Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Lupakan dia!


__ADS_3

Hari telah berganti pagi, Kinara terbangun dengan wajah yang memerah saat mengingat apa yang dilakukan nya semalam. Wanita itu mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang nampak masih terlelap. Seulas senyum terbit di bibir mungilnya.


Ingin rasanya Kinara melanjutkan tidurnya karena perasaan nyaman yang selalu dirasakannya saat berada dalam dekapan suaminya itu. Namun hari ini Kinara harus kembali bekerja.


Pagi itu ibu Kinara sudah menyiapkan sarapan untuk anak dan menantunya. Dengan perasaan bahagia wanita paruh baya itu menikmati menu sarapan bersama anak dan menantunya. Setelah selesai sarapan, Kinara pun berangkat ke tempat nya mengajar, sedangkan Arjuna berangkat ke kantornya.


Siang ini Arjuna bertemu dengan kliennya di sebuah restoran. Klien Arjuna memesan banyak furniture dari Arjuna. Setelah selesai makan siang bersama, klien Arjuna pun pamit undur diri.


"Arjuna!"panggil seorang wanita saat Arjuna baru saja berdiri dari duduknya. Arjuna menoleh ke asal suara itu dan nampak membuang napas kasar dan berniat pergi dari tempat itu.


"Jun!"panggil wanita itu seraya memegang lengan Arjuna, tapi Arjuna langsung menepis tangan wanita yang tidak lain adanya Rania itu.


"Minggir lah! Jangan menghalangi jalan ku!"ucap Arjuna pelan, tapi penuh dengan penekanan.


"Jun, kamu tahu, kan, kalau aku sangat mencintai mu. Kenapa kamu malah menikah dengan wanita lain?"ujar Rania bertingkah seperti seorang kekasih.


"Lalu apa masalahnya dengan aku, kamu mencintai ku atau tidak? Aku tidak pernah mencintai kamu. Dan kita juga tidak punya hubungan apa-apa selain sebagai orang yang pernah bersekolah dan berkuliah di tempat yang sama,"ujar Arjuna datar.


Rania berdiri di depan Arjuna,"Ceraikan dia, Jun! Hanya aku yang pantas bersanding dengan kamu,"ucap Rania tak tahu malu.


"Dasar perempuan tidak waras! Apa hak kamu mengatur hidupku! Minggir!"ketus Arjuna.


Rania menarik jas yang dipakai Arjuna,"Kamu itu hanya milikku, Jun! Hanya a..."kata-kata Rania terhenti saat tanpa sengaja melihat tanda merah keunguan di leher Arjuna, tanda yang dibuat Kinara semalam.


Arjuna menghempaskan tangan Rania yang memegang jasnya dan segera berlalu dari tempat itu meninggalkan Rania yang tertegun melihat tanda merah keunguan di leher Arjuna.


"Tidak! Tidak mungkin! Arjuna hanya milikku!"gumam Rania seraya menggelengkan kepalanya pelan, kemudian berlari keluar dari restoran itu.


Arjuna berjalan ke area restoran dan menghentikan langkahnya saat melihat sebuah mobil.


"Nak Juna!"tegur seseorang membuat Arjuna menoleh.


"Anda?!"ucap Arjuna menatap seorang pria paruh baya yang menegurnya tadi.

__ADS_1


"Masih ingat dengan saya?"tanya pria itu lagi dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Iya, saya masih ingat,"sahut Arjuna tersenyum tipis.


"Saya dan keluarga saya sudah pindah ke kota ini. Bagaimana jika nanti malam Nak Juna makan malam di rumah saya?"tawar pria paruh baya itu.


"Maaf, Pak seperti untuk malam ini belum bisa,"sahut Arjuna.


"Oh, begitu, ya? Ya sudah, lain kali jika ada waktu luang, datanglah ke rumah saya untuk makan malam,"sahut pria paruh baya itu masih dengan senyuman yang terpatri diwajahnya.


"Iya, Pak. Lain kali saya akan makan malam di rumah bapak,"sahut Arjuna kemudian tanpa sengaja pandangannya kembali tertuju pada mobil yang dilihatnya tadi .


Pria paruh baya itupun menatap ke arah mana mata Arjuna tertuju,"Kenapa Nak Juna? Ada apa dengan mobil itu?"tanya pria paruh baya itu.


"Mobil ini milik seorang pemuda yang datang ke rumah ibu mertua saya semalam bersama dengan ibunya. Dan dengan beraninya ibu pemuda pemilik mobil ini menyuruh istri saya menceraikan saya untuk menikah dengan putranya,"ujar Arjuna tersenyum sinis melihat mobil yang dikenalinya sebagai mobil Doni itu.


"Apa? Nak Juna serius?"tanya pria paruh baya itu nampak terkejut.


