
Rania yang melihat Arjuna beranjak keluar dari klub malam itu pun menatap Lexi dan Lexi pun mengacungkan jari jempol nya tanda semuanya berjalan sesuai dengan rencana mereka. Melihat itu, Rania pun bergegas menyusul Arjuna yang nampak memegangi kepalanya.
"Bugh!"Rania sengaja menabrak Arjuna.
"Maaf!"ucap Arjuna masih memegangi kepalanya yang terasa berat tanpa melihat siapa yang ditabraknya.
"Tidak apa. Juna?!"ucap Rania pura-pura terkejut melihat Arjuna,"Kamu kenapa? Ayo aku bantu!"tawar Rania yang langsung memegang tangan Arjuna.
"Lepaskan!"sentak Arjuna seraya mengibaskan tangannya hingga tangan Rania terlepas,"Jangan sentuh aku! Aku tidak suka disentuh wanita kecuali wanita itu adalah istriku,"ketus Arjuna yang nampak mulai sempoyongan.
"Aku hanya ingin membantu kamu, Jun," dalih Rania kembali berusaha memegang lengan Arjuna.
"Apa yang kamu lakukan pada Mas Juna?"sergah Agus yang tiba-tiba muncul. Saat Agus akan membeli makanan untuk keluarga pacarnya tadi, ternyata dompet Agus tertinggal di rumah. Jadi Agus kembali ke klub malam itu berniat untuk meminjam uang pada Arjuna. Tidak disangka, saat akan masuk ke dalam klub malam itu, Agus melihat Arjuna keluar dari klub malam itu dengan sempoyongan diikuti oleh Rania.
"Kau? Aku hanya ingin membantu dia saja,"sahut Rania nampak tidak suka dengan kedatangan Agus.
"Jangan pikir aku tidak tahu. Kamu berusaha menjebak kakakku, 'kan?! Dasar wanita licik! Sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah memiliki Mas Juna. Jadi, jangan pernah bermimpi bisa menjerat kakakku!"ujar Agus langsung membawa Arjuna masuk ke dalam mobil.
"Brengseek! Kenapa bedebah itu tiba-tiba muncul?"umpat Rania merasa sangat kesal. Kemunculan Agus benar-benar diluar prediksinya dan menggagalkan rencananya yang sudah setengah jalan.
Sementara itu, didalam mobil yang dikendarai Agus, Arjuna nampak gelisah. "Gus, kenapa tambah lama tambah panas? Apa kamu tidak menyalakan AC-nya?"keluh Arjuna seraya membuka kancing kemejanya.
"Gawat! Apa yang sudah ulet bulu itu berikan pada Mas Juna. Semoga saja Mbak Nia nggak lagi palang merah. Aku takut ulet bulu itu memberikan obat perangsang pada Mas Juna," gumam Agus yang menginjak pedal gas nya semakin dalam. Agus berusaha untuk mengemudikan mobilnya dengan cepat agar segera sampai di rumah tanpa memperdulikan Arjuna yang meracau tidak jelas.
"Kita sudah sampai? Kamu berkendara seperti Rossi,"ucap Arjuna terkekeh, berjalan sempoyongan di papah Agus masuk ke dalam rumah.
Dengan susah payah Agus membawa Arjuna yang meracau hingga sampai di depan pintu kamar Arjuna. Napas Agus nampak terengah-engah karena harus memapah tubuh Arjuna yang lebih besar dari nya menaiki tangga.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Mbak! Mbak Nia! Buka pintunya, Mbak!" teriak Agus membuat Chintania yang berada di dalam kamar pun terkejut dan bergegas membuka pintu kamarnya. Chintania nampak terkejut melihat Agus memapah Arjuna yang sudah tidak memakai baju lagi, dengan rambut yang nampak acak-acakan dan mata yang terlihat sayu.
"Apa yang terjadi?"tanya Chintania.
"Besok saja aku jelasin, Mbak. Sekarang tolong Mbak Nia urus Mas Juna. Aku tidak bisa membantu lagi,"ujar Agus seraya menyerahkan Arjuna pada Chintania kemudian menutup pintu kamar Arjuna dan segera pergi dari tempat itu.
"Mas Juna kenapa?"tanya Chintania seraya memapah Arjuna.
"Kinara? Ah, bukan .. kamu adalah... Chintania. Kamu hanya orang yang mirip dengan wanita yang aku cintai,"racau Arjuna seraya memegang pipi Chintania.
Chintania menatap tajam pada Arjuna yang sedang mabuk itu,"Apa Mas Juna tidak mencintai aku?"tanyanya dengan hati yang terasa berdenyut.
"Aku.. hanya mencintai Kinara... dan dari awal sampai akhir.. aku hanya akan.. mencintai dia. Tidak ada lagi ruang di hati ku ...untuk wanita lain. Tidak ada lagi ..cintaku untuk orang lain. Semuanya sudah kuberikan.. hanya... untuk Kinara.. seorang,"racau Arjuna terputus-putus.
Dengan perasaan yang sangat kesal dan hati yang terasa sakit, Chintania memapah Arjuna menuju ranjang, lalu dengan kuat membanting tubuh Arjuna ke atas ranjang,"Lalu kamu anggap apa aku selama ini?"tanya Chintania dengan wajah penuh amarah dan kedua tangan yang mengepal serta mata yang berkaca-kaca.
