
🌹🌹🌹
🌷Lanjut POV. Tirta 🌷
“Ta ....” Ucapan Bayu kuhentikan dengan tepukan di pundaknya. Takutnya nanti Om Devandra panik dan histeris kalau dengar nama Tania disebut. Sedangkan sosok yang berdiri di ambang pintu menyerupai Tania itu masih diragukan keasliannya.
“Kenapa kalian malah bengong? Ayo kita cari Tania ke ruangan lain!”
Aku balik badan menghadap ke arah Om Devandra berada. Pun Bayu dan Dian.
“Ayo, Om.” Aku merangkul bahu Om Devandra memberinya ruang agar bisa melihat ke ambang pintu. Jika benar itu adalah Tania maka Om Devandra pasti bisa melihatnya, tapi sosok mirip Tania tadi sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Ke mana dia?
Perasaanku mulai tidak enak. Aku melirik ke arah Dian dan Bayu, yang kebetulan mereka berdua juga melirikku. Dian memberiku isyarat dengan gerakan kepala agar mengikuti kemauan Om Devandra. Dan kami pun kembali berjalan menyisir semua ruangan.
Namun anehnya, kondisi rumah ini sekarang sudah jauh berbeda dari yang Rania paparkan. Menurut cerita dari Om Devandra, Rania bercerita jika rumah ini ada penghuninya yakni seorang wanita dan pria paruh baya. Kondisi rumah pun terawat, tapi sekarang semua sudah berbeda.
Rumahnya seperti rumah yang sudah lama kosong. Berantakan kotor, dan banyak dedaunan kering di dalam rumah ini. Apa Rania halusinasi? Atau ini adalah cara si pemilik rumah ini untuk menyamarkan perbuatannya?
“Lihat!”
Om Devandra menunjuk sebuah ruang kecil yang terletak di sudut kamar. Aku, Dian dan Bayu mendekat.
Saat berada di dekat ruangan kurasakan ada aura negatif yang sangat kuat.
“Apa, Om?” tanya Bayu.
“Ini ruang ritual yang diceritakan oleh Rania, dan itu lihat ada foto Tania serta 6 anak lainnya. Persis seperti yang Rania ceritakan,” jelas Om Devandra.
Aku mulai meraih foto yang tertempel di tembok satu persatu, dan kuamati sedemikian rupa.
Benar, satu diantaranya adalah foto Tania, sementara 6 lainnya sebagian aku tidak mengenalnya. Namun, ada satu foto yang membuatku berpikir keras.
“Coba lihat ini foto siapa? Aku lupa-lupa ingat dengan anak yang ada di dalam foto ini.”
Bayu langsung meraihnya, dan langsung seperti orang kesurupan. Badannya bergetar hebat, mata mendelik ke atas, sehingga putih semua bola matanya. Lalu ambruk tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
“Dia kenapa?”
Om Devandra panik melihat kondisi Bayu.
“Tenang ya, Om. Ini biasa terjadi pada Bayu. Dia sedang melakukan perjalanan gaib. Kami menyebutnya astral projection.”
Aku mengangguk membenarkan penjelasan yang Dian paparkan pada Om Devandra.
“Apa nggak bahaya?”
“Insya Allah, tidak Om. Ini sudah sering terjadi pada Bayu. Kalau dia akan mendapatkan penglihatan dari kejadian yang telah lalu maka akan seperti ini,” jelasku. Om Devandra mulai sedikit tenang.
Sambil menunggu Bayu kembali dari alam gaib. Aku, Dian dan Om Devandra kembali menyisir seluruh penjuru kamar mencari petunjuk. Kami yakin dan percaya bahwa sepandai-pandainya orang menyembunyikan kejahatannya pasti ada jejak yang tertinggal. Ya, meski sangat kecil kemungkinannya. Tapi tidak ada salahnya terus usaha dan berharap.
Kolong ranjang, lemari, laci, semua sudah kami periksa, akan tetapi kami tidak menemukan dokumen atau kartu identitas pemilik rumah ini. Sepertinya pelaku sudah sangat profesional dalam menjalankan dan menyembunyikan barang bukti kejahatannya.
“Meski Rania sangat yakin bahwa pelaku penculikan Tania adalah Mbok Tini, tapi kita tidak mungkin menuduhnya begitu saja tanpa bukti yang akurat, bukan?”
Om Devandra terlihat begitu frustasi.
“Iya, Om. Tanpa barang bukti bisa-bisa kita dituduh mencemarkan nama baik. Yang ada malah kita nanti yang dipidana,” sahutku.
Om Devandra menunduk pilu. Sudut matanya basah, diambilnya foto Tania yang semula tergeletak di meja kecil dekat ruang ritual.
