
Pagi menjelang, perlahan Kinara membuka matanya dan dengan hati-hati melepaskan pelukan Arjuna. Perlahan turun dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi. Kinara mencuci wajahnya kemudian menatap lehernya melalui cermin di kamar mandi.
"Mas Juna benar-benar membuat aku kesal! Namun bagaimana aku bisa marah padanya, jika aku malah terkesan menikmati apa yang Mas Juna lakukan padaku. Benar-benar menyebalkan! Kenapa aku seperti orang yang terkena hipnotis jika di dekatinya? Aku benar-benar hilang akal jika bersamanya,"gerutu Kinara yang kesal pada Arjuna dan juga kesal pada dirinya sendiri.
Kinara mengoleskan foundation di lehernya. Walaupun tidak bisa menutup tanda yang dibuat suaminya, tapi paling tidak Kinara bisa menyamarkan tanda yang dibuat oleh suaminya itu. Setelah itu, Kinara pun pergi ke dapur untuk membantu Bik Iyem menyiapkan sarapan. Bik Iyem pun tersenyum ramah pada Kinara saat Kinara masuk ke dapur.
"Nak Agus, tumben pagi-pagi begini sudah bangun,"tegur Bik Iyem saat melihat Agus memasuki dapur.
"Haus sekali, Bik. Jadi,aku terpaksa bangun,"sahut Agus seraya mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es, kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan dan meneguk air mineral kemasan botol itu.
"Pantesan sudah bangun, kirain mau joging,"celetuk Bik Iyem tersenyum tipis.
"Memangnya Agus rajin joging, Bik? Kok, selama aku di sini, aku nggak pernah lihat Agus joging,"sahut Kinara.
Agus menoleh pada Kinara yang sedang memotong sayuran,"Walaupun aku nggak pernah joging, aku selalu ikut Mas Juna nge-gym, Mbak. Kalau tidak, mana mungkin tubuh ku bisa seseksi ini,"sahut Agus dengan bangga berdiri dan menyingsingkan lengan kaosnya kemudian mengangkat lengannya sejajar dengan bahunya, memperlihatkan otot lengannya.
"Mas Juna juga punya otot seperti itu,"ucap Kinara setelah melihat Agus sekilas.
"Kalau sama Mas Juna, tentu saja aku nggak ada apa-apa nya, Mbak. Selain nge-gym, Mas Juna juga rutin melatih ilmu beladiri nya. Jadi, tubuh Mas Juna memang lebih seksi dibandingkan dengan tubuhku,"sahut Agus jujur.
"Begitu, ya? Memangnya kamu tidak bisa ilmu beladiri?"tanya Kinara, sekilas menatap wajah Agus, kemudian kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Bisa, sich bisa. Tapi nggak sejago Mas Juna, Mbak,"jawab Agus yang tidak jadi kembali ke kamarnya dan malah mengobrol di dapur bersama Kinara dan Bik Iyem.
"Mas Juna itu jago beladiri, Nak,"sahut Bik Iyem menatap Kinara sekilas.
"Iya, Bik. Aku akui, ilmu beladiri Mas Juna memang tidak bisa dianggap enteng,"sahut Kinara yang sudah pernah berduel dengan suaminya sendiri.
"Mbak Kinara kayak udah pernah duel sama Mas Juna saja,"celetuk Agus kemudian terkekeh.
"Aku memang pernah berduel dengan Mas Juna,"sahut Kinara santai.
Agus menatap Kinara seolah tidak percaya jika kakak iparnya itu pernah berduel dengan kakaknya yang berarti kakak ipar nya itu bisa ilmu beladiri.
__ADS_1
"Yang benar, Nak?"tanya Bik Iyem ingin memastikan.
"Serius, Mbak? Mbak pernah duel dengan Mas Juna?"tanya Agus yang belum yakin jika Kinara benar-benar menguasai ilmu beladiri dan pernah berduel dengan Arjuna.
"Serius. Pertama Mas Juna hanya menghindar dan menangkis serangan ku, tapi saat Mas Juna balik menyerang aku, dengan beberapa jurus saja aku langsung kalah,"jelas Kinara sambil menyengir, teringat saat dirinya berduel dengan suaminya sendiri.
"Wahhh... kalau begitu, bagaimana jika kapan-kapan kita tanding? Aku jadi penasaran, setinggi apa ilmu beladiri yang dimiliki wanita secantik dan se-anggun Mbak Kinara,"ucap Agus nampak antusias.
"Boleh, lain kali kita tanding. Aku juga ingin menjajal ilmu beladiri playboy macam kamu. Untung kamu adik ipar ku, jika tidak, sudah aku hajar kamu karena selalu mempermainkan perempuan,"ujar Kinara dengan mata yang berkilat tajam menatap Agus.
