
Aku mengerjap dan membuka mata perlahan saat kudengar ada yang meneriakkan namaku berulang-kali tepukan lembut di pipi mengiringi. Perlahan pandangan mataku yang semula buram semakin terang. Aku bisa melihat langit-langit berwarna putih dan gorden warna hijau di sekeliling.
“Syukurlah, kamu sudah sadar, Ran!” Aku mengamati pemilik suara. Hanya ada Bayu saja di samping kananku.
“Bay, kita di mana?”
“Kita sedang di rumah sakit, Ran.”
Dahiku mengernyit mendengar apa yang Bayu paparkan. “Memangnya apa yang terjadi?”
“Kamu ingat sama angin yang memporak-porandakan area rumah Mbah Barjio?”
Kupaksa otakku me-review kejadian malam itu. Terakhir kurasakan kepala ini terantuk sesuatu sangat keras. Setelah itu semua jadi gelap. Kuraba kepala yang kini sudah dibalut kain kasa. Ada rasa nyeri pasti ini akibat benturan itu. “Ya, aku ingat Bay. Terus, Tirta, Mela sama Mang Ule mana, Bay?”
“Tenangkan dirimu, Ran!” kata Bayu sambil mengusap bahuku, “Mang Ule masih dirawat, karena badannya luka-luka akibat terbawa anging kencang itu. Mela sampai sekarang belum sadar juga, Ran ...,”
“APA?!” selaku syok.
“Padahal kata dokter kondisi badannya tidak sedang sakit. Semua organ dalamnya juga dalam kondisi baik,” lanjut Bayu.
“Sudah berapa lama kita di rumah sakit ini, Bay?”
“Sudah dua hari dua malam.”
“Hah?!” Aku memekik tak percaya.
“Iya, Ran. Sudah segitu lama. Malam itu aku sendiri yang masih dalam kondisi sadar, ya, meski badanku lecet-lecet juga. Terus aku ketemu Tirta, dia juga pingsan, tapi nggak lama kemudian dia sadar.” Bayu menghentikan pembicaraan sejenak guna mengatur napasnya.
“Kemudian kami berdua mencari kamu, Mela dan Mang Ule. Awalnya aku dan Tirta menemukan Mang Ule yang sedang merintih kesakitan. Syukurnya, sopir kamu itu masih bisa bangun dan berjalan meski terseok.” Bayu kembali menghentikan ceritanya sejenak guna ambil napas. Aku masih antusias menunggu lanjutan kisah kami malam itu.
“Kita bertiga lanjut cari kamu dan Mela. Kalian ditemukan dalam jarak yang berdekatan dalam kondisi pingsan, dan nggak sadar-sadar. Kita sangat khawatir karena pendarahan di kepalamu tidak berhenti-berhenti. Akhirnya Tirta bopong kamu, dan aku bopong Mela. Kita bergegas ke tempat mobil terparkir. Akhirnya kita pun sampai di rumah sakit ini dan kalian mendapat perawatan,” lanjut Bayu.
“Terus, sekarang Tirta di mana?”
Bayu menunduk lesu tidak langsung menjawab pertanyaanku.
“Tirta murung terus dari kemarin, Ran.”
“Hah, kenapa?”
“Kemarin Tirta tanya apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya. Terus aku ceritakan semuanya. Setelahnya dia jadi sering bengong, Ran.”
“Lagian kenapa kamu ceritakan ke dia, sih, Bay. Harusnya nanti aja nunggu kondisi mental dia pulih dulu.”
“Habis dia maksa, Ran.”
“Terus sekarang dia di mana? Cari terus ajak kemari!” pintaku.
“Oke. Tunggu, ya!” Bayu berdiri dan balik badan siap untuk pergi, tapi urung. Dia lantas kembali berbalik ke arahku.
“Oh, ya, Ran, kemarin Ayah dan Mamamu telepon ....”
