Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Kepergian Kinara


__ADS_3

Hari berganti hari, dan waktu keberangkatan Kinara mengikuti seminar pun tiba. Karena hanya sehari di sana, jadi tidak banyak hal yang perlu disiapkan oleh Kinara.


"Mas, ayo berangkat!"ajak Kinara setelah selesai berkemas, menghampiri Arjuna yang berdiri di balkon kamar.


"Ra, kenapa tidak besok saja berangkatnya?"tanya Arjuna yang nampak tidak rela jika Kinara berangkat malam itu.


"Kalau aku berangkat subuh aku takut tidak bisa tepat waktu untuk menghadiri seminar, Mas,"jawab Kinara yang sudah memperhitungkan segalanya.


Arjuna menghela nafas berat, entah kenapa rasanya tidak ingin Kinara pergi. Dengan langkah gontai Arjuna keluar dari kamarnya diikuti oleh Kinara. Kinara pun pamit pada Abimana, Agus dan juga Bik Iyem.


"Ye ilee... cuma mau ditinggal sehari semalam aja kayak udah mau ditinggal setahun,"sindir Agus pada Arjuna yang terlihat sekali jika nampak lesu karena akan ditinggal Kinara.


"Walaupun aku tinggal setahun, Mas Juna akan tetap menanti aku, kan, Mas?"tanya Kinara tersenyum tipis seraya menggandeng tangan Arjuna.


"Jangan bicara sembarangan!"ketus Arjuna menanggapi kata-kata Kinara. Sedangkan Abimana, Agus dan Bik Iyem hanya tersenyum mendengar dan melihat interaksi keduanya.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Arjuna dan Kinara pun tiba di bandara. Arjuna memegang tangan Kinara dan nampak enggan untuk melepaskannya.


"Mas, aku berangkat, ya!"pamit Kinara mengecup punggung tangan Arjuna.


Arjuna langsung merengkuh Kinara dalam pelukannya, tanpa perduli banyak orang yang memperhatikan mereka. Arjuna benar-benar enggan untuk melepaskan kepergian Kinara.


"Mas, aku adalah tulang rusukmu, percayalah, walaupun kita terpisah, aku pasti akan tetap kembali padamu,"ucap Kinara dalam pelukan Arjuna.


"Kamu harus menepati janji mu!"ucap Arjuna dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Kinara. Perlahan Arjuna melepaskan pelukannya dan mengecup bibir Kinara untuk beberapa saat.


Akhirnya pesawat yang ditumpangi oleh Kinara pun lepas landas dan Arjuna pun meninggalkan bandara, melajukan mobilnya dengan hati yang terasa hampa. Beberapa menit berkendara terdengar dering handphone Kinara di kursi penumpang sebelah kursi kemudi, membuat Arjuna tersentak.


"Jika memang dirimu lah tulang rusukku


Kau akan kembali


Pada tubuh ini


Ku akan tua dan mati


Dalam peluk mu


Untukmu seluruh nafas ini,"

__ADS_1


Bait lagu itu mengalun menyapa pendengaran Arjuna. Karena lalu lintas agak padat Arjuna tidak mengangkat panggilan masuk di handphone Kinara.


"Bagaimana aku menghubungi dia nanti? Bahkan handphonenya pun tertinggal di mobil,"gumam Arjuna mendengus kesal.


Mobil Arjuna memasuki pekarangan rumah Abimana saat Agus keluar dari rumah dengan terburu-buru. Agus yang melihat mobil Arjuna pun langsung menghampiri Arjuna yang baru saja berhenti.


"Mas Juna, pesawat... pesawat yang ditumpangi Mbak Kinara meledak di atas laut..."ucap Agus dengan napas memburu dan wajah yang terlihat sangat cemas, panik dan khawatir menjadi satu.


Degh. Seketika wajah Arjuna yang lesu berubah menjadi suram,"A..apa yang kamu bilang? Kamu jangan bercanda!"bentak Arjuna yang raut wajahnya sudah tidak bisa diartikan lagi oleh Agus.


Agus langsung mengambil handphonenya dan memutar berita terbaru yang mengabarkan pesawat yang ditumpangi Kinara telah meledak di atas laut sekitar setengah jam setelah tinggal landas.


Melihat berita terkini itu, lidah Arjuna terasa kelu, tubuhnya terasa seperti tidak bertulang, butir-butir kristal menetes tanpa bisa dibendung. Dengan tubuh yang gemetar menyalakan mesin mobil dan langsung menancap gas, kembali ke bandara.


"Mas Juna! Mas Juna !"teriak Agus namun tidak dihiraukan oleh Arjuna, terus melajukan mobilnya.


Arjuna seperti orang kesurupan, datang ke bandara untuk mencari informasi lalu ke pos Tim SAR. Melihat siapa yang berhasil selamat dan siapa yang ditemukan meninggal. Berhari-hari tidak mau pulang, ikut mencari keberadaan istrinya hingga harapannya pun pupus saat Tim SAR menghentikan pencarian, tapi Kinara tidak kunjung ditemukan.


Mengurung diri di dalam kamar selama berhari-hari memeluk foto pernikahan mereka, menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya dirinya mencegah Kinara untuk pergi, seharusnya dia tidak mengantar Kinara ke bandara. Bahkan Arjuna sempat dibawa ke rumah sakit karena tidak makan dan minum beberapa hari dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.


Arjuna benar-benar terpuruk saat kehilangan Kinara. Ibu Kinara pun menasehati Arjuna, bahwa Kinara tidak akan senang jika melihatnya seperti itu hingga akhirnya Arjuna mau makan dan minum. Enam bulan Arjuna seperti orang yang tidak punya semangat hidup, hingga bisnisnya terpaksa diurus oleh Agus dan Pak Radit.


***


Satu tahun kemudian....


Arjuna berdiri di balkon kamarnya mendengarkan lagu "Seluruh Nafas Ini" yang dilantunkan oleh Last Child. Wajah Arjuna terlihat datar, tak ada lagi senyuman yang menghiasi bibirnya semenjak kepergian Kinara setahun yang lalu. Sampai saat ini, Arjuna tidak mengetahui kabar Kinara. Bahkan jasadnya pun tidak ditemukan.


Arjuna menghabiskan waktu dan melalui hari-hari nya hanya dengan bekerja dan bekerja. Sedikitpun Arjuna tidak bisa melupakan Kinara. Hari-hari yang pernah mereka lalui selalu terbayang di ingatannya dan semua itu tidak pernah bisa Arjuna lupakan.


Abimana, Agus dan Bik Iyem merasa sangat prihatin dengan keadaan Arjuna. Bahkan ibu Kinara juga meninggal, sepuluh bulan setelah peristiwa kecelakaan pesawat yang menimpa Kinara. Wanita paruh baya itu mengalami kecelakaan lalulintas dan meninggal dunia setelah tiga hari mengalami koma.


Setiap pulang dari bekerja larut malam, Arjuna menghabiskan waktunya dengan membaca buku diary milik Kinara hingga Arjuna terlelap. Arjuna tidak sengaja menemukan buku diary yang ditulis oleh Kinara, yang disembunyikan Kinara di lemari pakaiannya.


Dari buku diary itu Arjuna tahu banyak tentang Kinara dan tentang seberapa besar Kinara mencintai dirinya dan betapa bahagianya Kinara bisa hidup bersama Arjuna. Walaupun pada awal pernikahan mereka, Kinara menuliskan keluh kesahnya dalam buku diary nya, betapa dinginnya sikap Arjuna kepadanya.


Namun semuanya hanya tinggal kenangan yang tidak mungkin dapat diulang. Hanya masa lalu yang tidak dapat diputar kembali. Hanya kenangan dalam ingatan yang tidak bisa dilupakan dan selalu menyiksa Arjuna.


Di sebuah rumah sakit, Abimana nampak duduk di sebuah bangku, menunggu Agus yang sedang menebus obatnya di apotik. Karena merasa jenuh menunggu, Abimana pun bangkit dari duduknya dan tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga membuat Abimana terjatuh.

__ADS_1


"Maaf! Maafkan saya, saya tidak sengaja, kek,"ucap seorang wanita yang bertabrakan dengan Abimana.


Abimana nampak terkesiap saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya itu. Abimana menatap wanita yang sedang berusaha membantunya untuk bangun itu.


"Maafkan saya, kek!"ucap wanita itu lagi, nampak tidak enak hati.


"Suaramu.. suaramu mirip sekali dengan suara orang yang aku kenal,"ucap Abimana yang sekarang sudah duduk di kursi.


"Benarkah? Kebetulan sekali , ya, kek,"ucap wanita itu dengan seulas senyum di bibirnya.


"Kalau boleh tahu, siapa namamu?"tanya Abimana menatap lekat wanita cantik di depannya itu.


"Saya Chintania, kek,"sahut wanita itu.


"Nia!"panggil seorang pria muda tampan yang memakai snelli.


Chintania pun meninggalkan Abimana setelah yakin kakek tua itu baik-baik saja, kemudian pergi dengan pria muda yang memanggilnya.


"Bu Nia itu cantik banget, ya? Cocok banget sama dokter Noah,"celetuk seorang perawat.


"Iya, tapi aku dengar sudah berulangkali dokter Noah ditolak oleh Bu Nia,"


"Padahal mereka sangat cocok, satunya anak pemilik rumah sakit ini, satunya dokter dengan segudang prestasi,"


Itulah obrolan yang terdengar di telinga Abimana hingga senyum tipis terbit di bibir Abimana. Sepertinya ada sesuatu yang membuat kakek tua itu nampak bahagia.


...🌟"Manusia tak pernah tahu kapan cinta itu datang dan pergi, namun dia yang telah pergi menghadap-Nya tidak akan pernah kembali lagi'"🌟...


...🌟"Mungkin dia bukan jodoh terbaik untuk mu, karena itu, Tuhan menjauhkan, bahkan mengambil dia dari mu."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


Notebook : Snelli dokter adalah jas putih yang selalu digunakan para dokter ketika sedang bertugas di rumah sakit. Snelli bersifat melindungi dokter dari cairan yang mungkin keluar menciprat dari tubuh pasien, seperti darah, air liur, ataupun cairan tubuh lainnya. Warna snelli dari dulu hingga sekarang selalu putih tidak pernah berubah.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2