Arjuna kembali bersandar di headboard ranjang.
"Ba.. bagaimana.. em.. a.. apa yang harus aku lakukan agar Mas Juna percaya?"tanya Kinara dengan suara pelan dan wajah yang tertunduk.
Arjuna melirik Kinara sekilas dengan senyum yang menyeringai,"Buka pakaianmu! Baru aku akan percaya padamu,"ujar Arjuna melirik sekilas ke arah Kinara.
Kinara sempat terkejut mendengar perintah Arjuna. Namun juga merasa bersalah jika menolak perintah Arjuna seperti tadi, karena Arjuna memang berhak melihat tubuh nya,"A.. aku malu!"sahut Kinara sangat pelan dan hampir tak terdengar masih menundukkan wajahnya..
"Kalau begitu, biar aku yang membukanya,"sahut Arjuna perlahan mendekati Kinara, membuat jantung Kinara kembali berdetak kencang dan tidak beraturan. Menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus karena menahan malu. Bahkan kedua tangannya yang saling meremas di atas paha sampai mengeluarkan keringat dingin.
Arjuna mengulurkan tangannya ke kancing baju piyama yang dikenakan oleh Kinara. Sedangkan Kinara semakin menunduk dan memalingkan wajahnya karena benar-benar merasa malu.
Kancing pertama terbuka, jantung Arjuna perlahan mulai berdetak tidak normal. Arjuna kembali membuka kancing piyama Kinara yang kedua dan ketiga. Arjuna menarik kerah piyama Kinara ke bawah hingga terlihat pundak Kinara yang mulus membuat Arjuna susah payah menelan salivanya. Arjuna melihat tanda merah di pundak Kinara dengan seksama kemudian bibirnya menyunggingkan senyum.
Tangan Arjuna beralih membelai rambut Kinara yang panjang sepinggang. Mencium rambut Kinara yang menurutnya wangi itu,"Apa sejak kecil rambut mu sudah panjang?"tanya Arjuna seraya menyelipkan rambut Kinara di telinganya. Hingga leher yang putih mulus itu terlihat jelas, membuat Arjuna kembali menelan salivanya susah payah.
"Tidak,"sahut Kinara lirih, masih menundukkan kepalanya.
"Apa kamu pernah memotong pendek rambutmu?"tanya Arjuna seraya memegang dan mengelus pipi Kinara dengan jari jempolnya.
"Hum,"sahut Kinara yang semakin gugub dan grogi. Kini Kinara jadi irit bicara seperti Arjuna, tapi sekarang malah Arjuna yang banyak bicara.
"Umur berapa?"tanya Arjuna yang jari jempolnya berpindah mengusap bibir Kinara, membuat Kinara memejamkan matanya, dengan jantung yang berdetak semakin kencang, tangannya yang bertautan pun saling meremas.
__ADS_1
"Se.. sepuluh tahun,"sahut Kinara lirih membuat Arjuna semakin yakin jika gadis yang ada di hadapannya ini memang benar gadis kecil yang pernah menolongnya dulu.
"Apa kamu pernah menolong seorang anak remaja yang di sekap di sebuah rumah kecil yang jauh dari pemukiman warga? Sebuah rumah yang terletak di pinggir kota?"tanya Arjuna membuat Kinara langsung membuka matanya, mendongakkan kepalanya menatap Arjuna.
"Ba.. bagaimana Mas Juna bisa tahu?"tanya Kinara langsung teringat dengan buku diary yang disimpannya dalam lemari pakaian. Sejak usia sembilan tahun, Kinara sudah mulai menulis buku diary. Di dalam buku diary itu, Kinara menuliskan apa saja yang terjadi selama hidupnya sejak usia sembilan tahun. Kinara menduga kalau Arjuna membaca buku diary nya itu.
"Karena aku adalah remaja yang kamu tolong itu,"jawab Arjuna dengan seulas senyum manis yang baru kali ini di lihat Kinara. Kinara nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arjuna.
"Apa kamu masih ingat apa janjiku padamu?"tanya Arjuna menatap lembut pada Kinara seraya memegang pipi Kinara.
Ingatan Kinara kembali pada tiga belas tahun yang lalu,"𝙎𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙡𝙖𝙜𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪. 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙧𝙪𝙨𝙪𝙠𝙠𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙞 𝙖𝙠𝙪,"kata-kata itu kembali terngiang di telinga Kinara.
"Mas Juna..."Kinara menggantung kata-kata nya.
"Aku menepati janjiku untuk menikahi mu, bukan? Karena kamu adalah tulang rusuk ku. Dimana gelang yang pernah aku berikan padamu? Gelang itu adalah pasangan gelang yang aku pakai ini,"ucap Arjuna seraya menunjukkan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mas Juna..."
...🌟"Kita tidak pernah tahu, apa akan mendapatkan jodoh sementara atau jodoh selamanya."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1