
Setelah keluar dari rumah Kinara, mama Doni menghentikan langkahnya di dekat mobil Doni. Mama Doni terlihat menarik napas lega. Sungguh, nyalinya jadi menciut saat berhadapan dengan Arjuna, tapi masih memberanikan diri untuk bicara pada Kinara dan ibu Kinara, lalu meletakkan kartu namanya.
Mata wanita paruh baya itu menyipit saat melihat sebuah mobil yang lebih mewah dari mobil putranya. Mobil itu tidak ada saat mereka datang tadi, bisa dipastikan mobil itu adalah mobil pria yang mengaku sebagai suami Kinara tadi. Mama Doni menengok ke belakang, tepatnya ke arah rumah Kinara. Sedangkan Doni ternyata juga masih menatap rumah itu, seolah tidak rela jika harus pergi dari rumah itu.
"Ayo kita pulang, sayang!"ajak mama Doni menggoyangkan tangan Doni yang masih dipegangnya.
"Ma, apa benar pria tadi adalah suami Kinara?"tanya Doni mengalihkan pandangannya dari rumah Kinara, menatap mamanya.
Mama Doni menghembuskan napas berat, kemudian menatap putra semata wayangnya,"Sepertinya memang begitu. Saingan kamu benar-benar berat, dari segi wajah, tinggi badan, dan bentuk tubuh, kamu kalah dari dia. Dan.... lihatlah mobil itu! Sepertinya itu adalah mobilnya, yang berarti dia lebih kaya dari kita,"ucap mama Doni seraya menunjuk sebuah mobil yang diparkir tidak jauh dari mobil Doni.
"Sudahlah! Ayo kita pulang dulu! Nanti kita pikirkan lagi bagaimana caranya agar Kinara mau bercerai dari suaminya dan menikah dengan kamu,"ujar mama Doni yang nampaknya belum patah semangat untuk menjadikan Kinara sebagai menantu nya.
Sementara itu di dalam rumah Kinara, setelah Doni dan mamanya keluar dari rumah itu, Kinara dan ibunya nampak bingung harus berkata apa dan bagaimana harus menjelaskan pada Arjuna tentang apa yang baru saja terjadi.
"Ayo kita makan! Tidak enak jika sudah dingin,"ajak Arjuna untuk mencairkan suasana.
"Ah iya, aku akan menyiapkan nya, Mas,"ucap Kinara segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur diikuti ibunya dan juga Arjuna.
Mereka bertiga pun makan tanpa berbicara apapun, menikmati makanan yang sudah di beli oleh Arjuna. Setelah selesai makan, Kinara menunjukkan kamarnya pada Arjuna, agar suaminya itu bisa beristirahat. Sedangkan Kinara sendiri kembali ke dapur untuk membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan mereka tadi.
"Ra, kamu harus menjelaskan semuanya pada suamimu! Jangan sampai suamimu salah paham dengan apa yang terjadi tadi. Kita tidak tahu, apa saja tadi yang sudah di dengar oleh Arjuna,"ujar ibu Kinara sambil mencuci piring.
"Iya, Bu. Nanti aku akan menjelaskan semuanya pada Mas Juna,"sahut Kinara seraya mengelap peralatan makan yang sudah dicuci oleh ibunya kemudian menyusun kan nya di rak piring.
Setelah selesai, ibu Kinara pun masuk ke dalam kamarnya, begitu pula dengan Kinara. Saat masuk kedalam kamarnya, Kinara melihat Arjuna yang sedang duduk bersandar di headboard ranjang miliknya yang tidak terlalu besar. Pria itu nampak serius menatap layar handphonenya.
Perlahan Kinara mendekati Arjuna dan duduk di tepi ranjang di ujung kaki suaminya,"Mas!"panggil Kinara ingin memulai pembicaraan.
Arjuna menatap Kinara kemudian bertanya,"Ada apa?"
__ADS_1
"Maaf jika Mas Juna merasa di sini kurang nyaman. Kamarku kecil dan sederhana, berbeda jauh dengan kamar Mas Juna,"ujar Kinara yang takut Arjuna akan merasa tidak nyaman berada di dalam kamarnya itu.
"Tidak masalah,"sahut Arjuna singkat dan kembali menatap layar handphonenya.
"Mas! Em.. aku ingin menjelaskan soal tadi,"ucap Kinara menatap suaminya.
Arjuna meletakkan handphone nya di atas nakas kemudian menatap Kinara,"Jelaskan lah!"titahnya.
"Pria tadi adalah Doni dan wanita tadi adalah mamanya Doni. Mereka bersikeras agar aku menikah dengan Doni,"jelas Kinara masih menatap Arjuna untuk melihat reaksi Arjuna.
