
Arjuna keluar dari mobilnya, berdiri seraya menyandarkan tubuhnya di mobil dengan legan kemeja yang digulung hingga ke siku dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Chintania yang keluar dari rumah sakit itu menengok ke segala arah mencari keberadaan Arjuna. Dan matanya pun berhenti di satu titik saat melihat Arjuna berdiri seraya bersandar di mobilnya.
Tiba-tiba saja Chintania merasa ada bayangan-bayangan dalam ingatannya yang mirip dengan apa yang dia lihat sekarang. Namun bayangan orang yang bersandar di mobil dalam ingatannya itu hanya berupa bayangan hitam, hingga Chintania tidak bisa melihat wajah siapa dalam ingatannya itu.
Kepala Chintania terasa sangat sakit saat dia mencoba mengingat bayangan itu. Selama setahun ini, Chintania tidak pernah mengalami hal seperti ini. Chintania terhuyung dengan mata terpejam seraya memegangi kepalanya. Namun Chintania merasakan ada yang menangkap tubuhnya saat dirinya hampir terjatuh.
"Kamu kenapa?"tanya seseorang yang terdengar sangat familiar di telinganya.
Perlahan Chintania membuka matanya menatap pria yang sedang menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Tiba-tiba saja jantung nya berdetak kencang saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata tajam pria yang sedang menahan tubuhnya itu. Chintania merasa wajah pria ini begitu familiar, tapi tidak merasa mengenal pria ini sebelumnya, selain ketika mereka bertemu di restoran dan sekarang ini.
'Kita batalkan saja rencana kita hari ini, sepertinya kamu kurang enak badan. Aku akan mengantarkan kamu pulang,"ucap pria yang tidak lain adalah Arjuna. Arjuna tadi melihat Chintania memegangi kepalanya dan nampak sempoyongan. Karena itu, dengan cepat Arjuna menghampiri Chintania dan menahan tubuh Chintania yang hampir terjatuh.
"Ja.. jangan dibatalkan! Aku baik-baik saja. Tadi kepala ku tiba-tiba terasa pusing, tapi sekarang sudah tidak lagi," sahut Chintania yang entah kenapa merasa tidak rela jika sampai tidak jadi pergi bersama Arjuna hari ini.
Tanpa berkata apapun Arjuna berjalan menuju mobil nya diikuti oleh Chintania. Arjuna menoleh ke belakang sekilas dan melihat Chintania masih mengikutinya. Arjuna membuka pintu mobil bagian penumpang disebelah kursi kemudi. Chintania pun segera masuk ke dalam mobil itu.
"Terimakasih!"ucap Chintania, tapi Arjuna tidak merespon nya dan segera menutup pintu mobil, kemudian berjalan ke sisi mobil bagian pengemudi.
"Dingin, sekali! Tapi perhatian, menarik,"gumam Chintania pelan dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
Walaupun Arjuna terkesan dingin, namun dari sisi lain Chintania merasa Arjuna sangat perhatian. Terbukti tadi saat Chintania akan jatuh, Arjuna langsung menangkap tubuhnya. Dan saat akan masuk mobil, Arjuna juga membukakan pintu mobil untuk nya.
Tak berapa lama, Arjuna pun sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Kedua nya pun kompak menggunakan sabuk pengaman mereka. Setelah itu, mobil yang di kendarai Arjuna pun melaju menuju salah satu butik ternama di kota itu. Mereka akan memilih pakaian pengantin yang sudah disiapkan oleh pemilik butik. Butik itu telah menyiapkan beberapa pakaian pernikahan untuk dipilih Arjuna dan Chintania.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Arjuna hanya fokus mengendarai mobilnya, tidak sedikit pun melirik apalagi menatap Chintania. Tatapan matanya hanya fokus pada jalan raya yang mereka lewati, membuat suasana menjadi hening.
Sesekali Chintania mencuri-curi pandang pada Arjuna hingga memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, memecah keheningan yang terjadi.
"Em.. Mas Juna bekerja dimana?"tanya Chintania menatap pria disampingnya yang fokus mengemudi. Sungguh wajah yang sangat tampan menurut Chintania.
"Mengelola bisnis keluarga,"sahut Arjuna seadanya tanpa menoleh pada Chintania sedikitpun.
"Bisnis apa, Mas?"tanya Chintania masih menatap wajah Arjuna.