Kinara sudah beberapa kali memergoki Agus melakukan video call dengan wanita yang berbeda-beda. Dan Agus selalu berkata-kata manis untuk merayu mereka. Walaupun Kinara tidak menyukai Agus yang berperilaku seperti itu, tapi Kinara juga tidak berhak mencampuri urusan orang lain. Apalagi Kinara merupakan anggota keluarga baru di rumah itu dan hanya seorang menantu.
"Eits.. Mbak sudah seperti mau menusuk aku dengan tatapan tajam Mbak itu. Aku tidak mempermainkan sembarangan wanita, Mbak. Aku hanya mempermainkan cewek-cewek yang kelewat matre. Mereka meninggalkan pasangan mereka hanya karena melihat ada yang lebih kaya dari pasangan mereka. Aku tidak suka dengan wanita yang seperti mereka itu,"
"Memang wajar jika cewek itu matre, kita berpikir realistis saja. Semua kebutuhan kita di beli pakai uang. Tapi kalau matrenya sudah kelewat batas sampai meninggalkan orang yang telah banyak berkorban demi mereka untuk pria yang lebih kaya, itu sudah tidak dapat ditoleransi lagi, Mbak,"ujar Agus terlihat serius.
Bik Iyem menepuk pundak Kinara pelan hingga Kinara menatap Bik Iyem,"Nak Agus pernah berpacaran lama dengan seorang gadis, bahkan Nak Agus membiayai sekolah dan kuliah gadis itu, tapi setelah lulus kuliah gadis itu malah menikah dengan anak pebisnis hotel,"ujar Bik Iyem nampak menghela napas berat dengan ekspresi sedih.
"Jadi, ceritanya kamu patah hati, Gus? Dan cewek-cewek yang kamu pacari sekarang itu adalah cewek-cewek matre yang nggak setia sama pasangan mereka?"tanya Kinara memastikan jika asumsinya benar.
"Kalau boleh tahu, memang berapa lama kamu pacaran dengan pacar kamu yang meninggalkan kamu itu?" tanya Kinara hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Agus.
"Enam tahun, Mbak. Aku membiayai pendidikannya dari SMU sampai lulus S1, tapi setelah lulus S1, dia malah menikah dengan orang lain,"ujar Agus terlihat sendu.
"Yahh.. Palembang, ya Gus?"tanya Kinara menghela napas berat.
"Palembang apaan, Nak?"tanya Bik Iyem menatap Kinara penuh tanda tanya, demikian pula dengan Agus yang juga menatap Kinara menginginkan sebuah jawaban.
"Palembang, Bik. Pacaran Lama Berakhir Tumbang,"ujar Kinara membuat Bik Iyem menahan tawa karena tidak enak hati pada Agus.
"Iya, Mbak. Aku memang Palembang : Pacaran lama berakhir tumbang. Aku juga Purbalingga,"sahut Agus membuang napas kasar.
"Apaan Purbalingga?"kini gantian Kinara yang bertanya dan Bik Iyem pun memasang telinga menunggu jawaban dari Agus.
__ADS_1
"Purbalingga: Pura-pura bahagia melihat dia berpaling dan berkeluarga,"sahut Agus tertawa hambar.
"Iya, ya, Gus. Bukan cuma Palembang dan Purbalingga saja, tapi juga Eyang Kakung : Ending kasih sayang yang kena tikung,"ujar Kinara yang akhirnya membuat mereka bertiga tertawa.
"Ada apa Ini? Pagi-pagi begini kok rame sekali? Kalau lagi bahagia ajak-ajak kakek, dong!"ujar Abimana yang tiba-tiba sudah berada di dapur.
Saat melewati dapur, Abimana tidak sengaja mendengar suara orang yang berbincang. Abimana jadi penasaran saat mendengar suara tawa dari dalam dapur kemudian memutuskan untuk masuk ke dapur dan mendapati Bik Iyem, Kinara dan Agus sedang tertawa.
"Ini, kek. Membahas sebab musabab Agus menjadi playboy,"sahut Kinara tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Si Agus ini patah hati karena ditinggal nikah sama pujaan hati. Dan sekarang jadi playboy cap kadal yang ramah,"ujar Abimana yang jadi ikut nimbrung.
"Bukannya jadi playboy memang harus ramah, ya, kek? Kalau nggak ramah, mana bisa dapat gebetan,"sahut Kinara.
"Maksud kakek bukan ramah yang seperti itu. Agus ini ramah dalam artian rajin menjamah. Alias baru jadian langsung pegang-pegang dan langsung nyosor,"jelas Abimana.
"Aku kan, nggak memaksa mereka, kek! Mereka mau dan menikmati, kok! Rejeki nomplok kan, nggak boleh ditolak, kek! Pamali!"sahut Agus membela diri.
"Plak"Abimana memukul kepala Agus.
"Auwh!" sakit , kek!"keluh Agus seraya mengusap kepalanya yang dipukul Abimana.
"Ntar kalau bunting tuch, anak orang bagaimana?"ucap Abimana menatap tajam pada Agus.
...π"Tidak bisa dipungkiri, materi memang penting....
...Tapi bukan berarti rela menjual harga diri demi materi."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued