
Hai, ketemu lagi dengan aku. Rania.
Apa kabar?
Kuharap baik dan sehat.
Sudah siap pantengin next kisahku?
Cekidot!
***
Aku terkejut akan kemunculan makhluk dari dunia lain dengan wujud mengerikan. Berlumuran darah aromanya anyir bercampur dengan busuk. Makanan yang ada dalam perutku nyaris kembali keluar. Mual luar biasa.
“Tolong aku, Rania,” pintanya parau. Lalu perlahan lenyap dari pandangan. Biasanya, nanti akan muncul lagi sebelum aku ikuti kemauannya atau menolaknya.
Benar saja, dia datang lagi meminta tolong. Tidak hanya satu, tapi beberapa. Ada yang muncul tepat di depan wajahku. Ada yang hanya muncul samar di dinding, di kaca rias, dan di luar jendela. Wujud mereka mengerikan semua.
Sudah kuusir dengan perintah agar pergi, tapi tetap bergeming dan terus meminta tolong. Kulempari mereka dengan barang yang teraih oleh tanganku. Hingga menimbulkan suara gaduh. Kamar pun bak kapal pecah. Mama datang menenangkan. Perlahan mereka menghilang.
Jujur, aku belum terbiasa dengan kondisi yang sekarang. Ya, sejak sebulan lalu terbangun dari koma pasca kecelakaan hebat yang kualami. Aku jadi bisa melihat mereka yang tak kasat mata.
Sebagian orang menganggap aku ini mendadak indigo, dan sebagian lagi beranggapan bahwa aku ini sudah tidak waras alias gila. Dalam kondisi sekarang, aku jadi teringat dia. Cowok yang lima tahun silam aku sukai. Siapa lagi kalau bukan Tirta. Kini aku bisa merasakan bagaimana beratnya jadi dia. Ya, Tirta juga dulu di sekolah dan di kampung banyak yang menganggapnya gila.
Apa kabar kamu di sana? Aku rindu. Apa kamu juga pernah ingat aku, Tirta? Ah, mungkin kamu sudah bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang.
***
Kini kondisiku masih mengenaskan. Kepala masih dibalut perban, ada luka yang lumayan serius. Untunglah tidak sampai gegar otak. Dan masih harus duduk di kursi roda. Sudah belajar berjalan, tapi masih belum kuat. Kata dokter, kakiku mengalami kelumpuhan sementara akibat ada syaraf yang terjepit. Jika rajin terapi maka akan sembuh. Semoga saja.
***
“Rania, tolong aku.” Argh! Bisikan itu terdengar lagi. Aroma anyir dan busuk mengiringi sekilas. Dia yang beberapa hari lalu menampakkan diri kini datang lagi. Entah apa maunya? Aku masih belum mengerti.
“TOLONG AKU, RANIA!” Kini makhluk itu memekik hingga memekakkan telinga. Namun, tak tampak wujudnya. Hanya suara yang menggelegar.
“Mamaaa!” panggilku sekuat tenaga. Aku mulai diserang rasa takut.
“Ada apa, Sayang?” Mama langsung masuk ke kamar dengan langkah tergopoh-gopoh. Mendekat lalu memelukku erat. Mama sudah paham akan kondisiku saat ini.
“Tenang, ya, jangan takut! Ada mama di sini,” ucapnya lembut sambil mengusap kepalaku menenangkan.
“Aku capek, Ma, terus didatangi oleh mereka,” rengekku sambil mengeratkan pelukan. “Kenapa harus aku yang mengalami hal ini, Ma?”
“Ini sudah takdir yang harus kamu terima. Garis hidup yang harus kamu lewati. Kamu harus mulai bersahabat dengan kondisi sekarang. Terima kenyataan, Sayang.”