“Kamu di mana, Nak?” gumamnya. Namun, terdengar jelas di telingaku. Selepas itu kulihat Om Devandra mengusap sudut matanya.
“I-itu teman kalian kenapa?!” pekik Om Devandra, sambil menunjuk tubuh Bayu yang kejang-kejang di lantai.
Aku dan Dian lalu mendekat mencoba memanggil Bayu agar kembali dari alam gaib, tapi tubuh Bayu malah semakin bergetar hebat.
“Ini buruk, Ta.”
__ADS_1
Aku mengangguki ucapan Dian. Biasanya jika seperti ini maka Bayu di alam sana mendapat serangan dari makhluk astral.
“Buruk? Memangnya apa yang terjadi pada teman kalian?”
“Tenang ya, Om. Ini biasa terjadi. Insya Allah, kami bisa menanganinya.” Dian mencoba menenangkan Om Devandra.
“Terus siapa yang akan menjemput Bayu? Aku atau kamu, Ta?”
“Biar aku saja.”
“Kamu yakin, Ta?”
Aku mengangguk mantap. “Iya, aku yakin,” ucapku kemudian.
“Nanti kalau dalam hitungan waktu tertentu aku belum berhasil membawa Bayu kembali, kamu tahu ‘kan apa yang harus kamu lakukan?”
Dian megangguk paham. “Jangan bicara seperti itu! Kamu harus yakin, dan bawa Bayu kembali. Jangan pesimis! Harus optimis. Oke!” ucap Dian, sambil memegang pundak ini. Dia hampir tidak ada bedanya dengan ibuku kalau sudah sok bijak dan sok dewasa begini.
“Iya. Doakan aku, ya!”
“Nggak usah diminta juga, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu kawan.” Lagi, Dian menepuk bahu ini.
Cuma kawan, selalu saja Dian berucap demikian. Itulah yang membuatku riskan mengutarakan perasaanku padanya. Hingga akhirnya cinta yang semula ingin kulabuhkan pada hatinya, kini tertaut ke lain hati.
“Eh, malah bengong. Buruan jemput Bayu!”
Aku terkesiap. “Astaghfirullah hal’adzim. Iya, lupa.”
Aku lalu duduk bersila di samping tubuh Bayu yang tergeletak di lantai. Tangan kananku menggenggam tangan kanan Bayu. Kupejamkan mata lalu kurapalkan doa.
Dalam hitungan detik tubuhku seperti terlontar menyusuri lorong waktu. Hingga sampai di tempat Bayu berada. Yakni di sebuah bangunan kuno.
Aku panik, otakku blank ketika melihat Bayu dihajar habis-habisan oleh iblis tinggi besar dan di kepalanya tumbuh tanduk. Mata merah menyala serta mulut menganga lebar, gigi panjang-panjang. Tubuh gempalnya ditumbuhi banyak bulu. Persis seperti bulu landak.
Tanpa pikir panjang aku langsung berusaha menyelamatkan Bayu, tapi justru kami berdua sama-sama mendapat serangan dari iblis jahanam itu. Aku dan Bayu terpental jauh hingga tubuh kami membentur sebuah dinding.
Kami berdua merintih kesakitan, sementara iblis itu tertawa terbahak. Tawanya menggema memekakkan telinga.
“Kau pikir aku setega itu? Aku sudah jauh-jauh sampai sini untuk menjemputmu. Aku tidak akan kembali tanpa kau, Bay.”
“Tapi Ta ....”
“Tidak ada tapi-tapian. Kita harus berusaha kembali ke dunia kita, Bay.” Cepat kusela ucapan Bayu.
Saat aku hendak berdiri mendekat ke arah Bayu berada, dan berniat hendak memapahnya. Lagi-lagi aku diserang oleh iblis jahanam itu hingga tubuhku terpental semakin menjauh dari tempat Bayu berada.
Aku merapal doa mencoba melawan iblis itu, tapi seolah tidak berasa apa-apa. Iblis itu malah tertawa geli mendengar doa yang kubaca.
“Ta, kita baca ayat kursi sama-sama!” ajak Bayu dengan nada memekik, dan kuangguki.
Saat kubacakan ayat kursi, iblis itu menggelinjang kepanasan. Tapi, setelah usai aku membaca doa, iblis itu malah semakin murka. Ia berubah wujud menjadi lebih menyeramkan dari sebelumnya. Mata, mulut, telinga, dan hidungnya mengeluarkan kobaran api. Dan apa saja yang disembur atau dilihatnya akan terbakar.
Aku menggeleng lesu. Pupus sudah harapanku untuk keluar dari dunia gaib ini.
Iblis itu mengambil ancang-ancang hendak menyemburku dengan api dari mulutnya. Aku hanya bisa menyilangkan tangan di depan wajah bersiap menerima serangan. Mataku terpejam erat merasa ngeri.
Pikiranku kacau. Kecil kemungkinannya aku dapat membawa Bayu kembali.
“Le, bawa kawanmu pergi dari sini.”
Perlahan kubuka mataku setelah mendengar seseorang berbicara di depanku. Suaranya terdengar tidak asing di telingaku.
Benar, saat mata telah terbuka lebar terlihat sosok yang tidak asing lagi. Meski aku hanya melihat punggungnya, tapi aku yakin dia adalah sosok yang selama ini kurindukan.
“Kakek!” pekikku kegirangan.
“Tidak ada waktu lagi, Ta. Cepat bawa kawanmu pergi dari sini!” Lagi, Kakek memberiku perintah.
“Tapi Kek, aku rindu. Izinkan aku memelukmu sejenak, Kek.”
__ADS_1
“Tidak ada waktu Ta. Cepat pergi!”
Aku terbengong melihat Kakek dengan begitu gagahnya berusaha menahan serangan dari iblis jahanam itu.
“Pergi!”
Aku terkesiap mendengar teriakan Kakek. Lalu dengan berat hati pergi meninggalkan Kakek yang tengah mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan iblis.
“Ayo kita pulang, Bay!” ajakku, seraya mengulurkan tangan membantunya berdiri. Lalu kupapah, dan kami pergi dengan langkah terseok.
Hingga saat sampai di sebuah perempatan lorong cahaya, aku dibuat bingung harus memilih jalan yang mana. Jika salah lorong dapat dipastikan kami akan lebih jauh lagi tersesat di alam astral ini.
“Lewat sini, Ta!”
Kudengar suara seorang wanita dari lorong sebelah kiri kami berdiri, tapi itu bukan suaranya Dian.
“Jangan lewat sana, bahaya!”
Kali ini suara yang sama kudengar dari lorong sebelah kanan. Sehingga membuatku bingung harus memilih lorong yang mana. Pun dengan Bayu. Kami sama bingungnya.
“Bay, kau masih kuat ‘kan?”
Bayu tidak menyahut, wajahnya tertunduk semakin pucat. Membuatku semakin panik. Terlambat sedikit saja maka dapat dipastikan Bayu tidak akan selamat.
Dian, panggil kami.
“Tirta, Bayu, kalian dengar suaraku? Cepat kembali!”
Samar kudengar suara Dian dari lorong yang membujur lurus di depan kami.
“Ayo Bay, lewat sini!” ajakku.
“Aku sudah tidak kuat lagi, Ta.”
“Tidak, kamu tidak boleh menyerah! Kamu harus kuat. Sebentar lagi kita sampai di dunia kita.”
Bayu menggeleng lemah. Wajahnya semakin pucat pasi.
Tidak ada waktu lagi. Segera aku gendong Bayu dan kubawa berlari menyusuri lorong cahaya yang terbentang lurus di depan kami. Mengikuti arahan suara Dian.
Detik kemudian semua terasa gelap. Sejurus kemudian aku membuka mata lalu menghela napas panjang layaknya orang habis tenggelam kehabisan oksigen.
“Ta, kamu sudah kembali.”
Aku menoleh ke sisi kiriku, dimana Dian tersenyum lega. Pun Om Devandra. Sudut mata mereka basah. Lalu aku menoleh ke samping kananku, dimana Bayu masih tergeletak belum sadarkan diri.
Jika mengingat kondisinya saat di alam gaib tadi, yang pucat tak berdaya. Aku mulai was-was, takut jika Bayu tak kembali.
“Ta, kamu berhasil ‘kan, bawa Bayu kembali?”
Aku menoleh ke arah Dian berada.
Aku mengangguk ragu. “Harusnya berhasil, tapi kenapa Bayu belum sadar juga, ya?”
Kami bertiga lalu berusaha menyadarkan Bayu dengan menggosok tangannya sambil terus memanggilnya. Badan Bayu semakin dingin kurasa. Seperti mayat. Aku semakin khawatir dibuatnya.
Namun, hingga detik berlalu berganti menit, Bayu belum juga sadarkan diri.
“Apa kita akan kehilangan Bayu untuk selamanya, Ta?”
Suara Dian terdengar parau. Ia terlihat sangat takut kehilangan Bayu. Aku tak mampu menjawab. Kuusap pundaknya bermaksud menyalurkan kekuatan. Namun, ia malah semakin terisak.
N
E
X
T
__ADS_1
👇