Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Terpaksa Lagi


__ADS_3

Chintania menghela nafas panjang, di liriknya wajah Arjuna yang menatap kosong ke depan. Namun Chintania merasa dapat menebak apa yang dipikirkan oleh pria itu.


"Bagiku, sebuah pernikahan itu bukan mainan. Saat aku setuju untuk menikah dengan Mas Juna, aku benar-benar siap untuk menjalani nya. Walaupun sebelumnya kita tidak saling mengenal, tapi aku berharap, seiring berjalannya waktu, kita bisa lebih saling mengenal,"


"Namun bagaimana kita bisa saling mengenal, jika Mas Juna hanya diam dan tidak ada inisiatif sama sekali untuk memulai pembicaraan. Sebuah hubungan itu butuh komunikasi, tanpa komunikasi, kita tidak akan bisa membina hubungan yang harmonis,"ujar Chintania panjang lebar.


"Aku memang tidak terlalu suka banyak bicara. Aku harap kamu bisa memaklumi nya,"ucap Arjuna masih menatap lurus ke depan, tanpa menoleh pada Chintania.


"Bukan itu yang ingin aku dengar dari Mas Juna. Aku bertanya, apa Mas Juna serius dengan pernikahan ini? Jika merasa terpaksa, lebih baik kita batalkan saja. Aku tidak ingin menjalani sebuah hubungan atas dasar keterpaksaan,"


"Maaf, bukan aku sombong, tapi masih ada pria di luar sana yang mau menikahi aku dan mencintai aku dengan tulus. Jadi, untuk apa aku menikah dengan orang yang tidak berniat membuka hatinya untukku?"


"Prinsip ku dalam hidup ini, jika aku tidak bisa hidup dengan orang yang aku cintai dan mencintai ku, aku akan hidup dengan orang yang mencintai aku, dan aku akan berusaha mencintai nya. Aku tidak akan hidup dengan orang yang tidak aku cintai dan tidak mencintai ku,"


"Namun dalam kasus kita ini, karena kita dijodohkan dan sama-sama belum saling mengenal, aku akan berusaha mencintai Mas Juna, asalkan Mas Juna juga mau berusaha untuk mencintai aku. Tapi jika Mas Juna tidak ada niat untuk berusaha mencintai aku, lebih baik kita hentikan semua ini saat ini juga,"ujar Chintania panjang lebar.


Arjuna menoleh ke arah Chintania dan menatap wanita itu lekat,"Aku akan berusaha menjalani pernikahan ini sebaik yang aku bisa dan mencoba untuk mencintai kamu. Dan soal komunikasi, aku akan berusaha untuk menjalin komunikasi lebih baik diantara kita. Tolong jangan batalkan pernikahan ini!"pinta Arjuna yang terpaksa mengatakan hal itu untuk meyakinkan Chintania.


Semua itu Arjuna lakukan agar kakeknya yang keras kepala itu tidak berbuat nekad lagi. Arjuna tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kakeknya jika pernikahan itu sampai dibatalkan karena dirinya. Kemarin saja kakeknya itu sampai berlutut dan bersujud agar Arjuna mau menerima perjodohan itu. Lalu bagaimana jika pernikahan itu sampai dibatalkan?


Bagaimanapun jadinya pernikahan mereka itu nanti, Arjuna tidak perduli. Yang penting baginya saat ini adalah bagaimana pernikahan ini tetap dilaksanakan. Karena Arjuna tidak ingin kakeknya berbuat ulah lagi. Terdengar egois memang, tapi itulah kenyataannya.


"Baiklah. Ku harap, kata-kata Mas Juna bisa aku pegang dan aku percayai, kita lanjutkan perjalanan kita,"ucap Chintania kembali memasang sabuk pengamannya, begitu pun dengan Arjuna.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Chintania hanya diam karena masih merasa kesal dengan Arjuna. Sedangkan Arjuna juga memilih diam dan fokus mengendara.


Sesampainya di toko perhiasan, Arjuna meminta sepasang cincin pernikahan yang terbaik yang ada di toko itu. Hal itu dilakukannya agar Chintania tidak marah lagi,"Pilihlah mana saja yang kamu suka, apapun yang kamu pilih, aku akan menyetujui nya, kerena aku tidak terlalu mengerti soal perhiasan,"ujar Arjuna agar nantinya Chintania tidak bertanya pendapatnya tentang cincin yang akan di pilih oleh Chintania.