Mama enak bilang 'terima kenyataan' dia nggak lihat sosok mengerikan yang suka tiba-tiba muncul di hadapan. Mengagetkan. Nyaris membuatku jantungan. Terkadang membuatku ingin muntah. Dan kejadian semacam ini hampir setiap hari aku alami. Sangat melelahkan. Mungkin benar, aku belum terbiasa saja.
Karena kondisiku yang sekarang, beberapa sahabatku menjauh. Takut mungkin. Entahlah. Kini tinggallah Pamela, yang biasa aku panggil Mela. Satu sahabatku yang masih setia menemani. Dan Renzo, cowok yang dua tahun belakangan ini dekat denganku.
Ya, sejak tiga tahun lalu ada seorang cewek yang memakiku via telepon dan mengaku sebagai calon istrinya Tirta. Serta memintaku agar jangan komunikasi lagi dengannya. Aku berusaha keras untuk move on.
Tidak ada penjelasan pasti juga dari Tirta tentang siapa cewek itu. Capek terus mengharapkan dia yang tak pasti kujumpai lagi. Aku memilih berusaha merelakannya. Lalu berusaha membuka hati untuk Renzo yang tak kenal lelah mendekatiku.
Aku pikir setelah dekat dengan Renzo dan menerima cintanya, aku akan lupa segala hal tentang Tirta. Namun, nyatanya tidak. Tirta dan Renzo memiliki tempat yang berbeda di hati ini. Tirta masa laluku yang tak mungkin kulupakan begitu saja, dan Renzo masa depanku. Mungkin? Aku juga belum tahu takdirku ke depannya akan bagaimana. Kita lihat saja nanti.
***
__ADS_1
Setelah sekian bulan berjuang untuk sembuh, akhirnya aku bisa berjalan normal lagi. Perban di kepalaku juga sudah dilepas. Meninggalkan bekas pitak. Untungnya tertutup rambut. Jadi, tidak terlalu terlihat.
***
Suara pintu dibuka membuatku auto menoleh melihat siapa pembukanya. Rupanya Mama. Dia langsung mendekatiku.
“Semangat banget. Mau ke mana, sih?” tanya Mama sambil melihat aku yang sedang mematut diri di depan kaca rias.
“Mau makan di luar bareng Renzo, Ma.”
“Ciyeee,” ledek Mama. Membuatku malu. Fiks, pipi ini pasti memerah.
“Mama,” rengekku. Antara kesal dan malu. Aku menunduk.
Mama terkekeh. “Ya sudah, persiapkan dirimu sebaik mungkin. Kalau kamu bahagia, mama juga bahagia.” Usai berkata demikian, Mama langsung keluar kamar meninggalkan aku sendiri.
Aku pun lanjut mempercantik diri. Kuoleskan lipstik tipis ke bibir ini, dan kusemprotkan sedikit parfum ke badan. Setelah kurasa perfect, aku beranjak ke depan. Tepat saat sampai di teras, Renzo sudah datang menjemput.
***
“Kita mau makan di mana, Yank?” tanyaku pada dia lelaki yang berhasil mencuri hatiku.
Renzo menoleh sebentar ke arahku lalu kembali fokus menyetir. “Kita makan di tempat kesukaan kamu, ya.”
Aku mengangguk senang. Sudah lama juga tidak makan di sana. Sejak kecelakaan beberapa bulan lalu. Ini kali pertama hangout pasca aku sembuh, dan sengaja mengajak dia yang spesial dalam hati dan hidupku. Renzo.
“Sudah sampai. Yuk, turun!” ajaknya. Lalu dia turun duluan dan membukakan pintu untukku. Kemudian menggandeng tanganku dengan mesra ke dalam restoran favorit.
Tanpa bertanya, dia langsung memesan makanan kesukaanku setelah kami duduk. Lanjut memesan makanan kesukaannya. Kami pun menikmati menu yang tadi dipesan setelah tersaji di meja. Diiringi obrolan hangat penuh cinta.
