Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Chintania


__ADS_3

Hari telah beranjak malam, keluarga Abimana pun berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Seperti biasa, setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar berbincang.


"Yang habis bulan madu memang auranya beda, ya?!"celetuk Agus membuka obrolan.


"Mangkanya nikah! Jangan pacaran mulu!"sahut Abimana.


"Bujang lapuk!"cibir Arjuna.


"Mentang-mentang sudah punya gandengan,"sahut Agus.


"Truk kali gandengan,"sahut Kinara seraya tersenyum tipis.


"Ngomong soal gandengan, aku punya kisah kelam, Mbak,"ujar Agus nampak menghela napas panjang, ekspresi wajahnya berubah.


"Kisah kelam soal gandengan?"tanya Kinara seraya mengernyitkan keningnya.


"Iya, Mbak. Aku kondangan ke acara pernikahan mantanku, sama cewek aku. Tiba-tiba ada keributan, para pria berkelahi gara-gara nyawer biduan. Aku tarik cewek aku agar kami jauh dari perkelahian, tapi aku malah ditonjok sama tentara,"ujar Agus.


"Kok bisa?"tanya Kinara penasaran, begitu pula dengan Abimana. Sedangkan Arjuna nampak datar tanpa ekspresi.


"Aku salah menggandeng. Yang aku gandeng ternyata bukan pacar ku, tapi istrinya tentara,"sahut Agus sambil menyengir bodoh.


"Sudah! Sudah! Agus nggak usah didengarkan, mending pada istirahat,"sahut Abimana membuat Agus bersungut-sungut dan mereka pun akhirnya kembali ke kamar masing-masing.


Arjuna nampak mendekati Kinara yang berdiri di balkon kamar mereka. Kemudian memeluk Kinara dari belakang, meletakkan dagunya di pundak Kinara. Kinara menoleh sesaat pada Arjuna, melempar seulas senyum, kemudian kembali menatap langit.


Arjuna melepaskan salah satu earphone bluetooth yang dipakai Kinara, lalu memakainya. Terdengar lagu yang dibawakan oleh Last Child yang berjudul "Seluruh Nafas Ini" dan kebetulan lagu yang mereka dengarkan itu terlantun pada lirik ...


Jika memang dirimulah tulang rusukku


Kau akan kembali


Pada tubuh ini


Ku akan tua dan mati


Dalam peluk mu


Untukmu seluruh nafas ini


"Apakah lagu ini lagu favorit kamu?"tanya Arjuna masih memeluk Kinara dari belakang. Arjuna sering sekali mendapati Kinara mendengarkan lagu itu. Bahkan saat mereka berbulan madu kemarin, Kinara mengganti nada dering handphone nya dengan lagu yang dilantunkan oleh Last Child itu.

__ADS_1


"Hum,"sahut Kinara,"Aku adalah tulang rusukmu, karena itu, walaupun kita terpisah, suatu saat kita pasti akan bersama lagi,"ucap Kinara seraya memegang tangan Arjuna yang melilit di perutnya.


"Kamu ini bicara apa? Kita tidak akan pernah berpisah,"ucap Arjuna yang nampak tidak suka mendengar kata-kata berpisah dari Kinara.


"Jika kita ditakdirkan berpisah untuk sementara waktu, apa kamu akan tetap setia padaku, Mas?"tanya Kinara tiba-tiba.Masih menatap langit malam yang begitu indah malam ini.


"Kamu ini bicara apa, sih? Bukankah aku sudah membuktikannya selama tiga belas tahun? Aku tetap menunggu mu, walaupun akhirnya aku harus menyerah dan menuruti keinginan kakek untuk menikah dengan seorang gadis yang ternyata adalah kamu,"ucap Arjuna yang teringat dipaksa kakeknya untuk menikahi Kinara.


Bahkan mereka menikah tanpa mengetahui siapa dan bagaimana orang yang telah menjadi pasangan mereka masing-masing. Mereka belum pernah bertemu sekalipun dan tidak mengetahui bagaimana wajah pasangan mereka. Mereka hanya tahu nama pasangan mereka saja.


"Apa Mas Juna percaya bahwa aku adalah tulang rusuk Mas Juna?"tanya Kinara masih tetap menatap langit.


"Tentu saja. Buktinya kamu sekarang sudah menjadi istri ku,"ucap Arjuna penuh keyakinan.


"Jika begitu, Mas Juna tidak perlu takut kehilangan aku. Karena sejauh apapun aku pergi, dan bagaimana pun kita terpisah, aku akan tetap kembali pada Mas Juna,"ucap Kinara penuh keyakinan.


"Bicara mu semakin melantur saja,"ucap Arjuna yang benar-benar tidak suka mendengar kata-kata berpisah dari Kinara.


"Mas!"panggil Kinara masih memegang tangan Arjuna yang melingkar di perutnya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Hum,"sahut Arjuna singkat seperti biasanya. Menatap langit malam yang nampak cerah dengan bulan yang bersinar terang dan bintang-bintang yang bertaburan.