"Lalu?"tanya Arjuna memicingkan sebelah matanya.
"Aku tidak ingin Mas Juna salah paham. Aku tidak pernah menganggap dia lebih dari teman,"ujar Kinara dengan pandangan yang masih tertuju pada Arjuna.
"Aku lelah, sebaiknya kita tidur,"ucap Arjuna kemudian membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Perlahan Kinara naik ke atas ranjang yang tidak terlalu besar itu. Ranjang yang akan terasa sempit jika dipakai tidur oleh dua orang. Dengan memberanikan diri, Kinara membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Arjuna, kemudian merebahkan kepalanya di dada bidang Arjuna dan memeluk Arjuna yang tidur dengan posisi terlentang dengan meletakkan lengan kanannya di atas dahinya.
Arjuna menipiskan bibirnya saat Kinara merebahkan kepalanya di dada bidang nya, bahkan memeluk tubuhnya. Mungkin istrinya itu mengira bahwa dirinya marah, karena itu istrinya bermanja-manja padanya untuk merayunya.
"Apa kamu lelah?"tanya Arjuna dengan suara bariton nya, tanpa membuka matanya, setelah beberapa menit mereka saling diam.
Kinara mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya,"Kenapa?" bukannya menjawab pertanyaan Arjuna, Kinara malah balik bertanya.
Arjuna membuka matanya, kemudian menatap Kinara yang sedang menatap nya,"Aku tidak bisa tidur. Pikiran ku terusik karena dua orang tamu kamu tadi. Aku sungguh merasa sangat kesal dengan kedua tamu kamu tadi. Maukah kamu menghilangkan rasa kesal ku ini, agar aku bisa cepat tertidur dengan lelap?"tanya Arjuna menatap lekat manik mata istrinya itu.
"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙈𝙖𝙨 𝙅𝙪𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘿𝙤𝙣𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙙𝙞? 𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙠𝙪 𝙙𝙪𝙜𝙖!"gumam Kinara dalam hati.
"Bagaimana caranya agar aku bisa menghilangkan rasa kesal Mas Juna?"tanya Kinara dengan ekspresi serius dan nampak bersungguh - sungguh.
__ADS_1
"Kamu yakin mau melakukannya?"tanya Arjuna seraya memicing matanya, seolah meragukan kemampuan Kinara.
"Akan aku lakukan apapun agar rasa kesal Mas Juna hilang. Aku berjanji!"sahut Kinara tanpa keraguan
"Yakin?"tanya Arjuna yang terlihat belum yakin jika Kinara akan melakukan apapun untuk menghilangkan kekesalan nya saat ini.
"Yakin. Aku akan melakukan apapun agar Mas Juna tidak merasa kesal karena kejadian tadi,"sahut Kinara mantap.
Arjuna nampak menghela napas, nampak tidak yakin pada istrinya itu,"Sudah lah! Tidurlah! Aku tidak yakin kamu bisa melakukan nya. Karena jika kamu tidak bisa melakukannya dengan baik, kamu tidak akan bisa menghilangkan perasaan kesal ku. Tapi kamu akan membuat aku merasa semakin kesal,"ujar Arjuna kembali memejamkan matanya.
"Kenapa Mas Juna sudah memvonis bahwa aku tidak mampu, sebelum aku melakukan nya?"protes Kinara dengan wajah yang bersungut-sungut.
"Bagaimana jika kamu tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan?"tanya Arjuna kembali membuka matanya dan menatap Kinara lekat.
"Aku pasti bisa!"ucap Kinara dengan penuh keyakinan.
Arjuna menarik salah satu sudut bibirnya kemudian berkata,"Baiklah. Jika kamu gagal, maka sebagai hukumannya, kamu tidak boleh pulang bersama ku dan akan tetap tinggal disini. Aku akan bilang pada ibu jika kamu harus belajar dari ibu cara menjadi istri yang baik dan akan menjemputmu setelah aku tidak merasa kesal lagi padamu. Bagaimana?"tanya Arjuna nampak serius.
Kinara berpikir sejenak, jika dia tidak berhasil dan Arjuna melarang nya untuk pulang bersama Arjuna, maka ibunya akan mengomelinya. Apalagi jika Arjuna sampai mengatakan jika dirinya harus belajar menjadi istri yang baik dari ibunya. Telinga nya akan tuli karena pasti akan dimarahi habis-habisan oleh ibunya.
Tapi jika tidak berusaha menghilangkan rasa kesal Arjuna, itu juga tidak akan baik untuk hubungan mereka. Karena kekesalan Arjuna disebabkan oleh orang yang menyukainya. Dengan segala pertimbangan itu, akhirnya Kinara pun berkata,"Baiklah aku setuju,"ucap Kinara tegas.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1