Tiba-tiba sosok yang selama ini menghantuiku muncul tepat di atas meja. Sontak membuatku menjerit kaget. Kuusir sosok mengerikan itu dengan melemparinya menggunakan makanan di meja. Sebagian mengenai Renzo dan pengunjung lain.
Aku pun mengamati sekeliling. Semua mata pengunjung terarah padaku. Ada yang ketakutan akan aksiku, dan ada pula yang menatapku keheranan. Sebagian berbisik mempertanyakan aku kenapa?
Aku menunduk malu. Kulihat Renzo sekilas, dia mengurut kening dan mendengus kesal. Sorot matanya terlihat kecewa akan sikapku tadi.
“Maaf,” ucapku lirih. Renzo menggeleng pelan lalu mengamati bajunya yang kotor akibat ulahku. Lantas meminta maaf pada pengunjung lain atas nama diriku. Keriuhan yang terjadi menarik perhatian menejer restoran. Sang menejer datang menanyakan ada apa? Lagi-lagi Renzo yang harus menjelaskan semuanya.
“Gimana sih, cewek gila gitu diajak ke restoran. Harusnya diajak ke rumah sakit jiwa,” celetuk salah satu pengunjung sinis.
Hatiku sakit mendengarnya. “Aku tidak gila!” sangkalku lalu berlari keluar restoran. Tangis yang sedari tadi kutahan pecah di samping mobil Renzo terparkir.
Tak lama Renzo datang. Kudengar dia menghela napas panjang. Lalu merengkuh tubuhku. Membenamkan kepalaku di dada bidangnya.
Di saat seperti ini entah kenapa, aku malah teringat Tirta. Andai dia di sini, pasti dia paham akan kondisiku sekarang. Karena dia juga pernah berada di posisi yang sama denganku.
“Kita ke psikiater, ya?” tawarnya. Aku melepaskan pelukannya lalu mendelik menatapnya tak percaya.
“Kamu juga anggap aku gila?!” sahutku kesal.
Renzo terlihat frustrasi. “Sudah beberapa bulan pasca kecelakaan kamu selalu seperti ini. Aku bukannya menganggapmu gila. Aku nggak sanggup terus melihat kamu kek tadi dan dianggap gila oleh orang-orang.”
“Biarkan saja orang-orang anggap aku gila. Asal keluargaku dan kamu nggak anggap aku gila.”
“Oh ayolah, jangan keras kepala. Ini semua aku lakuin demi kebaikan kamu. Nggak ada maksud lain,” bujuknya membuatku semakin kesal.
“Itu sama saja kamu juga anggap aku gila. Aku nggak mau ke psikiater. Aku nggak gila!”
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah atas. Benar saja saat aku mendongak ada perempuan yang terjun dari lantai atas. “Awas!” Spontan aku dorong tubuh Renzo sampai terjengkang. Tapi anehnya, tubuh perempuan yang seharusnya sudah mendarat dan menimpa Renzo menghilang. Meninggalkan suara cekikik tanpa wujud. Ah, sial! Rupanya itu tadi makhluk astral. Kupikir wanita yang akan bunuh diri.
Renzo bangun dengan wajah kesal. “Kamu kenapa, sih? Makin ke sini makin kacau!” omelnya sambil menatapku kesal.
Kulihat dia memegangi sikunya. Merintih kesakitan. “Kenapa sikumu? Ada yang luka, ya?” Khawatir. Kuraih tangannya bermaksud hendak memeriksa sikunya, tapi tanganku ditepis. Dia lalu mengerang kesal. “Keadaannya semakin memprihatinkan, tapi diajak ke psikiater nggak mau,” gumamnya, terdengar jelas di telinga ini. Kemudian dia masuk ke dalam mobil duluan.
Aku terdiam. Antara bingung dan sedih. Suara klakson membuyarkan lamunanku.
