
Arjuna merengkuh tubuh Chintania ke dalam pelukannya. Entah mengapa Arjuna merasa harinya teriris saat melihat Chintania menangis,"Kenapa kamu mempermasalahkan tentang itu? Sedangkan aku saja tidak mempermasalahkan hal itu,"ucap Arjuna kemudian melerai pelukannya.
"Aku.. aku.. "Chintania tidak melanjutkan kata-katanya saat Arjuna menempelkan jari telunjuknya dibibir Nia.
"Kamu juga bukan yang pertama untuk ku. Jadi, berhentilah menangisi hal itu. Aku tetap menerimamu walaupun aku bukan yang pertama bagimu,"ucap Arjuna kemudian menghapus air mata yang menetes ke pipi Nia dengan kedua ibu jarinya.
Nia menatap lekat wajah Arjuna, mata yang menatapnya lembut itu seolah familiar baginya. Begitu pula dengan Arjuna yang menatap manik mata Nia, jantung Arjuna tiba-tiba berdetak kencang. Manik mata Chintania persis seperti manik mata Kinara. Selain wajah, semua yang ada pada Chintania sangat mirip dengan Kinara.
"Cucilah wajahmu! Matamu akan menjadi bengkak jika kamu tidak mencucinya,"ucap Arjuna memutus kontak mata diantara mereka. Menatap mata Nia membuatnya seperti melihat Kinara.
Chintania pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ada secercah kebahagiaan karena sikap Arjuna yang lembut padanya tadi. Tapi juga masih terbersit tanda tanya di hatinya tentang siapa yang telah mengambil kesuciannya. Walaupun Arjuna tidak mempermasalahkan hal itu, namun Chintania merasa terganggu dengan masalah itu.
Akhirnya masa bulan madu yang singkat itu digunakan sepasang suami-isteri itu layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya. Arjuna terlihat lebih perhatian semenjak mereka melakukan hubungan suami-istri. Namun Chintania tidak begitu banyak bicara seperti sebelumnya karena masih memikirkan tentang siapa yang telah mengambil kesuciannya.
Hari sudah larut malam saat Arjuna dan Chintania tiba di kediaman Abimana. Chintania mengikuti langkah Arjuna, masuk ke dalam rumah itu. Chintania yang baru kali ini datang ke rumah itu nampak merasa familiar dengan rumah itu hingga mereka masuk ke dalam kamar Arjuna.
"Bersihkanlah dirimu! Kamar mandinya ada di sana,"ucap Arjuna seraya menunjuk ke arah sebuah pintu,"Dan soal pakaian, Bik Iyem sudah menyusukan pakaian kamu di lemari itu,"imbuh Arjuna kembali menunjuk ke sebuah arah di mana disana ada sebuah lemari yang mempunyai empat pintu.
"Iya,"sahut Chintania langsung membuka lemari dan mencari baju tidur, kemudian bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Arjuna membuka pintu balkon kamarnya kemudian berdiri di dekat pagar pembatas balkon. Kedua tangannya dimasukkannya ke dalam saku celananya dan kepalanya menengadah menatap langit malam yang menampilkan bulan yang bersinar terang dengan bintang yang berkelap-kelip membuat langit terlihat begitu indah.
Pikiran Arjuna melayang ke masa-masa dimana dirinya selalu bersama Kinara. Wanita yang sangat dicintainya dan membuatnya terpuruk selama ini karena Kinara menghilang tanpa jejak. Sampai saat ini, tidak sedikitpun cinta Arjuna pada Kinara berubah. Lalu bagaimana perasaannya pada Chintania? Hanya sebatas nyaman karena banyaknya kemiripan antara Chintania dengan Kinara. Karena itulah Arjuna bisa menerima Chintania.
"Mas, aku sudah selesai,"ucap Chintania membuyarkan lamunan Arjuna.
__ADS_1
"Hum,"sahut Arjuna kemudian beranjak ke kamar mandi.
"Kenapa aku merasa kamar ini tidak asing, ya? Aku seperti pernah berada di kamar ini sebelumnya,"gumam Chintania seraya memperhatikan seluruh bagian di dalam ruangan kamar itu. Entah mengapa Chintania merasa sangat familiar dengan kamar itu. Perlahan Chintania duduk di kursi yang ada di depan meja rias dan memakai skincare. Semua ini rasanya juga pernah dia lakukan.
Sambil berusaha mengingat secara perlahan kilasan-kilasan di memory nya tanpa memaksa otaknya, Chintania mengoleskan losion di betis dan pahanya yang mulus. Arjuna yang keluar dari kamar mandi pun susah payah menelan salivanya melihat betis dan paha Chintania yang begitu mulus. Sedangkan Chintania sendiri tidak menyadari akan kehadiran Arjuna karena masih mencoba mengingat masa lalunya secara perlahan.
