
Seperti biasa, karena ada adegan yang sedikit πππππ,maka yang belum cukup umur, masih jomblo, dan punya pasangan tapi belum halal, harap menepi.
Chintania membalas tatapan Arjuna dengan tatapan yang tidak kalah tajam dari tatapan Arjuna,"Jangan menyentuh aku sebelum Mas Juna merubah sikap acuh Mas Juna padaku,"ucap Chintania kembali memungut tasnya dan berjalan ke arah pintu.
"Apa kamu tidak tahu, berdosa bagi seorang istri, jika menolak keinginan suami,"ucap Arjuna ingin mencegah kepergian Chintania.
"Tidak. Aku tidak akan melayani Mas Juna jika hanya karena alasan itu. Aku tidak ingin menjalin hubungan hanya karena nafsu,"ucap Chintania terdengar dingin dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Namun tiba-tiba Arjuna meringsek tubuh Chintania ke pintu dan langsung mencium Chintania. Chintania mencoba menolak dan berontak, namun Arjuna malah memeluknya degan erat dan semakin agresif mencium bibirnya. Arjuna melepaskan ciumannya saat Chintania nampak kesulitan bernapas.
Chintania memalingkan wajahnya saat Arjuna kembali mendekatkan wajahnya. Namun Arjuna langsung memegang tengkuk Chintania dan kembali mencium nya. Chintania yang telah dikunci pergerakannya oleh Arjuna pun tidak berkutik.
Awalnya Arjuna memaksakan diri mencium Chintania agar Chintania mengurungkan niatnya untuk pergi. Namun entah mengapa saat mencium bibir Chintania, Arjuna menginginkan nya lagi dan lagi. Ciuman yang awalnya kasar, lama-kelamaan berubah menjadi lembut.
Ada kilasan-kilasan yang samar terbayang di ingatan Chintania saat Arjuna menciumnya seperti ini.
Seseorang yang mencium dirinya seperti yang Arjuna lakukan saat ini. Chintania berusaha untuk mengingat wajah orang yang menciumnya dengan membiarkan Arjuna menikmati bibirnya agar Chintania bisa mengingat siapa yang pernah menciuminya.
Kepala Chintania mulai terasa sakit saat mencoba memaksa untuk mengingat kilasan-kilasan itu. Akhirnya Chintania membiarkan ingatan itu mengalir begitu saja tanpa memaksakan otaknya untuk mengingat.
Seperti musafir yang kehausan, Arjuna terus mencium, menyesap, melum matt dan menggigit bibir Chintania hingga wanita itu membuka mulutnya dan lidah Arjuna bisa bermain-main di dalam sana. Tubuh Arjuna semakin terasa panas dan napasnya semakin memburu.
Sebagai laki-laki normal yang telah lama tidak terpenuhi kebutuhan biologisnya, ciuman tadi seolah memantik gairah Arjuna. Helai demi helai pakaian mereka pun teronggok di lantai, dengan sekali sentakan Arjuna menggendong Chintania menuju ranjang. Arjuna membaringkan Chintania ke atas ranjang dan langsung menindihnya.
Saat Arjuna memasuki inti tubuh Chintania, Arjuna sempat berhenti sejenak. Walaupun milik Chintania terasa sempit, tapi Arjuna menyadari jika Chintania sudah tidak suci lagi. Namun karena hasraatnya yang sudah tidak bisa ditahannya lagi, Arjuna mengabaikan nya dan tetap melanjutkan penyatuan mereka. Bahkan Arjuna juga tidak menyadari jika Chintania juga merasa sangat terkejut saat Arjuna bisa menyatukan tubuh mereka tanpa ada rasa sakit di bagian intinya.
__ADS_1
Pagi itu tubuh mereka menyatu dan berbagi peluh bersama-sama. Walaupun sedikit kecewa karena Chintania sudah tidak suci lagi, namun Arjuna tidak bisa memungkiri jika dia sangat menikmati penyatuan mereka dan wanita itu bisa memuaskan dirinya.
Arjuna memandang Nia yang nampak terlelap, kelelahan karena dirinya. Melakukannya sekali? Tentu saja tidak! Selama satu tahun menahan diri, jadi, kesempatan yang ada tidak akan disia-siakan. Entah mengapa setelah menyentuh wanita itu, Arjuna ingin lagi dan lagi. Merasakan hal yang sama seperti saat dirinya menyentuh Kinara.
Arjuna memesan makanan untuk mereka berdua, kemudian membereskan pakaian mereka yang berceceran di lantai. Pria itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian Arjuna sudah keluar dengan menggunakan bathrobe. Pria itu menghampiri istrinya yang masih terlelap di balik selimut.
"Nia! Nia! Bangunlah! Bersihkan dirimu!" ucap Arjuna lembut seraya menepuk pelan pipi Chintania. Arjuna menelan ludahnya susah payah saat matanya tidak sengaja melihat bibir Chintania yang mungil dan bervolume. Ingin rasanya Arjuna menyesapnya lagi.
