Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Cinta Buta


__ADS_3

"Biar aku yang melihat siapa yang datang, Bu,"ucap Kinara kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Kinara membuka pintu dan nampak terkejut saat melihat siapa yang datang.


"Kinar! Akhirnya aku menemukanmu juga!"ucap seorang pemuda yang tidak lain adalah Doni yang datang bersama seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah mama Doni. Dengan wajah yang terlihat berbinar, Doni langsung merentangkan tangannya hendak memeluk Kinara.


"Eh, mau apa kamu?"tanya Kinara seraya mundur menjauhi Doni, membuat senyuman di wajah Doni berangsur menghilang dan tangan nya yang sudah direntangkan pun perlahan turun.


"Kinar, Tante kangen sekali sama kamu. Sudah lama kita tidak bertemu,"ucap mama Doni langsung memeluk Kinara. Kinara pun membalas pelukan wanita yang usianya tidak jauh berbeda dari ibunya itu. Sedangkan Doni membuang napas kasar, karena Kinara tidak mau dipeluk olehnya, tapi mau dipeluk oleh mamanya.


"Kenapa tamunya nggak diajak masuk, Ra?"tanya ibu Kinara yang menghampiri ke tiga orang itu.


"Ach iya. Mari masuk Tante!"ucap Kinara pada mama Doni dengan ramah. Mereka pun duduk di sofa ruang tamu yang tidak terlalu besar itu.


"Apa kabar, Bu?"tanya mama Doni pada ibu Kinara.


"Baik, Bu. Bagaimana dengan ibu sendiri?"tanya ibu Kinara pada mama Doni. Sedangkan Kinara melangkah ke dalam dapur untuk membuat minuman.


"Baik, Bu,"sahut mama Doni sambil tersenyum.


"Ada keperluan apa kira-kira hingga ibu dan Nak Doni jauh-jauh datang ke rumah kami ini?"tanya ibu Kinara sopan.


"Ini tentang anak-anak kita, Bu,"ujar mama Doni membuat ibu Kinara mengernyitkan keningnya.


"Tentang anak-anak kita? Memangnya ada apa dengan anak-anak kita?"tanya ibu Kinara yang sama sekali tidak bisa menebak maksud ucapan dan kedatangan kedua orang tamunya itu.


Kinara datang membawa minuman untuk kedua orang tamunya itu, kemudian meletakkan minuman itu di depan Doni dan mamanya. Untuk sesaat mereka menghentikan pembicaraan mereka, sampai Kinara duduk kembali di sebelah ibunya.

__ADS_1


"Begini, Bu. Doni anak saya sangat menyukai Kinara dan maksud kedatangan kami kesini adalah ingin melamar Kinara untuk menjadi istri Doni, putra saya,"ucap mama Doni dengan seulas senyum di bibirnya, begitu pula dengan Doni yang bibirnya tetap mengukir senyum menatap wajah Kinara yang baru saja duduk.


Ibu Kinara dan juga Kinara nampak terkejut mendengar kata-kata mama Doni itu. Kinara dan ibunya sudah mengundang Doni dan keluarganya di acara resepsi pernikahan Kinara, tapi entah mengapa mereka tidak datang dan sekarang malah melamar Kinara yang notabene sudah menikah.


Kinara dan ibunya tidak tahu jika keluarga Doni sudah pindah ke kota ini. Jadi Kinara mengirimkan undangan resepsi pernikahan nya di rumah lama keluarga Doni yang ada di kota lain. Karena itulah keluarga Doni tidak tahu jika Kinara mengadakan resepsi pernikahan.


"Kinar, aku sangat mencintai mu. Aku ingin menikah dengan mu. Aku mohon, jadilah istri ku!"pinta Doni penuh harap.


"Maaf, Bu! Apa ibu sekeluarga tidak menerima undangan yang kami kirimkan sekitar sepuluh hari yang lalu?"tanya ibu Kinara mengabaikan kata-kata Doni.


"Undangan? Undangan apa, ya?"tanya mama Doni yang memang tidak tahu soal undangan itu.


"Undangan resepsi pernikahan Kinara. Kinara sudah menikah sebulan lebih dan seminggu yang lalu, Kinara dan suaminya menggelar resepsi pernikahan mereka,"jelas ibu Kinara.


Mama Doni tersenyum tipis,"Kami sudah setengah bulan tinggal di kota ini, jika kalian mengirimkan undangan itu ke rumah lama, tentu saja kami tidak akan tahu. Saya juga sudah mendengar soal Kinara yang sudah menikah tapi kami belum percaya,"


Mama Doni sudah bertekad akan melakukan apapun demi kebahagiaan putra semata wayangnya. Wanita paruh baya itu tidak ingin kejadian dua tahun yang lalu terulang kembali. Kejadian saat Doni kehilangan wanita yang dicintainya hingga membuat Doni putus asa dan menjadi pecandu obat-obatan terlarang.


