Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Bahagia Mu Adalah Dukaku


__ADS_3

Bertepatan setelah Kinara selesai di rias, ibu Kinara pun masuk ke dalam kamar itu. Senyuman tersungging di bibir wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. Matanya nampak berkaca-kaca melihat putrinya dalam balutan baju pengantin.


Ada perasaan bahagia di dalam hatinya, tapi ada pula perasaan sedih karena suaminya tidak sempat melihat putrinya tumbuh dewasa dan menikah. Tidak sempat melihat betapa cantiknya putri semata wayang mereka. Perlahan wanita paruh baya itu menghampiri putrinya itu.


"Putri ibu cantik sekali!"puji ibu Kinara berusaha untuk menahan air mata yang rasanya ingin tumpah karena bahagia bercampur haru.


"Ibu!"ucap Kinara langsung memeluk wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.


"Ibu berdoa agar kamu selalu bahagia!"ucap ibu Kinara berusaha menahan air matanya tidak ingin menangis di hari bahagia putri semata wayangnya.


"Terimakasih, Bu. Terimakasih atas segala pengorbanan dan juga limpahan kasih sayang yang sudah ibu berikan,"ucap Kinara menitikkan air mata.


Ibu Kinara merenggangkan pelukannya dan memegang kedua pundak Kinara,"Hey.. kenapa menangis di hari bahagia mu? Dasar anak badung! Kamu akan merusak makeup mu itu,"ucap ibu Kinara menghapus air mata putrinya dengan tisu.


"Ibuu .!"ucap Kinara manja.


"Jangan manja! Tidak cocok tau!"ujar ibu Kinara mencoba merubah suasana haru yang tercipta,"Ibu tidak menyangka, putri ibu yang tomboi, suka manjat pohon dan suka naik motor CB 100, bisa secantik ini,"ujar ibu Kinara kemudian terkekeh memalingkan wajahnya seraya menghapus air matanya yang terlanjur lolos dari pelupuk matanya tanpa bisa ditahan.


"Beneran Mbak Kinara suka manjat pohon dan bisa mengendarai motor CB 100?"tanya wanita yang baru saja merias Kinara, nampak tidak percaya karena Kinara terlihat begitu feminim.


"Beneran, Mbak. Dia ini badung sekali!"sahut ibu Kinara.


"Ah ibu, jangan bongkar rahasia, dong!"sela Kinara dengan suara manja.


Untuk beberapa menit ketiga perempuan itu mengobrol hingga terdengar suara pintu yang diketuk. Setelah pintu kamar dibuka oleh ibu Kinara, nampak Arjuna berdiri di depan pintu dengan gagah dan tampan memakai tuksedo yang warnanya senada dengan gaun putih tulang yang dikenakan oleh Kinara.


"Bu!"sapa Arjuna tersenyum pada ibu mertuanya.


"Wahh.. menantu ibu tampan sekali,"puji ibu Kinara pada Arjuna dengan senyum lebar,"Mau jemput Kinara, ya?"tanya ibu Kinara.

__ADS_1


"Iya, Bu,"sahut Arjuna. Sedangkan wanita yang baru saja merias Kinara nampak terpesona melihat ketampanan Arjuna.


Arjuna menghampiri Kinara dan keduanya pun berjalan menuju tempat resepsi pernikahan diikuti oleh ibu Kinara. Keduanya berjalan pelan karena selain gaun yang dikenakan Kinara yang menjuntai kelantai juga karena Kinara memang masih merasa sakit saat berjalan karena ulah suaminya semalam dan tadi pagi.


Para undangan yang hadir pun nampak kagum dengan sepasang suami-isteri yang nampak serasi itu. Arjuna hanya tersenyum tipis di depan para tamu undangan, sedangkan Kinara yang memang supel dan ramah pun tersenyum lebar menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.


Pak Yudi dan istrinya pun menyalami Arjuna dan Kinara,"Selamat, ya, Bu! Semoga langgeng!"ucap Pak Yudi tulus.


Di belakang Pak Yudi nampak Bu Cici yang dengan senyum sumringah nya, menyalami Arjuna, kemudian Kinara.


"Selamat berbahagia, ya, Bu! Pinter banget cari suami. Namanya cocok banget sama orangnya, Arjuna yang digambarkan sebagai pria tampan dengan sejuta pesona dalam kisah Mahabharata,"ujar Bu Cici yang sesekali melirik Arjuna yang pastinya terlihat tampan di mata para wanita normal.


"Terimakasih, Bu! Sudah menyempatkan hadir di acara ini,"ucap Kinara dengan seulas senyum yang membingkai wajahnya hingga aura kecantikan semakin keluar dari dirinya.


"Sama-sama, Bu. Saya sudah tidak sabar untuk mencicipi hidangan. Semoga saja kali ini nggak ketemu rendang daging rasa lengkuas,"ujar Bu Cici kemudian terkekeh, membuat Kinara ikut tertawa mendengar kata-kata wanita bertubuh gempal dan kelebihan berat badan itu.


