Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Kesal


__ADS_3

Hari sudah siang, dan jam pelajaran sekolah pun sudah usai. Para murid SMU berdesak-desakan keluar dari kelas untuk segera pulang. Para guru yang mengajar di jam pelajaran terakhir pun membereskan barang-barang mereka untuk pulang, demikian pula dengan Kinara.


Kinara mengendarai motornya dari area parkiran khusus guru. Namun saat keluar gerbang sekolah, tiba-tiba Doni langsung menghadang, membuat Kinara terkejut dan mengerem motor matic yang dikendarai nya secara mendadak,"Ya Tuhan... Makhluk satu ini benar-benar menunggu ku di sini? Huff.. sabar..sabar... "gerutu Kinara sedangkan beberapa siswa yang masih ada di area sekolah pun melihat kejadian tersebut.


"Tolong minggir! Aku mau lewat!"pinta Kinara pelan tapi menampilkan ekspresi yang suram dan tatapan mata yang begitu tajam.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu bersedia kembali padaku,"ucap Doni dengan tatapan serius berdiri di depan motor Kinara dan memegang stang motor Kinara.


"Minggir! Atau aku akan memaksa kamu untuk minggir!"ancam Kinara masih dengan tatapan tajam nya.


"Walaupun kamu menabrak ku, aku tidak akan minggir. Kecuali jika kamu mau ikut bersama ku,"ucap Doni bertepatan dengan Pak Yudi, Pak Rudi dan Bu Cici sampai di pintu gerbang sekolah itu. Menyaksikan Kinara dihadang pria yang terdeteksi gagal move on.


Dengan perasaan kesal, Kinara pun turun dari motornya dan melepas helm yang dikenakannya,"Minggir!"sergah Kinara dengan wajah garang, membuat ketiga rekan kerjanya dan juga beberapa murid yang belum pulang memperhatikan Kinara dan Doni.


"Tidak akan! Sebelum kamu mau ikut dengan aku dan mau kembali bersama ku, aku tidak akan membiarkan kamu pergi,"keukeh Doni.


"Kamu yang membuat aku memilih jalan kekerasan, jadi jangan salahkan aku,"ucap Kinara yang memakai celana panjang itu tiba-tiba menyerang Doni. Doni sempat terkejut tapi berhasil menghindari tendangan Kinara yang diarahkan ke perutnya. Namun Kinara terus menyerang Doni di titik-titik yang mematikan hingga membuat Doni kewalahan dan kelabakan.


Selama satu tahun dekat dengan Kinara, Doni bahkan tidak pernah tahu jika Kinara ternyata memiliki ilmu beladiri. Namun hal itu justru membuat Doni semakin kagum dengan Kinara.


Semua siswa yang menyaksikan pertarungan itupun berdecak kagum. Mereka tidak menyangka jika guru mata pelajaran sejarah dan bahasa Inggris itu mempunyai ilmu beladiri dan mampu melawan seorang pria.Pak Yudi, Pak Rudi, dan Bu Cici pun nampak melongo melihat apa yang sedang terjadi di depan mata mereka saat ini.


Bahkan juga ada beberapa guru yang lain yang baru keluar sekolah pun ikut melongo menyaksikan pertarungan itu. Mereka tidak menyangka, jika wanita cantik dan anggun seperti Kinara bisa bertarung.


"Saya, tidak menyangka jika Bu Kinar bisa ilmu beladiri. Dia terlihat begitu feminim tapi ternyata bisa ilmu beladiri,"gumam Bu Cici yang masih bisa didengar oleh Pak Rudi dan Pak Yudi, menatap takjub pada Kinara yang tengah menyerang Doni dengan serangan yang bertubi-tubi.

__ADS_1


"Bu Kinar benar-benar wanita yang luar biasa,"gumam Pak Yudi melihat betapa lenturnya tubuh Kinara dalam setiap gerakan menyerang Doni.


"Sayang sekali sudah menjadi milik orang,"sahut Pak Rudi yang juga takjub dengan kemampuan Kinara.


Rambut Kinara yang tergerai indah pun semakin membuat gerakan Kinara mempesona. Ternyata ilmu beladiri yang dimiliki oleh Doni masih dibawah ilmu beladiri yang dikuasai oleh Kinara. Tidak memerlukan waktu yang lama, Kinara mampu melumpuhkan Doni. Doni dibanting Kinara hingga terlentang di lantai gerbang sekolah.


