
"Mas Juna,"gumam Kinara tanpa sadar saat melihat Arjuna yang tengah bersandar di mobil dengan legan kemeja yang digulung hingga ke siku dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Walaupun Kinara bergumam pelan, tapi Bu Cici masih bisa mendengar gumaman Kinara itu. Bu Cici pun langsung menoleh pada Kinara,"Bu Kinar mengenal pria itu?"tanya Bu Cici seraya mengernyitkan keningnya.
Kinara menoleh pada Bu Cici, lalu tersenyum,"Dia suami saya. Kalau begitu saya duluan, ya, Bu?!"ucap Kinara seraya menepuk pelan lengan Bu Cici, sedangkan Bu Cici hanya menatap Kinara yang berjalan meninggalkan nya tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.
Kinara tersenyum menatap suaminya, Arjuna pun melempar senyum pada Kinara yang berjalan menghampirinya. Semua orang yang melihat hal itu pun hanya ternganga melihat betapa tampan pria yang menjemput Kinara.
Para guru wanita, apalagi yang masih singel pun nampak enggan berkedip menatap pria yang sedang bersandar di mobil itu. Belum lagi saat melihat pria tampan itu melempar senyum pada Kinara, pria itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.
Seorang pria dengan tubuh yang terlihat proposional, lengan panjang yang di gulung hingga ke siku memperlihatkan otot-otot yang menunjukkan kesan maskulin. Tubuh yang tinggi dan tegap dengan dada yang terlihat bidang. Belum lagi mobil yang dikendarai pria itu yang termasuk mobil mewah.
"Saya duluan, ya?!"ucap Kinara melambaikan tangannya pada para rekan kerjanya, kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintu nya oleh Arjuna. Setelah Kinara duduk, Arjuna pun menutup pintu mobil, lalu menganggukkan kepalanya pada para rekan kerja Kinara sebagai tanda hormat, kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya.
Beberapa saat kemudian, mobil Arjuna pun perlahan melaju meninggalkan restoran itu. Sedangkan rekan-rekan kerja Kinara yang melihat mobil yang ditumpangi oleh Kinara mulai menjauh pun mulai mengeluarkan berbagai macam komentar.
"Tampan sekali!"gumam Bu Cici.
"Dai mana, ya, Bu Kinar bisa mendapatkan pria setampan itu," sahut guru wanita yang lain.
"Pantas saja Bu Kinar tidak menerima satu pun dari para guru yang mengungkapkan perasaan padanya. Ternyata dia memang sudah memiliki pasangan,"ujar seorang guru pria.
"Kita jelas-jelas kalah segalanya dari pria itu,"
"Sepertinya pria itu pria yang mapan, beda sama kita yang hanya mendapat gaji pas-pasan,"
"Kalau mengandalkan gaji sebagai guru honorer, sampai lebaran monyet pun nggak bakalan kebeli mobil seperti itu,"
"Wajar saja Bu Kinar lebih memilih pria itu, wajahnya tampan, tubuhnya tinggi tegap dan proporsional, belum lagi kendaraannya yang terlihat mewah. Mana ada perempuan yang menolak pria seperti itu,"
"Sudah pasti di dalam dompetnya berjajar kartu kredit dan kartu ATM,"
"Kalau saya cuma punya kartu ATM yang ada isinya pas tanggal muda doang,"
__ADS_1
"Kalau saya punya banyak kartu, tapi kartu buat nyicil kreditan,"
"Pasrah saja, kalau dompet nggak tebal oleh kartu ATM dan gambar pahlawan proklamator, jangan mengharapkan wanita yang cantik sebagai pendamping hidup,"
"Iya, cewek jaman sekarang melihat pria bukan dari ketulusannya, tapi dari isi dompetnya,"
"Cewek jaman sekarang mana ada yang nggak materialistis,"
"Eh.. eh.. jangan menjudge semua perempuan materialistis, ya! Tidak semua perempuan matre,"sambar Bu Cici yang dari tadi mendengar komentar para guru pria itu.
"Jarang Bu, ada cewek yang nggak materialistis,"
"Cewek itu nggak materialistis, Pak! Cuma realistis,"balas Bu Cici.
"Apa bedanya, Bu? Antara materialistis dan realistis itu cuma beda tipis,"
"Tentu saja beda, Pak. Kalau materialistis itu pasti realistis. Tapi kalau realistis belum tentu materialistis,"jelas Bu Cici.
"Iya, Bu Cici benar. Lagian, semua juga harus dibeli pakai uang. Mana ada yang gratis di dunia ini? Jadi wajar saja para wanita bukan cuma menilai para pria dari segi wajah, tapi juga menilai dari isi dompetnya,"sahut salah seorang guru wanita.
