
"Ini semua gara-gara Mas Juna,"ketus Kinara dengan wajah yang ditekuk.
Iya, iya, aku yang salah,"sahut Arjuna kemudian mendudukkan Kinara di sofa dengan hati-hati,"Sekarang makan dulu. Aku tidak ingin kamu sakit,"ujar Arjuna kemudian mengambil makanan dan bermaksud menyuapi Kinara, tapi Kinara menolaknya.
Akhirnya merekapun makan sendiri-sendiri dan setelah selesai makan, Arjuna segera Googling untuk mengetahui obat apa yang harus dibelinya untuk mengobati daerah intim istrinya. Setelah tahu apa obat yang harus dibelinya, Arjuna pun segera pergi ke apotik.
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk membeli obat, Arjuna pun sudah kembali ke dalam kamarnya.
"Buka paha kamu, biar aku mengobatinya,"titah Arjuna yang sudah berjongkok di depan Kinara yang duduk di tepi ranjang, dengan salep di tangannya.
Dengan menahan rasa malu, Kinara membuka pahanya agar Arjuna bisa mengoleskan salep ke bagian inti tubuhnya. Arjuna nampak tidak canggung sama sekali, mengoleskan salep itu dengan hati-hati, tidak ingin membuat Kinara kesakitan.
"Apa aku menyakiti mu?"tanya Arjuna saat mendongakkan kepalanya menatap wajah Kinara yang nampak menahan sakit.
"Perih, Mas,"sahut Kinara.
"Maaf! Ini salahku!"ucap Arjuna penuh penyesalan.Baru pertama kali Arjuna merasakan nikmatnya surga dunia dan tidak tahu jika seorang wanita akan merasakan sakit setelah melakukan hubungan suami-istri sampai seperti yang dialami Kinara saat ini.
Setelah selesai mengoleskan salep, Arjuna duduk di samping Kinara,"Kamu berbaring aja, ya! Tidak usah banyak bergerak! Biar lekas sembuh,"ucap Arjuna kemudian membantu Kinara berbaring. Kinara hanya menurut dengan apa yang perintahkan oleh suaminya itu.
"Maaf! Aku tidak sengaja membuat mu seperti ini. Ini adalah pengalaman pertama bagiku. Lain kali aku akan melakukannya lebih pelan dan hati-hati,"ucap Arjuna seraya mengelus kepala Kinara.
Kinara melebarkan matanya dan menatap Arjuna yang berbaring di sebelahnya,"Lain kali? Aku masih sakit begini, Mas Juna sudah memikirkan lain kali? Aku tidak mau lagi!"ketus Kinara menekuk wajahnya.
"Yah.. masa cuma sekali ini, Ra? Mana boleh begitu?!"protes Arjuna. Dirinya masih penasaran dengan rasa nikmat itu, tapi istrinya malah tidak mau lagi. Mana boleh seperti itu?
"Apa? Sekali kata Mas Juna? Bahkan Mas Juna sudah membuat aku sampai tidak bisa berjalan!"sewot Kinara. Pasalnya semalam Arjuna tidak cuma sekali melakukannya, belum lagi yang tadi pagi, hingga membuat Kinara tidak bisa berjalan.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, Ra? Apa kamu menyesal telah memberikan mahkota mu kepadaku?"tukas Arjuna yang dari tadi terus mencoba bersabar menghadapi Kinara yang uring-uringan.
Melihat itu Kinara pun langsung berkata,"A.. aku ingin tidur,"ucap Kinara langsung memejamkan matanya.
Waktu pun terus berputar, dan hari pun beranjak sore. Bik Iyem nampak berjalan menuju kamar suami-istri yang sejak semalam mengurung diri di dalam kamar itu.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Bik Iyem mengetuk pintu kamar Arjuna dan tak lama kemudian Arjuna pun membuka pintu kamar itu.
"Ada apa, Bik?"tanya Arjuna yang hanya membuka sedikit pintu kamarnya.
"Nak Arjuna dan Nak Kinara, sudah ditunggu Nak Agus di bawah,"jawab Bik Iyem dengan senyum ramah.
"Iya, Bik. Kami akan segera turun, sahut Arjuna.
Arjuna kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya setelah Bik Iyem pergi. Arjuna pun menghampiri Kinara yang sedang duduk di meja riasnya.
"Ra, kita harus pergi ke hotel sekarang,"ucap Arjuna, namun Kinara tidak menjawab,"Kenapa?"tanya Arjuna saat melihat Kinara hanya diam menunduk dengan wajah yang ditekuk.
"Lihatlah apa yang Mas Juna lakukan padaku! Mas Juna membuat tubuh ku seperti macan tutul. Orang-orang akan menertawakan aku karena perbuatan Mas Juna ini. Mas Juna membuatku malu!"sahut Kinara dengan nada ketus dan bersungut-sungut.
Arjuna membuang napas kasar,"Ya sudah, kita batalkan saja resepsi pernikahan kita,"ucap Arjuna terdengar datar seraya mengambil handphonenya. Arjuna merasa kecewa karena dari kata-kata dan tingkah Kinara sejak pagi tadi, Kinara seperti menyesal karena telah melakukan penyatuan dengan dirinya semalam.