"Jangan pernah menghadang aku lagi! Kamu akan tetap menjadi temanku, tapi tidak akan pernah menjadi suamiku. Jadi, jangan pernah berharap kita bisa memiliki hubungan yang lebih dari hubungan pertemanan,"ucap Kinara setelah melumpuhkan Doni kemudian berjalan menuju motornya.


Kinara kembali memakai helm nya dan segera melajukan motornya dari tempat itu tanpa menoleh kemana pun. Hanya menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan orang-orang yang memperhatikannya.


Doni hanya menatap kepergian Kinara dengan wajah sendu. Dari awal Kinara memang sudah menolak cintanya, tapi Doni tetap bersikeras untuk mendapatkan hati Kinara. Selama satu tahun Kinara menghilang tanpa kabar, namun berkat kegigihannya dalam mencari Kinara, akhirnya Doni menemukan Kinara di kota ini.


"Menyebalkan sekali! Hari ini aku benar-benar kesal. Untung saja aku tadi masih bisa mengontrol emosi ku. Kalau tidak, sudah ku hajar habis-habisan sampai babak belur, tuch si Doni. Kesal ku pada Mas Juna saja belum terlampiaskan.. eh.. dia malah cari gara-gara,"gerutu Kinara sambil terus melajukan motor matic nya yang berwarna merah itu.


Setelah sampai di rumah, Kinara langsung membersihkan dirinya. Pertarungan nya dengan Doni tadi membuat tubuhnya mengeluarkan banyak keringat hingga tubuhnya terasa lengket.


Matahari telah tenggelam di ufuk barat, hingga langit perlahan-lahan menggelap dan malam pun mulai menyapa. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Arjuna dan Agus belum juga pulang.


"Kek, apa kakek ingin makan malam lebih dulu? Sepertinya Mas Juna dan Agus pulang agak larut,"ucap Kinara setelah duduk di sebelah Abimana yang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Tidak, kakek menunggu mereka saja. Nggak enak kalau makan sendirian. Kata Agus, sebentar lagi mereka juga pulang. Tapi kalau kamu sudah lapar, kakek akan menemani kamu makan,"sahut Abimana.


"Aku juga belum terlalu lapar, kek. Aku juga akan menunggu mereka,"sahut Kinara tersenyum tipis.


Abimana menatap lekat wajah cucu mantunya itu,"Ra, kamu bahagia apa tidak menikah dengan Arjuna?"tanya Abimana tiba-tiba dengan wajah serius.

__ADS_1


"Aku bahagia kok, kek. Aku senang bisa menjadi istri Mas Juna,"sahut Kinara seraya memegang tangan keriput pria berusia enam puluh tujuh tahun itu dengan seulas senyum diwajahnya yang cantik.


"Kamu tidak berbohong, kan? Tidak berpura-pura bahagia, kan?"tanya Abimana menyelidik.


"Untuk apa aku berbohong, kek. Aku benar-benar bahagia bisa menikah dengan Mas Juna,"jawab Kinara jujur.


Abimana menghela napas panjang, menatap wajah Kinara lekat,"Arjuna itu memang tidak suka banyak bicara, minim kosa kata. Dia hanya akan bicara jika penting saja. Dia akan banyak bicara dan mengeluarkan banyak kosa kata yang jarang dipakai nya sehari-hari jika sedang berdebat,"ujar Abimana kembali menghela napas panjang.


"Kakek benar. Mas Juna akan banyak bicara jika sedang berdebat,"sahut Kinara dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.


Mendengar kata-kata Kinara itu, Abimana nampak terkejut,"Kalian pernah berdebat? Kalian bertengkar? Apa anak itu menyakiti kamu?"tanya Abimana nampak khawatir.


"Tidak, kek. Mas Juna tidak pernah menyakiti aku. Kami hanya salah paham saja dan sudah selesai,"sahut Kinara membuat Abimana lega.


"Syukurlah jika begitu. Kakek berharap kalian dapat hidup bahagia, karena kebahagiaan kalian juga kebahagiaan kakek. Tapi kakek akan merasa semakin bahagia jika kalian segera memberikan cicit untuk kakek,"ujar Abimana nampak penuh harap, sedangkan Kinara hanya tersenyum menanggapi kata-kata Abimana itu.


...🌟"Cinta memang butuh perjuangan dan pengorbanan....


...Namun, berhentilah berjuang dan berkorban untuknya, jika perjuangan dan pengorbanan mu tidak dianggap dan tidak berarti baginya.🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2