
"Kamu merasa senang karena berada di tengah-tengah para pria yang menatapmu dengan tatapan kagum?"tanya Arjuna dengan suara dan wajah yang berubah menjadi datar
Mendengar suara suaminya yang berubah menjadi datar, Kinara pun menoleh menatap suaminya dan terkejut saat melihat wajah suaminya yang juga berubah menjadi datar.
"Ma.. mana ada yang seperti itu, Mas. Aku memang senang karena bisa makan malam dan berkumpul bersama rekan-rekan kerjaku. Tapi yang membuat aku merasa sangat senang adalah... karena...." Kinara nampak ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya karena merasa malu, tapi kalau tidak jujur akan membuat suaminya salah paham padanya.
Arjuna melirik istrinya sekilas,"Karena apa?"tanyanya, tidak sabar.
"Karena Mas Juna menjemput ku,"lanjut Kinara yang tidak mau ada salah paham diantara dirinya dan suaminya. Memalingkan wajahnya karena malu.
Arjuna menipiskan bibirnya melirik istrinya,"Benarkah?"tanya Arjuna menatap sebentar pada Kinara,"Aku tidak percaya,"ucap Arjuna masih dengan nada datarnya kembali fokus pada jalan raya.
'Benar, Mas. Aku senang karena semua rekan kerja ku sudah melihat Mas Juna,"sahut Kinara masih memalingkan wajahnya menatap sisi jalan melalui jendela kaca mobil.
Arjuna melirik istrinya sekilas,"Kenapa?" tanya Arjuna.
"Karena selama ini mereka tidak percaya jika aku sudah menikah. Mereka menganggap aku mengatakan sudah menikah untuk menolak dan menghindari para guru yang menyatakan perasaan suka mereka padaku secara halus. Karena itulah, aku senang saat Mas Juna menjemput ku di hadapan para rekan kerjaku, bahkan sengaja keluar dari mobil untuk menunggu ku,"jelas Kinara panjang lebar namun masih setia menatap sisi jalan.
"Kalau begitu, mulai besok aku akan mengantar dan menjemput mu,"ucap Arjuna tiba-tiba.
"Eh, tapi Mas Juna 'kan, juga bekerja? Jadwal mengajar ku juga tidak tentu, Mas. Aku takut nanti malah menganggu pekerjaan Mas Juna,"ujar Kinara langsung menoleh pada Arjuna, dia tidak mau pekerjaan suaminya tertunda hanya karena mengantar dan menjemput dirinya mengajar.
Arjuna berpikir sebentar dan merasa apa yang dikatakan Kinara memang ada benarnya,"Kalau begitu, aku akan mengantar dan menjemput mu saat waktu ku luang,"ucap Arjuna lagi.
"Hum,"sahut Kinara dengan wajah yang berbinar.
Ditempat lain, Doni nampak berdiam diri di dalam kamarnya. Berbaring memeluk guling nya dengan mata yang menatap pada handphone nya. Di layar handphone itu nampak foto Kinara yang sedang tersenyum.
Sejak dia dihajar Kinara kemarin, Doni hanya termenung berdiam diri di dalam kamarnya menatap foto Kinara di layar handphone nya, membuat kedua orang tuanya merasa cemas. Mereka takut jika Doni kembali memakai obat-obatan terlarang lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Don, keluar, sayang! Makan dulu, yuk!"ajak mama Doni, terlihat kekhawatiran di wajahnya.
"Aku malas makan, ma. Lagi nggak napsu makan,"sahut Doni terdengar malas-malasan.
__ADS_1
"Dari kemarin kamu nggak makan, Don. Mama tidak mau kamu jatuh sakit,"bujuk mama Doni.
"Aku tidak jatuh sakit, ma. Aku cuma jatuh cinta,"sahut Doni dari dalam kamarnya membuat mama Doni membuang napas kasar.
"Anak ini! Orang tua ngomong serius, dia malah bercanda,"gerutu mama Doni yang masih berdiri di depan pintu kamar Doni.
"Ayolah, sayang! Keluar dulu! Orang jatuh cinta juga perlu makan, kan?!"ujar mama Doni membujuk putranya lagi.
"Aku malas makan, ma. Mama dan papa saja yang makan,"sahut Doni yang enggan membuka pintu kamarnya.
"Mama juga nggak mau makan jika kamu tidak makan,"ucap mama Doni ikut keras kepala. Tidak ingin anak semata wayangnya sakit.
Doni membuang napas kasar, kemudian dengan langkah gontai menghampiri pintu kamar nya dan membukanya.
"Ma, aku tidak selera makan,"ucap Doni setelah membuka pintu kamarnya.
"Sayang, kamu harus makan agar kamu sehat,"ucap mama Doni masih berusaha membujuk putranya itu.