Perlahan Chintania membuka matanya, namun ingatannya kembali pada kejadian tadi saat dirinya melakukan hubungan suami-istri dengan Arjuna. Kejadian yang sama dengan memory masa lalunya yang hanya berupa bayangan. Chintania memegangi kepalanya yang terasa berdenyut dengan wajah yang menjadi pucat.
Hari ini Chintania baru menyadari jika dirinya sudah tidak suci lagi. Ada perasaan malu pada Arjuna dan juga kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa dirinya tidak bisa menjaga kesuciannya untuk suaminya? Namun Chintania benar-benar tidak ingat, pada siapa dirinya menyerahkan mahkotanya yang paling berharga itu.
"Kamu kenapa?"tanya Arjuna saat melihat raut wajah Chintania yang berubah menjadi pucat dan nampak menahan rasa sakit.
"Tidak. Aku hanya sedikit pusing,"ucap Chintania yang merasa malu saat tatapan matanya bertemu dengan Arjuna. Entah bagaimana penilaian pria itu pada dirinya saat ini setelah tahu bahwa dirinya sudah tidak suci lagi. Perlahan Chintania beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kemari lah! Kita sarapan bersama. Kamu pasti sudah lapar,"ujar Arjuna menatap Chintania sekilas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan mereka belum sarapan karena aktivitas bercinta mereka tadi.
Chintania pun mendekat ke arah Arjuna dan mereka pun makan tanpa bicara apapun. Entah mengapa, setelah penyatuan mereka tadi dan mengetahui dirinya tidak suci lagi, Chintania merasa dirinya sangat rendah. Chintania merasa tidak pantas untuk Arjuna. Merasa canggung dan malu saat Arjuna menatapnya, apalagi saat berada di dekat Arjuna. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena tidak bisa menjaga kesuciannya untuk suaminya.
Chintania yang biasanya berbasa-basi untuk bicara pun, kini malah terdiam. Sedangkan Arjuna nampak biasa-biasa saja, menyantap makanannya dengan santai seolah sebelumnya tidak terjadi apapun pada mereka berdua.
Setelah mereka selesai makan, Chintania memberanikan diri untuk bicara,"Mas, aku tidak apa-apa jika Mas Juna ingin menceraikan aku,"ucap Chintania pelan seraya meremas ujung kemeja yang dipakainya.
Arjuna nampak terkejut mendengar kata-kata Chintania,"Kali ini, apalagi yang kamu keluhkan tentang aku?" Arjuna merasa sudah berusaha tidak cuek dan dingin seperti sebelumnya. Tapi kenapa tiba-tiba istrinya ini malah bicara perceraian? Apalagi setelah penyatuan mereka tadi. Arjuna juga tidak mempermasalahkan Chintania yang sudah tidak perawan lagi, karena dirinya sendiri juga sudah bukan perjaka lagi.
__ADS_1
"Tidak ada. Hanya saja, aku merasa tidak pantas untuk Mas Juna,"ucap Chintania seraya memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Kenapa?"tanya Arjuna menatap Chintania yang memalingkan wajahnya.
"Hanya merasa tidak pantas saja,"ucap Chintania masih enggan untuk menatap Arjuna.
Arjuna mengernyitkan keningnya, sebelumnya Chintania selalu percaya diri dan selalu mengungkapkan apa yang tidak dia sukai secara terang-terangan. Namun saat ini Arjuna melihat istrinya itu nampak tidak percaya diri dan terlihat sedih.
Arjuna memegang dagu Chintania dan mengarahkan padanya,"Itu bukan sebuah jawaban. Aku ingin tahu apa yang menyebabkan kamu merasa tidak pantas untuk ku? Bukankah kamu bilang kita harus berkomunikasi lebih baik lagi?"tanya Arjuna menatap lekat Chintania, namun wanita itu tetap tidak mau menatapnya.
Chintania menepis pelan tangan Arjuna dari dagunya, kemudian kembali memalingkan wajahnya,"Karena aku sudah tidak suci lagi. Dan parahnya, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi,"ucap Chintania pelan seraya menundukkan wajahnya. Air mata yang sedari tadi dibendung nya akhirnya lolos begitu saja dari kelopak matanya.
Arjuna menghela napas dalam, dia teringat kata-kata ibu mertuanya jika Chintania kehilangan ingatan setahun yang lalu dan sampai saat ini belum bisa mengingat masa lalunya. Arjuna melihat ada kekecewaan mendalam yang terlukis di wajah Chintania. Mungkin karena terhanyut dengan hasraatnya, saat bercinta tadi Arjuna tidak terlalu memperhatikan wajah istrinya. Hingga tidak tahu jika wanita itu sangat terkejut saat menyadari dirinya tidak suci lagi.
...π"Menyesali kesalahan diri bukan berarti kamu harus berhenti melangkah dan berdiam diri....
...Jadikanlah penyesalan mu sebagai cambuk untuk memperbaiki diri dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued