Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Setahun Yang Lalu


__ADS_3

Mama Chintania masuk ke dalam kamarnya. Kakinya melangkah menuju sebuah brangkas kecil di dalam lemari pakaiannya. Perlahan menekan password brangkas, setelah brangkas itu terbuka, wanita paruh baya itu mengambil sebuah kotak perhiasan.


Dalam kotak perhiasan itu nampak sebuah cincin bertahtakan berlian dan juga gelang tali berwarna putih yang mempunyai lambang 'Yang'. Ingatan mama Nia pun kembali pada kejadian satu tahun yang lalu, dimana dia dan Chintania pergi berlibur di sebuah pulau kecil.


Satu tahun yang lalu...


Pagi itu, Chintania dan mamanya berjalan menuju pantai, mereka bersenda gurau dan nampak sangat bahagia. Hingga saat hari beranjak siang Chintania kembali ke villa yang mereka sewa kemudian kembali lagi ke pantai,"Sayang, kamu mau kemana?"tanya mama Nia saat melihat Chintania memakai celana sebatas lutut dan baju berlengan panjang, berjalan menuju pantai.


"Aku pengen naik Speedboat, ma,"sahut Chintania terus melangkah menuju tepi pantai tempat Speedboat terparkir.


"Ombaknya kurang bersahabat, sayang! Jangan naik Speedboat!"cegah mama Nia yang melihat ombak hari itu agak besar dan tidak bersahabat jika ke laut menaiki Speedboat.


"Cuma sebentar, ma! Cuma didekat sini saja, nggak jauh-jauh, kok! Besok kita sudah pulang, dan entah kapan lagi bisa berlibur dan naik Speedboat,"sahut Chintania yang ingin menghabiskan liburan nya dengan segala keseruan melepaskan rasa jenuh karena aktivitasnya di kota.


"Tapi, sayang.."


"Cuma sebentar, ma!"teriak Chintania memotong kata-kata mamanya, berlari ke arah Speedboat.


Chintania mulai memacu Speedboat yang dikendarainya, tidak perduli ombak yang bertambah besar. Tiba-tiba angin bertiup kencang, langit menjadi gelap dan tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Mama Nia terpaksa berlari menjauh dari tepi pantai untuk berteduh. Wanita paruh baya itu nampak gelisah menatap ke arah laut, berharap putri semata wayangnya segera muncul dan berlari ke arahnya.


"Nia! Pak Diman, bagaimana ini? Nia masih berada di laut. Kenapa Nia belum kembali juga?"tanya wanita paruh baya itu pada Pak Diman. Pak Diman adalah orang yang sudah bertahun-tahun bekerja pada keluarga mama Nia.


"Nyonya, tidak mungkin kita mencari Non Nia dalam cuaca seperti ini. Kita tidak bisa mencari Non Nia sendiri. Nyonya tenanglah! Saya akan menghubungi penjaga pulau ini,"ujar Pak Diman, kemudian langsung menghubungi orang yang menjaga pulau itu agar bisa mencari Chintania.


Hujan terus turun dengan lembat seolah enggan untuk berhenti. Mama Nia semakin cemas memikirkan anak semata wayangnya. Sebentar duduk, sebentar berdiri, sebentar mondar-mandir. Wanita paruh baya itu benar-benar gelisah, khawatir, takut, dan cemas menjadi satu.


Sedangkan penjaga pulau pun tidak berani turun ke laut dalam kondisi cuaca yang buruk seperti saat itu. Dia tidak mau mempertaruhkan nyawanya dan juga nyawa para rekannya hanya untuk mencari seorang gadis. Besar resikonya jika turun ke laut dengan cuaca buruk seperti sekarang.


Mama Nia semakin gelisah, setelah suaminya meninggal dua tahun yang lalu, hanya Chintania yang dimilikinya. Hanya Chintania yang membuatnya masih punya semangat untuk menjalani hidup. Namun sekarang, dia tidak tahu bagaimana keadaan anak semata wayangnya itu.

__ADS_1


Chintania memang gadis yang keras kepala dan hobi mengendarai motor sport. Penampilan nya pun, hampir seperti cowok, memakai celana jeans, dan kaos yang dilapisi jaket kulit, dengan sepatu boots. Cuma rambutnya yang panjang yang masih menampilkan sisi kewanitaannya.


Hujan terus turun mengguyur pulau itu, sampai tiga jam lamanya. Sore hari setelah hujan reda penjaga pulau itu pun mengerahkan seluruh personelnya untuk mencari Chintania. Ombak sudah tidak terlalu besar seperti tadi, karena itu mereka mulai mencari keberadaan Chintania.


Hingga malam menjelang, Chintania belum juga dapat ditemukan. Penjaga pantai dan para rekannya pun menyerah untuk mencari Chintania. Tapi Mama Chintania memohon-mohon pada mereka untuk mencari putrinya.


