
Dengan cepat Arjuna memeluk Chintania dari belakang hingga wanita itu tidak dapat melanjutkan langkahnya. "Aku minta maaf! Semalam aku pasti telah berbuat kasar dan menyakiti mu. Aku tidak sadar melakukan semua itu. Maafkan aku!"ucap Arjuna memeluk erat perut Chintania, meletakkan dagunya di pundak istrinya.
Chintania memejamkan matanya menahan amarah, rasa sakit, benci dan juga cinta yang berbaur menjadi satu. Harga dirinya terluka saat mengetahui bahwa dirinya hanya dijadikan sebagai pelampiasan. Dirinya adalah wanita yang cantik dan cerdas, banyak pria yang menginginkan dirinya sebagai pendamping hidup. Namun kenapa dia harus jatuh cinta pada pria yang hanya menjadikannya sebagai pelampiasan?
"Apa Mas Juna mencintaiku?"tanya Chintania dengan suara datar, dengan perlahan membuka matanya.
"Kenapa.. kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?"tanya Arjuna melepaskan pelukannya dan mengangkat kepalanya dari pundak Chintania.
"Jawab saja pertanyaan ku!"ucap Chintania tanpa mau membalikkan tubuhnya.
"Aku akan berusaha,"ucap Arjuna pelan, masih berada di belakang Chintania.
Chintania membalikkan tubuhnya, mendongakkan kepalanya menatap manik mata Arjuna yang terlihat sendu.
"Akan berusaha? Sampai kapan?"tanya Chintania dengan tatapan tajam.
Arjuna terdiam, bingung harus menjawab apa,"Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak pernah ingin Mas Juna lakukan!"Chintania kembali memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar itu tanpa berkata apapun lagi pada Arjuna yang masih terdiam.
Chintania pergi ke rumah sakit untuk melupakan kejadian semalam. Berkutat dengan berkas-berkas dari mamanya dan tugas kuliahnya. Sedangkan Noah hari ini nampak sangat sibuk dengan para pasien nya hingga tidak sempat mendatangi ruangan Chintania. Wanita itu pulang agak larut, sengaja untuk menghindari Arjuna.
Dengan langkah gontai Chintania masuk ke dalam kamarnya,"Kenapa pulang larut malam?"tanya Arjuna saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Chintania baru pulang. Sudah berkali-kali Arjuna menghubungi Chintania tapi nomor Chintania selalu di luar jangkauan.
Tanpa menjawab pertanyaan Arjuna, Chintania langsung masuk ke dalam kamar mandi dan berendam di dalam bathtub. Arjuna hanya bisa membuang napas kasar menyadari jika istrinya masih marah padanya. Karena Chintania sudah setengah jam lebih berada di dalam kamar mandi dan belum keluar juga, Arjuna pun mengetuk pintu kamar mandi seraya memanggil Chintania.
"Nia! Nia! Kenapa kamu lama sekali mandinya? Nia! Nia!"panggil Arjuna yang khawatir dengan istrinya itu.
Tak lama kemudian Chintania pun keluar dari dalam kamar mandi, melewati Arjuna begitu saja dan segera berbaring di atas ranjang. Arjuna kembali menghela nafas kemudian menyusul Nia yang sudah lebih dulu berbaring membelakangi nya.
"Nia, sekali lagi aku minta maaf! Aku semalam benar-benar tidak sadar telah berbuat kasar padamu,"ucap Arjuna seraya menyentuh lengan Chintania tapi langsung ditepis oleh Chintania.
Malam semakin larut, dan Arjuna belum juga bisa memejamkan matanya. Melihat Chintania yang sudah tidur dengan pulas, Arjuna pun dengan perlahan membawa Chintania ke dalam dekapannya, dan tak lama kemudian Arjuna pun ikut terlelap.
__ADS_1
***
Hari terus berlalu, tanpa terasa sudah hampir dua minggu Chintania mendiamkan Arjuna. Bahkan Chintania tidak mau disentuh oleh Arjuna sama sekali. Walaupun setiap terbangun di pagi hari, Chintania selalu mendapati dirinya dalam dekapan Arjuna, tapi saat Nia sadar, Nia pun langsung melepaskan diri dari dekapan suaminya itu. Arjuna tidak berhenti membujuk Chintania, tapi wanita itu tetap diam membuat Arjuna frustasi.
Hari ini Arjuna pulang agak larut malam, sebegitu pulang, Arjuna langsung membersihkan diri. Sedangkan Chintania nampak sudah terlelap. Saat naik ke atas ranjang, tiba-tiba Chintania mengubah posisi tidurnya miring menghadap Arjuna. Tanpa sengaja Arjuna melihat benda favoritnya nampak mengintip dari balik baju tidur kimono yang dipakai Chintania.
Dengan susah payah Arjuna menelan salivanya. Biasanya Arjuna hampir setiap hari meminta jatahnya, namun selama hampir dua minggu ini, Arjuna tidak mendapatkan nya. Jangankan menghabiskan malam dengan main kuda-kudaan bersama istrinya, bahkan saat Arjuna ingin menyentuh istrinya pun langsung kena tolak. Setiap malam Arjuna harus menunggu istrinya tertidur pulas agar bisa membawa istrinya itu ke dalam dekapan nya.
Dengan nakalnya tangan Arjuna menyusup kedalam baju tidur kimono Nia, mengusap, mempermainkan dan meremas pelan benda favoritnya itu hingga membuat Nia tanpa sadar melenguh. Merasa semakin terpancing, Arjuna dengan berani menarik tali kimono Chintania.
