
Acara pernikahan sederhana Arjuna dan Chintania pun berjalan dengan lancar. Hampir saja tidak ada jadwal bulan madu bagi sepasang pengantin baru itu karena Arjuna sama sekali tidak ada niat untuk berbulan madu. Bahkan Arjuna sempat menolak untuk menginap di hotel seperti yang disarankan oleh Abimana, mama Nia dan juga Agus.
Namun karena Abimana dan mama Nia terus mendesak, akhirnya Arjuna dan Chintania menginap di sebuah hotel yang berada di tepi pantai. Chintania sangat senang saat mereka tiba di hotel itu. Suara debur ombak yang membentur karang, seolah memanggil Chintania untuk datang ke pantai.
"Mas, kita ke pantai, yuk?"ajak Chintania nampak antusias setelah mereka meletakkan barang-barang mereka.
"Kamu saja, aku tidak ingin pergi,"sahut Arjuna yang malah mulai melihat layar gadgetnya.
Mendapatkan respon seperti itu dari suaminya, Chintania pun terlihat kecewa,"Aku akan ke pantai,"pamit Chintania dengan wajah masam.
"Hum,"sahut Arjuna singkat.
Chintania yang memakai celana panjang dilapisi tunik itupun segera keluar dari hotel menuju ke pantai dengan wajah kesal. Chintania nampak bermain di tepi pantai, sedangkan Arjuna diam-diam menyusulnya dan memperhatikan Chintania dari jauh.
Setelah puas bermain, Chintania nampak duduk diatas pasir seraya menatap sang surya yang mulai tenggelam. Arjuna menatap Chintania dari belakang dan saat menatap wanita itu dari belakang, Arjuna merasa seperti melihat Kinara. Bentuk tubuh dan rambut Chintania yang panjang sepinggang dibiarkan tergerai, sangat mirip dengan Kinara.
"Dimana kamu sekarang berada, Ra?"gumam Arjuna yang kembali teringat Kinara. Pria itu kemudian beranjak dari tempat itu dan kembali ke kamar hotel untuk membersihkan diri.
Setelah melihat sang surya tenggelam di ufuk barat Chintania pun beranjak dari tempat duduknya dan perlahan berjalan kembali ke hotel,"Huff.. bulan madu macam apa ini? Dia bahkan tidak menyusul ku ke pantai. Aku merasa sendirian di tempat ini. Kenapa sikapnya setelah menikah malah menjadi lebih dingin?"gerutu Chintania dengan wajah yang nampak masam.
Chintania menghela nafas panjang saat masuk ke dalam kamar hotel dan mendapati Arjuna yang masih sibuk dengan handphonenya. Bahkan pria itu tidak melirik dirinya sama sekali. Dengan langkah gontai Chintania masuk ke dalam kamar mandi dan berendam di dalam bathtub.
Setelah selesai mandi, Arjuna mengajak Chintania untuk pergi ke restoran yang ada di hotel itu. Chintania berusaha mencairkan suasana hening di antara mereka dengan mengajak Arjuna berbincang, tapi Arjuna selalu merespon apa yang ditanyakan Chintania dengan jawaban singkat yang membuat Chintania semakin bertambah kesal.
Setelah makan malam, mereka pun kembali ke kamar mereka. Arjuna bersandar di headboard ranjang dengan handphone di tangannya. Melihat itu, Chintania yang baru saja keluar dari kamar mandi pun membuang napas kasar.
__ADS_1
"Dia lebih perhatian pada handphonenya dari pada aku. Mengapa dia tidak menikah dengan handphonenya saja?"gerutu Chintania kemudian merebahkan tubuhnya di samping Arjuna. Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka, apalagi adegan bermesraan layaknya pasangan pengantin baru.
Hingga malam berganti pagi, mereka hanya tidur di ranjang yang sama dengan saling memunggungi. Chintania membersihkan dirinya dan saat Chintania selesai membersihkan diri, Arjuna pun terbangun. Pria itu pun segera beranjak untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai menyapukan makeup tipis diwajahnya, Chintania kemudian mengemasi barang-barang nya. Arjuna yang baru keluar dari kamar mandi pun mengernyitkan keningnya saat melihat Chintania mengemasi barang-barang nya,"Kenapa kamu mengemasi barang-barang kamu?"tanya Arjuna menatap Chintania.
"Karena aku akan pulang,"sahut Chintania masih lanjut mengemas barang-barang nya.
"Apa maksud mu?"tanya Arjuna nampak tidak suka.