"Jangan pernah merasa rendah diri karena profesi kita adalah sebagai guru, Pak. Walaupun kita hanya bisa hidup sederhana, sedangkan murid-murid kita sudah banyak yang menjadi orang kaya dan sukses dengan rumah megah dan mobil mewah, tapi kita harus bangga dan bersemangat, karena kita ini adalah para pejuang di garis terdepan yang pemberantas kebodohan,"
"Kita semua adalah pahlawan yang mencerdaskan bangsa. Ilmu yang telah kita berikan pada murid-murid kita akan menjadi ladang pahala buat kita selamanya,"ujar Bu Cici dengan penuh semangat.
"Benar kata Bu Cici, kita harus bangga menjadi seorang guru. Kita adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang mencerdaskan bangsa,"sahut yang lain.
"Ya sudahlah! Kenapa kita jadi pada berkomentar di sini? Apa pada nggak mau pulang? Ini sudah malam, loh,"ujar Pak Yudi yang merasa mereka sudah terlalu lama beradu komentar di depan restoran itu.
Akhirnya merekapun meninggalkan restoran itu dengan kendaraan mereka masing-masing. Begitupun dengan Pak Rudi yang dari tadi hanya diam, tidak bersemangat setelah melihat Kinara dijemput seorang pria yang jauh lebih tampan dan kaya darinya.
Pak Yudi yang berjalan di sebelah Pak Rudi menuju parkiran pun menghela napas panjang melihat rekan kerjanya itu nampak lesu,"Sabar, ya, Pak! Ikhlaskan! Kalau bukan jodoh, bagaimana pun kita mengejarnya, dia tetap tidak akan pernah menjadi milik kita. Tapi kalau memang jodoh, bagaimana pun kita menghindari, pasti akan tetap bersama,"ujar Pak Yudi menghibur rekannya itu.
"Iya, Pak,"sahut Pak Rudi tersenyum, senyum yang terlihat dipaksakan.
__ADS_1
"Mungkin ada seseorang yang do'a nya begitu kuat menginginkan Pak Rudi. Karena itu, Pak Rudi tidak berjodoh dengan Bu Kinar,"ucap Pak Yudi seraya menepuk pelan pundak Pak Rudi.
Pak Rudi pun tersenyum tipis mendengar kata-kata Pak Yudi. Pak Rudi menanamkan sugesti pada dirinya sendiri bahwa apa yang dikatakan oleh Pak Yudi adalah benar. Mungkin ada seseorang yang do'a nya sangat kuat menginginkan dirinya sebagai pendamping orang tersebut, karena itu dia tidak berjodoh dengan Kinara.
Sementara itu, didalam mobil yang melaju dengan kecepatan rata-rata, Arjuna nampak mengernyitkan keningnya, melirik wajah istrinya yang nampak bahagia.
"Apa kamu senang makan malam bersama mereka?"tanya Arjuna kemudian kembali fokus mengemudi.
"Hum. Kami selalu makan malam bersama setiap kami baru menerima gaji,"sahut Kinara dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.
Sebenarnya yang membuat Kinara merasa sangat bahagia malam ini bukan karena makan malam bersama rekan-rekan kerjanya, tapi karena Arjuna menjemput nya. Selama ini rekan-rekan kerjanya selalu tidak percaya jika dirinya sudah menikah. Dan dengan Arjuna menjemputnya didepan mereka semua malam ini, pasti para rekan kerjanya sudah percaya jika dia benar-benar sudah menikah.
Kinara bisa melihat ekspresi terkejut para rekan kerjanya saat Arjuna menjemputnya, berdiri diluar mobil untuk menunggu nya, bahkan membukakan pintu mobil untuknya. Hal itu sungguh membuat Kinara menjadi sangat senang.
"Kamu merasa senang karena berada di tengah-tengah para pria yang menatapmu dengan tatapan kagum?"tanya Arjuna dengan suara dan wajah yang berubah menjadi datar.
Tidak bisa dipungkiri, Arjuna merasa kesal melihat para pria yang menatap istrinya dengan pandangan kagum. Ada yang terang-terangan menatap wajah istrinya, ada pula yang nampak curi-curi pandang. Semua itu tidak lepas dari pengamatan Arjuna tadi.
π"Kalau tidak bodoh, maka tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
...Kalau tidak berjodoh, maka tidak akan pernah bisa bersama."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
Notebook: Lebih jelas mengenai sugesti, Abu Ahmadi mengatakan bahwa βSugesti adalah pengaruh atas jiwa atau perbuatan seseorang sehingga pikiran, perasaan dan kemauannya terpengaruh dan dengan begitu orang mengakui atau meyakini apa yang dikehendaki dari padanya.β
ππͺπππ¨π©π π₯π§πππππ adalah sugesti yang dibangun oleh diri sendiri dan diberikan kepada diri sendiri. Banyak orang yang meremehkan kekuatan sugesti pribadi. Padahal sugesti pribadi bukan hanya dapat mempengaruhi pikiran sadar tetapi juga alam bawah sadar Anda.
.
__ADS_1
.
To be continued