
“Rania, Mela, Sania!” Sekali lagi, suara Madam Carla memanggil kami bertiga.
“Apa kamu yakin itu Madam Carla?” tanyaku pada Mela. Mela yang semula sudah digendong oleh Sania meminta diturunkan lagi. Kini kami bertiga berdiri bersisian.
“Aku tidak yakin itu Madam Carla,” balas Mela setelah terdiam beberapa saat.
“Tapi ....” Ucapan Sania terjeda manakala suara Madam Carla kembali menggema di hutan ini, meneriakkan nama kami lagi.
“Tapi, sepertinya itu memang Madam Carla,” lanjut Sania. Kami bertiga pun kembali saling pandang. Aku lanjut mengedikkan bahu. Sama seperti Mela, aku juga tidak yakin.
“Bukannya Madam Carla pulang? Tidak mungkin kalau dia di sini,” lirih Mela.
“Tapi, itu suara Madam Carla. Pasti dia datang ke sini untuk menjemput kita,” ujar Sania bersemangat.
“San ....”
“Kami di sini, Madam!” Belum selesai aku bicara, Sania sudah berteriak memberitahu keberadaan kami pada sosok yang memiliki suara sangat mirip dengan Madam Carla. Aku harap ini bukan tipuan. Semoga saja memang benar itu Madam Carla.
“Kalian di mana?” Madam Carla bertanya sekali lagi, mungkin untuk memastikan. Aku dan Mela hanya diam. Sania yang terus menyahuti. Hingga akhirnya sosok Madam Carla terlihat. Menyembul dari balik pohon yang besar dan rindang, lalu melangkah tergesa kemari, raut wajahnya terlihat khawatir. Kening ini mengernyit, sepertinya itu memang Madam Carla.
“Oh, syukurlah. Akhirnya aku menemukan kalian. Kalian membuatku cemas saja. Bagaimana kondisi kalian?” cerocos Madam saat sudah berada di dekat kami.
“Tidak terlalu baik Madam. Kaki Mela terkilir. Dia kepayahan berjalan,” terang Sania. Aku dan Mela masih terdiam. Kurasa pikiran kami sama, masih meragukan keaslian sosok guru kami ini.
“Oh, astaga! Coba sini, biar aku periksa,” ujar Madam Carla dan langsung ambil posisi jongkok di hadapan Mela. Mela melirikku, yang kebetulan juga sedang melihat ke arahnya. Dari tatapan Mela dia sepertinya meminta pendapatku tentang keaslian Madam Carla. Aku mengedikkan bahu karena sampai saat ini, aku tidak bisa mendeteksi kejanggalan yang ada pada Madam Carla. Aku tidak tahu dia asli atau bukan.
“Coba duduk berselonjor kaki!” titah Madam pada Mela. Mela melirikku meminta pendapatku. Aku mengangguk saja dan dia pun akhirnya patuh.
“Ini kalau tidak dibenerin akan semakin parah,” kata Madam sambil meraba pergelangan kali Mela, “Tahan ya, ini akan terasa sedikit menyakitkan, tapi hanya sebentar,” imbuhnya.
“Eum, tidak perlu repot-repot Madam. Nanti juga sembuh sendiri,” tolak Mela. Raut wajah sahabatku itu terlihat ketakutan.
__ADS_1
“Ini akan lama sembuhnya kalau tidak diurut. Bisa-bisa malah makin parah. Sudah, tenang saja, sakitnya Cuma sebentar kok.” Madam Carla meyakinkan. Mela melirikku lagi meminta pembelaan dariku.
“Aaak!” jerit Mela. Belum sempat aku memberikan pembelaan, Madam Carla sudah beraksi. Ditariknya kaki Mela kuat-kuat hingga bunyi gemeletuk. Aku menutup mulutku yang menganga dengan kedua tangan. Apa kaki Mela dipatahkan? Sania juga tampak terkejut dengan aksi Madam Carla itu.
“Sekarang coba gerakkan memutar perlahan kakimu!” titah Madam Carla. Mela masih meringis kesakitan. Namun, Mela melakukan apa yang diperintahkan oleh Madam Carla. Terus mengikuti instruksinya hingga akhirnya raut wajah Mela tampak semringah.
“Gimana? Sudah enakan?” tanya Madam Carla. Mela mengangguk.
“I-iya. Sudah tidak sakit lagi!” seru Mela girang.
“Coba sekarang berdiri. Pelan-pelan!” Sesuai titah Madam, Mela pun berdiri perlahan, lalu berusaha melangkah perlahan.
“Kakiku sudah sembuh. Sudah tidak sakit lagi. Aku sudah bisa jalan sekarang!” Mela tampak bahagia sekali. Tindakan Madam Carla perlahan menghapus keraguan dalam hatiku. Kurasa keraguan dalam hati Mela juga terkikis.
“Terima kasih, Madam,” ucap Mela kemudian. Madam Carla mengangguk.
“Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera keluar dari hutan ini. Ayo, ikuti aku!” ujar Madam Carla memimpin perjalanan kami. Aku, Mela dan Sania mengangguk, lalu mengekor.
“Tadi suamiku nelpon lagi dan mengatakan jika semua sudah membaik dan mengizinkan aku melanjutkan perjalanan,” jawabnya. Aku mengangguk-angguk.
“Madam, bukannya portal arahnya di sana?” Kali ini Mela yang bertanya sambil menunjuk ke arah barat. Sedangkan kami kini melangkah menuju ke arah utara.
“Itu portal tipuan. Yang asli di sebelah sana,” jawab Madam sambil menunjuk arah utara. Mela langkahnya terhenti, dia seperti kebingungan. Aku juga ikut berhenti menunggunya, kemudian mempersilakan Sania jalan duluan.
“Apa kamu ragu?” tanyaku lirih.
“Antahlah,” jawabnya, lalu menggamit tanganku dan kami pun lanjut jalan menyusul Sania dan Madam Carla yang sudah jauh di depan.
Kami terus berjalan sambil berbincang. Sesekali bercanda guna mencairkan suasana yang tegang. Hingga akhirnya aku melupakan soal keaslian Madam Carla. Kami pun percaya sepenuhnya pada bimbingannya. Terus mengikutinya tanpa memperhatikan arah dan jalan yang kami lewati.
“Kakimu sudah benar-benar sembuh?” tanyaku, dan Mela mengangguk mantap diakhiri dengan senyum lega.
__ADS_1
“Syukurlah.”
“Madam, boleh kami istirahat sebentar? Aku capek,” pinta Sania. Madam Carla pun menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan kami.
“Tentu saja. Kenapa tidak?” balas Madam sesaat setelah berbalik.
Sania langsung duduk di atas akar pohon yang sangat besar. Aku dan Mela akhirnya ikut duduk juga. Madam berdiri membelakangi kami bertiga.
“Madam, apa masih jauh portalnya?” tanya Mela memecah sunyi.
“Tidak. Sebentar lagi kita sampai.”
Mendengar jawaban Madam, kami bertiga saling pandang, kemudian tersenyum lega. Sebentar lagi kami akan keluar dari hutan ilusi ini. Lalu, aku akan kembali bertemu dengan suamiku. Rasanya sudah tidak sabar menunggu momen itu. Meski baru beberapa saat terpisah dari suamiku, tapi rasanya rindu ini sudah menggebu.
Aku langsung menoleh kebingungan manakala telinga ini seperti mendengar suara suamiku memanggil. Menyuruhku cepat kembali. Mela yang menyadari aku celingukan kebingungan, dia bertanya, “Kamu kenapa? Apa semua baik-baik saja?”
Madam Carla pun berbalik dan menatapku. Tatapan Madam Carla sulit diartikan. Tapi yang jelas, tatapannya sangat aneh. Tidak seperti biasanya.
“Sudah istirahatnya. Kita lanjut jalan!” ajak Madam. Kami bertiga pun bangkit dari duduk dan kembali mengekor.
“Madam yakin ke sini arah portal itu?” tanya Mela.
Madam Carla langsung berbalik. Otomatis langkah kami bertiga terhenti. “Aku tahu segalanya. Kamu meragukanku?”
“Eum, ti-tidak Madam. Aku hanya memastikan saja,” balas Mela tergagap sambil menunduk tak berani membalas tatapan Madam Carla yang tajam.
“Tidak usah banyak tanya. Ikuti saja aku. Paham?!” Nada suara Madam Carla terdengar seperti orang sedang jengkel. Ini aneh, tidak seperti biasanya Madam Carla marah begini hanya perkara sepele. Keyakinanku pada Madam mulai memudar lagi. Namun, aku tak bisa berbuat banyak. Dalam hati ini sebenarnya ingin menolak mengikuti Madam dan memisahkan diri darinya. Namun, entah kenapa itu terasa begitu sulit kulakukan. Kaki ini seolah terhipnotis mengikutinya. Aku tak bisa menolak setiap perintah Madam. Aku rasa Mela dan Sania juga sama.
Aku terus berjalan sambil melamun. Pikiranku ke mana-mana. Sampai akhirnya langkahku terhenti manakala Mela menghentikan langkahnya dan langsung mencengkeram lengan ini kuat sekali. Aku bertanya ‘ada apa’ menggunakan gerakan wajah. Mela menyuruhku melihat ke depan menggunakan gerakan kepala juga. Aku pun melihat ke depan dan seketika badanku kaku.
“Loh, kok kita ke sini lagi, Madam?”
__ADS_1
Baru saja aku hendak memperingatkan Sania agar jangan mengeluarkan sepatah kata, tetapi dia malah sudah melontarkan pertanyaan. Madam Carla yang tengah sibuk membuka pintu pun berbalik dan menampakkan wujud aslinya. Sania menjerit histeris, lalu bergeser mundur menyejajarkan posisinya denganku dan Mela. Kami bertiga berpegangan tangan. Nenek-nenek berambut putih panjang kusut, lingkar mata hitam senada dengan kuku-kukunya yang panjang itu terkekek. Tawanya menggema khas suara tawa nenek tua. Tak hanya kuku dan lingkar mata saja yang hitam, giginya juga. Sania yang memang penakut semakin histeris melihat penampakan nenek yang semakin menampakkan wujud buruknya. Kini, bola matanya berubah putih semua, dan melangkah makin mendekati kami bertiga. Meski hati ini ingin berlari, tetapi entah kenapa kaki ini seolah tertanam di tanah. Dan dalam sekejap mata, kami bertiga sudah berada di dalam bilik bambu. Pintu berdebum tertutup.