Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Rahasiakan


__ADS_3

Hari sudah malam saat mama Nia pulang dari rumah sakit. Mendengar dari asisten rumah tangganya yang mengatakan Nia pulang sendiri tanpa suaminya dengan wajah sembab, membuat mama Nia memiliki firasat buruk.


Mama Nia pun bergegas menuju kamar putrinya dan mengetuk pintu kamar putrinya itu. Tidak berapa lama, perlahan pintu kamar itupun terbuka dan menampilkan Nia yang memakai gaun tidur sebatas lutut dengan tali kecil yang diikat di kedua pundaknya.


"Sayang, kamu pulang sendiri?"tanya mama Nia nampak khawatir.


"Iya, ma,"sahut Chintania lesu seraya berjalan ke arah ranjang. Mama Nia pun mengekor di belakang Chintania dan duduk di tepi ranjang, disebelah Nia.


"Sayang, apa kamu ada masalah dengan suamimu?"tanya mama Nia nampak menyelidik.


"Ma, aku tidak ingin lagi melanjutkan pernikahan ini. Aku ingin bercerai dengan Mas Juna,"ucap Chintania pada mamanya dengan wajah yang tertunduk lesu.


Mama Nia membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya itu,"Kenapa, sayang? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu ingin bercerai? Bukankah selama ini kalian baik-baik saja?"cerocos mama Nia dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca.


"Ma, selama ini, ternyata Mas Juna tidak pernah mencintai aku, ma. Di hatinya bukan aku, tapi wanita lain. Mas Juna tidak pernah bisa melupakan istri pertamanya. Dia hanya menjadikan aku sebatas teman di ranjang, sebatas pelampiasan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya,"ujar Chintania dengan butir-butir kristal yang mulai berjatuhan dari kelopak matanya.


Mama Nia merengkuh Chintania ke


dalam pelukannya,"Maafkan mama, sayang! Ini semua salah mama. Mama yang menjodohkan kamu dengan pria itu. Maafkan mama!"ucap mama Nia dengan ekspresi wajah yang menampilkan rasa bersalah,"Mama akan mendukung apapun keputusan kamu, asal kamu bahagia,"lanjut mama Nia seraya mengelus kepala Chintania yang berada dalam pelukannya.


Ada rasa bersalah yang besar dalam hati mama Nia karena telah menikahkan putri yang sangat disayangi nya dengan pria yang tidak tepat, pria yang ternyata tidak bisa move on dari masa lalunya. Dan sekarang, pria itu telah membuat putri yang disayangi nya menangis.


Walaupun wanita yang ada dalam pelukannya sekarang ini bukan putri kandungnya, namun mama Nia sangat menyayanginya seperti mama Nia menyayangi putri kandungnya sendiri.


Setelah beberapa lama berada di kamar Chintania dan mendengar apa yang membuat Chintania ingin bercerai dari Arjuna lalu menghibur putrinya itu, mama Nia pun kembali ke kamarnya.Chintania nampak berbaring terlentang di atas ranjang seraya menatap langit-langit kamarnya. Malam ini dia dan Arjuna tidur terpisah setelah berbulan-bulan tidur dalam satu kamar dan satu ranjang yang sama.


Malam semakin larut, tapi Chintania belum juga bisa memejamkan matanya. Hatinya terasa hampa tidur di kamar ini sendirian. Chintania terbiasa tidur bersama Arjuna, pria yang perlahan dicintai nya, sekaligus pria yang membuatnya sangat kecewa, sakit hati dan patah hati.


Walaupun akhir-akhir ini Chintania selalu tidur membelakangi Arjuna, namun entah mengapa setiap kali terbangun, Chintania selalu berada dalam dekapan Arjuna. Dan tidak bisa dipungkiri Nia, bahwa Nia merasa nyaman saat berada dalam dekapan suaminya.


Sedangkan di rumah dan kamar yang berbeda, Arjuna juga belum bisa memejamkan matanya. Pria itu menatap sisi tempat tidur yang biasa menjadi tempat Chintania berbaring. Hatinya terasa ikut kosong saat melihat tempat di sebelahnya itu kosong.

__ADS_1


Ucapan Chintania tadi pagi seperti vidio yang diputar berulang-ulang di otaknya. Keinginan Chintania untuk bercerai dengan dirinya sangat menganggu pikiran nya. Walaupun Arjuna tidak bisa mencintai Chintania, tapi Arjuna merasa nyaman selama bersama Chintania. Itu semua karena kemiripan yang dimiliki Chintania dengan Kinara yang bisa mengobati rasa rindunya pada Kinara.


Pagi harinya, wajah Arjuna terlihat lesu, lingkaran matanya pun nampak menghitam. Karena terlalu memikirkan Chintania, semalam Arjuna tidak bisa tidur.


"Jun, kakek tidak tahu, apa yang membuat kamu dan Nia bertengkar hingga Nia pulang ke rumah orang tuanya. Tapi kakek harap, kalian segera berbaikan. Bujuk istrimu untuk pulang! Tidak baik suami-istri bertengkar sampai pisah ranjang, apalagi sampai pisah rumah seperti ini," ujar Abimana memberi nasihat setelah mereka selesai sarapan. Abimana melihat kesedihan yang terpancar di mata cucunya itu.


"Wanita itu tulang yang bengkok, jika dibiarkan akan semakin bengkok, tapi jika dipaksa diluruskan akan patah. Jadi, Mas Juna harus memperlakukannya dengan lembut dan sabar. Coba bujuk Mbak Nia pelan-pelan, dan jangan berhenti sampai kalian berbaikan,"


"Mengalah dan mengaku salah mungkin akan membantu Mas Juna untuk berbaikan dengan Mbak Nia,"timpal Agus yang memang ahli dalam merayu wanita.