"Tolong cari putri, saya! Saya mohon! Saya akan membayar kalian dengan bayaran yang mahal. Hanya dia yang saya miliki di dunia ini setelah suami saya meninggal. Saya mohon!"pinta mama Nia dengan berderai air mata berlutut di depan penjaga pulau dan para rekannya hingga membuat Pak Diman merasa tidak tega.


"Nyonya bangunlah, jangan seperti ini!"ucap Pak Diman seraya mencoba membantu mama Nia untuk bangun. Pria tua itu sungguh tidak tega melihat majikannya seperti itu. Selama bertahun-tahun bekerja pada keluarga mama Nia, keluarga wanita itu sudah sangat baik pada keluarganya. Selalu memberikan pengobatan gratis untuk keluarga Pak Diman.


Bahkan saat putra Pak Diman mengalami kecelakaan parah dan membutuhkan biaya banyak untuk operasi dan perawatan, keluarga mama Nia memasukan putra pak Diman ke rumah sakit mereka dan tidak memungut biaya serupiah pun dari Pak Diman.


Penjaga pulau dan para rekannya pun akhirnya merasa tidak tega melihat mama Nia yang terus berlutut dan menangis di hadapan mereka. Kebetulan juga cuacanya lebih kondusif untuk mencari Chintania, walaupun sudah malam, langit terlihat terang dengan cahaya bulan dan bintang yang bertaburan. Ombak juga terlihat lebih tenang sehingga mereka memutuskan kembali mencari Chintania.


Saat tengah malam, penjaga pantai dan para rekannya pun kembali ke pantai. Dengan tidak sabar mama Nia berlari ke pantai menghampiri orang-orang yang membantunya mencari anak semata wayangnya itu.


"Nyonya, kami menemukan dua perempuan. Satunya sudah meninggal dan satunya masih hidup,"ucap penjaga pulau.


Malam itu juga, Chintania dikuburkan di pulau itu. Pak Diman memapah majikannya menuju villa yang mereka sewa hingga melewati beberapa orang yang sedang berbincang-bincang.


"Kalian tahu tidak, perempuan yang kita temukan dengan wajah rusak tadi sudah bangun. Dan mirisnya, dia tidak bisa mengingat dirinya sendiri,"


"Perempuan itu amnesia? Kasihan sekali,"


"Iya, dan dokter menyuntikkan obat tidur karena perempuan itu terus mengerang kesakitan akibat luka-lukanya,"


"Kasihan sekali, sudah wajahnya rusak, amnesia pula,"


Itulah sepenggal perbicangan beberapa orang pria yang mencari Chintania di laut tadi, hingga Mama Nia menghentikan langkahnya. Mama Nia mengingat perempuan dengan wajah rusak karena luka bakar yang ditemukan bersama putrinya tadi. Mendengar perempuan itu amnesia, tiba-tiba terbersit ide gila di kepala mama Nia.

__ADS_1


"Pak Diman, tolong antar aku ke tempat perempuan yang wajahnya rusak itu dirawat,"ucap mama Nia. Dan tanpa bertanya apapun, Pak Diman pun membawa mama Nia ke tempat yang dinginkan wanita paruh baya itu.


Malam itu juga, mama Nia membawa perempuan yang wajahnya rusak itu ke negeri ginseng, Korea Selatan. Sejak malam itu juga, mama Nia menjadikan perempuan yang wajahnya rusak itu sebagai Chintania dengan mengoperasi wajah perempuan itu seperti Chintania.


Mama Nia meminta Pak Diman merahasiakan tentang kematian Chintania dan juga tentang perempuan yang dijadikan mama Nia sebagai Chintania. Hingga sudah setahun ini, perempuan yang tidak diketahui mama Nia identitas nya itu hanya tahu jika dia adalah anak kandung mama Nia yang mengalami amnesia karena kecelakaan.


Mama Nia pun tersadar dari ingatannya tentang kejadian setahun yang lalu itu saat handphonenya berdering. Mama Nia pun langsung menerima panggilan suara itu saat melihat siapa yang menghubungi nya.


"Halo, Pak!"sapa mama Nia pada si penelepon.


"Halo, Nak. Bagaimana, apa putrimu setuju dengan perjodohan ini?"tanya si penelepon.


"Iya, Pak. Putri saya sudah setuju,"sahut mama Nia.


"Syukurlah. Kita bertemu di restoran dekat rumah sakit kamu saja, ya?"tawar si penelpon.


"Iya, Pak,"sahut mama Nia kemudian panggilan pun diakhiri.


Mama Nia kembali menatap cincin bertahtakan berlian dan gelang tali berwarna putih berlambang 'Yang' ditangannya. Dua benda itu adalah milik perempuan yang sekarang ini dijadikannya sebagai Chintania.


...🌟"Kamu bisa men-skip bab novel yang tidak kamu sukai, tapi kamu tidak akan bisa men-skip, menjeda, apalagi menghapus takdir yang tidak kamu sukai."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2