
Noah kembali menatap Chintania,"Nia, kenapa kamu nggak sama aku saja, sih? Aku benar-benar mencintai kamu. Lihatlah, sudah bertahun-tahun aku mencintaimu, menunggu mu membuka hati untuk ku dan tetap setia berada di sisimu,"ujar Noah masih terus berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Chintania.
Mendengar kata-kata Noah itu, Agus pun kembali bersuara,"Kamu tahu nggak arti kata setia? Setia itu artinya setiap tikungan ada. Satu lagi, Setia itu artinya Selingkuh tiada akhir,"ucap Agus masih berpura-pura menelpon membuat Chintania tersenyum tipis sedangkan Noah mencebikkan bibirnya melirik sekilas ke belakang, ke arah Agus.
"Sudah aku bilang, aku hanya menganggap kamu sebagai teman, Noah. Jangan berharap lebih dari aku,"sahut Chintania menghela nafas panjang. Sungguh dokter disampingnya ini benar-benar pantang menyerah untuk mendapatkan hatinya. Sedangkan Agus merasa sedikit senang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Chintania. Paling tidak, saingan kakak sepupunya hanya dianggap teman oleh calon kakak iparnya.
"Nggak apa-apa, jika sekarang hanya kamu anggap teman. Nanti lama-lama kita bisa bertemu di pelaminan,"ucap Noah seraya tersenyum genit dan mengedipkan sebelah matanya pada Chintania, masih saja belum menyerah.
"Kalau memang jodoh gak akan ke mana, nanti emang bakal ketemu di pelaminan, tapi cuma jadi tamu undangan,"ujar Agus kemudian terkekeh membuat Noah bertambah kesal karena merasa dirinya yang ditertawakan oleh Agus.
Noah merasa pria berkacamata hitam dan memakai masker yang ada di belakang mereka itu hanya berpura-pura menelpon, karena setiap kata-kata nya seolah tertuju pada dirinya.
"Kalau jodoh memang nggak kemana, tapi saingannya ada dimana-mana. Namun aku yakin, suatu hari nanti kita pasti bersama. Sebelum janur kuning melengkung, bahkan sekalipun janur kuning sudah melengkung, akan ku patahkan jika kamu mau menerima cinta ku,"ujar Noah kemudian melirik sinis ke arah Agus.
"Kamu bisa menjalin cinta yang indah tanpa harus membuat hati orang lain patah. Kenapa merendahkan dirimu dengan mencintai dia yang jelas-jelas sudah ada yang punya?"ujar Agus terdengar dingin dan menusuk pendengaran Noah.
Noah berhenti berjalan dan langsung membalikkan tubuhnya"Hei, kamu! Kamu mengikuti kami, ya?!"tanya Noah pada Agus, dengan nada ketus dan terlihat sangat kesal, membuat Chintania ikut menghentikan langkahnya dan ikut membalikkan tubuhnya sehingga ketiga orang itupun berhenti berjalan dan saling berhadapan.
"Udah dulu, ya? Nanti disambung lagi,"ucap Agus pura-pura mengakhiri pembicaraan nya di telepon, kemudian menatap ke arah Noah,"Jangan menuduh sembarangan, dok!"ketus Agus pada Noah.
"Dari tadi kamu itu mengikuti kami, dan seolah-olah menyindir aku,"ujar Noah mengungkapkan kecurigaan nya.
"Oh, dokter merasa? Kebetulan sekali!"ucap Agus santai, sedang Chintania nampak menghela napas melihat kedua pria itu. Sejatinya Chintania juga merasa, jika kata-kata yang diucapkan oleh pria yang memakai kacamata dan masker itu ditujukan pada Noah.
"Ngaku saja kalau kamu mengikuti kami?"sinis Noah yang merasa yakin jika pria dihadapannya itu mengikuti dia dan Chintania dan kata-kata pria itu tadi ditujukan padanya.
"Memangnya dokter punya bukti atas tuduhan dokter itu?"tanya Agus menatap pria yang memakai snelli itu dengan tatapan tidak suka. Agus merasa pria yang berprofesi sebagai dokter itu bisa menjadi saingan berat bagi kakak sepupunya jika sampai calon kakak iparnya tergoda oleh pria itu. Mengingat sikap Arjuna yang dingin dan datar, bisa saja suatu hari nanti calon kakak iparnya itu berpaling pada pria yang berprofesi sebagai dokter itu, itulah yang ada di dalam pikiran Agus
"Jika kamu memang tidak mengikuti kami, kamu jalan saja duluan!"ketus Noah.
Agus menghela napas kemudian menaikkan kacamata hitam yang dipakainya ke atas kepalanya, kemudian melepas masker yang dipakainya. Noah memicingkan matanya menatap Agus yang menurutnya tampan. Sedangkan Chintania nampak mengernyitkan keningnya, menatap ke arah Agus.