"Mana bisa seperti itu? Sudah satu Minggu lebih kakek menyiapkan acara ini,"ujar Kinara yang sempat terkejut mendengar perkataan Arjuna.
"Untuk apa mengadakan resepsi pernikahan ini jika hanya membuatmu malu. Aku akan mengatakan pada kakek untuk membatalkan acara itu,"sahut Arjuna datar,"Halo, kek! Aku ingin acara resepsi pernikahan ku diba..."Arjuna tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Kinara merebut handphone nya dan menutup panggilan.
"Apa yang Mas Juna lakukan?"tanya Kinara yang tidak menyangka jika Arjuna benar-benar melakukan apa yang dikatakannya.
"Kita pergi sekarang,"ucap Kinara melangkah menuju pintu dengan menahan rasa sakit.
Arjuna membuang napas kasar kemudian mengacak-acak rambutnya frustrasi,"Benar kata Agus, wanita memang makhluk yang sulit dimengerti,"gerutu Arjuna kemudian menyusul Kinara dan langsung menggendong Kinara.
"Mas! Aku bisa jalan sendiri!"pekik Kinara yang terkejut dengan tindakan Arjuna itu. Arjuna tidak mengatakan satu patah katapun dan terus menggendong Kinara.
Melihat Kinara yang digendong oleh Arjuna, Agus pun langsung membuka pintu mobil bagian penumpang. Arjuna mendudukkan Kinara di dalam mobil kemudian duduk di samping Kinara.
"Mbak Kinara kenapa? Kok main gendong-gendongan sama Mas Juna?"tanya Agus melirik Kinara dari kaca spion dalam mobil sambil mulai melajukan mobilnya.
"Nggak apa-apa, Gus. Cuma terkilir,"sahut Kinara sambil melirik Arjuna yang nampak fokus dengan handphonenya.
"Terkilir? Kok bisa Mbak? Jadi Mbak Kinara nggak bisa jalan?"tanya Agus nampak terkejut dan cemas.
__ADS_1
"Tadi terpeleset di kamar mandi, Gus. Bisa jalan, kok, tapi pelan,"sahut Kinara setengah jujur setengah berbohong, sedangkan Arjuna masih memasang ekspresi datar dan tidak mengeluarkan sepatah katapun, tetap fokus pada handphonenya.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di hotel tempat diadakannya resepsi pernikahan. Tanpa kata Arjuna langsung menggendong Kinara dari dalam mobil, masuk ke dalam hotel.
Sedangkan Kinara tidak berani mengatakan apapun saat melihat ekspresi suaminya yang datar, persis seperti saat Arjuna belum mengetahui jika dirinya adalah gadis yang pernah menolongnya.
"Lhoh, Kinara kenapa?"tanya Abimana saat melihat Arjuna menggendong Kinara.
"Kaki ku terkilir, kek,"jawab Kinara yang masih berada dalam gendongan Arjuna.
"Terkilir? Apa masih sakit? Bisa jalan, nggak?"tanya Abimana nampak cemas.
"Sudah mendingan, kok, kek.Bisa jalan, tapi cuma bisa pelan-pelan saja. Sudah tidak terlalu sakit lagi,"sahut Kinara yang tidak enak hati melihat kecemasan yang terlihat di wajah Abimana.
"Syukurlah kalau begitu,"ucap Abimana sedikit lega.
Akhirnya Arjuna pun menggendong Kinara sampai di tempat Kinara dirias. Tak lama kemudian seorang MUA pun datang dan mulai mengerjakan tugasnya. Sedangkan Arjuna keluar dari kamar itu menunju kamar yang lain.
"Ini tinggal resepsi pernikahan nya saja, ya, Mbak?"tanya MUA itu membuka obrolan.
"Iya, Mbak,"sahut Kinara singkat.
Wanita yang berprofesi sebagai MUA itu mengulum senyum menahan tawa saat melihat banyak tanda kemerahan bahkan merah keunguan yang hampir memenuhi seluruh tubuh Kinara yang tidak tertutup pakaian. Entah bagaimana penampakan tubuh bagian dalam yang tertutup pakaian wanita yang di riasnya itu
"Sudah berapa lama menikah, Mbak?"tanya MUA itu tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Satu bulan, Mbak,"sahut Kinara jujur.
MUA itu pun merias Kinara sambil mengobrol ringan sehingga tanpa terasa pekerjaannya pun selesai dan Kinara benar-benar terlihat sangat cantik saat MUA itu selesai meriasnya. MUA itu pun nampak puas dengan hasil kerjanya.
...🌸❤️🌸...
Notebook : Perias atau yang lebih beken dengan istilah make-up artist (MUA) adalah orang-orang yang melakoni pekerjaan merias wajah, terkadang juga menata rambut klien untuk berbagai kepentingan. Mulai dari pesta, wisuda, pernikahan, ataupun keperluan pemotretan, panggung, dan peragaan.
.
__ADS_1
.
To be continued