
Tak berselang lama dokter yang Ayah panggil datang memeriksa kondisiku. Dia memintaku untuk tetap tenang dan istirahat. Tapi, bagaimana aku bisa tenang jika Tirtaku entah ada di mana dan bagaimana kondisinya. Aku yakin dia butuh seseorang yang bisa mengerti dirinya saat ini.
Bay, cepatlah datang ke sini. Aku butuh babtuanmu untuk mencari dan memastikan keberadaan Tirta. Hanya kamu yang bisa aku andalkan.
“Om, hai, apa kabar?” Ah, itu suara Bayu di luar sedang menyapa Ayah.
Bayu tidak juga masuk dia malah asyik berbincang dengan Ayah di luar kamar.
“Ma, maaf, apa aku bisa minta tolong panggilkan Bayu agar masuk!” pintaku.
“Baiklah.” Mama mewujudkan keinginanku. Tak lama kemudian Bayu datang.
“Ada apa, Ran?” tanyanya. Aku tidak membuang waktu lagi, dan langsung mengutarakan inginku agar Bayu mencari keberadaan Tirta.
“Oke, aku cari Tirta. Kamu yang tenang, ya!” Bayu lantas pergi setelah kuangguki pamitnya.
Mama dan Ayah yang semula di luar masuk memasikan bahwa aku baik-baik saja.
“Gimana? Apa yang kamu rasakan?” tanya Ayah kemudian.
“Aku sudah baikan, kok, Yah.”
“Syukurlah kalau gitu. Eum, ayah mau ninjau pabrik dulu, ya, sebentar. Kamu di sini sama Mama,” pamit Ayah.
“Yah, kan, Rania masih begitu masa Ayah mau pergi?” rengek Mama.
“Tapi, aku pengen lihat kondisi pabriknya seperti apa sekarang, Ma? Masih bisa lanjut beroperasi atau tidak? Ayah ingin memastikan itu semua.”
“Tapi, Yah, kan, bisa nanti kalau Rania sudah sembuh total.” Mama keberatan dengan keputusan Ayah. Ayah terdiam. Aku yakin dia bingung antara tetap di sini atau tetap pergi memuaskan rasa penasarannya.
“Aku nggak apa-apa kok, Ma. Kalau Ayah mau pergi lihat kondisi pabrik singkong, pergi aja Yah!”
“Kamu yakin, Sayang? Kalau Ayah pergi kamu nggak apa-apa?” Aku mengangguk meyakinkan Ayah dan Mama.
__ADS_1
“Kalau Mama mau ikut juga boleh. Di sini, kan, ada Bayu dan Tirta,” terangku.
“Mama di sini saja temenin kamu. Biar Ayah pergi sendiri. Oh, ya, sebelum pergi gimana kalau kita lihat kondisi Mela dan Mang Ule dulu, Yah?” saran Mama. Ayah mengangguk setuju lantas pergi melihat kondisi sahabat dan sopirku. Tentunya setelah mendapat izin dariku.
Sedang aku tetap di atas ranjang menunggu Bayu datang membawa Tirta. Namun, menit telah berlalu dan Bayu belum juga kembali. Entah Bayu bisa menemukan Tirta atau tidak. Aku cuma bisa merapal doa dalam hati semoga mereka berdua segera datang.
***
Aku terbangun dari tidur. Entah sejak kapan dan seberapa lama aku tertidur? Kemudian menoleh ke sekeliling. Sepi. Hanya ada Mama yang tertidur di sofa samping ranjang ini. Sepertinya Ayah belum kembali dari pabrik. Sedang Bayu, entah dia ada di mana? Sudah kembali atau belum? Sudah berhasil menemukan Tirta atau ....
Perhatianku tertuju pada knop pintu yang bergerak. Batinku berharap itu adalah kamu, Tirta. Aku antusias menunggu sang pembuka pintu menyembul menampakkan diri. Jantung ini berdegup di atas batas normal.
Semoga itu kamu.
Aku menelan kecewa ternyata yang datang seorang suster mengantarkan makanan dan obatku.
“Dimakan, ya, Mbak!” titah Suster sambil menaruh nampan berisi makanan di meja, “obatnya juga jangan lupa diminum semua supaya cepat pulih,” lanjutnya.
Mama terbangun dan menyahuti ucapan Suster. “Terima kasih, ya, Sus.” Suster tersenyum ramah ke arah Mama. Lantas pamit keluar untuk mengantar makanan ke tempat pasien lain.
“Sudah, Ma. Aku sudah kenyang.”
“Satu suapan lagi, yuk!” paksa Mama. Aku nurut. Setelahnya Mama menyiapkan obatku.
“Mama balikin nampannya ke tempat suster dulu, ya!” pamit Mama. Aku mengangguk setuju. Mama pun pergi.
Beberapa saat kemudian pintu di dorong oleh seseorang dari luar. Kupikir Mama yang datang usai mengembalikan nampan tadi. Tapi, ternyata itu adalah Tirta dan Bayu. Aku menghela napas lega.
“Syukurlah kau kembali. Aku pikir ... aku tidak lagi bisa bertemu denganmu,” kataku sambil menahan sesak di dada. Sungguh aku sangat takut. Takut kehilangannya untuk kesekian kalinya.
“Maaf, aku sudah buat kamu khawatir. Aku cuma cari angin dan butuh waktu untuk merenungkan semuanya, Ran,” kata Tirta.
Dahiku mengernyit bingung. “Merenungkan apa?” cecarku.
__ADS_1
“Aku sudah pikirkan, Ran. Aku akan ....”
“Akan apa?” selaku tak sabar. Perasaanku tidak karuan.
“Akan pergi dari hidupmu.”
“APA?!” pekikku tak percaya. Sesuai dugaan, Tirta mengatakan perkataan yang sangat aku takutkan.
Air mata yang sekuat tenaga kutahan akhirnya luruh juga. Tangisku pecah. Aku sangat sedih pasca mendengar perkataan Tirta. “Kamu ngomong apa, sih, Ta. Pergi ke mana? Kita baru saja bertemu kembali setelah berpisah sekian lama. Bukankah kamu sendiri yang bilang. Kalau jodoh pasti kita akan bertemu kembali, dan sekarang kita sudah bertemu lagi.” Sebisa mungkin aku menjaga agar suaraku jelas didengar oleh lawan bicaraku, meski sambil diiringi isakan.
“Enggak, Ran. Kamu berhak mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari aku.”
Aku menggeleng. “Enggak, bagiku nggak ada yang jauh lebih baik dari kamu.” Kucoba meyakinkan Tirta yang kalut.
“Aku tidak baik, Ran. Kamu tahu betul aku sudah tinggal serumah dengan perempuan tanpa status yang jelas, dan aku nggak tahu apa saja yang sudah aku lakukan dengan wanita itu.”
“Aku nggak peduli dengan itu semua. Terpenting sekarang kamu sudah bebas dari masa kelam itu. Kita bisa mulai lembaran baru, dan lupakan masa lalu. Aku mau terima kamu apa adanya, Ta.”
Tirta menggeleng. Pertahanannya runtuh, air matanya jatuh berderai. Dia tetap merasa tidak pantas untukku. “Aku terlalu buruk untuk dijadikan teman hidup, Ran.”
Kugenggam tangannya berusaha meyakinkan dirinya. Bahwa dia itu pantas bahagia bersamaku. “Semua manusia itu tidak ada yang sempurna. Semua pernah melakukan kesalahan. Terpenting manusia mau menyadari dan memperbaiki. Sedang kamu melakukan kesalahan itu tanpa unsur kesengajaan. Semua tejadi akibat ulah Sekar dan keluarganya. Jadi, bukan kamu yang salah, dan aku memahami itu.”
“Enggak, Ran! Enggak! Kamu berhak bahagia bersama orang yang jauh lebih baik dari aku.” Tirta tetap merasa dirinya tidak pantas untukku. Entah, dengan cara apa lagi aku harus membuatnya mengerti bahwa aku terima dia apa adanya. Tanpa syarat dan tanpa ‘tapi’ atau ‘karena’.
“Bay, kamu jangan diem aja! Bantu jelasin ke Tirta!” seruku saat Bayu hanya diam menyaksikan drama yang terjadi antara aku dan Tirta.
Bayu lantas berusaha membantuku menjelaskan pada Tirta. Meminta agar Tirta memberiku kesempatan kedua.
“Tidak, Bay! Rania itu terlalu baik. Dia tidak pantas bersamaku. Dia berhak mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dariku.”
“Ta, jangan begini dong! Lihat pengorbanan Rania demi bisa menyelamatkan kamu. Lihat usahanya demi bisa bareng-bareng lagi sama kamu. Dia rela loh, sampai melawan dukun santet itu. Sampai akhirnya sahabatnya dan sopirnya mengalami luka. Bahkan Mela sampai sekarang masih belum sadar juga,” cerocos Bayu.
“Makanya itu, Bay. Aku ini cuma menyusahkan kalian saja, kan, jadi mungkin akan jauh lebih baik jika aku pergi dari kehidupan kalian,” ujar Tirta. Sungguh perkataannya itu menyayat hatiku. Sakit rasanya mendengar dia bilang akan pergi setelah kuperjuangkan mati-matian.
__ADS_1
Ayah dan Mama datang dan langsung masuk serta menatapku dengan tatapan tajam. Ayah sepertinya sangat marah. Entah apa sebabnya?