__ADS_1
"Kamu... kamu Agus, 'kan?"tanya Chintania yang merasa mengenali pria di depannya itu.
"Ternyata Mbak masih mengingat saya,"ujar Agus dengan senyum yang terlihat menawan.
"Tentu saja,"sahut Chintania dengan senyum lebar. Entah kenapa Chintania merasa senang bertemu dengan pria didepan nya itu.
"Kalian saling mengenal?"tanya Noah menatap Chintania.
"Tentu saja. Ayo, Gus!"ucap Chintania langsung menarik tangan Agus dan berjalan menuju ruangannya tanpa mempedulikan Noah.
Wajah Noah pun berubah menjadi masam saat melihat Chintania terlihat bahagia saat bertemu pria yang bernama Agus itu. Apalagi saat melihat Chintania menarik tangan pria tampan itu menuju ruangannya. Selama ini, Chintania nampak enggan disentuh olehnya, tapi kali ini, wanita pujaan hatinya itu malah menarik tangan pria lain menuju ruangannya, didepan matanya.
Akhirnya Noah memilih untuk pergi dari tempat itu saat seorang perawat memanggil nya. Ada tugas yang harus dikerjakan oleh nya yang berprofesi sebagai dokter itu.
Sementara itu, Chintania dan Agus sudah berada di dalam ruangan Chintania,"Duduk, Gus!"ucap Chintania kemudian mengambil minuman dingin yang ada di dalam kulkas kecil yang ada di ruangannya itu.
"Makasih, Mbak,"ucap Agus seraya duduk di sebuah kursi yang berada di depan sebuah meja dengan mata yang menatap keseluruhan penjuru ruangan itu.
"Aku tadi habis mengunjungi temanku yang sedang dirawat di rumah sakit ini, Mbak,"jawab Agus yang bersikap santai pada Chintania, entah mengapa merasa nyaman bersama Chintania.
"Sakit apa?"tanya Chintania seraya duduk di kursi yang ada di depan Agus.
"Dari kecelakaan, Mbak,"sahut Agus seraya meraih minuman yang diletakkan Chintania di depannya,"Aku minum, ya Mbak,"ucap Agus seraya membuka minuman dingin itu.
"Iya, silahkan!"ucap Chintania dengan seulas senyum.
"Dokter tadi tampaknya menyukai Mbak Chintania,"celetuk Agus tanpa basa-basi.
"Oh, dia. Dia teman lamaku dan memang sudah lama suka sama aku. Tapi aku cuma menganggap dia teman biasa,"sahut Chintania jujur.
"Begitu, ya? Ternyata Mas Juna punya saingan,"ujar Agus kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Kamu bisa saja,"sahut Chintania ikut tertawa. Entah mengapa, sejak bertemu mereka tidak merasa canggung dan malah terlihat cepat akrab.
"Mbak, aku harap Mbak Nia sabar menghadapi Mas Juna. Dia itu memang terkesan dingin dan datar. Tapi dia itu orang yang baik. Dia memang tidak banyak bicara, tapi sangat perhatian,"ujar Agus tidak ingin Arjuna kalah saing dengan dokter yang nampak menyukai calon kakak iparnya itu.
"Iya, aku tahu,"sahut Chintania dengan seulas senyum,"Kalau boleh tahu, karena apa Mas Juna menjadi duda?'"tanya Chintania hati-hati.
"Oh, itu. Istri Mas Arjuna mengalami kecelakaan setahun yang lalu dan hingga kini kami tidak tahu bagaimana kabarnya, karena sampai saat ini kami tidak menemukan nya,"ujar Agus yang raut wajahnya berubah sendu.
"Apa... Mas Juna sangat mencintai dia?"tanya Chintania nampak ragu-ragu.
"Iya. Karena itulah sampai saat ini, Mas Juna tidak merasa bahagia. Hilangnya kakak ipar sempat membuat Mas Juna terpuruk. Aku harap, Mbak Chintania bisa mengeluarkan Mas Juna dari keterpurukan nya,"ucap Agus penuh harap.
Chintania menghela napas panjang menatap Agus,"Sepertinya aku harus berjuang keras untuk menggeser posisi wanita yang ada di dalam hati Mas Juna,"ucap Chintania dengan seulas senyum tipis di bibirnya yang mungil tapi bervolume itu.
"Aku berharap, Mbak tidak menyerah untuk mendapatkan hati Mas Juna,"ucap Agus penuh harap.
"Sepertinya menantang,"ucap Chintania masih dengan seulas senyum di bibirnya.
...π"Jalinlah cinta yang indah, tanpa harus membuat hati orang lain patah."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
.
To be continued
__ADS_1