"Berapa hari?"tanya Arjuna seraya melepaskan pelukannya di perut Kinara kemudian membalikkan tubuh Kinara menghadap kearahnya.


"Cuma satu hari, Mas,"sahut Kinara mendongakkan kepalanya menatap Arjuna yang lebih tinggi darinya.


"Aku akan merindukan mu,"ucap Arjuna seraya mengecup lembut puncak kepala Kinara.


"Mas Juna akan menungguku?"tanya Kinara masih mendongakkan kepalanya menatap Arjuna.


"Tentu saja. Aku bahkan akan menjemput mu,"ucap Arjuna lagi.


Keesokan paginya, mereka kembali menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Arjuna pergi bersama Agus ke kantor mereka dan Kinara pergi mengajar.


Setelah seharian mengajar, akhirnya bel pulang pun berbunyi. Kinara berjalan ke arah parkiran dan langsung menghembuskan napas kasar saat melihat ban motornya kempes.


"Kenapa, Bu?"tanya Pak Rudi yang melihat Kinara berdiri di samping motornya dan terlihat kesal.


"Ah, ini, Pak. Ban motornya kempes,"jawab Kinara.


Pak Rudi memperhatikan kedua ban motor Kinara dan ban belakang nya nampak kempes.

__ADS_1


"Kalau begitu, jika Bu Kinar tidak keberatan, biar saya antar pulang,"tawar Pak Rudi, masih saja belum bisa move on dari Kinara.


"Terimakasih, Pak. Saya tidak mau merepotkan Bapak. Saya pesan taksi online saja,"ucap Kinara langsung memesan taksi online, hingga Pak Rudi pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Saat melintas di jalan yang sepi, dari jauh Kinara melihat seorang wanita yang sedang dikeroyok beberapa orang pria,"Pak, berhenti, Pak! Wanita itu dikeroyok oleh beberapa orang,"ucap Kinara dengan raut wajah khawatir.


"Jangan Bu guru! Mereka itu sepertinya preman. Sebaiknya kita pergi saja!"sahut supir taksi itu nampak takut.


"Berhenti, Pak! Ini ongkos taksinya!"titah Kinara terdengar marah.


Supir taksi itupun menghentikan taksinya dan setelah Kinara turun, taksi itu pun segera melaju meninggalkan tempat itu. Supir taksi itu nampak tidak mau mengambil resiko menghadapi para preman itu. Kinara langsung menyerang para preman yang mengeroyok seorang wanita itu. Terjadilah perkelahian antara dua orang wanita dengan delapan orang preman.


Akhirnya Kinara dan perempuan itu berhasil mengalahkan para preman itu, walaupun wanita yang ditolong oleh Kinara mengalami beberapa luka memar karena para preman tadi.


"Terimakasih, kamu sudah menolong aku. Kenalkan, namaku Chintania,"ucap wanita yang ditolong Kinara sambil membungkuk menahan sakit dan Kinara pun menyambut uluran tangan Chintania seraya memperkenalkan dirinya.


"Lukamu lumayan parah. Biar aku antar pulang,"ucap Kinara menawarkan diri.


"Tapi aku membawa motor,"ucap Chintania menunjuk sebuah motor sport yang tadi mau dirampok para preman tadi.


"Aku bisa kok, mengendarai motor seperti itu,"ucap Kinara.


"Benarkah? Kebetulan sekali,"ucap Chintania tersenyum lebar.


Akhirnya Kinara pun mengantar Chintania pulang menggunakan motor sport milik Chintania. Baru beberapa saat yang lalu mereka kenal, tapi mereka nampak sudah akrab. Dan tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Chintania.


"Kenapa bisa seperti ini?"tanya mama Chintania nampak panik melihat putri semata wayangnya yang pulang dalam keadaan terluka.


"Tenang saja, ma. Aku tidak apa-apa. Ini semua berkat Kinara. Jika dia tidak membantu aku, entah apa yang terjadi padaku,"ucap Chintania menatap Kinara penuh senyuman.


"Terimakasih, ya, Ra. Kamu sudah menolong anak Tante, eh tidak.. mulai saat ini kamu panggil saja mama, sama seperti Chintania. Selama ini Chintania tidak pernah membawa seorang teman wanita ke rumah ini, dan kamu adalah satu-satunya teman wanita yang dibawa Chintania pulang,"ucap mama Chintania penuh senyuman.


"Mulai saat ini dan selamanya kita akan menjadi anak mama dan akan menjaga mama bersama-sama,"ucap Chintania memegang kedua tangan Kinara dan menatap Kinara dengan tatapan serius. Kinara pun tersenyum dan mengangguk tanda setuju.


Sejak pertemuan mereka itu, Kinara dan Chintania pun menjadi semakin akrab dan sering bertemu di luar rumah. Sedangkan mama Chintania sendiri, baru bertemu sekali dengan Kinara, yaitu saat Kinara mengantar Chintania pulang.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2