"Aku merasa tidak ada gunanya berada di sini. Aku merasa seperti orang yang sedang berlibur sendirian. Akan sangat membosankan berada di tempat ini selama dua hari lagi. Lebih baik aku pulang saja,"ujar Chintania tanpa menoleh pada Arjuna.
"Kenapa? Kamu kecewa karena kita tidak melakukan malam pertama?"tanya Arjuna terdengar seperti mencibir.
"Aku kecewa dengan sikap Mas Juna. Aku merasa setelah kita menikah, sikap Mas Juna semakin dingin padaku. Aku merasa kita bukan pasangan suami-istri, tapi seperti orang asing yang terpaksa tinggal dalam satu kamar yang sama,"ucap Chintania yang merasa sangat kesal dengan Arjuna.
Walaupun tidak dipungkiri bahwa dirinya memang ingin disentuh Arjuna. Tapi bukankah sebagai pengantin baru, hal seperti itu wajar?
Chintania menatap Arjuna dengan tatapan tajam,"Sebelumnya aku sudah mengatakan pada Mas Juna, jika memang Mas Juna terpaksa menikah dengan ku, kita batalkan saja pernikahan ini. Tapi hari itu Mas Juna meyakinkan aku bahwa Mas Juna akan berusaha membangun komunikasi di antara kita, akan serius dengan pernikahan kita,"
"Bahkan hari itu, Mas Juna berusaha mengerti aku seolah-olah Mas Juna benar-benar berusaha untuk membangun hubungan dengan aku. Tapi setelah kita menikah, Mas Juna malah mengacuhkan aku. Apa Mas Juna sengaja mempermainkan perasaan ku?"
"Jika Mas Juna tidak bisa menerima aku sebagai pendamping hidup Mas Juna, untuk apa Mas Juna menikahi aku?"ujar Chintania meluapkan isi hatinya.
Arjuna terdiam, ini memang salahnya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri yang takut kakeknya berbuat nekad jika dirinya tidak menerima permintaan kakeknya untuk menikah dengan gadis pilihan kakeknya, namun dia tidak memikirkan perasaan Chintania.
__ADS_1
Melihat Arjuna terdiam Chintania pun kembali berkata,"Sebaiknya mulai hari ini kita tinggal terpisah saja. Mas Juna pikirkan baik-baik, masih ingin melanjutkan pernikahan ini atau tidak. Jika masih aku ingin Mas Juna berubah, jika tidak ingin lanjut pun, aku tidak masalah,"ucap Chintania kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah pintu sambil membawa tas pakaian yang tidak terlalu besar.
Saat Chintania ingin membuka pintu, tiba-tiba Arjuna menghalangi nya dengan berdiri di pintu,"Kamu tidak boleh pergi!"ucap Arjuna masih terdengar datar. Jika sampai Chintania pergi dan mereka benar-benar tinggal terpisah, entah bagaimana reaksi kakeknya nanti, itulah yang ada di dalam otak Arjuna.
"Aku akan tetap pergi,"ucap Chintania masih dengan pendiriannya.
Arjuna berjalan maju mendekati Chintania hingga reflek Chintania berjalan mundur. Arjuna kembali berjalan maju mendekati Chintania, tapi Chintania kembali mundur hingga tiba-tiba Arjuna memeluk Chintania membuat Chintania terdiam.
Jantung Chintania berdetak begitu kencang saat Arjuna menundukkan kepalanya dan semakin lama jarak wajah mereka semakin dekat dan hembusan nafas Arjuna terasa hangat di wajah Chintania. Tas yang dipegang Chintania pun tanpa sadar terlepas dari pegangan Chintania.
Tinggal beberapa senti bibir Arjuna akan bertemu dengan bibir Chintania. Namun tiba-tiba Chintania mengingat tuduhan Arjuna bahwa dirinya kecewa karena Arjuna tidak menyentuh dirinya. Dengan cepat Chintania mendorong tubuh Arjuna hingga membuat Arjuna terkejut dan mundur beberapa langkah.
"Kau menolak aku?"tanya Arjuna dengan ekspresi tidak percaya diwajahnya karena mendapatkan penolakan dari Chintania. Suaranya terdengar begitu dingin dan tatapan matanya begitu tajam seolah-olah ingin mencabik-cabik tubuh Chintania.
...π"Jangan hanya memikirkan perasaan sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Karena bukan cuma kita yang punya perasaan."π...
..."Nana 17 Oktober...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
.
__ADS_1
To be continued