
Kinara terbangun saat Arjuna mengecup pipinya. Perlahan Kinara membuka matanya dan melihat suaminya sudah terlihat rapi dan segar,"Mas Juna sudah mandi?"tanya Kinara dengan suara serak, seraya berusaha untuk duduk.
"Hum,"sahut Arjuna seraya membantu istrinya untuk duduk, menelan salivanya dengan kasar saat melihat belahan dada istrinya,"Kenapa kamu tidak pernah memakai gaun tidur seperti ini jika bersamaku?"tanya Arjuna yang lebih terdengar seperti sedang protes.
Kinara melihat ke arah mana mata suaminya memandang, kemudian menghela nafas kasar,"Aku akan membersihkan diri,"ucap Kinara seraya beranjak turun dari ranjang.
Tanpa mengatakan apapun Arjuna langsung mengangkat tubuh Kinara dan menggendongnya, hingga membuat Kinara terkejut,'Mas!"pekik Kinara, reflek mengalungkan tangannya di leher Arjuna yang membawanya ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Kinara dan Arjuna pun keluar dari kamar mereka dan bergabung dengan mama Nia yang sudah menunggu di meja makan.
"Apa pagi ini kamu mual dan muntah lagi, sayang?"tanya mama Nia seraya mengelus lembut kepala Kinara.
"Enggak, ma,"sahut Kinara dengan wajah memerah karena malu. Ternyata apa yang dikatakan oleh mamanya semalam adalah benar, bahwa bayi dalam kandungannya memang tidak ingin jauh dari ayahnya.
"Sayang, jadi.. jadi kamu sudah mengingat semuanya?"tanya mama Nia ragu-ragu. Walaupun tadi Arjuna sudah memberitahu dirinya, namun mama Nia ingin mendengarnya sendiri dari Chintania.
Kinara memegang tangan mamanya dengan lembut,"Iya, ma. Aku sudah mengingat semuanya. Terimakasih mama sudah menolongku, merawat dan menyayangi aku seperti putri mama sendiri. Jika tidak ada mama, aku tidak tahu bagaimana nasibku, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini,"ujar Kinara dengan mata yang berkaca-kaca. Semalam, Arjuna sudah memberitahu dirinya jika ibunya sudah meninggal. Jadi, saat ini hanya mama Nia lah ibu yang dimilikinya.
"Mama hanya sedikit membantu mu. Maaf, mama merubah wajah mu menjadi putri mama,"ucap mama Nia dengan wajah sendu.
"Tidak apa, ma. Itu tidak masalah bagiku,"ucap Kinara dengan seulas senyum.
"Sekarang kamu sudah tahu jika aku bukan mamamu,"ucap mama Nia tertunduk.
"Walaupun aku tidak terlahir dari rahim mama, ijinkan aku tetap memanggil mu 'mama' dan tetap menjadi putri mu. Apa mama lupa? Dulu mama meminta ku untuk memanggil mu mama. Dan aku pernah berjanji pada Chintania untuk ikut menjaga mama,"ucap Kinara dengan seulas senyum.
Mendengar kata-kata Kinara, mama Nia pun langsung membulatkan matanya. Ingatannya kembali saat Chintania diantar pulang oleh seorang gadis yang sudah menolong Chintania.
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞?"𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙢𝙖 𝘾𝙝𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙣𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠 𝙥𝙖𝙣𝙞𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙬𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙖𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙪𝙠𝙖.
"𝙏𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙢𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖-𝙖𝙥𝙖. 𝙄𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙩 𝙆𝙞𝙣𝙖𝙧𝙖. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙪, 𝙚𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪,"𝙪𝙘𝙖𝙥 𝘾𝙝𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙩𝙖𝙥 𝙆𝙞𝙣𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝 𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢𝙖𝙣.
__ADS_1
"𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝, 𝙮𝙖, 𝙍𝙖. 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙤𝙣𝙜 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙏𝙖𝙣𝙩𝙚, 𝙚𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠.. 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙖𝙣𝙜𝙜𝙞𝙡 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙖𝙢𝙖, 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝘾𝙝𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖. 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝘾𝙝𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙠𝙚 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞, 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪-𝙨𝙖𝙩𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖 𝘾𝙝𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜,"𝙪𝙘𝙖𝙥 𝙢𝙖𝙢𝙖 𝘾𝙝𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝 𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢𝙖𝙣.
"𝙈𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙢𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖-𝙨𝙖𝙢𝙖,"𝙪𝙘𝙖𝙥 𝘾𝙝𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙜𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙆𝙞𝙣𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙩𝙖𝙥 𝙆𝙞𝙣𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙩𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨. 𝙆𝙞𝙣𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙪𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙠 𝙩𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪.
"Jadi..kamu adalah.."mama Nia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, air matanya pun berlinang.
"Iya, aku Kinara, satu satunya teman wanita Chintania yang di bawa Chintania pulang ke rumah,"ucap Kinara, kembali mengingat waktu Chintania mengatakan bahwa mereka selamanya adalah anak mama Nia dan akan menjaga mama Nia bersama-sama.
Mama Nia pun langsung memeluk Kinara,"Jadi ini maksud kata-kata Nia waktu itu? Dia sudah punya firasat akan meninggalkan mama dan menyuruh mu untuk menggantikan dia menjaga mama?"ucap mama Nia dengan menangis sesenggukan.
"Iya, ma. Dan aku akan menepati janji ku untuk menjaga mama,"ucap Kinara membalas pelukan mama Nia. Sedangkan Arjuna hanya diam menjadi penonton dan pendengar setia kedua wanita yang larut dalam rasa haru dan bahagia itu.
***
Lima tahun kemudian.
Pagi itu matahari bersinar terang, memberikan kehangatan bagi penghuni bumi. Nampak sebuah keluarga yang terlihat bahagia sedang berada di taman.
"Hei, kembalikan handphone Om. Jika tidak, Om tidak akan membelikan kamu es krim lagi,"ujar Agus nampak mengejar seorang anak kecil.
"Sayang, jangan nakal? Berikan handphone, Om Agus!"ucap ibunya seraya menggendong anak itu.
"Apa yang kau lakukan, Ra? Kamu sedang mengandung, kenapa menggendong Arya?"ucap Arjuna langsung mengambil alih putranya dari gendongan istrinya. Kinara yang perutnya sudah mulai membuncit itu pun hanya menyengir bodoh. Kinara selalu lupa jika dia tengah mengandung dan malah menggendong Arya, putra pertamanya, membuat Arjuna khawatir.
"Ayah, lihatlah!"adu Arya menunjukkan foto di galeri handphone Agus yang penuh dengan foto-foto gadis cantik,"Om Agus punya banyak cewek. Dalam satu hari, Om Agus video call sama dua sampai tiga cewek yang berbeda,"adu anak berumur empat tahun yang sudah bisa membaca, menulis dan lancar berbicara itu.
"Kenapa kamu selalu mengganggu Om vidio call sama pacar Om? Mana bilang sama mereka kalau pacar Om banyak lagi," gerutu Agus yang selalu diganggu putra Arjuna. Keponakannya itu selalu mengganggunya dengan ikut nimbrung saat Agus sedang vidio call dengan pacar-pacarnya dan mengatakan bahwa pacar Agus banyak.
"Memang itu betul, 'kan Gus? Lagian, kamu itu kenapa nggak serius sama satu wanita saja, sih, Gus?!'ujar Kinara.
"Aku akan serius pada satu wanita bahkan akan langsung menikahinya, jika kakek yang mencarikan jodoh buat aku, Mbak,"ujar Agus seraya melirik Abimana yang duduk dengan santai sambil memakan buah-buahan.
__ADS_1
"Sudah kakek bilang, kakek tidak mau merusak reputasi baik kakek dengan mencarikan jodoh buat kamu,"ujar Abimana seraya kembali memakan buah yang ada di piringnya.
"Aku akan tobat jika kakek mencarikan jodoh buat aku,"bujuk Agus seraya berlutut di depan Abimana. Agus sangat percaya bahwa kakeknya bisa mencarikan jodoh yang baik untuk dirinya.
"Kamu janji akan tobat?"tanya Abimana seraya memicingkan matanya.
"Asal kakek mau mencarikan aku jodoh, aku janji akan tobat, kek!"sahut Agus antusias.
"Baiklah, kakek akan menjodohkan kamu dengan seorang gadis yang cantik, seksi dan juga pintar. Kakek jamin, kamu tidak akan kecewa dengan pilihan kakek,"ucap Abimana tersenyum penuh arti tanpa disadari oleh Agus yang merasa senang dengan kesanggupan kakeknya mencarikan jodoh untuknya.
Seminggu kemudian, tanpa perkenalan atau melihatnya terlebih dulu, Agus pun menikah dengan gadis pilihan Abimana,"Kakek memang pintar mencarikan jodoh. Kenapa nggak dari dulu kakek menjodohkan aku dengan dia. Dia cantik sekali,"ucap Agus pada Abimana setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Agus benar-benar puas dengan gadis pilihan kakeknya.
"Kakek memberi mu kesempatan agar kamu puas dulu bermain-main di luar sana. Karena setelah ini, kamu tidak akan bisa lagi merayu wanita selain istrimu. Istri mu itu adalah pelatih taekwondo dan ayahnya adalah pelatih karate,"
"Jika kamu berani main mata dengan wanita lain, apalagi berani berselingkuh, kakek pastikan, mereka akan mematahkan tulang-tulang mu,"ujar Abimana tertawa tanpa suara seraya melangkah meninggalkan Agus yang tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kakeknya.
Setelah banyaknya ujian yang menimpa rumah tangga Arjuna dan Kinara, akhirnya keluarga besar Abimana pun hidup bahagia, Arjuna dan Kinara memiliki dua orang putra dan hubungan mereka dengan mama Nia pun harmonis. Abimana bahagia dengan kedua cicitnya. Sedangkan Agus benar-benar bertobat bermain wanita, karena selain sangat mencintai istrinya, Agus juga takut pada istri dan mertuanya. Agus tidak mau tulang-tulang nya patah karena ketahuan tidak setia.
...🌟"Seberapa lama dan seberapa jauh kita terpisah, jika kau adalah tulang rusukku, kamu pasti akan kembali padaku....
...Bukan mencari yang sempurna, tapi mencari yang bisa membuatku menjadi sempurna....
...Karena kebahagiaan itu adalah, saat bisa bersama dengan orang yang ku cintai dan mencintai ku."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
Terimakasih untuk semua reader yang mau mampir dan membaca karya recehan aku ini. Terimakasih atas dukungan kalian semua, terutama bagi para pembaca setiaku. Semoga tulisanku ini bisa menjadi hiburan untuk menemani hari-hari kalian semua. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam tulisanku.🙏🙏🙏🙏🙏 Sampai jumpa di karya aku berikutnya yang bertajuk"Menjadi Dia" Love you all!❤️❤️❤️❤️❤️
.
__ADS_1
.
The End