Bahkan Doni hampir saja mati bunuh diri jika waktu itu Kinara tidak menyelamtkan Doni. Karena itu, mama Doni akan melakukan apapun untuk membahagiakan putranya itu, agar mama Doni tidak kehilangan Doni.


"Maaf, Tante! Pernikahan itu bukanlah mainan, hingga dengan mudahnya bisa menikah dan bercerai sesuka hati. Saya tidak akan pernah menceraikan suami saya, karena saya mencintainya. Selama ini saya hanya menganggap Doni sebagai teman, dan selamanya akan menganggapnya sebagai teman, tidak akan berubah. Jadi, jangan pernah berharap saya akan menikah dengan Doni,"ucap Kinara tegas.


"Tapi Kinar, Doni sangat mencintai kamu. Tante mohon! Tinggalkan lah suami kamu dan menikahlah dengan Doni! Tante berjanji akan memberikan apapun yang kamu mau dan apapun yang kamu inginkan asalkan kamu mau menceraikan suami kamu dan menikah dengan Doni,"ucap mama Doni masih terus berusaha membujuk Kinara.


Sungguh pemikiran seorang ibu yang egois, bukan? Cinta buta seorang ibu pada anaknya yang membuatnya hilang logika. Menghalalkan segala cara agar putranya bisa hidup bahagia, tanpa mau peduli dengan dengan perasaan orang lain. Bagi mama Doni, asal bisa membuat Doni bahagia dan asalkan dia tidak kehilangan Doni, maka semua tindakannya bisa dibenarkan.

__ADS_1


"Apa diluar sana sudah tidak ada perempuan yang masih singel lagi? Apa putra anda sudah tidak laku lagi hingga memohon pada wanita yang sudah bersuami untuk menceraikan suaminya dan menikah dengan putra anda?"suara bariton yang terdengar begitu dingin itu tiba-tiba saja terdengar hingga mengalihkan perhatian keempat orang yang berada di dalam ruangan itu.


Kinara dan ibunya nampak terkejut dengan kedatangan Arjuna, apalagi mendengar suara Arjuna yang terdengar begitu dingin. Entah sejak kapan pria itu datang dan pembicaraan apa saja yang sudah didengarnya hingga nada suaranya terdengar begitu dingin.


Melihat suaminya membawa beberapa kantong plastik, Kinara pun langsung bangkit dari duduknya dan mengambil kantong plastik yang dibawa oleh Arjuna, lalu membawanya ke dalam dapur.


"π™Žπ™šπ™Ÿπ™–π™  𝙠𝙖π™₯𝙖𝙣 π™ˆπ™–π™¨ 𝙅π™ͺ𝙣𝙖 π™™π™–π™©π™–π™£π™œ? π˜Όπ™ π™ͺ 𝙝𝙖𝙧𝙖π™₯ π™ˆπ™–π™¨ 𝙅π™ͺ𝙣𝙖 π™©π™žπ™™π™–π™  𝙨𝙖𝙑𝙖𝙝 π™₯𝙖𝙝𝙖𝙒 π™₯𝙖𝙙𝙖𝙠π™ͺ,"batin Kinara seraya berjalan ke dalam dapur untuk meletakkan makanan yang sudah dibeli Arjuna.


"Siapa kamu, ikut campur dalam pembicaraan kami?"tanya mama Doni sewot, walaupun tadi sempat tertegun mendengar kata-kata dan juga suara dingin Arjuna.


Mata mama Doni menelisik, melihat pria yang berjalan menuju sofa itu, demikian pula dengan Doni. Pria tampan yang berpostur tinggi, tegap dengan aura yang penuh wibawa dan karisma. Sungguh tidak bisa dibandingkan dengan putranya yang jelas kalah dari segala sisi dari pria itu.


Arjuna duduk disalah satu sofa dan menatap datar pada mama Doni,"Saya adalah suami Kinara,"jawab Arjuna terdengar begitu tegas, dan tatapan yang tadinya datar pun berubah menjadi tatapan dingin dan tajam pada mama Doni.


Doni nampak terkejut saat pria itu mengatakan bahwa dia adalah suami Kinara. Begitu pula dengan mama Doni, hingga membuat wanita paruh baya itu merasa kesulitan menelan salivanya sendiri saat tatapan matanya bertemu dengan mata tajam Arjuna. Kinara yang baru kembali dari dapur pun segera duduk di samping suaminya, takut jika suaminya sampai emosi karena tingkah Doni dan mamanya itu.


"Kinara, tawaran Tante masih berlaku, pikirkanlah! Tante tunggu kabar baiknya. Kamu bisa menghubungi Tante di alamat dan nomor telepon ini,"ucap mama Doni meletakkan kartu nama di atas meja, kemudian menatap ibu Kinara,"Kalau begitu, saya pulang dulu, Bu,"ucap mama Doni yang langsung menarik putranya dan pergi dari tempat itu.


...🌟"Terkadang cinta membuat orang menjadi buta, hingga tidak peduli dengan apapun dan siapapun."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2