Tulang Rusukku

Tulang Rusukku
Duda?


__ADS_3

Setelah selesai menebus obat, Agus berjalan menghampiri Abimana yang nampak sedang berpikir,"Kek, ayo kita pulang!"ucap Agus saat sudah berada di dekat Abimana.


"Gus, cari tahu tentang wanita bernama Chintania dia adalah anak pemilik rumah sakit ini,"ucap Abimana membuat Agus mengernyitkan keningnya.


"Memangnya untuk apa, kek? Jangan bilang kakek mau menjodohkan Mas Juna dengan wanita yang bernama Chintania itu?"tanya Agus nampak menerka-nerka.


"Jika dia masih singel, kenapa tidak?"ucap Abimana kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari rumah sakit itu dengan wajah yang nampak cerah.


"Selama setahun terakhir ini, kakek tidak pernah mencari wanita untuk dijodohkan dengan Mas Juna. Kenapa tiba-tiba sekarang nampak antusias dengan wanita yang bernama Chintania itu,"gumam Agus mengikuti langkah kaki pria tua yang telah merawat dan membesarkannya itu.


Selama setahun terakhir ini, Agus belum pernah melihat wajah Abimana secerah saat ini. Semenjak hilangnya Kinara, hanya kesedihan yang tergurat di wajah kakek tua itu. Rumah pun terasa sepi tanpa kehadiran Kinara. Apalagi Agus yang merasa kesepian karena biasa bersendawa gurau dengan Kinara.


***


Chintania mengemasi barang-barang nya karena hendak pulang. Tumpukan dokumen yang harus diperiksa nya seharian ini sungguh membuatnya merasa lelah. Namun tiba-tiba pintu ruangan Chintania terbuka dan Noah masuk keruang itu tanpa permisi.


"Noah! Kebiasaan sekali, sih! Kenapa kamu selalu masuk ke ruangan ku tanpa mengetuk pintu dulu, apalagi permisi,"ketus Chintania yang malah membuat Noah malam tersenyum.


"Aku sudah berusaha mencoba mengetuk, bahkan mengucapkan permisi, tapi kamu tak kunjung membuka pintu hati mu,"celetuk Noah dengan menampilkan senyuman tengilnya.


Chintania membuang napas kasar, pria satu ini masih saja getol mengejar dan menyatakan cinta padanya. Walaupun bukan cuma sekali, tapi sudah berkali-kali Chintania menolaknya, tapi pria itu tak kunjung menyerah juga. Bahkan sikapnya pada Chintania tidak berubah sedikitpun karena penolakan Chintania itu.


"Sudah ku bilang aku tidak mencintai kamu, aku hanya merasa nyaman saat bersama mu,"sahut Chintania seraya keluar dari ruangannya diikuti oleh Noah. Noah adalah dokter muda terbaik di rumah sakit itu dengan segudang prestasi.


"Kamu tahu? Awal dua insan jatuh cinta itu karena merasa nyaman,"sahut Noah yang mensejajarkan langkah kaki nya dengan Chintania.


"Tidak semuanya seperti itu,"tukas Chintania yang tidak setuju dengan pendapat Noah,"Banyak dokter, dan perawat yang menyukaimu, kenapa kamu malah mengejar-ngejar aku yang jelas-jelas tidak mencintai mu? Kamu hanya akan membuang-buang waktu berharga mu sia-sia,"ujar Chintania panjang lebar seraya terus melangkah keluar dari rumah sakit itu.


"Aku tidak mencintai mereka, aku hanya mencintai kamu,"sahut Noah tak mau menyerah untuk mendapatkan wanita pujaannya,"Kita makan malam bersama, yuk!"ajak Noah yang masih gigih untuk mendekati Chintania.

__ADS_1


"Aku sudah ada janji makan malam dengan mamaku,"tolak Chintania halus.


"Makan bertiga, kan lebih seru,"sahut Noah tidak mau menyerah, membuat Chintania geleng-geleng kepala dengan kegigihan Noah untuk mendapatkan cintanya.


***


Di rumah Chintania, mama Nia nampak ragu-ragu untuk mengetuk pintu kamar putri semata wayangnya itu. Setelah mengatur napas beberapa kali, akhirnya mama Nia mengetuk pintu kamar itu juga.


Tok!Tok!Tok!


"Sayang, boleh mama masuk?"ucap mama Nia dari luar kamar Chintania.


"Masuk aja, ma. Nggak di kunci,"sahut Chintania dari dalam kamarnya.


Mama Nia membuka pintu kamar itu kemudian masuk ke dalam kamar putrinya itu,"Apa kamu sedang sibuk, sayang?"tanya mama Nia duduk di tepi ranjang memulai obrolan.Sedangkan Chintania bersandar di headboard ranjang sambil meluruskan kakinya memangku laptopnya.


Chintania yang sedang fokus pada layar laptopnya dengan jemari yang bergerak lincah di atas keyboard laptopnya itupun menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap wajah wanita paruh baya yang sedang duduk di tepi ranjangnya di ujung kakinya itu,"Apa mama ingin membicarakan sesuatu yang penting?"tanya Chintania seraya menutup laptopnya.


"Katakan lah, ma! Apa yang ingin mama bicarakan?"tanya Chintania menatap lekat manik mata mamanya,"Mama Katakan saja! Jangan ragu!"pinta Chintania yang melihat keraguan di mata mamanya.


"Sayang, apa kamu sudah memiliki orang yang kamu cintai?"tanya mama Nia nampak ragu-ragu.


"Tidak, ma. Sampai saat ini belum ada pria yang bisa membuat aku tertarik. Memangnya kenapa, ma? Jangan bilang mama ingin menjodohkan aku?"tanya Chintania yang mencoba menebak ke arah mana pembicaraan mamanya.


"Sayang, dulu rumah sakit kita hampir saja bangkrut karena ada beberapa orang yang melakukan korupsi. Namun seseorang membantu mama dan papa hingga rumah sakit itu tidak jadi gulung tikar. Dan sekarang... orang itu meminta sesuatu dari mama,"ucap mama Nia dengan suara pelan di ujung kalimat, menunduk dengan wajah lesu.


"Jangan bilang jika orang itu minta mama menjodohkan aku dengan anaknya?"tebak Chintania. Dalam hal bisnis hal seperti ini sering terjadi dan sudah menjadi rahasia umum. Pernikahan bisnis sering dilakukan oleh kalangan pebisnis untuk mendapatkan menantu sekaligus untuk mendapatkan suntikan dana.


"Bukan! Dia tidak ingin menjodohkan anaknya, tapi dia ingin menjodohkan cucunya dengan mu.Kita akan bertemu besok saat makan malam. Jika kalian sama-sama setuju, maka kalian akan menikah. Tapi kalau kamu tidak setuju..."wanita itu menjeda kata-katanya menatap lekat manik mata Chintania,"Mama akan merasa tidak enak dengan orang itu. Apalagi sebagian besar saham rumah sakit kita adalah milik mereka,"sahut mama Nia, tertunduk.

__ADS_1


Chintania menghela napas dalam dan memijit batang hidungnya. Dari kata-kata mamanya memang tidak secara tegas menyuruhnya menerima perjodohan itu. Tapi jelas-jelas menyiratkan bahwa jika dia tidak setuju dengan perjodohan itu, maka mereka seperti orang yang tidak tahu balas budi.


"Baiklah, aku akan menerima semua keputusan mama,"sahut Chintania pasrah.


"Mama dengar... dia itu duda, Nia. Tapi banyak yang mengatakan, jika dia itu sangat tampan,"ucap mama Nia dari nada lesu menjadi bersemangat.


"Oke. Duda juga nggak apa-apa. Asal jangan dimadu atau dijadikan madu sudah cukup bagiku,"ucap Chintania benar-benar pasrah.


"Terimakasih, sayang!"ucap mama Nia dengan senyum lebar.


Setelah apa yang ingin dibicarakannya selesai, mama Nia pun keluar dari kamar Chintania,"Maaf! Seharusnya bukan kamu yang ada di posisi ini,"gumam mama Nia menatap pintu kamar Chintania dengan wajah sendu.


Sementara di dalam kamar, Chintania nampak terdiam, perlahan berjalan menuju balkon kamarnya. Tatapan matanya tertuju pada langit yang nampak terang dengan bulan yang bersinar terang dan bintang-bintang yang bertaburan.


"Tidak kusangka, aku akan berakhir menjadi istri seorang duda. Entah bagaimana rupanya, berapa umurnya dan bagaimana perangainya, dan apa yang menjadi penyebab dia menduda.Tapi, apa yang bisa aku lakukan?"


"Selama ini mama tidak pernah meminta apapun dari ku sebagai putrinya. Tidak baik jika aku menolak permintaan orang yang telah merawat dan membesarkan aku,"gumam Chintania berdiri bersandar di jendela kaca kamarnya, menatap langit dengan bulan yang bersinar terang dan bintang yang bertaburan.


"Duda?"gumam Chintania tertawa hambar seolah menertawakan dirinya sendiri.


...🌟"Manusia tidak pernah tahu, dengan cara seperti apa dan bagaimana, dia dan jodohnya akan bertemu....


...Satu hal yang pasti, jodoh akan datang tepat waktu, tanpa bisa di pending, dijeda, apalagi di skip oleh mu."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2