"Untuk apa aku sehat, ma, jika Kinara tetap tidak mencintaiku,"ucap Doni putus asa, membalikkan tubuhnya dan kembali berbaring di atas ranjang nya.
Mama Doni menghela napas panjang, ikut masuk kedalam kamar Doni dan duduk di tepi ranjang putranya. Mama Doni mengelus kepala putra semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang,"Wanita di dunia ini 'kan, bukan cuma Kinara sayang. Banyak wanita diluar sana yang lebih cantik dari Kinara,"ujar mama Doni masih mengelus kepala Doni.
"Kalau kamu ingin memiliki Kinara, ya perjuangkan, dong, sayang! Jangan malah membuat dirimu sendiri sakit! Mama dan papa sudah bela-belain pindah ke kota ini karena Kinara pindah ke kota ini, masa baru dua kali bertemu sudah menyerah?"ujar mama Doni.
"Dia sudah menikah, ma. Dan dia juga mencintai suaminya, bukan aku,"sahut Doni dengan wajah murung.
"Orang pacaran bisa putus, orang yang sudah menikah juga bisa cerai 'kan?"tanya mama Doni membuat Doni yang merebahkan kepalanya di pangkuan Mama nya itu menengadah untuk menatap wajah wanita yang telah melahirkan nya itu.
"Maksud mama?"tanya Doni seraya mengernyitkan keningnya.
"Buat mereka bercerai! Jika tidak bisa mendapatkan gadisnya, tunggu jandanya juga nggak apa-apa,"sungguh nasehat sesat yang diberikan seorang ibu yang egois, yang hanya ingin membuat anaknya bahagia.
"Bagaimana caranya agar aku bisa membuat mereka bercerai, ma?"tanya Doni masih tidak bersemangat.
"Kamu buat suami Kinara cemburu dengan mendekati Kinara dan buat suami Kinara membenci Kinara,"ucap mama Doni penuh provokasi.
__ADS_1
"Apa bisa, ma? Kemarin saja dia menghajar ku saat aku memaksanya ikut dengan ku. Aku tidak menyangka jika dia mempunyai ilmu beladiri,"ujar Doni.
"Jadi yang menghajar kamu kemarin adalah Kinara?"tanya mama Doni nampak terkejut.
"Iya, ma. Dia menghajar ku saat aku menghadangnya,"ujar Doni seraya mengingat bagaimana Kinara menghajar dirinya kemarin saat Doni ingin memaksa Kinara ikut bersamanya.
"Wah... tambah menarik si Kinara itu,"gumam mama Doni tersenyum tipis.
"Tapi tetap saja dia menolak ku, ma,"sahut Doni nampak lesu.
"Tapi, kenapa juga kamu memaksa dia ikut bersama mu? Seharusnya kamu tidak memakai kekerasan, sama wanita itu harus bersikap lembut, sayang! Bujuk dan merayu dia , jangan dipaksa!"
"Sudah, ma! Aku sudah membujuk dan merayunya, tapi tetap saja dia tidak mau ikut bersama ku,"
"Cari cara, dong! Jangan pasrah seperti ini! Masa cepat sekali menyerah!"ujar mama Doni sambil berpikir keras bagaimana caranya menjadikan Kinara sebagai menantu nya.
"Kemarin saat aku menelpon Kinara, tidak sengaja yang mengangkat adalah seorang pria. Sepertinya itu adalah suaminya Kinara. Aku pun sengaja mengatakan bahwa kami saling mencintai sejak lama dan mengatakan seolah-olah dia adalah orang ketiga dalam hubungan kami, tapi belum selesai aku bicara, dia telah mengakhiri panggilan secara sepihak. Sejak saat itu, aku tidak bisa menghubungi Kinara lagi,"ujar Doni lesu.
"Apa kamu tahu dimana rumah Kinara sekarang?"tanya mama Doni.
"Aku hanya tahu tempatnya mengajar, ma,"sahut Doni kemudian mengernyitkan keningnya menatap mamanya,"Memangnya kenapa, ma?"tanya Doni.
"Cari tahu alamat rumahnya, biar mama nanti yang ke sana dan bicara pada ibunya,"titah mama Doni.
"Baiklah, aku akan mencarinya,"sahut Doni agak bersemangat.
"Kalau begitu, ayo kita makan! Kamu harus punya tenaga 'kan, untuk mencari rumah Kinara?"bujuk mama Doni, dan kali ini dia berhasil membujuk putra semata wayangnya itu untuk makan.
...π"Jangan buang waktu mu dalam ke sia-siaan dengan berjuang untuk orang yang jelas-jelas tidak ingin kamu perjuangkan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
.
To be continued