Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Cinta Memang Rumit


__ADS_3

Sudah selama satu minggu, setiap hari Arjuna datang ke rumah Chintania untuk bertemu dengan istrinya itu. Namun asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu selalu mengatakan pada Arjuna bahwa Chintania tidak ingin bertemu dengannya. Arjuna bahkan mencari Chintania di rumah sakit dan kampus, tapi tidak pernah berhasil bertemu dengan Chintania.


Karena merasa sudah tidak menemukan cara lagi untuk bertemu Chintania, akhirnya Arjuna memutuskan tidak mau pergi dari rumah Chintania. Dari siang sampai malam Arjuna bersikeras tetap menunggu didepan pintu gerbang sampai Chintania mau menemuinya.


Sebuah mobil nampak berhenti di depan gerbang pintu rumah Chintania. Arjuna melihat mama Nia keluar dari mobil itu dan langsung menghampiri nya.


Arjuna tiba-tiba berlutut di kaki mama Nia,"Ma, aku tahu aku salah. Tapi tolong izinkan aku bertemu dengan Nia. Aku janji akan memperbaiki diri, aku janji akan membahagiakan Nia. Tolong izinkan aku menemuinya, ma,"ucap Arjuna dengan kepala tertunduk.


Mama Nia menghela nafas panjang, dari tadi siang, asisten rumah tangganya sudah menelpon nya beberapa kali. Asisten rumah tangga nya mengatakan bahwa Arjuna tidak mau pergi dari pintu gerbang jika tidak diizinkan bertemu dengan Chintania. Akhirnya mama Nia pulang ke rumah dan benar-benar mendapati Arjuna masih berada di depan gerbang rumah nya.


"Bagaimana kamu bisa membahagiakan putriku, jika dalam hatimu hanya mencintai wanita lain?"tanya mama Nia dengan suara datar.


"Aku janji akan melupakannya, dan berusaha membuka hati ku untuk Chintania. Ijinkan aku bertemu dan berbicara dengan Chintania, ma! Aku mohon!"pinta Arjuna yang masih berlutut, mendongakkan kepalanya menatap ibu mertuanya penuh harap.


Mama Nia menatap wajah Arjuna yang terlihat kusut dan kuyu itu. Bahkan terlihat lingkaran hitam di mata Arjuna yang menandakan pria itu kurang tidur.


"Pulang lah lebih dulu dan bersihkan tubuhmu! Setelah itu, temui aku di rumah sakit milikku,"ucap mama Nia kemudian langsung membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam mobil sebelum Arjuna sempat bertanya atau pun mengatakan sesuatu. Mobil mama Nia pun langsung meninggalkan tempat itu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh mama Nia, Arjuna pun bergegas masuk ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Setelah membersihkan diri, Arjuna pun langsung bergegas menuju rumah sakit milik mama Nia.


Arjuna bertanya pada resepsionis tentang keberadaan mama mertuanya. Resepsionis itu pun mengatakan bahwa mama Nia berada di ruangannya. Arjuna pun bergegas menuju ke tempat yang diinformasikan oleh resepsionis itu.


Dengan penuh tanda tanya, Arjuna melangkahkan kakinya menuju ruang yang diinformasikan oleh resepsionis. Arjuna mengetuk pintu yang diatasnya ada papan kecil yang digantung bertuliskan 'direktur utama'.


"Masuk!"ucap mama Nia saat pintunya di ketuk.


Arjuna membuka pintu itu dan mendapati mama mertuanya sedang menatap layar laptopnya,"Ma!"sapa Arjuna pada ibu mertuanya.


Mama Nia mendongakkan kepalanya menatap Arjuna,"Duduklah! Ada yang ingin mama sampaikan padamu,"ucap mama Nia, dengan tangannya memberi isyarat agar Arjuna duduk di kursi di depan meja kerjanya yang berhadapan dengannya.

__ADS_1


Arjuna pun segera duduk di tempat yang diisyaratkan oleh ibu mertuanya itu. Dalam hatinya penuh tanda tanya, mengapa ibu mertuanya menyuruhnya datang ke rumah sakit, dan bertemu di ruang kerja ibu mertuanya itu.


"Sebelumnya, mama ingin bertanya dulu padamu. Kamu masih ingin melanjutkan pernikahan kalian atau tidak?"tanya mama Nia menatap Arjuna dengan tatapan serius.


"Aku tidak pernah mempunyai niat untuk menceraikan Nia, ma. Aku tahu aku salah, dan aku ingin memperbaikinya. Aku akan berusaha melupakan masa lalu ku dan berusaha membahagiakan Nia. Tolong, berikan aku kesempatan, ma!"pinta Arjuna menatap mama Nia serius.


Selama hampir dua minggu Arjuna diacuhkan Chintania dan seminggu ditinggalkan Chintania. Bahkan selama satu minggu ini, Arjuna tidak bisa melihat dan berkomunikasi sama sekali dengan Chintania. Semua itu membuat Arjuna menjadi sangat frustasi dan akhirnya menyadari, bahwa Chintania memang sangat berarti baginya.


Karena itu, Arjuna memutuskan untuk melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru bersama Chintania. Arjuna akan berusaha untuk mencintai Chintania.