Di belakang Bu Cici nampak Pak Rudi yang terlihat memaksakan senyuman saat menghampiri Arjuna dan Kinara. Bahkan Pak Rudi nampak terkesan buru-buru menyalami sepasang suami-isteri yang nampak bahagia itu,"Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia!"ucap Pak Rudi memaksakan senyuman,"𝙒𝙖𝙑𝙖π™ͺπ™₯π™ͺ𝙣 π™—π™–π™π™–π™œπ™žπ™– 𝙒π™ͺ 𝙖𝙙𝙖𝙑𝙖𝙝 𝙙π™ͺ𝙠𝙖𝙠π™ͺ,"lanjut Pak Rudi dalam hati seraya menyalami Arjuna dan Kinara bergantian


Bu Cici, Pak Rudi, Pak Yudi dan istrinya nampak sedang duduk menikmati hidangan yang tersaji di acara itu. Pak Yudi nampak prihatin melihat Pak Rudi yang nampak tidak bersemangat menikmati hidangan di piring nya,"Sabar, ya, Pak! Nanti pasti dapat ganti yang lebih baik,"ucap Pak Yudi seraya menepuk pundak Pak Rudi pelan.


Pak Rudi tersenyum tipis,"Iya, Pak. Bu Kinar memang lebih pantas mendapatkan pria yang lebih dari saya yang masih banyak kekurangan ini. Seharusnya sejak awal saya tau diri, Bu Kinar terlalu jauh dan terlalu tinggi untuk saya jangkau,"ujar Pak Rudi menampilkan senyum yang nampak dipaksakan.


"Benar kata Pak Yudi, Pak. Nanti pasti dapat ganti yang lebih baik menurut Tuhan. Ingatlah, yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Tuhan. Dan Tuhan Maha tahu, apa yang terbaik untuk kita. Jakarta : Jangan sedih karena cinta!"ucap Bu Cici tersenyum pada Pak Rudi memberi semangat, dengan piring didepannya yang berisi beberapa lauk, termasuk rendang favoritnya.


"Bu Cici bisa aja,"sahut Pak Yudi kemudian terkekeh.


"Hati-hati, Bu! Jangan sampai kena jebakan Betmen! Menikmati sajian daging rendang rasa lengkuas,"ucap istri Pak Yudi sambil mengelus senyum. Istri Pak Yudi memang sudah lama kenal dan akrab dengan Bu Cici.


"Kali ini nggak bakalan kena jebakan Betmen, Bu. Saya sudah wanti-wanti sama Bu Kinar, bumbu lengkuas dalam rendang nya di giling saja, jangan di geprek,"sahut Bu Cici membuat keempat orang itu tertawa bersama.

__ADS_1


Agus dan Derry yang menjadi bagian dari penyelenggara pesta pun nampak sibuk, namun sesekali Agus nampak menyempatkan diri untuk menggoda beberapa orang wanita hingga membuat Derry geleng-geleng kepala. Abimana dan ibu Kinara pun nampak sibuk menyambut para tamu undangan yang hadir dalam resepsi pernikahan Arjuna dan Kinara itu.


Pesta malam itu berjalan dengan lancar dan penuh kebahagiaan. Malam semakin larut dan para tamu pun mulai pamit untuk undur diri. Arjuna membimbing Kinara menuju kamar hotel yang sudah disiapkan untuk mereka. Kamar yang kental dengan nuansa kamar pengantin, bunga di atas ranjang, lampu-lampu kecil sebagai penerang ruangan dan berbagai pernak-pernik lainnya yang menambah kesan romantis dalam kamar itu.



Kinara masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian bergantian dengan Arjuna. Kinara duduk di tepi ranjang menunggu Arjuna selesai membersihkan diri. Tak lama kemudian Arjuna pun keluar dari kamar mandi.


Arjuna berjalan kearah ranjang kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa penat karena acara resepsi pernikahan yang baru saja selesai tadi.


"Tidurlah!"ucap Arjuna seraya meletakkan lengan kanannya di atas dahinya lalu memejamkan matanya.


Kinara menghela napas dalam menatap suaminya yang berbaring di sebelah kirinya, kemudian ikut membaringkan tubuhnya. Tidak ada kegiatan malam pengantin seperti layaknya yang dilakukan pasangan pengantin baru pada umumnya.


Arjuna memilih tidur tanpa menyentuh Kinara, sudah cukup seharian tadi Kinara marah padanya karena membuat banyak tanda di tubuh Kinara bahkan membuat wanita itu kesulitan berjalan. Arjuna tidak mau lagi mendengar semua kemarahan Kinara dan memilih memejamkan matanya.


Sedangkan Kinara merasa bersalah karena seharian tadi uring-uringan dan terus saja menyalahkan Arjuna, hingga sekarang Arjuna bersikap datar seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu.


...🌟"Tanpa disadari, terkadang kebahagiaan seseorang adalah sumber kedukaan orang lain."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2