“Kamu mau pulang apa tidak?” teriak Renzo dari dalam mobil. Aku lalu masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan hening tak ada obrolan. Aku canggung hendak memulai obrolan.
Sesampainya di rumah, setelah aku turun, Renzo langsung putar balik. Pulang. Tanpa berpamitan dan berkata sepatah pun. Aku merasa tak enak hati. Tapi, aku tidak bisa berbuat banyak.
***
Kejadian itu terulang lagi beberapa kali. Setiap aku jalan berdua dengan Renzo, tiba-tiba sosok astral itu muncul mengacaukan semuanya.
Pungkasnya kemarin, saat makan berdua dengan Renzo tiba-tiba muncul sosok yang selama ini mengikuti. Situasi pun jadi kacau. Bahkan lebih kacau dari biasanya. Renzo memutuskan hubungan yang baru seumur jagung ini lalu pergi meninggalkan aku di restoran seorang diri. Sungguh akhir kisah yang tragis.
Aku pikir, lambat laun dia akan semakin mengerti diriku. Dan kupikir dialah lelaki yang tepat. Namun, nyatanya aku salah.
“Sudahlah, Ran, lelaki seperti dia nggak usah ditangisi. Sayang air matamu. Kalau dia lelaki baik dan tulus mencintaimu ... dia nggak akan ninggalin kamu.” Ucapan Pamela kuangguki, tapi tangisku tak bisa berhenti.
Pamela memelukku menyalurkan kekuatan. Sampai tangisku berhenti, ia setia menemaniku di dalam kamar bernuansa biru langit ini.
“Gimana kalau kita jalan-jalan keluar?” saran Mela.
Aku menggeleng. “Enggak ah, entar yang ada aku bikin rusuh lagi dan cuma akan menyusahkanmu aja.”
“Enggaklah, aku nggak akan merasa direpotkan olehmu, Ran.”
“Males ah, Mel. Aku mau tidur aja. Rasanya energiku benar-benar terkuras.”
“Oke. Kalau gitu aku pamit pulang, ya. Kamu istirahat.”
“Maaf ya, bukan maksud ngusir.”
“Yaelah, santuy aja kali. Formal amat. Kek ama siapa aja.” Pamela keluar dari kamar setelah mempersilakan aku istirahat. Aku pun beranjak tidur. Rasanya lelah dan ngantuk sekali.
Aku terbangun langsung dalam posisi duduk usai memimpikan Tania. Dalam mimpi, adikku itu memintaku agar datang ke sana menemuinya. Dan ini sudah mimpi yang ke sekian kalinya. Mimpinya pun selalu sama. Entah apa artinya.
***
Mimpi tentang Tania terus mengusik ketenanganku. Sepertinya aku harus kembali ke desa itu untuk memastikan. Namun, apa aku sudah siap?
“Ma, Yah, aku ingin ziarah ke makan Tania,” ungkapku. Mama dan Ayah yang semula khidmat menikmati sarapan pun menghentikan aktivitasnya lalu kompak menatapku lekat.
“Kamu yakin mau kembali ke desa itu?” cecar Ayah, aku mengangguk. “Apa kamu sudah yakin bisa mengendalikan rasa traumamu?” Aku terdiam. Jujur, aku juga sebenarnya masih agak ngeri untuk kembali ke desa itu. Tapi, entah kenapa hati ini berkata aku harus ke sana.
***
Setelah beberapa hari memantapkan hati. Akhirnya hari ini aku packing akan pergi ziarah ke desa tempat Tania dimakamkan. Ditemani oleh Pamela dan satu sopirku, Mang Ule namanya.
Selain ingin ziarah ke makan Tania, aku juga ingin cari tahu kabar si dia. Tirta.
__________
Well, tunggu nextkisahk Rania, ya, di next part. Kira-kira Rania bakal ketemu nggak, ya, sama Tirta. Dan bagaimana momen pertemuan mereka?
__ADS_1
Coming soon ....