"Baiklah,"sahut Chintania kemudian memilih cincin pernikahan yang disukai nya dan Arjuna pun langsung membayar sepasang cincin yang dipilih oleh Chintania.


Setelah membeli cincin, Arjuna mengajak Chintania untuk makan siang bersama. Arjuna berusaha menyenangkan Chintania, walaupun sebenarnya merasa malas untuk melakukan semua itu.


Setelah selesai makan siang, Arjuna pun mengantarkan Chintania pulang dan dia sendiri juga langsung pulang. Sejujurnya, Arjuna merasa nyaman saat mendengar suara Chintania yang sangat mirip dengan Kinara. Tapi Arjuna tidak ingin menyamakan Chintania dengan Kinara. Cintanya pada Kinara terlalu dalam hingga sulit baginya untuk menggantikan posisi Kinara dengan wanita lain.


Sedangkan Chintania, setelah sampai di rumah, wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya kemudian menghela nafas panjang saat mengingat kebersamaan nya bersama Arjuna tadi.


"Kenapa aku merasa sangat familiar dengan pria itu? Aku juga merasa nyaman saat bersama pria itu. Terkadang aku juga merasa jantung ku berdetak kencang saat terlalu dekat dengan nya. Walaupun aku merasa dia terpaksa menjalani perjodohan ini, tapi entah kenapa aku masih mau melanjutkan semua ini?"gumam Chintania yang merasa bingung dengan perasaannya sendiri.


...----------------...


Hari berganti.dan semua orang kembali menjalani aktivitas mereka masing-masing. Di rumah sakit,


Chintania baru saja memasuki rumah sakit, setelah menyelesaikan mata kuliahnya hari ini. Noah yang melihat Chintania memasuki rumah sakit pun tersenyum lebar dan langsung bergegas menghampirinya.


Tak jauh dari Noah yang akan menghampiri Chintania, terlihat Agus yang baru saja mengunjungi salah satu temannya yang dirawat di rumah sakit itu. Agus yang juga melihat Chintania pun ingin menghampiri Chintania.


Tapi Agus mengurungkan niatnya untuk menghampiri Chintania, karena Noah telah lebih dulu menghampiri Chintania. Agus memakai kacamata hitam dan masker agar wajahnya tidak dikenali Chintania. Agus memilih mengikuti kedua nya dari belakang dan berjalan dengan agak menjaga jarak dari Chintania dan Noah.

__ADS_1


"Akhirnya kamu kembali juga. Aku sudah kangen sama kamu. Sehari tak bertemu dengan mu rasa seminggu,"ujar Noah saat sudah dekat dengan Chintania, sedangkan Agus memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan pembicaraan kedua orang yang ada didepannya itu. Matanya nampak memicing saat mendengar apa yang dikatakan Noah pada calon kakak iparnya.


"Gombal!"celetuk Chintania seraya tersenyum tipis dan masih terus melangkahkan kakinya,


"Kamu tahu, nggak? Kimia itu aneh, hidrogen ketemu oksigen jadinya air. Natrium ketemu klorida jadinya garam. Aku ketemu kamu kok jadinya sayang." rayu Noah yang membuat Agus membulatkan matanya.


Agus langsung menempelkan handphonenya di telinga, seolah-olah sedang menelpon,"Jangan senang dipanggil 'sayang', makanan yang belum lima menit jatuh di lantai juga dipanggil 'sayang',"ucap Agus dibelakang Noah dan Chintania .


Hari ini Agus tahu jika ternyata ada yang mengejar-ngejar calon kakak iparnya. Dan hal itu tentu saja tidak akan dibiarkan oleh Agus. Calon kakak ipar yang cantik dan pintar, tidak akan dia biarkan di ambil orang.


Chintania dan Noah pun spontan menoleh ke belakang saat mendengar suara orang dibelakang mereka yang seperti berbicara pada mereka berdua. Keduanya menatap pria berkacamata hitam dan memakai masker di belakang mereka yang nampak sedang menelpon. Melihat hal itu, mereka pun kembali menatap ke depan, karena merasa Agus tidak sedang berbicara dengan mereka.


...🌟"Jangan melakukan sesuatu karena terpaksa, sesuatu yang dijalani karena terpaksa, sangat kecil kemungkinannya bisa membawa bahagia."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2