"Kamu.. hanya tempat ku ..melepaskan rindu ku ...pada Kinara. Suaramu.. cara berjalan mu... aroma tubuhmu... bentuk tubuhmu...dan caramu melayaniku di atas ranjang.. semuanya mirip Kinara. Hanya wajahmu... yang berbeda,"racau Arjuna membuat kristal bening dari kelopak mata Chintania berjatuhan.
Arjuna tiba-tiba menarik tubuh Chintania hingga terjatuh dalam pelukan Arjuna. Dan dengan cepat Arjuna membalikkan tubuh Chintania lalu menindihnya.
"Aku.. menginginkanmu! Sangat... menginginkan kamu!"racau Arjuna kemudian mencium Chintania dengan agresif.
"Hentikan! Lepaskan!"teriak Chintania dengan berderai air mata berusaha melepaskan diri dari kungkungan Arjuna. Namun apalah daya, postur tubuh dan kekuatan yang kalah besar membuat Chintania tidak berkutik saat Arjuna memaksanya melayani Arjuna.
Arjuna menjamah tubuh Chintania seperti orang kesurupan. Karena dalam pengaruh minuman yang diberikan oleh Lexi. Arjuna pun melakukan penyatuan berkali-kali hingga akhirnya kelelahan dan menghentikan aksinya.
Chintania menangis terisak, ternyata Arjuna tidak pernah berusaha mencintai nya. Arjuna hanya menganggapnya sebagai tempat untuk melepaskan rindu pada istri pertamanya. Lalu rumah tangga macam apa yang sedang dia jalaninya selama beberapa bulan ini?
Pantas saja setelah Arjuna menyentuhnya sekali, sikap pria itu langsung berubah menjadi sangat perhatikan pada dirinya. Ternyata ini alasannya, karena semua yang ada pada dirinya mirip dengan istri pertama Arjuna kecuali wajahnya.
__ADS_1
Kebenaran yang didengarnya malam ini begitu mengguncang dan meluluh lantakkan hatinya. Saat dirinya sudah mulai mencintai Arjuna, dia harus menerima kenyataan pahit bahwa Arjuna tidak sedikitpun mencintainya. Cintanya bertepuk sebelah tangan dan ironisnya hanya di jadikan sebagai tempat pelampiasan. Karena kelelahan, akhirnya Chintania pun tertidur dengan hati yang terasa hancur dan perih, serta air mata yang membasahi pipinya.
Pagi harinya, Arjuna terbangun dengan kepala yang terasa berat. Dengan perlahan Arjuna membuka matanya. Ditatapnya Chintania yang berbaring di sampingnya dengan selimut yang agak melorot hingga menampilkan dua benda favorit Arjuna.
"Apa yang aku lakukan semalam? Kenapa dia jadi seperti ini?"gumam Arjuna yang melihat begitu banyak tanda merah keunguan dan juga gigitan di tubuh Chintania. Arjuna menutup kembali tubuh Chintania dengan selimut, dan mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
"Ya Tuhan.. dia pasti sangat kesakitan dan kelelahan karena ulahku semalam," gumam Arjuna penuh sesal, mengelus lembut kepala Chintania.
Arjuna beranjak dari tempatnya berbaring kemudian membersihkan dirinya, mengguyur kepalanya yang terasa pusing dengan air dingin yang keluar dengan deras dari shower. Setelah merasa tubuhnya segar, Arjuna pun menyudahi ritual mandinya.
"Kamu sudah bangun?"tanya Arjuna yang baru saja keluar dari kamar mandi, menghampiri Chintania yang duduk bersandar di headboard ranjang,"Maaf, jika aku semalam agak kasar padamu hingga menyakiti mu,"ucap Arjuna saat melihat mata Chintania yang bengkak, mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Chintania, tapi Chintania langsung menghindar.
Dengan tubuh yang terasa remuk redam, Chintania menggulung tubuh nya yang polos tanpa sehelai benang dengan selimut. Chintania turun dari ranjang kemudian bergegas ke kamar mandi.
Arjuna menghela napas kasar dan mengacak rambutnya, istrinya nampak marah padanya. Entah bagaimana cara dirinya meniduri istrinya semalam hingga banyak tanda dan bekas gigitan ditubuh istrinya. Bahkan membuat mata istrinya bengkak, pertanda jika semalam wanita itu menangis cukup lama.
"Kamu mau pergi ke mana?"tanya Arjuna saat melihat Chintania telah berpakaian rapi dan memakai Sling bag nya. Tanpa menjawab pertanyaan Arjuna, Chintania melangkah menuju pintu. Wajah wanita itu terlihat datar bahkan terkesan dingin.
Dengan cepat Arjuna memeluk Chintania dari belakang hingga wanita itu tidak dapat melanjutkan langkahnya. "Aku minta maaf! Semalam aku pasti telah berbuat kasar dan menyakiti mu. Aku tidak sadar melakukan semua itu. Maafkan aku!"ucap Arjuna memeluk erat perut Chintania, meletakkan dagunya di pundak istrinya.
...π"Terkadang, tidak mengetahui sebuah kebenaran akan lebih baik dari pada mengetahui sebuah kebenaran tapi menyakitkan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued