
Saat hari beranjak pagi, Arjuna pun terbangun dari tidurnya yang terasa lelap setelah satu minggu ini mengalami insomnia. Perlahan Arjuna melepaskan dekapannya pada Chintania, kemudian mengecup kening istrinya itu dengan lembut.
Dengan hati-hati, Arjuna turun dari ranjang, kemudian mengusap dan mengecup perut istrinya yang masih terlihat rata itu. Arjuna memperbaiki selimut istrinya lalu mengelus kepala Chintania dengan lembut.Dengan berat hati, Arjuna meninggalkan ruangan itu.
Tak lama dari Arjuna meninggalkan ruangan itu, mama Nia nampak masuk ke dalam ruangan itu. Chintania nampak mengerjabkan matanya saat mama Nia memeriksa infusnya.
"Sudah bangun?"tanya mama Nia yang dijawab dengan anggukan kecil dan senyum tipis oleh Chintania,"Apa kamu merasa mual?"tanya mama Nia lagi, dan Chintania pun menggeleng pelan.
Mama Nia memeriksa tubuh putrinya kemudian membantu Chintania untuk membersihkan diri. Pagi ini wajah Chintania terlihat lebih segar dari biasanya, karena biasanya, Chintania sering terbangun saat tidur. Tapi semalam Chintania tidur dengan lelap sampai pagi sehingga tubuhnya terasa lebih segar.
***
Selama empat malam berturut-turut, Arjuna selalu datang saat Chintania sudah tidur dan meninggalkan Chintania sebelum Chintania bangun, sehingga Chintania tidak mengetahui kehadiran Arjuna. Anehnya, selama empat hari itu pula, Chintania tidak lagi mengalami mual dan muntah.
"Ma, kita pulang, ya?! Aku sudah merasa lebih sehat. Aku juga bosan tinggal di rumah sakit, ma,"rengek Chintania pada mamanya.
"Baiklah. Sesuai keinginan putri mama," jawab mama Nia dengan seulas senyum dan Chintania pun nampak bahagia.
Setelah berada di rumah, Mama Nia pun segera mengabari Arjuna,"Jun, kamu tidak usah datang ke rumah sakit lagi! Hari ini, Nia sudah pulang ke rumah. Dia sudah sehat,"ujar mama Nia, saat berada di kamar nya.
"Syukurlah jika Nia sudah sehat, ma. Kebetulan, hari ini aku juga harus keluar kota, ma, dan belum bisa pulang untuk beberapa hari ke depan,"sahut Arjuna dalam sambungan telepon.
"Oh, begitu, ya?! Ya sudah, hati-hati dijalan!"ucap mama Nia. Akhirnya sambungan telepon itu pun diakhiri.
Malam itu, Chintania kembali tidur di rumah mamanya. Namun malam itu berbeda dengan empat malam sebelumnya. Malam itu Chintania beberapa kali terbangun dari tidurnya seperti saat Arjuna tidak bersamanya. Pagi harinya pun, Chintania terbangun karena perutnya terasa sangat mual dan akhirnya Chintania kembali muntah-muntah seperti empat hari sebelumnya.
"Sayang, kamu mengalami morning sickness lagi?"tanya mama Nia yang nampak khawatir melihat wajah Chintania yang pucat. Mama Nia membantu Chintania untuk kembali berbaring.
"Kenapa pagi ini aku mual dan muntah lagi, ya, ma? Padahal sudah empat hari aku tidak mual dan muntah lagi,"keluh Chintania dengan wajah pucat.
"Coba minum obat untuk meredakan mual, sayang,"ucap mama Nia seraya berpikir.
__ADS_1
Semenjak pulang ke rumah ini sampai dirawat dua hari di rumah sakit, Chintania mengalami mual dan muntah. Namun selama empat hari Arjuna tidur bersama Chintania, putrinya itu tidak lagi mengalami mual dan muntah. Dan semalam saat Arjuna tidak tidur bersama Chintania, putrinya itu kembali mengalami mual dan muntah.
Apakah kehadiran Arjuna berpengaruh pada keadaan Chintania? Itulah yang ada di pikiran mama Nia. Namun sampai saat ini, mama Nia masih merahasiakan kehadiran Arjuna di rumah sakit selama empat hari berturut-turut dari Chintania.
Sudah tiga hari sejak Chintania pulang dari rumah sakit, dan sudah tiga hari pula Chintania kembali mengalami mual dan muntah. Keadaan Chintania pun kembali drop. Mama Nia sangat mengkhawatirkan putrinya, hingga akhirnya memilih menghubungi Arjuna.
"Halo, Jun! Apa kamu sudah pulang dari luar kota?"tanya mama Nia to the point.
"Belum, ma. Tapi besok aku sudah bisa pulang. Apa semuanya baik-baik saja, ma?"tanya Arjuna dari sambungan telepon, terdengar khawatir. Jarang sekali ibu mertuanya itu menghubungi dirinya jika tidak ada hal yang penting.
"Sejak pulang ke rumah, Nia kembali mual dan muntah, Jun. Mungkin ini terdengar seperti mitos dan tidak masuk akal, tapi, mama rasa, bayi dalam kandungan Nia tidak mau jauh dari kamu, Jun. Setiap kamu jauh dari Nia, Nia selalu mual dan muntah,"ujar mama Nia tertawa hambar.
Mama Nia merasa lucu, dirinya yang seorang dokter malah mempercayai hal-hal di luar logika semacam itu. Namun apa boleh buat, kenyataannya, putrinya memang mengalami mual dan muntah setiap kali jauh dari menantunya.
"Kalau begitu, aku akan pulang nanti setelah makan malam bersama klien, ma,"sahut Arjuna merasa khawatir.
"Jangan dipaksakan, Jun!"ujar mama Nia jadi merasa tidak enak hati.
"Tentu saja tidak apa-apa. Ini juga rumah kamu. Kamu telepon saja mama jika kamu sudah sampai di depan rumah,"ujar mama Nia.
"Iya, terimakasih, ma,"ucap Arjuna setulus hati.
"Sama-sama,"sahut mama Nia dan panggilan telepon pun diakhiri.
Setelah menelpon Arjuna, mama Nia pergi kekamar Chintania untuk melihat keadaannya,"Sayang, kamu ingin makan apa? Mama akan carikan,"ujar mama Nia yang nampak prihatin melihat keadaan putrinya.
"Aku nggak selera makan, ma. Perut ku rasanya mual,"sahut Chintania.
"Sayang, sebaiknya kamu berbaikan dengan suami kamu. Anak dalam kandungan kamu, sepertinya tidak ingin jauh dari ayahnya,"ujar mama Nia hati-hati.
"Apa maksud mama?"tanya Chintania yang bersandar di headboard ranjangnya, nampak tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.
__ADS_1
"Kamu ingat tidak? Semenjak kamu pisah rumah sama Arjuna, kamu selalu mengalami mual dan muntah. Itu karena anak dalam kandungan kamu tidak mau jauh dari ayahnya,"ujar mama Nia hati-hati.
"Mama ada-ada saja. Tidak mungkin seperti itu, ma. Buktinya, empat hari sebelum aku pulang dari rumah sakit, aku tidak mual dan muntah, ma,"kilah Chintania tersenyum tipis dengan wajah yang terlihat pucat.
"Itu.. itu karena selama empat malam berturut-turut Arjuna selalu tidur bersama mu,"ucap mama Nia membuat Chintania terkejut.
"A.. apa maksud mama?"tanya Chintania tergagap.
"Maafkan, mama! Sebenarnya, sebelum kamu pulang dari rumah sakit kemarin, Arjuna menginap dan tidur bersama mu selama empat malam berturut-turut. Dan selama empat hari itu pula kamu tidak mual dan muntah. Itu tandanya, anak dalam kandungan kamu tidak ingin jauh dari ayahnya,"ujar mama Nia terus terang.
"Mas Juna tidur dengan ku? Jadi mama memberi tahu Mas Juna kalau aku..," Nia tidak melanjutkan kata-katanya dan menundukkan wajahnya.
Mama Nia menghela nafas panjang. "Iya, mama sudah memberitahu nya. Selama kamu menginap di rumah, Arjuna setiap hari datang ingin bertemu dengan kamu. Tapi kamu tidak mau menemuinya. Waktu kamu dirawat di rumah sakit kemarin, dari siang sampai malam, Arjuna tidak mau pergi dari gerbang rumah kita sebelum kamu mau menemuinya.
"Dia bahkan berlutut di kaki mama, memohon pada mama agar bisa bertemu dengan kamu. Dia berjanji pada mama, akan berusaha melupakan masa lalunya dan akan berusaha untuk membahagiakan kamu,"ujar mama Nia panjang lebar.
"Tapi aku belum bisa memaafkan Mas Juna, ma. Hatiku masih sakit dan tidak yakin jika Mas Juna bisa menepati janjinya itu,"ucap Nia dengan raut sedih di wajahnya.
"Mama tidak bisa memaksa kamu untuk berbaikan dengan Arjuna, tapi, pikirkanlah bayi dalam kandungan kamu. Janin yang kamu kandung itu benar-benar rewel saat jauh dari ayahnya,"ujar mama Nia kemudian menghela napas panjang,"Begini saja, malam ini Arjuna akan menginap di sini. Kamu berpura-pura lah tidak tahu jika Arjuna menginap di sini. Dan besok kita lihat, kamu mual dan muntah atau tidak jika malam ini Arjuna bersamamu,"ujar mama Nia memberi usul.
"Baiklah! Tapi hanya malam ini,"ucap Chintania menyetujui. Chintania ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh mamanya. Apa benar dirinya berhenti mual dan muntah jika bersama Arjuna.
...🌸❤️🌸...
Notebook : • Insomnia adalah kondisi dimana tubuh tidak memiliki kemampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur, baik dari segi kualitas tidur sampai waktu tidur. Hal ini tentu akan menyebabkan seseorang merasa kelelahan dan mudah terserang penyakit.
• Morning sickness adalah mual muntah yang terjadi saat hamil. Meski disebut morning sickness, kondisi ini tidak hanya terjadi pada pagi hari, tetapi juga di siang, sore, atau malam hari.
.
.
__ADS_1
To be continued