__ADS_1
“Terus kamu ceritain semua yang terjadi padaku?” selaku cepat. Bayu mengangguk samar. “Duh, Bay, seharusnya kamu jangan cerita. Kalau gini pasti Ayah sama Mamaku bakal nyusul ke sini.”
“Ya, habis gimana ... Ayah dan Mamamu sangat khawatir dan memaksaku untuk mengatakan yang sebenarnya. Kata mereka hari ini meluncur ke sini,” terang Bayu. Aku cuma bisa menghela napas panjang. Dapat dipastikan Ayah pasti memaksaku untuk pulang nanti.
“Ya, udah, sana cari Tirta!” Bayu tersentak dari lamunan lantas bergegas mencari Tirta.
Dahiku mengernyit saat telinga ini menangkap suara tangisan yang memilukan. Aku berusaha bangun meski payah. Duduk di tepi ranjang pesakitan dan menajamkan pendengaran. Suara tangis itu masih ada, tapi samar.
Rasa penasaran semakin menggelayuti hati. Aku turun perlahan dari atas ranjang. Kuraih tiang penyangga infus dan mendorongnya. Kusingkap gorden pembatas ruangan, tapi tidak ada siapa pun di baliknya. Kosong. Suara tangis itu menghilang.
Mataku melirik ke kiri dan kanan saat ekor mataku menangkap sekelebat bayangan hitam melesat di belakangku. Gordennya pun bergoyang seolah diterpa angin, padahal tidak ada angin bertiup sebelumnya. Kipas angis di ruangan ini juga sedang tidak menyala.
“Siapa di situ?” Tidak ada yang menyahuti tanyaku. Hening.
Mataku membulat saat kurasakan ada yang menepuk bahu ini.
“Ran,” lirih si pemilik tangan. Aku masih terdiam. “Hei, kamu kenapa?” lanjut pemilik tangan sambil bermanuver ke hadapanku. Aku menghela napas lega ternyata bukan hantu.
“Ta, kamu sudah di sini?”
“Iya, aku sudah di sini. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya kemudian, “seharusnya jangan banyak gerak dulu. Yuk, balik tiduran lagi, gih!” lanjutnya. Aku nurut saat Tirta menggiringku kembali ke atas ranjang.
“Oh, ya, Bayu mana?”
“Dia melihat kondisi Mela dan Mang Ule,” terangnya.
Detik berikutnya Tirta duduk di kursi yang ada di sisi ranjang. “Istirahatlah!” titahnya, “atau kamu butuh sesuatu?” tanyanya kemduian.
“Oh, oke, sebentar, ya. Aku ambilkan makananmu di tempat suster.” Aku mengangguk, Tirta langsung bergegas ke luar ruangan mengambil makanan.
Saat aku sedang sendirian, suara tangis memilukan itu terdengar lagi. Aku mencoba masa bodoh, tapi tangisnya semakin menjadi. Rasa penasaran semakin kuat. “Siapa kamu sebenarnya?” tanyaku sambil mengedarkan pandangan. Tidak ada jawaban, tapi suara tangisan itu semakin menjadi-jadi.
“Maumu apa?” tanyaku sambil melirik ke kiri dan kanan.
“Tolong sayaaah!” Seperti ada yang berbisik dalam jarak sangat dekat, tapi tidak ada wujudnya. Hanya suara.
Mataku tertuju pada knop pintu yang berputar-putar secara brutal. Jantungku berdegup kencang menunggu siapa pembukanya. Kuharap bukan hantu.
Aku memejamkan mata saat pintu itu terbuka. Kudengar langkah kaki semakin mendekat. Perlahan kubuka mata. Huf, ternyata Tirta yang datang membawa nampan berisi makanan dan minumanku.
“Ran, kamu kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?” tanyanya cemas.
“Habis kamu buka pintunya brutal banget,” ketusku.
Tirta terkekeh sambil menaruh nampan di meja kecil samping ranjang. “Pintu tua suka macet susah dibuka,” terangnya.
“Oh.”
“Ya, sudah, yuk, makan. Aku suapin,” katanya lembut. Jantungku berdegup kencang saat Tirta menyodorkan sesendok nasi lengkap dengan sayurnya ke depan mulut ini. Mendadak gugup. Terlebih saat mata kami beradu seperti saat ini.
Perlahan Tirta menarik kembali tangan yang sudah siap menyuapiku. Detik berikutnya dia menunduk lesu dan menghela napas panjang. “Kamu ... bisa makan sendiri, kan?”
__ADS_1
Aku terdiam tidak mengerti kenapa mendadak Tirta berubah murung. Dia menaruh piring di sampingku. Sejurus kemudian dia beranjak dari duduk dan mengayunkan langkah menjauh.
“Ta, kamu kenapa?”
Tirta menghentikan langkahnya. “Maaf, ya, gara-gara aku ... kalian semua jadi susah dan harus mengalami musibah,” sahutnya parau. Lantas melanjutkan langkah meninggalkanku. Tidak menghiraukan panggilanku.
Aku menunduk lemas. Kemudian menepi berniat ingin menyusul Tirta. Namun, urung saat kulihat knop pintu digerakkan oleh seseorang dari luar.
“Tir ... ta ....” Kupikir Tirta kembali. Ternyata bukan dia yang datang. Melainkan Ayah dan Mama yang langsung heboh memeriksa kondisiku. Kemudian Mama menyuapiku memaksa agar aku makan barang sedikit.
“Oh, ya, gimana kondisi Mela dan Mang Ule?” tanya Ayah.
“Eum, mereka masih dirawat di ruangan lain, Yah.”
“Lagian gimana ceritanya, sih, sampai kalian bisa seperti ini?” Kali ini Mama yang bertanya sambil menyendok nasi untukku.
“Ceritanya panjang, Ma, Yah. Nanti aku ceritain,” jawabku. Sejurus kemudian aku menggeleng menolak saat Mama menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut.
“Satu suapan lagi!” paksa Mama. Aku menolak dengan gelengan.
“Sudah, Ma, aku sudah kenyang,” rengekku. Mama menghela napas panjang lantas meletakkan piring di meja samping ranjang.
“Ya, sudah, ini minum obatnya!” titah Mama kemudian sambil menyiapkan obat untukku.
“Yah, Ma, aku mau cari temen aku dulu, ya!” pintaku setelah selesai minum obat.
Dahi Ayah mengernyit. “Temen? Temen ... siapa?”
“Tirta, Yah.”
“Ayolah, Ran, jangan aneh-aneh! Kondisi badan kamu sendiri saja masih lemah begini. Sudah, istirahat aja!” tegas Ayah.
“Tapi, Yah ....”
“Nggak ada tapi-tapian! Istirahat!” tandas Ayah. Aku melirik ke arah Mama meminta pembelaan, tapi Mama juga sama melarangku dengan gelengan kecil.
“Dengerin apa kata Ayahmu!” kata Mama kemudian sambil menggenggam tanganku.
Ayah sama Mama memang begitu. Sejak kepergian Tania, mereka berdua jadi sangat overprotektif terhadapku. Aku tahu itu semua karena mereka takut kehilanganku.
Tapi, bagaimana dengan Tirta? Dia pergi ke mana? Aku sangat khawatir akan keadaannya. Pasti sekarang dia butuh seseorang untuk menguatkan dan menenangkan keresahannya.
Tirta pasti menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi padaku, Mela dan Mang Ule.
“Argh!” erangku saat kurasakan kepalaku sangat pusing dan pandangan mata berkunang-kunang.
“Nak, kamu kenapa?” tanya Ayah sambil memegangi kedua sisi bahu ini.
“Pusing, Yah.”
“Makanya istirahat! Jangan banyak pikiran!” tegas Ayah. Aku nurut saja saat Ayah menyuruhku berbaring. Kudengar Ayah meminta Mama untuk menjagaku. Sedang dirinya bergegas memanggil dokter.
__ADS_1