
Di kediaman mama Nia.
Pak Diman menghampiri mama Nia yang sedang berada di ruang kerjanya. Pria yang setia mengabdi pada mama Nia itu nampak membawa secangkir teh untuk mama Nia.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"sahut mama Nia dari dalam ruang kerjanya.
"Nyonya, ini teh Nyonya,"ucap Pak Diman seraya meletakkan secangkir teh yang dibawanya di atas meja kerja mama Nia.
"Terimakasih, Pak. Tapi kenapa Pak Diman yang membawa teh ini?"tanya mama Nia seraya meraih teh yang dibawa Pak Diman, lalu menyesapnya.
"Tadinya istri saya yang akan membawanya, tapi karena saya juga ingin menemui nyonya, jadi sekalian saja saya yang membawanya,"sahut Pak Diman.
Mama Nia meletakkan kembali tehnya di atas meja,"Apa ada yang ingin Pak Diman sampaikan?"tanya mama Nia menatap pria yang lebih tua darinya itu.
"Iya, Nyonya. Saya ingin melaporkan bahwa segala persiapan untuk pernikahan Non Nia sudah siap seratus persen,"lapor Pak Diman.
"Syukurlah. Terimakasih, Pak!"ucap mama Nia merasa lega. Walaupun pernikahan Chintania akan diadakan secara sederhana, tapi mama Nia ingin acara pernikahan itu terkesan hangat.
"Sama-sama Nyonya. Em.. Nyonya, apa Nyonya tidak ingin memberitahu non Nia soal..."Pak Diman nampak ragu dan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Soal siapa dirinya?"tanya mama Nia yang tahu kemana arah pembicaraannya Pak Diman.
"Iya, Nyonya,"sahut Pak Diman.
"Saya tidak berani, Pak. Pak Diman ingat, 'kan, saat saya memperlihatkan gelang dan cincin yang dia pakai saat kita menemukan dia dulu? Nia jadi sakit selama hampir dua minggu karena dia mencoba mengingat-ingat tentang gelang dan cincin itu,"
"Jadi biarkan dia mengingat sendiri tentang siapa dirinya. Sampai saat itu tiba, saya akan mengatakan yang sebenarnya padanya. Jika sekarang saya mengatakan padanya, bahwa kita menemukan dia di laut, dia akan bertanya siapa dirinya dan saya tidak akan bisa menjawabnya,"
"Setelah itu, saya takut dia akan berusaha memaksa mengingat semua masa lalunya untuk mengetahui siapa dirinya. Dan itu tidak baik untuk kesehatannya,"ujar mama Nia.
"Iya, Nyonya benar,"sahut Pak Diman yang sekarang mengerti kenapa mama Nia tidak mengatakan pada Chintania bahwa dia bukan anak kandung mama Nia.
"Tapi saya sudah mengatakan pada Pak Abimana dan Arjuna, jika Chintania mengalami amnesia sejak setahun yang lalu karena kecelakaan,"imbuh mama Nia.
__ADS_1
"Menurut saya itu juga keputusan yang bagus,"sahut Pak Diman.
Dulu, setelah Kinara sadar dari pingsannya, mama Nia memperlihatkan gelang tali berwarna putih berlambang 'Yang' dan cincin yang bertahta berlian milik Kinara, tapi Kinara malah mengalami sakit kepala yang serius saat dia melihat dua benda itu, karena mencoba mengingat dua benda itu.
Sejak kejadian itu mama Nia akhirnya memutuskan untuk menyimpan gelang dan cincin bertahtakan berlian itu. Sejak saat itu pula mama Nia menjadikan Kinara sebagai Chintania. Namun lebih cantik Chintania yang sekarang karena mama Nia menyempurnakan beberapa bagian bentuk wajah Chintania yang asli menjadi lebih sempurna di wajah Kinara.
Luka bakar yang merusak kulit wajah, leher hingga pundak Kinara pun sudah di operasinya, sedangkan tanda lahir dipundak Kinara yang berwarna merah pun tidak terlihat karena terkena luka bakar dan sudah dioperasi mama Nia.
Selama satu tahun tinggal bersamanya, menurut mama Nia, Kinara berprilaku sebagai putri mama Nia yang sangat baik melebihi putri kandungnya sendiri. Nia putrinya memang baik, tapi kurang perhatian, keras kepala dan suka tidak menurut pada mama Nia. Hingga akhirnya meninggal di laut karena tidak mendengarkan mama Nia.
Sedangkan Chintania yang sekarang, begitu perhatian dan juga penurut pada mama Nia. Nia yang sekarang sangat berbakti dan penyayang pada mama Nia hingga mama Nia memperlakukan Kinara seperti putri kandungnya.
...----------------...
Waktu terus berputar, dan hari yang telah ditunggu pun tiba. Pagi itu, Arjuna dan Chintania mengadakan acara pernikahan secara sederhana. Dalam acara itu hanya dihadiri oleh keluarga dan teman terdekat, termasuk Noah.
Noah sangat terpukau melihat Chintania dalam balutan pakaian pengantin yang berwarna putih tulang. Sungguh, wanita itu terlihat sangat cantik dengan lekuk tubuh yang benar-benar indah. Sedikit pun Noah tidak berkedip saat menatap Chintania.
"Nggak usah dilihat terus! Sebentar lagi akan jadi milik orang,"ucap Agus yang tiba-tiba berdiri di sebelah Noah.
"Dokter tahu nggak? Kuli apa yang menyedihkan?"tanya Agus pada Noah, tapi mata Agus menatap kearah pelaminan sederhana yang ada di ruangan itu tempat kedua mempelai akan mengikat janji suci dan tempat para undangan akan mengucapkan selamat setelah pengantin menjadi pasangan suami-istri yang sah dimata hukum dan agama.
"Kuli apa?"tanya Noah seraya mengernyit keningnya.
"Kulihat kau bersamanya,"ucap Agus kemudian tertawa tanpa suara.
"Sialan!"umpat Noah dengan wajah kesal karena merasa di sindir oleh Agus.
"Benar, 'kan, apa kataku? Kalau memang jodoh nggak akan ke mana, nanti juga ketemu di pelaminan, tapi cuma jadi tamu undangan,"sindir Agus lagi, kembali tertawa tanpa suara membuat Noah semakin kesal.
"Aku cuma Sebastian: Sebatas Teman Tanpa Jadian,"ucap Noah membuat Agus memalingkan wajahnya menahan tawa melihat Noah yang terlihat sendu.
"Mungkin juga Rembang-Semarang : Remahan hati yang Bimbang , karena Sendiri Menahan Rasa Sayang,"ucap Agus mati-matian menahan tawanya.
"Nggak dapet flashdisk nya, aku ambil datanya. Nggak dapat gadisnya, aku tunggu jandanya,"ucap Noah dengan mata menatap Chintania.
__ADS_1
"Move on itu susah, bro. Karena siswa diminta untuk mengingat bukan untuk melupakan,"ujar Agus.
"Mengingat itu sulit, tapi melupakan ternyata berkali-kali lebih sulit"sahut Noah.
"Kamu tahu nggak, apa kuncinya biar nggak patah hati?"tanya Agus yang begitu bersemangat menggoda Noah.
"Apa?"tanya Noah terlihat serius.
"Jangan pernah jatuh cinta, maka kamu tidak akan pernah patah hati,"ucap Agus semakin gemas menggoda Noah.
"Kalau itu, anak SD juga tahu,"ketus Noah.
"Sendok di tangan kananmu, garpu ditangan kirimu, tapi sayangnya, jodoh tetap ditangan Tuhan,"sindir Agus lagi.
"Sudah tahu!"ketus Noah.
"Oh, ya, kalau siaran di TV kamu entar malam penuh dengan acara galau. Coba cek arah antenanya, mungkin masih mengarah ke rumah mantan gebetan,"ucap Agus kemudian menjauh dari Noah karena sudah tidak tahan lagi menahan tawanya.
"SMS Lo! Susah Melihat orang Senang, Senang Melihat orang Susah,"gerutu Noah yang merasa kesal pada Agus, tapi entah kenapa dia masih saja meladeni Agus yang terang-terangan suka mengejeknya.
Akhirnya acara pernikahan sederhana itu pun dimulai. Arjuna mengucapkan ijab qobul dengan lancar, kemudian menyematkan cincin pernikahan di jari manis Chintania. Setelah itu Chintania menyematkan cincin pernikahan di jari manis Arjuna. Chintania mengecup punggung tangan Arjuna, dan Arjuna pun mengecup kening Chintania yang kemudian diiringi tepuk tangan para tamu undangan yang hadir dalam acara sederhana itu.
Keduanya berdiri dan berfoto bersama keluarga dan teman mereka, tak terkecuali Agus dan Noah yang ikut berfoto. Kendati merasa sedih karena pada akhirnya Chintania menikah dengan orang lain, namun Noah berusaha menerimanya dengan lapang dada. Mencoba tersenyum walaupun hatinya ingin menangis.
...π"Cinta sejati tidak harus memiliki. Kata-kata itu terdengar bijaksana, tapi nyesek di hati."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1