Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Gagal Move On


__ADS_3

Bu Cici berjalan menuju ruangan guru, mata pelajaran matematika yang Bu Cici ajarkan telah berakhir, dan kebetulan bertemu dengan Pak Yudi dan Pak Rudi di ruangan guru.


"Bu Cici, kok saya dengar ada beberapa orang guru terdengar heboh karena Bu Kinara kesiangan. Sebenarnya, ada apa, ya, Bu Cici?'tanya Pak Yudi tampak penasaran, begitu pun Pak Rudi yang berharap Bu Cici tahu apa yang terjadi.


Bu Cici nampak ragu-ragu untuk menjawab,"Ach, itu, Pak. Tadi itu, Bu Kinar kesiangan, dan .."Bu Cici nampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Dan apa, Bu?"tanya Pak Yudi tidak sabar, begitu pula dengan Pak Rudi. Keduanya menatap Bu Cici mengharapkan jawaban dari Bu Cici.


Bu Cici nampak menggaruk keningnya yang tidak gatal kemudian menatap kedua pria yang nampak menunggu jawabannya.


"Begini, Pak. Kami tidak sengaja melihat.. melihat jejak percintaan di leher Bu Kinar. Dari depan sampai belakang leher, bahkan yang di belakang leher... warnanya sampai keunguan,"sahut Bu Cici terdengar pelan, merasa tidak enak hati pada Pak Rudi karena Bu Cici tahu jika Pak Rudi sudah lama menyukai Kinara.


"Jadi benar, kalau Bu Kinar memang sudah menikah?"tanya Pak Yudi melirik Pak Rudi yang terlihat lesu.


"Iya, saya dengar Minggu depan Bu Kinar akan menggelar resepsi pernikahan nya,"sahut Bu Cici melirik Pak Rudi, merasa prihatin pada pria itu.


"Sabar, ya , Pak Rudi,"ucap Pak Yudi seraya menepuk pundak Pak Rudi yang menunduk, seolah tahu apa yang dirasakan oleh Pak Rudi.


"Selasa, Pak,"ucap Pak Rudi lesu.


"Eh, ini hari Kamis, Pak, bukan hari Selasa,"sahut Bu Cici mengingatkan.


"Selasa : Soal cinta selalu nelangsa," ucap Pak Rudi dengan ekspresi tidak berdaya, membuat Bu Cici dan Pak Rudi kompak menepuk jidat mereka saat mendengar arti kata Selasa dari Pak Rudi.


"Cinta memang lebih rumit dari matematika,"ujar Bu Cici membuang napas kasar.


"Dan lebih berbahaya dari pada bahan kimia,"imbuh Pak Yudi yang mengajar mata pelajaran kimia, menghembuskan napas kasar.


"Sudah, Pak! Tetap semangat! Patah satu tumbuh seribu. Kalau Bu Kinar tidak berjodoh dengan Pak Rudi, berarti Bu Kinar bukan yang terbaik buat Pak Rudi. Dan pasti Tuhan akan memberikan yang lebih baik untuk Pak Rudi,"ujar Bu Cici menghibur Pak Rudi.


"Iya, Pak Rudi. Tetap semangat, ya!"ucap Pak Yudi ikut menghibur dan menyemangati.


"Akan saya coba melupakan dan merelakannya. Walaupun kenyataannya saya kecewa dan terluka. Namun saya bisa apa?"sahut Pak Rudi yang terlihat lesu.

__ADS_1


"Batu bata merah warnanya, sakit cinta susah obatnya,"ucap Pak Yudi menghela napas panjang.


"Kenari biru makan lumpia, cari yang baru lupakan dia,"sahut Bu Cici.


"Hiruka : Harapan indah berujung duka,"sahut Pak Rudi.


"Pak, Bu, ada seorang pria di depan gerbang sekolah yang ingin bertemu Bu Kinar,"ucap satpam sekolah yang tiba-tiba menghampiri tiga orang yang nampak lesu itu.


"Siapa? tanya ketiganya serempak.


"Nggak tahu, Bu , Pak,"sahut sang satpam membuat tiga orang guru itu saling menatap.


"Suruh kesini saja, Pak,"sahut Pak Yudi. Tiga orang guru itu nampak sangat penasaran, menduga-duga siapa kiranya pria yang mencari Kinara itu.


"Baik, Pak,"sahut Pak satpam kemudian bergegas kembali ke gerbang sekolah.


Tidak lama kemudian Pak satpam pun kembali bersama seorang pemuda dengan wajah rupawan ke ruangan guru.


"Ini, Pak, Bu, orang yang ingin bertemu Bu Kinar,"ucap Pak satpam.


"Saya ada keperluan pribadi dengan Kinara,"sahut sang pemuda.


"Kalau begitu, silahkan tunggu! Bu Kinar masih mengajar,"ucap Pak Yudi kemudian pamit untuk kembali ke mejanya.


Pak Yudi, Pak Rudi dan Bu Cici nampak penasaran dan menebak-nebak siapa pemuda yang mencari Kinara itu. Beberapa menit kemudian, Kinara nampak memasuki ruangan itu.


"Sayang!"panggil sang pemuda langsung berlari dan tersenyum cerah saat melihat Kinara.Kinara nampak terkejut saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Sedangkan Pak Rudi, Pak Yudi dan Bu Cici nampak membulatkan mata mereka saat mendengar pemuda itu memanggil Kinara dengan panggilan 'sayang'.


"Kamu? Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Kinara dengan nada ketus, dan nampak merasa tidak enak hati dengan rekan kerjanya,"Jangan coba-coba untuk menyentuh ku!"ucap Kinara saat pemuda yang tidak lain adalah Doni itu merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Kinara.


"Sayang, aku rindu padamu,"ucap Doni dengan ekspresi memelas.


"Aku sudah bilang, jangan panggil aku sayang, kita tidak punya hubungan apa-apa selain pertemanan,"ucap Kinara tegas.

__ADS_1


"Kirain suami Bu Kinar,"gumam Bu Cici.


"Apa itu mantan Bu Kinar, ya? Ternyata bukan cuma Pak Rudi yang nggak bisa move on,"bisik Pak Yudi yang sekarang ada di dekat Pak Rudi. Sedangkan Pak Rudi hanya menghela napas panjang.


"Sayang, aku mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Tinggalkan lah suamimu itu, dan kembalilah padaku!"ucap Doni kembali mendekati Kinara namun Kinara kembali menjauh, bersamaan dengan beberapa orang guru yang memasuki ruangan itu.


"Aku tidak mungkin meninggalkan suamiku. Aku mencintainya dan dia juga mencintai aku. Jadi sebaiknya kamu lupakan aku! Dan tolong pergi dari sini. Ini sekolah, aku sedang bekerja di sini. Aku tidak ingin membawa masalah pribadi di lingkungan sekolah,"ucap Kinara tegas.


"Sayang, tidak akan ada pria yang bisa membahagiakan kamu seperti aku membahagiakan kamu. Aku akan memberikan segalanya padamu asal kamu mau kembali bersamaku. Percayalah! Aku akan membahagiakan kamu!"keukeh Doni.


"Tolong pergi dari sini! Aku sedang mengajar. Jangan membuatku membencimu dengan sikapmu ini. Apa kamu tidak sadar, dengan seperti ini, kamu itu telah mempermalukan aku di tempat kerjaku?"ucap Kinara pelan, menekankan setiap kata-kata nya berusaha menahan emosinya menghadapi pria di depannya itu.


"Sayang...."Doni tidak melanjutkan kata-katanya karena langsung dipotong Kinara.


"To-long per-gi!"ucap Kinara tegas dan penuh penekanan menatap tajam pada Doni.


"Aku akan menunggu kamu di depan gerbang sekolah sampai kamu pulang,"ucap Doni dengan ekspresi yang terlihat serius kemudian meninggalkan ruangan itu.


Kinara menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya seraya membuang napas kasar. Kemudian menoleh pada Pak Rudi, Pak Yudi, Bu Cici dan beberapa guru lain yang berada di dalam ruangan itu.


"Maaf, saya telah membuat keributan di tempat kerja. Tidak seharusnya saya membawa masalah pribadi ke tempat kerja dan menimbulkan keributan seperti ini,"ucap Kinara menangkupkan kedua tangannya di depan dada seraya menundukkan kepalanya di depan semua guru yang ada di ruangan itu.


"Nggak apa-apa, Bu. Kan, bukan ibu yang mengundang orang tadi ke sini,"ucap Pak Yudi.


"Orang kalau gagal move on memang suka bertindak yang aneh-aneh, Bu,"celetuk Bu Cici yang langsung menutup mulutnya saat teringat bahwa Pak Rudi ada di ruangan itu, hingga Bu Cici jadi salah tingkah,"Maaf, nggak semua orang yang gagal move on seperti pria tadi. Tapi ada beberapa orang yang seperti pria tadi,"ucap Bu Cici meralat kata-katanya tadi seraya menyengir dan menggaruk keningnya yang tidak gatal.


Sedangkan Pak Yudi melirik Pak Rudi yang menghembuskan napas panjang dengan wajah yang terlihat lesu.


...🌟"Mengingat itu terkadang susah, tapi kenyataannya, melupakan lebih sulit. Karena tidak ada yang bisa menghapus ingatan manusia selain Sang Maha Kuasa."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2