Tanpa bisa menahan diri, dengan perlahan Arjuna mendorong tubuh Chintania hingga terlentang dan segera menindihnya, kemudian mencium bibir istrinya itu. Chintania pun langsung terbangun karena aksi nekad Arjuna itu.
"Apa yang Mas Juna lakukan? Lepaskan aku!"pekik Chintania berusaha mendorong tubuh Arjuna yang saat ini sedang menindih tubuhnya.
"Nia, sudah hampir dua minggu aku menahannya. Aku sungguh tersiksa, Nia,"ucap Arjuna dengan mata sayu penuh hasraat.
"Lep.. emmp.."Chintania tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena Arjuna langsung membungkam mulutnya dengan mulut Arjuna. Walaupun Nia terus meronta, Arjuna tetap melanjutkan aksinya. Arjuna benar-benar sudah tidak dapat lagi menahan keinginan untuk menyalurkan hasraatnya. Chintania pun akhirnya membiarkan Arjuna melakukan apa yang diinginkannya.
Chintania memalingkan wajahnya, tidak mau menatap Arjuna lagi. Hatinya benar-benar sakit, inilah arti dirinya bagi Arjuna, hanya sebagai tempat pelampiasan semata. Setelah Arjuna turun dari atas tubuhnya, Chintania langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian berbaring membelakangi Arjuna.
Arjuna mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan hasraatnya untuk tidak menyentuh Chintania. Pada akhirnya, Chintania pun semakin marah kepadanya.
Pagi hari, selesai mandi, Chintania langsung membereskan pakaiannya ke dalam koper. Melihat hal itu, Arjuna yang baru saja keluar dari kamar mandi pun terkejut.
"Nia, apa yang kamu lakukan?"tanya Arjuna seraya memegang tangan Nia, membuat Chintania terpaksa menghentikan aktivitasnya. Melihat Chintania mengemasi barang-barang nya ke dalam koper, Arjuna jadi mempunyai firasat yang tidak enak.
Chintania menghentakkan tangannya hingga tangannya terlepas dari pegangan Arjuna,"Aku akan pulang ke rumah mama. Dan hari ini, aku akan mengajukan surat gugatan cerai,"ucap Chintania dengan ekspresi datar. Arjuna yang sempat terkejut mendengar kata-kata Chintania pun kembali memegang tangan Chintania yang hendak melanjutkan aktivitas nya mengemasi barang-barang nya.
"Tidak boleh! Kamu tidak boleh pergi! Rumah kamu disini! Dan aku tidak akan pernah menceraikan kamu!"sentak Arjuna yang tidak terima dengan keputusan sepihak dari Chintania.
Kamu jangan egois, Mas! Kamu jangan hanya memikirkan dirimu sendiri, dan kebahagiaan mu sendiri. Bukan cuma kamu yang ingin bahagia, aku juga ingin bahagia,"ucap Chintania dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Jadi, selama ini kamu tidak bahagia bersama ku?"tanya Arjuna menatap tak percaya pada Chintania.
"Tidak! Aku tidak bahagia, karena aku hidup dengan orang yang tidak pernah berusaha untuk mencintaiku, apalagi benar-benar mencintai ku,"ketus Nia.
"Apa yang kamu katakan?"tanya Arjuna berusaha menyembunyikan keterkejutannya mendengar kata-kata Chintania barusan.
"Tidak usah berpura-pura lagi, Mas! Karena aku sudah tahu semuanya. Kamu tidak pernah berusaha mencintai aku apalagi benar-benar mencintai aku. Kamu menerima aku sebagai istri mu karena semua yang ada pada diriku mirip dengan istri pertama mu. Hanya wajahku saja yang tidak mirip,"
"Aku ingin dicintai seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangan ku. Aku tidak mau hidup dengan orang yang menganggap aku adalah bayang-bayang orang lain. Aku tidak ingin Mas Juna jadikan sebagai tempat pelampiasan Mas Juna, karena aku mirip dengan istri pertama Mas Juna,"ujar Chintania panjang lebar.
"Bicara apa kamu ini?"elak Arjuna.
"Mas Juna tidak perlu menyangkalnya lagi! Aku sudah mendengar semuanya dari mulut Mas Juna sendiri. Dan aku tidak sanggup menjalani pernikahan yang seperti ini. Setuju atau tidak, aku akan tetap meninggalkan rumah ini dan mengajukan perceraian,"ucap Chintania dengan air mata yang membasahi wajah nya. Chintania melepaskan pegangan tangan Arjuna yang melemah dan melangkah ke arah pintu.
"Nia, tunggu, Nia! Pikirkan perasaan Kakek, Nia! Kakek akan sedih jika kita sampai berpisah,"bujuk Arjuna seraya mengejar Chintania.
"Kenapa aku harus memikirkan perasaan Kakek Mas Juna, jika Mas Juna saja tidak mau memikirkan perasaan ku? Aku bukan pemeran utama di sinetron yang rela mengorbankan kebahagiaannya dan rela menderita demi membahagiakan orang lain. Aku tidak sebaik dan senaif itu,"ucap Chintania langsung pergi dari kamar itu tanpa membawa apapun selain dompet dan handphonenya.
"Nia, kita bisa memperbaiki semuanya, Nia. Tolong jangan pergi, Nia!"pinta Arjuna terus mengejar Chintania tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Chintania.
...π"Ada saatnya kita harus berkorban untuk orang lain, tapi ada saatnya pula kita harus egois untuk mendapatkan kebahagiaan kita sendiri."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1