
Di kediaman Abimana.
Hari itu Arjuna pulang pukul enam sore kerena Abimana menelponnya dan memaksanya untuk pulang. Semenjak hilangnya Kinara, Arjuna selalu pulang pukul sepuluh malam ke atas, sedangkan Agus pulang lebih dulu.
"Ada apa kakek memaksaku pulang jam segini?"tanya Arjuna menghampiri kakeknya yang sedang duduk bersama Agus di ruang keluarga.
"Untuk bersiap-siap. Pukul tujuh nanti, kita akan makan malam bersama calon istrimu,"ucap Abimana membuat Arjuna membulatkan matanya.
"Apa maksud kakek? Kakek ingin menjodohkan aku lagi?"tanya Arjuna nampak tidak suka.
"Iya,"sahut Abimana singkat.
Arjuna membuang napas kasar,"Bahkan sampai sekarang Kinara belum ditemukan, tapi kakek malah menyuruh aku untuk menikah lagi. Aku tidak mau,"tolak Arjuna tegas.
Abimana menghela nafas panjang,"Sampai kapan kamu akan menunggu nya, dan sampai kapan kamu akan terpuruk dan tenggelam dalam masa lalu mu? Sudah setahun, Jun, dan tidak ada kabar sama sekali tentang Kinara. Kamu harus melanjutkan hidup dan membina rumah tangga yang baru,"ujar Abimana dengan nada lembut mencoba menyadarkan Arjuna.
"Aku tidak ingin membina rumah tangga lagi bersama siapapun. Hanya Kinara istriku satu-satunya, dan aku tidak akan pernah menikah lagi,"ucap Arjuna tegas dan beranjak dari duduknya.
Namun tanpa diduga, saat Arjuna membalikkannya tubuhnya, Abimana tiba-tiba berlutut di belakang Arjuna,"Kakek mohon, Jun! Menikahlah dengan wanita pilihan kakek!"pinta Abimana membuat Agus membulatkan matanya.
"Kakek! Apa yang kakek lakukan?"tanya Agus yang terkejut melihat pria tua tiba-tiba berlutut, berusaha membantu Abimana bangun, tapi ditepis Abimana.
Arjuna yang mendengar suara panik Agus pun menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Arjuna sangat terkejut saat melihat kakeknya berlutut.
"Apa yang kakek lakukan?"tanya Arjuna ingin membantu Abimana bangun tapi sama seperti Agus, dia pun ditolak.
"Kakek akan berlutut di sini sampai kamu setuju untuk menikah dengan gadis pilihan kakek. Setelah ini, kakek janji tidak akan meminta apapun lagi dari kamu,"ucap Abimana masih berlutut.
"Mas Juna, terima saja permintaan kakek! Lagi pula, gadis pilihan kakek sangat cantik, dan wanita baik-baik. Pak Radit sudah menyelidikinya dan aku juga sudah melihat fotonya,"ujar Agus ikut membujuk.
"Jika memandang wanita dari kecantikannya, maka tidak akan ada habisnya. Akan selalu ada yang lebih cantik, tapi yang kucintai hanyalah Kinara,"ujar Arjuna masih keukeh dengan pendirian.
"Kakek akan tetap berlutut di sini sampai kamu mau menuruti permintaan kakek. Jika kamu keras kepala, maka kakek akan lebih keras kepala. Kalau pun kakek harus mati dalam posisi berlutut kepadamu pun, kakek rela. Sekali lagi kakek mohon, menikahlah dengan gadis pilihan kakek!"pinta Abimana yang sekarang malah bersujud di depan Arjuna.
Semua orang dalam keluarga itupun tahu betapa keras kepalanya Abimana, dan sifatnya itu diturunkan nya kepada Arjuna.
"Apa yang kakek lakukan?"ucap Arjuna dan Agus bersamaan,"Baiklah, aku akan menuruti keinginannya kakek. Tolong kakek bangun! Jangan seperti ini!"ucap Arjuna yang merasa berdosa karena kakeknya sampai berlutut dan bersujud kepadanya.
__ADS_1
"Terimakasih. Terimakasih, Jun!"ucap Abimana kemudian dibantu oleh kedua cucunya untuk bangun.
Arjuna membuang napas kasar. Lagi-lagi Arjuna tidak dapat menolak keinginan pria tua itu. Mana tega Arjuna melihat orang yang telah merawat dan membesarkannya dari kecil berlutut dan bersujud padanya seperti itu. Dia merasa menjadi anak durhaka saat melihat Abimana berlutut dan bersujud kepadanya. Kakeknya itu benar-benar keras kepala.
Di rumah sakit.
Chintania sudah berganti pakaian serta memakai makeup tipis diwajahnya hingga aura kecantikannya semakin keluar. Wanita itu telah selesai membereskan barang-barang nya dan bersiap keluar dari ruangan nya.
"Ceklek"
"Ni..."Noah yang seperti biasa masuk ke ruangan Chintania tanpa mengetuk pintu tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat apa yang ada didepan matanya. Chintania biasanya hanya memakai bedak tipis dan lips balm, memakai kemeja dan celana panjang dengan rambut yang di kuncir. Namun yang sekarang dilihat Noah sungguh sangat berbeda.
Chintania dalam balutan dress yang panjangnya selutut berwarna merah maroon, kontras dengan kulit putih nya dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu menggoda di mata pria. Memakai high heels dengan warna yang senada dengan warna gaun nya.
Rambutnya yang panjang sepinggang dibiarkan tergerai indah dan menyisakan sedikit di bagian samping pipinya. Rambut di samping kiri dan kanan pipinya itu dikeriting nya. Alis terbentuk rapi, bulu mata lentik dan tebal, bibir mungil bervolume berwarna pink yang begitu menggoda.
Noah berdiri kaku menatap Chintania dengan mulut yang menganga dan mata yang tak berkedip. Sungguh, selama ini Chintania tidak pernah berpenampilan feminim seperti ini. Baru kali ini Noah melihat Chintania berpenampilan seperti itu, baik sebelum amnesia maupun setelah amnesia.
"Noah! Noah!"panggil Chintania seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Noah. Namun pria itu masih pada posisi tadi, tidak berubah sedikitpun.
"Auwh! Sakit!"keluh Noah saat lengannya dipukul lumayan kuat oleh Chintania.
"Minggir! Kamu menghalangi jalanku!"titah Chintania.
"Apa benar kamu Nia ku? Kamu cantik sekali!"ucap Noah tidak mau mengalihkan pandangannya dari Chintania.
"Baru nyadar kalau aku cantik? Apa kamu kemarin pingsan, sehingga tidak tahu kalau aku cantik?"tanya Chintania tertawa tanpa suara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Dari kemarin bahkan dari dulu kamu sudah cantik. Tapi hari ini kamu berkali-kali lipat lebih cantik, apalagi kalau diner sama aku,"puji Noah setengah merayu.
"Sorry yau! Aku udah ada janji sama calon suami,"sahut Chintania tidak mau Noah terus berharap.
Seketika pundak Noah pun menjadi turun,"Apa aku harus buka dealer Honda biar aku bisa one heart sama kamu?" tanya Noah menatap Chintania dengan wajah lesu.
"Nggak usah! Buka dealer Yamaha aja. Biar "Selalu didepan" nggak kebanyakan menengok ke belakang tapi fokus sama masa depan,"sahut Chintania.
"Aku akan tetap berjuang sebelum janur kuning melengkung.Bila perlu, janur kuning yang sudah melengkung pun akan aku patahkan,"ucap Noah dengan mata tajam.
__ADS_1
"Plak"
"Awhh! Jangan pukul kepalaku! Ini aset berharga,"ujar Noah bersungut-sungut seraya mengusap kepalanya yang dipukul Chintania.
"Ingat, BPJS tidak menanggung sakit karena cinta, dan TIM SAR tidak akan mencari jodoh yang belum ditemukan,"ujar Chintania seraya mendorong Noah ke samping agar dia bisa melewati pintu, karena Noah berdiri tepat di tengah pintu.
"Berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang ke tepian. Gimana mau ke penghulu kalo sampai sekarang belum jadian. Jangankan jadian yang ada malah dapat saingan,"ujar Noah berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan Chintania,"
"Aku nggak percaya kamu mau diner sama calon suami kamu. Hampir dua puluh empat jam aku bersamamu dan aku tahu, kamu nggak punya cowok,"ujar Noah masih belum percaya pada kata-kata Chintania yang mengatakan akan diner bersama calon suami nya.
"Memang aku harus laporan sama kamu, kalau aku punya cowok,"ujar Chintania terus melangkah.
"Dokter Noah! Anda ada janji temu dengan pasien,"panggil seorang perawat membuat Noah menghentikan langkahnya.
"Bye, Pak dokter! Selamat menjalankan tugas!"ucap Chintania melambaikan tangannya, menengok ke arah Noah sebentar seraya tersenyum menggoda dan mengedipkan sebelah matanya nakal.
"Aku di sini kamu di sana, kamu sama dia, aku sama siapa?"tanya Noah pada Chintania yang terus berjalan.
"Sama perawat saja!"sahut Chintania tanpa menoleh apalagi menghentikan langkahnya.
Noah menghela napas panjang mendengar jawaban Chintania,"Wahh.. anak pemilik rumah sakit kita cantik sekali! Tidak pernah Bu Chintania berpenampilan seperti itu. Surprise banget lihat Bu Chintania tampil seperti itu,"gumam perawat wanita yang memanggil Noah tadi nampak terpukau melihat Chintania. Apalagi lenggak-lenggok tubuh Chintania saat berjalan menggunakan high heels terlihat begitu anggun dan mempesona.
"Kalau patah tulang bisa ke Sangkal Putung, terus kalau patah hati harus kemana?"gumam Noah menatap Chintania yang semakin menjauh.
"Ke hati saya saja, dok! "sahut perawat di samping Noah, namun Noah tidak menghiraukannya dan langsung pergi.
...π"Kunci sukses adalah jangan menyerah walaupun gagal berulangkali. Dan kunci agar tidak patah hati adalah jangan pernah mencoba untuk mencintai."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1