Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Mencari Tahu


__ADS_3

Di ruang makan, Abimana dan Agus sudah duduk menghadap meja makan. Sedangkan Bik Iyem nampak sedang menyajikan makanan.


"Apa Juna dan istrinya sudah pulang, Yem?"tanya Abimana menatap asisten rumah tangga yang telah mengabdi padanya selama bertahun-tahun itu.


"Sudah, Pak. Tapi mereka pulang agak larut,"sahut Bik Iyem yang mengetahuinya dari orang yang menjaga pintu gerbang rumah itu.


"Pantesan aku tidak tahu,"ujar Abimana. Setelah selesai menyajikan sarapan, Bik Iyem pun beranjak ke dapur untuk melanjutkan tugasnya yang lain.


"Apa mereka benar-benar berbulan madu, kek?"tanya Agus yang membuat Abimana terdiam.


Abimana tahu ke arah mana pembicaraan Agus itu. Abimana sendiri juga tidak yakin jika sepasang pengantin baru itu akan melakukan ritual suami-istri seperti layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya. Pasalnya Abimana juga tahu jika Arjuna sangat mencintai Kinara. Dan menikahi Chintania adalah paksaan darinya.


"Jika Arjuna tidak mau menyentuh istrinya, aku akan membuatnya terpaksa menyentuhnya,"ucap Abimana dengan seringai licik di bibirnya.


Agus menatap wajah kakeknya yang sudah keriput itu seraya memicingkan sebelah matanya,"Jangan bilang kakek akan memberikan Mas Juna obat untuk menaikkan libido?"tanya Agus menatap Abimana penuh kecurigaan.


"Jika perlu, akan kakek lakukan,"ucap Abimana dengan seulas senyum membingkai wajah keriputnya, yang terlihat licik di mata Agus.


Kedua pria beda usia itu kemudian mulai menyantap sarapan mereka. Baru setengah makanan yang ada di piring keduanya masuk ke dalam perut saat Arjuna dan Chintania masuk ke ruang makan itu.


"Pagi, kek! Pagi, Gus!"sapa Nia dengan seulas senyum, nampak tidak enak hati karena bangun kesiangan. Sedangkan Arjuna nampak menampilkan ekspresi datarnya.


"Pagi!"sahut Agus dengan senyum cerahnya, matanya menelisik ke arah sepasang pengantin baru itu secara bergantian.


"Pagi,"sahut kakek,"Eh, kalian sudah rapi? Kalian mau pergi?"tanya Abimana yang melihat keduanya sudah rapi.


"Iya, kek,"sahut Chintania dengan seulas senyum yang membuat wajahnya semakin cantik.


"Iya,"sahut Arjuna singkat, bersamaan dengan Chintania.


Agus menatap Chintania dengan memicingkan matanya, mengamati Chintania. Matanya membulat saat melihat leher Chintania, hingga tanpa sengaja sendok yang dipegangnya terjatuh dan membuat dirinya sendiri terkejut. Sungguh, Agus tidak menduga jika akan melihat hal ini. Agus berpikir Arjuna tidak akan menyentuh Chintania karena sangat mencintai Kinara dan tidak dapat melupakannya. Tapi ternyata prediksi nya benar-benar meleset.


"Kamu kenapa?"tanya Abimana seraya menepuk lengan Agus, membuat pemuda itu terhenyak.

__ADS_1


"Ah, ti.. tidak apa-apa, kek,"sahut Agus tergagap.


Beberapa saat kemudian Agus berbisik pada Abimana,"Aku lupa, seekor harimau yang sudah lama tidak makan, pasti tidak akan tahan melihat makanan lezat di depan matanya, 'kan? Aku rasa, kakek tidak perlu memberi obat pada Mas Juna,"ujar Agus mengulum senyum, ada perasaan lega di hatinya setelah melihat banyak tanda dileher Chintania. Walaupun sudah ditutupi Chintania dengan foundation, tapi tanda itu masih terlihat, meskipun agak samar.


Mendengar kata-kata Agus, Abimana melirik Chintania beberapa saat, kemudian tersenyum tipis dan merasa lega. Abimana berharap Arjuna dapat keluar dari keterpurukan nya dan bisa berbahagia dengan gadis pilihannya.


...----------------...


Seperti biasanya, selesai kuliah, Chintania pergi ke rumah sakit milik mamanya. Chintania untuk menemui mamanya di ruangan nya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"sahut mama Nia dari dalam.


"Siang, ma!"ucap Chintania menghampiri mamanya yang sedang fokus pada layar laptopnya itu dengan seulas senyum yang membingkai wajahnya.


