Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Menetapkan Hari


__ADS_3

Rombongan Abimana, Arjuna dan Agus sudah sampai di restoran sepuluh menit lebih awal dari janji makan malam yang mereka sepakati. Mereka telah duduk di tempat yang sudah di reservasi oleh Agus.


Arjuna melirik arloji di pergelangan tangannya kemudian berkata,"Aku mau ke toilet dulu,"


Abimana langsung mencekal tangan Arjuna dan menatap Arjuna lekat,"Kamu tidak berniat kabur, 'kan?"tanya Abimana nampak curiga.


"Tidak, kek. Aku tidak akan kabur,"ucap Arjuna membuang napas kasar.


"Kalau kamu kabur, kakek akan berlutut pada gadis itu agar menunggu sampai kamu kembali,"ucap Abimana dengan tatapan serius.


"Iya.. iya.. aku tidak akan kabur. Aku tidak mau terkenal karena viral dijuluki sebagai cucu durhaka yang membiarkan kakeknya berlutut di depan seorang gadis,"sahut Arjuna menghela nafas panjang.


Mendengar kata-kata Arjuna, Abimana pun melepaskan cekalan tangannya pada tangan Arjuna dan Arjuna pun segera meninggalkan tempat itu.


"Kek, kakek selalu memaksa Mas Juna buat menikah, tapi kok nggak pernah nyuruh aku nikah, sih?!"tanya Agus yang lebih terdengar sebagai ungkapan protes.


"Pacar kamu, 'kan banyak. Kalau mau nikah tinggal ngomong, nanti kakek urus pernikahan kamu,"sahut Abimana santai.


"Aku pengennya dicarikan sama kakek. Kakek itu benar-benar pintar nyari jodoh. Coba kalau aku yang kakek suruh nikah sama gadis pilihan kakek, pasti akan langsung aku terima. Dan kakek tidak perlu bersujud memohon pada ku, seperti kakek memohon pada Mas Juna,"ujar Agus mengungkapkan perasaan nya.


"Sudah kakek bilang, kakek tidak mau nama baik kakek tercemar gara-gara nyariin jodoh buat play boy macam kamu. Kamu cari saja sendiri. Kakek serba salah kalau nyari jodoh buat kamu. Mau di carikan yang baik kok, kasihan sama gadisnya dijodohkan dengan orang blangsat macam kamu. Tapi nggak mungkin juga mau kakek carikan yang blangsat. Kamu aja udah blangsat, apa nggak tambah blangsat jika kakek jodohkan dengan yang blangsat?"ujar Abimana panjang lebar.


"Ya nggak gitu juga konsepnya, kek!"protes Agus.


"Ya mangkanya cari sendiri,"sahut Abimana.


"Selamat malam Pak Abi? Apa kami terlambat? Maaf, kalian jadi menunggu lama,"ucap mama Nia mengalihkan obrolan kakek dan cucu itu.


Chintania pun memandang dua orang beda usia itu secara bergantian. Entah mengapa wanita itu merasa sangat familiar, dengan kedua pria dihadapannya itu.


"Tidak, kok, Nak. Kami saja yang datang terlalu awal. Oh, iya, perkenalkan, ini cucu saya , Agus,"ucap Abimana.


"Ah iya, ini putri saya, Chintania,"ucap mama Nia. Keempat orang itu pun saling berjabat tangan. Chintania dan Agus pun hanya saling berjabat tangan dan melempar senyum.

__ADS_1


Agus sangat kagum dengan wanita yang dijodohkan kakeknya dengan saudara sepupu nya itu. Wanita cantik dan elegan yang menurut Agus sangat sempurna.


"Jadi ini cucu Bapak yang mau Bapak jodohkan dengan putri saya?"tanya mama Nia dengan tatapan yang menelisik pada Agus, sedangkan Chintania sedari tadi hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Bukan. Ini adalah adiknya. Yang ingin saya jodohkan dengan putri mu adalah kakaknya. Dia masih ke toilet. Sambil menunggu nya, bagaimana jika kita memesan makanan dulu,"sahut Abimana memberi usul.


"Ide yang bagus, Pak,"sahut mama Nia. Keempat orang itu pun mulai melihat daftar menu dan tak lama kemudian, Arjuna pun muncul.


"Nahh.. ini orangnya. Perkenalkan, ini Arjuna, kakaknya Agus,"ucap Abimana membuat Chintania dan mamanya yang sedang menatap daftar menu pun menatap kearah orang yang baru saja duduk itu.


Arjuna tersenyum tipis seraya mengulurkan tangannya pada mama Nia dan Chintania. Arjuna hanya memandang Chintania sekilas.


"Wahh.. cucu Bapak tampan -tampan, ya?"ucap mama Nia jujur.


Sedangkan Chintania kembali merasa familiar dengan orang yang baru saja datang itu. Entah mengapa tiba-tiba jantung Chintya berdetak kencang saat melihat pria itu. Pria berwajah tampan dengan tatapan tajam tapi tatapan matanya yang tajam itu malah membuatnya semakin mempesona.


"Tampan itu relatif, Tan. Kalau jelek itu mutlak,"sahut Agus yang memang cepat akrab dengan orang lain.


"Bisa saja, Nak Agus,"sahut mama Nia dengan senyum di bibirnya,"Sayang, kamu mau pesan ini?"tanya mama Nia seraya menunjuk daftar menu pada Chintania.


Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun datang. Setelah selesai makan, Abimana pun langsung memulai pembicaraan,"Jadi, bagaimana, Nak? Saya melamar putri kamu untuk saya jadikan istri dari cucu saya Arjuna,"ucap Abimana to the point.


Mama Nia tersenyum lalu menatap putrinya,"Bagaimana, sayang? Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?"tanya mama Nia menatap serius pada Chintania, begitu pun Agus yang hendak minum. Tangan Agus meraih gelas untuk minum tapi tatapan matanya tertuju pada Chintania. Sedangkan Arjuna nampak tenang seraya meminum air putihnya.


"Aku setuju jika menurut mama itu baik untuk ku,"ucap Chintania yang sedari tadi tidak bersuara.


"Uhuk.. uhuk.. uhuk..."


Arjuna dan Agus sangat terkejut saat mendengar suara Chintania. Dan kakak beradik yang sedang minum itu pun langsung tersedak bersamaan.


'Hei, ada apa dengan kalian berdua?"tanya Abimana yang sejatinya sudah tahu kenapa kedua cucunya langsung tersedak saat mendengar suara Chintania. Itu karena suara Chintania mengingatkan mereka pada orang yang sangat mereka sayangi, yaitu Kinara.


Secara bersamaan, Arjuna dan Agus menatap intens pada Chintania tanpa menanggapi kata-kata Abimana, hingga membuat wanita itu merasa serba salah dan memilih menunduk.

__ADS_1


"Bagaimana, Nak? Apa kamu setuju?"tanya Abimana seraya menatap mama Nia yang sempat terkejut karena kedua pria tampan dihadapannya itu tersedak secara bersamaan.


"Kalau Nia setuju, saya pun setuju dengan perjodohan ini,"jawab mama Nia dengan seulas senyum.


'Syukurlah kalau begitu. Bagaimana jika kita tentukan tanggal dan harinya sekarang?"tanya Abimana antusias.


Akhirnya malam itu juga mereka menentukan hari dan tanggal pernikahan Arjuna dan Chintania. Mama Nia sempat keberatan saat Arjuna menginginkan acara itu digelar secara tertutup dan hanya dihadiri keluarga terdekat saja. Tapi saat Chintania mengatakan tidak keberatan dengan permintaan Arjuna, mama Nia pun akhirnya setuju.


"Bapak sepertinya sudah tidak sabar menjadikan putri saya sebagai menantu,"ucap mama Nia karena Abimana meminta pernikahan itu dilaksanakan seminggu lagi.


"Putri kamu ini sangat cantik. Aku takut diambil orang jika tidak segera menghalalkannya,"sahut Abimana dengan seulas senyum bahagia di bibirnya.


"Bapak terlalu memuji,"sahut mama Nia dengan senyum manisnya.


Setelah menentukan hari dan tanggal pernikahan, mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan mama Nia memperhatikan putrinya yang terdiam, tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Kamu kenapa, sayang? Kok, dari tadi cuma diam saja? Apa kamu tidak senang dengan perjodohan ini?"tanya mama Nia.


"Bukan begitu, ma. Aku cuma merasa familiar dengan mereka bertiga,"ucap Chintania jujur.


"Mungkin karena kamu merasa nyaman dengan mereka,"sahut mama Nia dengan ekspresi wajah yang terlihat agak tegang setelah mendengar kata-kata Chintania.


"Ah, mungkin juga, ma,"sahut Chintania dengan seulas senyum membuat mama Nia merasa lega.


...🌟"Terkadang manusia menyembunyikan kebenaran karena tidak mau menerima dan menghadapi kenyataan."🌟...


..."Nana 17 Oktober."...


.


Notebook : Reservasi adalah pesan tempat untuk menghindari penuhnya suatu layanan atau jasa yang akan dipesan. Arti reservasi berdasarkan KBBI versi online didefinisikan dengan pengaturan atau pemesanan tiket, meja, kamar hotel, dan lainnya untuk seseorang pada waktu tertentu.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2