"πΌπ₯π πππ π¨ππ£ππππ π’ππ£πππ€ππ π πͺ?"batin Arjuna dengan mata yang tak beralih dari betis dan paha mulus Chintania.
Perlahan Arjuna mendekati Chintania, tangan kanannya memeluk perut Chintania, tangan kirinya mengelus paha Chintania yang begitu halus, sedang wajah Arjuna sudah berada di ceruk leher Chintania, menghirup aroma wangi yang keluar dari tubuh wanita itu.
Chintania yang dari tadi mencoba mengingat masa lalunya pun terhenyak karena tingkah Arjuna itu,"Mas!"gumam Chintania yang merasa tubuhnya meremang karena perbuatan Arjuna itu.
Namun sesaat kemudian ingatan yang lain pun kembali muncul saat Arjuna mencium dan menyesap ceruk lehernya. Chintania merasa semua itu juga pernah dialaminya dalam posisi seperti ini..
Semenjak bersama Arjuna, Chintania semakin sering mengingat apa yang ada di memory otaknya. Namun sampai saat ini, Chintania belum juga bisa mengingat memory di otaknya dengan jelas. Semua masih berupa bayangan, tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam memory nya itu.
Sepasang suami-isteri itu terlelap setelah melakukan aktivitas panas di atas ranjang. Arjuna terlelap dengan mendekap Chintania. Perasaan nyaman saat mendekap tubuh Chintania, rasanya sama seperti saat Arjuna mendekap tubuh Kinara. Tubuh mungil Kinara yang selalu menghangatkan hati dan tubuhnya setahun yang lalu.
Pasangan suami-istri itu nampak belum bangun saat mentari sudah mulai menampakkan diri. Karena merasa kelelahan dengan aktivitas ranjang yang mereka lakukan semalam, ditambah lagi melakukan perjalanan dari luar kota setelah berbulan madu, membuat sepasang suami-isteri itu tidur dengan nyenyak.
Arjuna terbangun saat terdengar suara dering handphone, sedangkan Chintania masih terlelap dalam dekapan Arjuna. Arjuna meraih handphone yang terlihat menyala itu. Tanpa melihat siapa yang menelepon Arjuna menggeser ikon yang berwarna hijau, kembali memejamkan matanya dan menempel benda pipih itu di telinganya.
"Halo, Nia! Hari ini kamu ke rumah sakit, 'kan?" suara seorang pria menyapa pendengaran Arjuna dari handphone itu membuat Arjuna membuka mata dan kemudian melihat siapa yang menelepon.
"Halo! Nia! Apa kamu mendengar ku?"suara itu kembali terdengar.
__ADS_1
"Nia! Nia! Ada yang menelepon mu,"ucap Arjuna dengan wajah yang terlihat kesal, sedangkan si penelpon yang ternyata adalah Noah, nampak terkejut saat mendengar suara pria yang sepertinya sedang membangunkan Nia. Dari suara nya yang terdengar serak, sudah dapat dipastikan jika pria itu baru bangun dari tidurnya dan sekarang sedang membangunkan Nia.
"Em,"sahut Chintania membuka matanya kemudian meraih handphone yang diberikan oleh Arjuna dan menatap siapa yang menghubungi nya. "Halo!"ucap Chintania setelah tahu siapa orang yang menghubungi nya.
Arjuna melepaskan Chintania dari dekapan nya, beranjak dari tempat tidur nya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Maaf! Aku menganggu waktu mu, ya?" ucap Noah yang merasa tidak enak hati karena telah membuat sepasang pengantin baru itu terbangun.
"Tidak. Ada apa menelponku ? Apa ada yang penting?"tanya Chintania seraya menguap.
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya, apa hari ini kamu akan datang ke rumah sakit?"tanya Noah.
"Iya, nanti setelah pulang kuliah,"sahut Chintania.
"Ya sudah kalau begitu. Aku hanya ingin menanyakan hal itu saja. Aku tutup teleponnya,"ucap Noah langsung menutup teleponnya membuat Chintania merasa aneh dengan sikap Noah.
Sedangkan Noah sendiri nampak membuang napas kasar setelah menutup teleponnya,"Kenapa aku meneleponnya pengantin baru pagi-pagi begini? Aku merasa konyol,"gumam Noah kemudian tertawa tanpa suara. Dadanya terasa sesak saat mendengar suara serak Arjuna yang terdengar membangunkan wanita yang menjadi pujaan hatinya.
.
.
.
To be continued
__ADS_1