"Nak Agus sudah seperti Pak ustadz saja,"celetuk Bik Iyem tertawa kecil.


"Kalau ustadz nya macam Agus, bisa-bisa, jama'ah nya pada poligami semua, Yem,"sambar Abimana membuat Bik Iyem kembali terkekeh, sedangkan Agus bersungut-sungut.


Kemarin pagi Abimana dan Agus melihat Arjuna mengejar Chintania yang sedang menangis keluar dari rumah. Sehingga keduanya pun dapat menebak bahwa Arjuna dan Chintania sedang bertengkar. Apalagi kemarin sampai malam Chintania juga tidak pulang ke rumah. Arjuna mengatakan jika Chintania pulang ke rumah orang tuanya. Karena itulah, pagi ini Abimana dan Agus menasehati Arjuna.


Mendengar kata-kata Abimana dan Agus, Arjuna pun terdiam. Masalahnya, disini yang bersalah memang dirinya. Arjuna tahu, akan sulit baginya untuk membujuk Nia. Namun pagi ini, sebelum berangkat ke kantor, Arjuna memutuskan untuk menemui Chintania. Arjuna akan berusaha kembali membujuk Chintania seperti niat nya semalam dan juga karena saran dari Agus dan kakeknya.


Di rumah mama Nia, Chintania yang semalam tidur larut malam, terbangun saat tiba-tiba perutnya terasa mual dan seperti di aduk-aduk. Nia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya hingga tubuhnya terasa lemas. Keringat dingin nampak di wajahnya yang terlihat pucat karena muntah-muntah. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, hingga akhirnya tubuh itu merosot terduduk bersandar di dinding kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Chintania berusaha bangkit dan melangkah ke arah ranjangnya, kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa lemas. Kepalanya terasa pusing hingga Nia memilih untuk memejamkan matanya.


Melihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun putrinya belum bangun juga, mama Nia pun mempunyai firasat yang tidak enak. Akhirnya wanita paruh baya itu pun pergi ke kamar Chintania,"Sayang, apa kamu sudah bangun? Sayang!"seru mama Nia dari luar kamar Chintania, tapi tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar.


Mama Nia yang merasa khawatir pun membuka pintu kamar putrinya dan mendapati putrinya masih berbaring di atas ranjang,"Sayang, kamu sakit?"tanya mama Nia dengan ekspresi khawatir saat sudah duduk di tepi ranjang Chintania dan mendapati putrinya itu terlihat sangat pucat.


Tangannya menyentuh pipi dan dahi Chintania untuk memeriksa panas badan Chintania. Namun Mama Nia tidak merasakan tubuh Nia panas, tapi wajahnya pucat. Mama Nia mengelus kepala Chintania dengan lembut.


"Mama!"gumam Nia yang terbangun saat mamanya mengelus kepalanya.


"Kamu sakit? Mama periksa, ya?"tawar mama Nia, masih mengelus kepala Nia.

__ADS_1


"Nggak usah, ma. Sepertinya aku cuma masuk angin saja,"tolak Chintania dengan suara lemah.


"Masuk angin? Tapi wajah kamu pucat sekali, sayang. Mama akan memeriksa kamu,"ucap mama Nia kemudian beranjak dari tempat itu tanpa bisa di cegah oleh Chintania.


Beberapa saat kemudian, wanita itu kembali dengan peralatan medisnya. Tanpa bisa menolak, Chintania pun pasrah saat mamanya mulai memeriksa tubuhnya.


"Apa keluhan kamu, sayang?"tanya mama Nia mulai memeriksa tekanan darah Chintania.


"Aku tadi terbangun langsung mual dan muntah-muntah sampai tubuh ku terasa lemas dan kepalaku pusing, ma,"sahut Chintania membuat mama Nia mengernyitkan keningnya.


Wanita paruh baya yang menjabat sebagai direktur utama di rumah sakitnya sendiri itu pun langsung bertanya,"Sayang, kapan terakhir kali kamu datang bulan?"tanya mama Nia membuat Chintania terkejut. Nia tahu ke arah mana pemikiran mamanya saat ini.


Walaupun sempat terkejut, Chintania nampak mengingat-ingat kapan terakhir kali dirinya mendapatkan tamu bulanan nya,"Li.. lima minggu yang lalu, ma,"jawab Chintania nampak gugup.


Setelah memeriksa tekanan darah, denyut jantung dan yang lainya, hingga terakhir memeriksa perut Nia, wajah mama Nia yang tadinya serius memeriksa pun langsung berubah menjadi bahagia.


"Sayang, mama yakin saat ini kamu sedang mengandung. Akhirnya mama akan menjadi seorang nenek,"ucap mama Nia dengan senyum sumringah nya menciumi Chintania yang nampak masih syok dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.


"A.. aku hamil?"tanya Nia dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, sayang. Kamu akan menjadi seorang ibu dan mama akan menjadi seorang nenek,"sahut mama Nia dengan penuh kebahagiaan.


"Ma, tolong rahasiakan ini dari siapapun, terutama pada Mas Juna,"ucap Chintania membuat raut bahagia di wajah mama Nia berangsur pudar. Mama Nia baru ingat apa penyebab putrinya pulang ke rumah. Putrinya pulang ke rumah karena ingin bercerai dari suaminya.


🌺 Untuk beberapa hari ini, aku mungkin akan update sekali dalam sehari. Dan akan update normal 2x sehari mulai tanggal 1 nanti.🙏🙏🙏🙏🙏🌺


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2