"Furniture,"sahut Arjuna singkat.
Hening... sedetik, dua detik, tiga detik... akhirnya mereka hanya diam. Jawaban Arjuna yang singkat membuat Chintania bingung harus berbicara apalagi. Namun Chintania terus berusaha untuk berkomunikasi dengan Arjuna.
Sebegitu tiba di butik yang mereka tuju, pemilik butik pun langsung menyambut keduanya dengan ramah. Pemilik butik itu melayani Arjuna dan Chintania secara pribadi, dibantu dua orang karyawan nya. Mereka menunjukkan beberapa model pakaian pernikahan untuk mereka berdua.
Beberapa saat kemudian Arjuna keluar dari ruang ganti begitupun dengan Chintania. Tanpa sengaja mata kedua bertemu dan saling menatap. Namun Arjuna langsung memutuskan kontak mata itu.
"Wahh... anda berdua benar-benar cocok dan serasi. Yang satu cantik dan satunya tampan,"puji pemilik butik yang nampak takjub pada Arjuna dan Chintania.
"Mas, aku pilih gaun ini, boleh, 'kan?"tanya Chintania menatap Arjuna.
"Hum,"sahut Arjuna singkat.
Setelah memilih pakaian pengantin di butik, mereka pun menuju ke sebuah toko perhiasan yang terbesar di kota itu. Sepanjang perjalanan keduanya kembali diam membuat Chintania menghela nafas berat hingga memberanikan diri untuk bertanya lagi.
__ADS_1
Chintania bertanya tentang apa saja asalkan ada pembicaraan diantara mereka berdua. Namun lagi-lagi Arjuna selalu menanggapinya dengan jawaban singkat bahkan seringkali hanya menjawabnya dengan berdehem. Dan hal itu sukses membuat Chintania merasa sangat kesal hingga merasa tidak tahan lagi dengan sikap Arjuna.
"Hubungan yang akan kita jalani adalah pernikahan karena perjodohan. Apa Mas Juna terpaksa menjalani hubungan ini?" tanya Chintania menatap Arjuna yang ada di sebelahnya.
Arjuna diam, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Chintania, dan tetap fokus mengemudikan mobil membuat Chintania merasa semakin kesal pada Arjuna.
"Berhenti di sini! Aku bilang berhenti!"ucap Chintania dengan suara dingin membuat Arjuna menoleh sekilas ke arah Chintania, kemudian menepikan mobilnya.
"Jika Mas Juna merasa terpaksa menjalani hubungan ini, kita sudahi saja hubungan ini sampai di sini. Tidak usah dilanjutkan lagi. Aku akan mengatakan pada orang tua kita bahwa kita tidak cocok. Kita batalkan saja pernikahan ini,"ucap Chintania melepaskan sabuk pengamannya kemudian keluar dari dalam mobil dan berdiri di tepi jalan untuk mencari taksi.
Sedangkan Arjuna yang masih ada di dalam mobil pun mencengkeram kemudi mobilnya kuat. Jika sampai perjodohan ini gagal entah apa yang akan dilakukan oleh kakeknya yang keras kepala itu. Dengan cepat Arjuna keluar dari dalam mobil bertepatan dengan taksi yang telah berhenti di depan Chintania.
Arjuna langsung menutup pintu mobil taksi online itu saat Chintania akan masuk ke dalam mobil itu,"Kita bicarakan ini baik-baik,"ucap Arjuna, langsung menarik tangan Chintania kembali kedalam mobilnya.
Dengan wajah masam, Chintania mengikuti langkah kaki Arjuna. Pria itu kembali membukakan pintu mobil di bagian depan, sebelah pengemudi dan langsung menutupnya kembali setelah Chintania masuk. Arjuna pun langsung masuk ke dalam mobil dan kembali duduk di kursi pengemudi.
Arjuna menghela nafas panjang, kemudian menatap Chintania yang memasang wajah dingin, sekilas,"Aku mohon, jangan batalkan perjodohan ini!"ucap Arjuna dengan kedua tangan yang mencengkram erat kemudi mobilnya. Matanya menatap lurus ke depan tanpa menatap Chintania.
...π"Hidup itu seperti menggambar tanpa penghapus. Karena itu, berhati-hati lah dalam menjalaninya."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
.
To be continued