Wanita paruh baya itupun langsung mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya dan menatap putrinya. Seulas senyum terlihat di bibir wanita paruh baya itu.


"Anak mama sudah pulang. Gimana bulan madunya?"tanya mama Nia nampak senang dengan kehadiran putri nya itu.


Mama Nia mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang,"Mama baik-baik saja,"jawab mama Nia yang kembali mengulas senyum di bibirnya saat tanpa sengaja matanya melihat banyak tanda di leher Chintania.


"Mana berkas-berkas yang harus aku periksa, ma?"tanya Chintania menatap meja kerja mamanya.


"Kamu tidak capek?"tanya mama Nia.


"Nggak, kok, ma,"sahut Chintania.


"Pengantin baru memang penuh energi,"ledek mama Nia masih dengan seulas senyum di bibirnya, kemudian menyerahkan berkas-berkas yang bisa di periksa Chintania.


Chintania mengambil berkas-berkas itu kemudian dengan ragu bertanya pada mamanya,"Ma, apa sebelum aku amnesia..."Chintania menjeda kata-katanya,"Apa aku pernah memiliki pacar atau mungkin dekat dengan seorang pria?"tanya Chintania menatap lekat wajah mamanya mengharapkan jawaban.


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan soal itu?"tanya mama Nia tersenyum tipis, mencoba menutupi perasaan nya yang merasa agak tegang jika Chintania menanyakan tentang masa lalunya.

__ADS_1


"Ah, aku hanya ingin tahu, ma. Takutnya, ada yang mengaku-ngaku seperti Noah kemarin, sedangkan sekarang aku sudah menikah. Aku tidak ingin ada salah paham antara aku dan Mas Juna," jawab Chintania yang berusaha menjawab yang kira-kira masuk akal. Padahal dirinya ingin mencari tahu siapa sebenarnya yang telah mengambil kesuciannya.


"Setahu mama, kamu tidak pernah punya pacar, atau dekat dengan seorang pria selain dengan Noah, sayang. Yang naksir kamu sih, banyak, tapi kamu tidak merespon mereka semua. Kata kamu, belum ada pria yang cocok dengan hati kamu,"ujar mama Nia menjawab pertanyaan Chintania seolah-olah Chintania yang sekarang adalah putri kandungnya. Putri kandungnya memang banyak yang naksir, tapi tidak direspon oleh putrinya.


"Ah, begitu, ya? Makasih, ma! Kalau begitu aku keruangan ku dulu,"pamit Chintania yang direspon dengan anggukan kepala dan seulas senyum oleh mama Nia.


"Sayang!"panggil mama Nia membuat Chintania yang hampir keluar dari ruangan itu langsung berhenti dan menoleh ke arah mamanya,"Jangan memaksakan diri untuk mengingat! Mama tidak mau kamu sakit seperti dulu,"lanjut mama Nia nampak khawatir.


"Iya, ma. Aku janji tidak akan melakukannya, aku tidak ingin mama khawatir,"ucap Chintania membuat mama Nia menjadi sedikit lega.


Chintania berjalan menuju ruangannya dengan tanda tanya dalam hatinya. Chintania yakin pernah dekat dengan seseorang karena dari memory nya yang tidak terlalu jelas itu, Chintania merasa waktu itu dirinya melakukan nya dengan suka rela.


Namun jika dia memaksa otaknya untuk mengingat, maka dia akan jatuh sakit seperti dulu. Chintania tidak mau mamanya khawatir, dan suaminya menjadi repot karena harus mengurus dirinya yang sakit karena memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya.


"Nia!"panggil Noah dengan senyum cerahnya seraya menghampiri Chintania. Sedangkan Chintania hanya melempar senyum tipis pada Noah.


"Aku kangen sekali sama kamu,"ungkap jujur Noah yang sudah berada di samping Chintania.


Chintania menghela napas panjang mendengar kata-kata pria yang mengenakan snelli itu,"Noah, jangan sembarangan bicara! Aku ini wanita yang sudah menikah,"ujar Chintania kemudian membuka pintu ruangan nya.


"Masa bilang gitu saja tidak boleh," protes Noah seraya bersungut-sungut mengikuti Chintania masuk ke dalam ruangannya.


"Noah, kamu bilang aku adalah teman kamu dari SMU. Apa kamu tahu aku pernah berpacaran dengan seseorang? Atau kemungkinan aku pernah dekat dengan seorang pria?"tanya Chintania setelah duduk di kursinya, mencoba mencari tahu tentang masa lalunya dari Noah..


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal itu?"


...🌟"Nyatanya, ada yang ingin kita ingat, tapi malah lupa. Ada pula yang ingin kita lupakan, tapi malah selalu teringat. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2