
Melihat Arjuna yang sudah memejamkan mata, Kinara pun tidak berani membuka suara. Sudah setengah jam berbaring tapi belum juga bisa terlelap karena merasa gelisah. Sikap Arjuna yang kembali datar dan irit bicara membuat Kinara benar-benar merasa bersalah, dan gelisah.
Sesekali Kinara melihat Arjuna untuk memastikan apakah suaminya itu sudah benar-benar tertidur atau belum. Sejak membaringkan tubuhnya, Arjuna sama sekali tidak bergerak. Karena merasa gelisah dan tidak bisa tidur, akhirnya Kinara memberanikan diri untuk mendekati suaminya. Dengan perlahan beringsut mendekati suaminya agar pria itu tidak terbangun
Arjuna yang belum tidur pun menyadari jika istrinya juga belum tidur, tapi tetap berpura-pura sudah tidur. Arjuna merasakan Kinara mendekat ke arahnya. Kinara merebahkan kepalanya di bawah ketiak Arjuna karena Arjuna meletakkan lengannya di atas dahinya.
Perlahan Kinara memeluk Arjuna tapi Arjuna tetap berpura-pura sudah tidur. Karena merasa nyaman saat memeluk Arjuna, beberapa menit kemudian, terdengar dengkuran halus Kinara yang sudah tertidur karena kelelahan.
Arjuna menghela napas panjang, menatap Kinara yang sudah terlelap,"Kamu sengaja mendekati aku, tapi tidak mau aku sentuh,"gumam Arjuna kembali menghela napas panjang.
Arjuna merengkuh Kinara dalam dekapannya dengan menjadikan lengannya sebagai bantal Kinara, kemudian mendekap tubuh mungil itu. Sesungguhnya Arjuna juga kesulitan untuk tidur jika tanpa mendekap tubuh istrinya itu. Akhir-akhir ini Arjuna sudah terbiasa tidur dengan mendekap Kinara dan merasa nyaman dengan posisi seperti itu.Tak lama kemudian, Arjuna pun terlelap menyusul Kinara ke alam mimpi.
Saat fajar menjelang, Kinara terbangun dari tidur lelapnya karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kinara kembali mencari posisi yang nyaman dalam dekapan Arjuna untuk menghalau dingin yang mulai menyerang. AC yang hidup dan suhu udara yang menjadi semakin dingin karena hujan yang turun semakin deras membuat Kinara merasa hangat dalam dekapan Arjuna..
Merasakan pergerakan Kinara, Arjuna pun terbangun dari tidurnya. Arjuna melepaskan dekapannya pada Kinara, karena pergerakan Kinara dan udara yang bertambah dingin malah membuat sesuatu dibawah sana terbangun. Arjuna bahkan sengaja membalikkan tubuhnya hingga posisinya sekarang membelakangi Kinara.
Kinara membuka matanya dan mengerucutkan bibirnya saat Arjuna melepaskan dekapannya. Dan menjadi semakin kesal saat melihat Arjuna membalikkan tubuhnya membelakangi dirinya,"πππ¨ π πͺπ£π π’ππ¨ππ π’ππ§ππ π₯ππππ πͺ?"batin Kinara, tapi tidak mau menyerah dan memeluk Arjuna dari belakang.
Merasa memeluk Arjuna dari belakang tidak sehangat seperti saat Arjuna mendekapnya, dengan berani Kinara berguling melewati tubuh Arjuna dan langsung masuk kedalam dekapan Arjuna.
Arjuna berdecak kesal dan bermaksud kembali membalikkan tubuhnya namun Kinara langsung mengeratkan pelukannya membuat Arjuna sulit bergerak,"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan pelukanmu!"titah Arjuna dengan suara datar.
"Aku kedinginan, Mas,"ucap Kinara tidak mau melepaskan pelukannya. Entah kenapa Kinara merasa tubuhnya semakin kedinginan..
"Jika kamu tidak ingin aku sentuh, jangan memeluk aku seperti ini!"ucap Arjuna dengan nada yang berubah menjadi dingin.
"Mas, aku kedinginan, aku cuma ingin dipeluk oleh suamiku. Apa itu salah?"tanya Kinara perlahan mendongakkan kepalanya menatap Arjuna.
"Bukankah kamu tidak ingin aku menyentuh mu? "tanya Arjuna, kali ini terdengar benar-benar dingin.
__ADS_1
"A.. aku tidak pernah mengatakan seperti itu,"ucap Kinara tergagap.
Arjuna beranjak dari posisinya berbaring,"Kamu tidak mengatakan nya, tapi kamu marah setelah aku menyentuh mu. Kamu tidak perlu melayani aku jika setelah itu menyesalinya,"ucap Arjuna kemudian melepaskan pelukan Kinara dan beringsut ke tepi ranjang.