"Iya. Saya masih ingat jelas dengan mobil ini,"sahut Arjuna masih menatap mobil itu.


"Dari mana anda tahu?"tanya Arjuna pada pria paruh baya itu seraya memicingkan sebelah matanya.


Seketika wajah pria itu nampak menggelap,"Mereka itu benar-benar nekad,"ujar pria paruh baya itu membuang napas kasar, kemudian menatap Arjuna,"Maafkan saya! Saya tidak bisa mendidik anak dan istri saya dengan baik,"ujar pria paruh baya itu tertunduk dengan rasa malu dan tidak enak hati pada Arjuna, sekaligus memendam amarah yang ingin meledak karena ulah anak dan istrinya.


"Jadi, mereka adalah anak dan istri anda?"tanya Arjuna memastikan.


"Iya, Nak. Nak Juna tidak usah khawatir! Saya akan menasehati dan mendisiplinkan anak dan istri saya agar tidak menganggu istri Nak Juna lagi,"sahut pria paruh baya itu.


"Saya sungguh berharap,"ujar Arjuna, kemudian mereka pun meninggalkan area parkir restoran itu.


Pria paruh baya yang tidak lain adalah papa Doni itu mengendarai mobil Doni agak kencang. Pria itu benar-benar geram dengan ulah anak dan istrinya. Setelah tiba di rumahnya, pria paruh baya itupun langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Ma! Mama! Doni!"teriak papa Doni nampak emosi.

__ADS_1


"Ada apa, sih, pa? Kenapa pulang-pulang langsung teriak-teriak seperti itu?"tanya mama Doni seraya menghampiri suaminya, begitu pula dengan Doni yang langsung keluar dari kamarnya menghampiri papanya.


"Dari mana kalian semalam?"tanya papa Doni menatap anak dan istrinya secara bergantian menunggu jawaban mereka. Ibu dan anak itu nampak terkejut mendengar pertanyaan papa Doni itu.


"Cuma jalan-jalan, pa! Semalam kami, 'kan sudah bilang,"sahut mama Doni mencoba bersikap tenang.


"Benar apa kata mama, pa. Kami hanya jalan-jalan saja, kok,"timpal Doni.Ibu dan anak itu ingat betul jika papa Doni sudah melarang mereka untuk mengganggu Kinara setelah tahu jika Kinara sudah menikah.


"Jangan bohong!"sergah papa Doni dengan suara menggelegar, membuat mama Doni dan Doni terlonjak karena kaget," Katakan! Apa yang sudah kalian lakukan semalam!"titah papa Doni.


"Kami hanya jalan-jalan, pa,"sahut mama Doni masih tidak mau jujur.


"Masih tidak mau mengaku? Apa kalian pikir aku tidak tahu? Kalian telah mendatangi rumah Kinara dan menyuruh dia bercerai dengan suaminya kemudian menikah dengan Doni. Dimana otak kalian, hah?! Sudah papa bilang jangan menganggu Kinara lagi! Dia wanita yang sudah bersuami! Sadar, Don! Kinara itu tidak pernah mencintai kamu!"ujar papa Doni sangat kesal.


"Tapi, pa.."


"Cukup! Papa tidak mau mendengarnya lagi! Lupakan dia!"sergah papa Doni memotong kata-kata Doni,"Jangan pernah menganggu kehidupan Kinara lagi! Apa kalian tahu? Suami Kinara adalah orang yang telah menyelamatkan papa lima tahun yang lalu, saat papa mengalami kecelakaan,"


"Jika saja waktu itu Nak Juna tidak mengeluarkan papa dari dalam mobil, papa pasti sudah mati terbakar di dalam mobil papa. Bahkan Nak Juna mendonorkan darahnya untuk papa. Dan sekarang kalian menyuruh istrinya untuk menceraikannya?"ujar papa Doni meledak-ledak.


"A.. apa? Jadi.. suami Kinara adalah orang yang telah menyelamatkan papa lima tahun yang lalu?"tanya mama Doni nampak terkejut, begitu pula dengan Doni.


"Iya. Karena itu, jangan kalian ganggu lagi rumah tangga mereka! Jika kalian masih berniat menganggu rumah tangga mereka, papa adalah orang pertama yang akan menghentikan kalian!"ucap papa Doni tegas, kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Don, kamu lupakan saja Kinara! Mama tidak mau menghancurkan rumah tangga orang yang telah menyelamatkan nyawa suami mama,"ucap mama Doni kemudian meninggalkan ruangan itu menyusul suaminya.


Doni hanya bisa membuang napas kasar, tidak menyangka jika suami Kinara adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa papanya lima tahun yang lalu.


...🌟"Hutang yang sulit dibayar adalah hutang budi."🌟...


..."Nana 17 Oktober."...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2