TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Penunggu Rumah Sebelah


__ADS_3

Hari demi hari semua berjalan normal. Tak ada gangguan yang berarti. Nia juga tak menampakkan diri lagi. Bu Sania dan suaminya sibuk dengan aktivitasnya. Pun dengan aku dan keluarga. Di rumah sebelah hanya ada seorang pembantu yang tinggal. Pembantu Bu Sania sangat baik dan santun orangnya. Jika dia sedang membersihkan halaman depan dan kebetulan aku lewat, pasti dia nyapa duluan dengan tutur lembut. Tak lupa anggukan pelan mengiringi. Bu Inah namanya. Aku sudah sempat diperkenalkan dengan wanita santun itu.


*****


“Mau ke mana, Mbak?”


Aku refleks menghentikan langkah, lalu menoleh. Rupanya Bu Sania ada di balik gerbang. Sepertinya hendak keluar. Sedang di kedua tangannya terdapat rantang susun. Melihatnya kesusahan membuka gerbang, aku inisiatif untuk membantunya.


“Mau ke depan, barangkali sudah ada warung makan pinggir jalan yang buka,” jawabku setelah kami berdiri berhadapan di depan gerbang, “Mau cari sarapan. Soalnya pembantu saya yang biasa masak sedang meriang,” lanjutku.


“Oh, kebetulan sekali kalau gitu.”


Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. “Kebetulan apanya, Bu?”


“Jadi gini, ini ada makanan, rencananya memang mau saya bagi dengan Bu Rania dan keluarga.”


“Wah, terima kasih sebelumnya, Bu, tapi kalau boleh tahu memangnya sedang ada acara apa?”


“Tidak ada acara apa-apa. Hanya saja, kemarin itu beberapa temanku rencananya mau pada sarapan di sini, tapi ternyata ada kendala. Acara sarapan bersamanya gagal. Dan kebetulan suamiku juga lagi ada di luar kota. Aku dan Bi Inah sudah excited masak banyak pagi buta tadi. Daripada mubazir, kalau Mbak Rania mau, ini buat Mbak aja,” terangnya panjang lebar sambil mengulurkan kedua susunan rantang itu.


Aku pun meraihnya dan tak lupa aku ucapkan ‘terima kasih’ padanya berulang kali.


“Maaf nih, Mbak Rania, aku gak bisa nganter sampek rumahnya Mbak. Soalnya saya buru-buru mau ada pertemuan dengan rekan bisnis. Gak papa ya, kalau ini makanannya aku serahkan di sini. Maaf, kalau terkesan kurang sopan.”


“Bu Sania mah, santai aja. Ini aja udah terima kasih banget dikasih makanan.”


“Ya sudah, saya langsung pamit masuk ke dalam ya. Mau siap-siap.” Aku mengangguki ucapannya dan mengiyakan pamitnya.


“Semoga suka ya, dengan masakan kami,” imbuhnya setelah ada di balik gerbang bagian dalam.

__ADS_1


“Iya, Bu. Terima kasih.” Sekali lagi aku berterima kasih. Lantas masuk rumah membawa rantang.


Mama dan Ayah memuji kebaikan Bu Sania. Kami lantas makan bersama dengan khidmat, lalu mulai menjalani aktivitas masing-masing. Aku dan Tirta ke kantor, tapi kemungkinan hari ini hanya meninjau sebentar saja, karena kebetulan tidak ada agenda penting. Ayah dan Mama mengantar Mbok Sumiati berobat.


***


Sore hari, setelah melihat kepulangan Bu Sania dan memberikannya waktu untuk bersih-bersih serta istirahat sejenak, aku memutuskan untuk main ke rumahnya sekalian mengembalikan rantang. Tak lupa aku isi dengan kue klepon. Bukan buatan sendiri, tadi kebetulan ada pedagang kue lewat depan rumah. Aku sengaja beli banyak, selain untuk keluarga, aku berikan juga sebagian untuk Bu Sania dan Bi Inah. Soalnya jarang sekali ada pedagang kue lewat depan rumah.


Rencananya, hanya mau main sebentar, tetapi ternyata mengobrol dengan Bu Sania itu sangat asyik. Kami sampai lupa waktu. Tahu-tahu sudah menjelang Magrib saja. Aku pun terpaksa pamit pulang, karena belum mandi juga.


“Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi, ya!” pinta Bu Sania setelah aku sampai di ujung teras hendak pulang.


“Siap, Bu, dengan senang hati. Lain kali, sambil ngafe kayaknya seru juga, Bu.”


“Wah, ide bagus itu. Atau sambil nyantai di Taman.”


“Itu juga ide bagus, Bu.” Kami lanjut terkekeh.


“Iya, Bu. Lain kali kita atur waktu lagi supaya bisa ngobrol asyik lagi.”


Aku lantas pamit untuk yang ke sekian kalinya. Karena setiap hendak pulang selalu diajak ngobrol lagi dan lagi, sehingga akhirnya langkahku terjeda. Sedang Bu Sania meminta maaf atas tindakannya yang sudah terus berbicara tanpa jeda.


*****


Setelah beberapa Minggu, kami tidak punya kesempatan untuk ngobrol asyik. Karena suami Bu Sania sudah pulang dari luar kota dan kami sibuk dengan rutinitas masing-masing. Akhirnya malam ini, kami kembali memutuskan pergi ke kafe yang tak jauh dari rumah. Kali ini, suami Bu Sania kembali keluar kota lagi.


Namun, ada yang berbeda dengan Bu Sania kali ini. Wanita cantik yang biasanya ceria, asyik dan banyak bicara itu kini tampak tidak segar seperti biasanya. Dia terlihat pucat, murung dan bola matanya sering kali bergerak liar ke kiri dan kanan. Dia seperti orang yang sedang ketakutan.


Awalnya, aku memilih untuk pura-pura tidak tahu. Menunggunya untuk cerita, tetapi sepertinya dia sungkan untuk memulai menceritakan masalahnya. Aku pun akhirnya tak kuasa menahan rasa penasaran dan keceplosan bertanya padanya.

__ADS_1


“Eum, sebenarnya ... saya memang lagi ada masalah, Mbak. Tapi, bingung mau mulai cerita dari mana. Selain itu ... saya juga takut kalau ... Mbak Rania menertawakan cerita saya.”


Dari kalimat dan gestur tubuhnya, sepertinya ini ada kaitannya dengan hal di luar nalar. “Apa ini berkaitan dengan astral?” Aku mencoba menebak dan sok tahu. Bu Sania akhirnya mengangguk setelah sebelumnya sempat terdiam beberapa saat.


“Bu Sania cerita saja! Saya siap jadi pendengar dan akan membantu jika saya bisa. Saya tidak akan menertawakan, karena saya juga pernah bersinggungan dengan hal gaib.”


“Oya?” Bu Sania terlihat lebih bersemangat. Raut wajah yang semula penuh keputusasaan, kini asanya tampak kembali. Aku mengangguk membenarkan.


“Jadi, kalau saya bilang saat ini sering dihantui ... Mbak Rania percaya?”


“Ya, saya percaya itu.”


“Sungguh?”


Aku mengangguk mantap. Bu Sania menghela napas lega. Mungkin dia merasa telah bertemu orang yang tepat untuk menceritakan masalahnya.


“Mbak ....”


“Sebentar, Bu, sebelum lanjut cerita, sebaiknya Bu Sania panggil nama saja. Biar lebih nyaman,” selaku.


Bu Sania mengangguk-angguk. “Oke, baiklah, tapi kamu juga panggil saya nama saja. Toh, kan, umur kita tidak terpaut jauh juga.” Kami lanjut terkekeh kecil, sebelum akhirnya aku setuju. Kini, kami pun sepakat untuk saling panggil nama saja.


Sania pun mulai menceritakan masalahnya. Dia akhir-akhir ini sering diganggu makhluk tak kasat mata. Saat mengadu ke suaminya, malah tidak percaya dan Pak Aditya menganggapnya senewen. Akhirnya malah memicu pertengkaran di antara mereka.


“Kalau boleh tahu, wujud makhluk yang ganggu kamu itu seperti apa?”


Sania menceritakan, jika makhluk pengganggu itu tidak hanya satu, tetapi ada beberapa. Salah satunya berwujud seperti siluman. Perpaduan antara manusia, gorila, harimau dan kalajengking. Kepalanya persis seperti gorila, badannya seperti harimau dan ekornya seperti kalajengking. Sedangkan kakinya seperti kaki manusia tapi berkuku runcing layaknya kuku harimau.


“Saya sering dicapit menggunakan ekor makhluk itu. Kadang juga dia mengaum sangat keras di telingaku sampai rasanya sakit sekali. Bahkan pernah sampai keluar darah dari hidung saking sakitnya,” lanjutnya. Aku diam menyimak. Tiba-tiba Sania menunduk dan memejamkan matanya.

__ADS_1


“Dia datang,” lirihnya. Raut wajahnya tampak sangat-sangat ketakutan. Namun, anehnya aku tak bisa melihat sosok itu. Bahkan, auranya juga tidak terdeteksi olehku.


__ADS_2