"Mas!"Kinara langsung kembali memeluk Arjuna dari belakang hingga membuat Arjuna berhenti bergerak,"Aku.. aku minta maaf, jika aku menyinggung perasaan Mas Juna. Aku tidak marah pada Mas Juna, aku hanya...."
"Kamu jelas-jelas marah padaku karena aku melakukannya semalam,"potong Arjuna seraya memejamkan matanya untuk meredam emosi nya yang mulai naik.
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya sedikit kesal pada Mas Juna. Maafkan aku! Jangan marah!"pinta Kinara dengan suara memelas menyandarkan kepalanya di punggung Arjuna.
"Lepaskan aku! Aku ingin ke kamar mandi,"titah Arjuna dengan nada datar.
Kinara melepaskan pelukannya dengan tidak rela dan Arjuna pun segera bergegas ke kamar mandi. Kinara duduk dan bersandar pada headboard ranjang seraya menyelimuti tubuhnya yang terasa menggigil sambil nunggu Arjuna keluar dari kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Arjuna keluar dari dalam kamar mandi kemudian mematikan AC. Udara terasa begitu dingin karena derasnya hujan di luar sana. Arjuna kembali membaringkan tubuhnya tanpa menoleh pada Kinara sama sekali, menutup matanya dan meletakkan lengannya di atas dahinya.
"Aku tidak akan menyentuh mu apalagi meniduri mu, jika kamu tidak menginginkannya. Tidurlah!"ucap Arjuna masih terdengar datar
Kinara pun tidak berani lagi mengatakan apapun lagi, memilih membaringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya yang semakin menggigil. Sedangkan Arjuna masih merasa kecewa karena tingkah dan ucapan Kinara kemarin yang seperti menyesal karena telah berhubungan suami-istri dengan nya.
Mungkin tanpa sengaja Arjuna telah menyakiti Kinara karena terlalu bersemangat saat melakukan hubungan suami-istri dengan Kinara hingga Kinara kesulitan berjalan seperti kemarin. Tapi sungguh, tidak ada niat sedikitpun dalam hati Arjuna untuk menyakiti Kinara.
Hujan masih turun dengan deras, sepasang suami-isteri, pengantin baru yang berbaring berjauhan. Arjuna membuka matanya dan melirik Kinara yang dari tadi tidak melakukan pergerakan apapun. Namun beberapa detik kemudian Arjuna mengernyitkan keningnya saat menatap bibir Kinara yang tidak seperti biasanya.
Walaupun tidak memakai lipstik, tapi bibir Kinara biasanya berwarna pink. Tapi kali ini bibir itu terlihat pucat. Perlahan Arjuna menyentuh pipi Kinara dengan punggung tangannya. Seketika Arjuna membulatkan matanya saat merasakan suhu tubuh Kinara terasa panas.
"Ra, kamu demam?"tanya Arjuna seraya menepuk-nepuk pelan pipi Kinara dengan kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya.
Kinara memegang tangan Arjuna yang menyentuh pipinya,"Bu, dingin sekali,"ucap Kinara dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1
"Aku akan mencari dokter untuk mu,"ucap Arjuna bermaksud beranjak dari ranjang itu.
"Jangan pergi, Bu! Peluk aku! Dingin, Bu,"ucap Kinara dengan suara lirih tanpa mau melepaskan tangan Arjuna.
"Ra.,"panggil Arjuna, tapi Kinara hanya bergumam memanggil ibunya.
Karena merasa kasihan, khawatir dan juga tidak tega meninggalkan Kinara yang saat ini tampak menggigil kedinginan, Arjuna pun beringsut merebahkan dirinya di samping Kinara kemudian memeluk tubuh Kinara dalam dekapannya.
"Ibu,"gumam Kinara menyangka jika Arjuna adalah ibunya.
"Ra, jangan membuatku takut!"ucap Arjuna memeluk tubuh Kinara,"Kenapa kamu jadi demam begini?"gumam Arjuna seraya mengusap lembut kepala Kinara.
Hari beranjak pagi dan Arjuna masih mendekap Kinara yang terlelap dalam dekapan nya. Arjuna mencoba menghubungi dokter untuk memeriksa Kinara. Setengah jam kemudian seseorang mengetuk pintu kamar hotel yang ditempati oleh Arjuna bersama Kinara. Perlahan Arjuna melepaskan dekapannya pada Kinara dan beranjak membuka pintu.
Seorang dokter wanita paruh baya terlihat di sana. Dokter itu pun segera memeriksa keadaan Kinara.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?"tanya Arjuna setelah dokter itu selesai memeriksa keadaan Kinara.
"Hanya demam karena kecapaian,"jawab dokter itu seraya mengulas senyum, kemudian memberikan beberapa obat pada Arjuna. Setelah itu dokter paruh baya itu pun meninggalkan kamar itu.
"Maaf! Kamu sampai demam seperti ini karena kecapaian,"ucap Arjuna seraya mengelus kepala Kinara kemudian mengecup lembut kening Kinara.
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1