"Mama juga berharap kalian tidak berpisah, namun, semua keputusan ada pada Nia. Jika Nia tidak ingin lagi bersamamu, mama tidak akan memaksanya,"mama Nia menjeda kata-katanya untuk sesaat,"Sebenarnya, Nia menyuruh mama merahasiakan hal ini, namun, mama merasa ini tidak adil buat kamu,"ucap mama Nia, menghela nafasnya panjang.


"Merahasiakan? Merahasiakan apa maksud mama?"tanya Arjuna menatap mama Nia penuh dengan tanda tanya.


"Nia menyuruh mama merahasiakan, jika saat ini dia sedang mengandung," ucap mama Nia menatap lekat wajah Arjuna, ingin mengetahui reaksi Arjuna saat mendengar berita ini.


"Ni.. Nia sedang mengandung? Be.. benarkah?"tanya Arjuna terbata-bata dengan raut wajah terkejut dan tidak percaya,"Aku.. aku tidak salah dengar, 'kan, ma? Nia sedang mengandung? Ada anak kami di dalam perutnya?"tanya Arjuna untuk memastikan bahwa apa yang baru saja didengarnya tidak salah.


Arjuna nampak bahagia dan terharu mendengar jawaban mama mertuanya itu,"Izinkan aku menemuinya, ma! Aku mohon! Aku ingin melihat keadaannya," pinta Arjuna penuh harap.


"Nia tidak ingin menemui mu, Jun. Kamu hanya bisa menemuinya saat dia tidur,"sahut mama Nia kembali menghela nafas panjang.


"Tidak apa-apa, ma. Asalkan aku bisa menemuinya,"ucap Arjuna bersungguh-sungguh.


"Ada lagi yang ingin mama sampaikan padamu. Sebenarnya, semenjak Nia pulang, Nia mengalami morning sickness. Bahkan Nia selalu memuntahkan makanan yang masuk ke dalam perutnya. Dan karena itu pula, sudah dua hari ini, Nia dirawat di rumah sakit ini. Tubuhnya lemas karena sering muntah-muntah,"jelas mama Nia.


"Nia sakit?"tanya Arjuna nampak terkejut,"Izinkan aku melihatnya, ma! Aku mohon!"pinta Arjuna untuk yang kesekian kalinya.


Mama Nia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya,"Baiklah, mungkin saat ini Nia sudah tidur,"ucap mama Nia.

__ADS_1


Akhirnya mama Nia pun membawa Arjuna untuk melihat Chintania. Setelah sampai di depan pintu kamar rawat Chintania, untuk sementara mama Nia menyuruh Arjuna menunggu di luar. Mama Nia ingin melihat apakah Nia sudah tidur atau belum. Setelah memastikan Nia sudah tidur, mama Nia pun mempersilahkan Arjuna untuk masuk, kemudian meninggalkannya.


Dengan langkah pelan agar Nia tidak terbangun, Arjuna masuk dan mendekati Chintania. Ada rasa sedih dan bersalah di hatinya saat melihat tubuh istrinya yang sekarang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Perlahan Arjuna menggenggam tangan Nia dengan lembut dan mengecupnya.


"Maaf!"ucap Arjuna pelan, menatap wajah istrinya yang nampak pucat. Setelah satu jam duduk menunggu di samping ranjang Nia, Arjuna melihat Nia nampak gelisah dalam tidurnya.


Dengan memberanikan diri, Arjuna naik ke atas ranjang Nia yang cukup besar. Arjuna membaringkan tubuhnya di samping Chintania lalu membawa Chintania kedalam dekapannya, melepaskan rindu yang selama seminggu ini ditahan nya.


"Mas Juna,"gumam Chintania lirih, membuat Arjuna menjadi kaku karena menyangka jika Nia bangun dan pasti akan semakin marah padanya.


Namun ketakutan Arjuna memudar saat merasakan Chintania memeluk tubuhnya. Dengan lembut Arjuna mengecup puncak kepala Chintania. Arjuna tidak berani banyak bergerak karena takut menyenggol selang infus yang menempel di tangan Nia yang sedang memeluknya.


Karena Chintania masih terus memeluknya, akhirnya Arjuna yang selama seminggu ini kesulitan tidur pun ikut terlelap. Perasaan nyaman saat mendekap tubuh mungil Chintania pun membuatnya cepat tertidur.


Pintu ruangan itu terbuka dan mama Nia pun muncul dari balik pintu. Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang melihat sepasang suami istri itu tidur saling berpelukan dengan selang infus yang masih menempel di tangan putrinya.


"Jika masih mencintainya, kenapa ingin bercerai darinya? Dan jika sangat merindukannya, kenapa bersikeras tidak mau bertemu dengannya? Cinta memang rumit,"gumam mama Nia masih menatap anak dan menantunya yang tampak terlelap dengan damai.


Mama Nia mengerti, sejatinya putrinya merasa harga dirinya terluka karena Arjuna menerima Chintania sebagai pendamping hidup hanya karena kemiripannya dengan istri pertama Arjuna. Chintania merasa dijadikan sebagai bayang-bayang orang lain dan tidak dicintai. Karena itulah, Chintania nekad ingin bercerai dengan Arjuna, walaupun Chintania mencintai Arjuna.


Mama Nia membalikkan tubuhnya dan memilih keluar dari ruangan itu. Tidak ingin menganggu tidur sepasang suami-isteri yang sudah seminggu terpisah itu.


...🌟"Sulit untuk menjabarkan dan mengekspresikan saat rindu, benci dan cinta bercampur menjadi satu."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2