TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Bola Api


__ADS_3

“Bay!” teriakku saat sesuatu yang melilit di kaki menarik tubuhku. Aku mengulurkan tangan, Bayu berusaha meraihnya dan menahanku agar tidak tertarik. Namun, genggaman tangan Bayu terlepas aku kembali terseret dengan posisi telungkup ke tanah. Kuraih nisan dan kujadikan pegangan agar tidak terus terseret. Sialnya, nisan yang aku pegang tidak terlalu kuat menahan tubuhku. Malah roboh dan aku kembali terseret.


“Bay, tolong aku!” teriakku. Bayu berlari melompati gundukan tanah dan berusaha meraih tanganku. Aku menoleh sekilas ke arah kaki melihat apa yang membelit di sana. Ternyata rambut hitam panjang. Entah rambut siapa.


“Bayu! Cepetan tolongin aku!” pekikku sambil menahan rasa ngeri dan nyeri di perut akibat tergores tanah.


“Tahan, Ran!” Bayu akhirnya dapat meraih tanganku. Dia menaruh senternya di gundukan tanah kuburan. Lantas berusaha melepaskan sesuatu yang membelit kakiku.


“Hanya semak, Ran,” jelas Bayu.


“Semak palamu!” sergahku. Lantas merubah posisi yang semula tertelungkup menjadi duduk.


“Serius, nih!” Bayu menunjukkan sesuatu yang tadi melilit di kaki.


“Bukan itu. Tadi aku sempet liat. Yang narik kakiku itu berbentuk seperti rambut warna hitam panjang, Bay!” jelasku.


“Ya sudahlah, nggak usah dibahas. Terpenting sudah lepas, kan.” Bayu menimpali. Lalu mengambil senter yang semula dibiarkan tergeletak di atas kuburan.


Aku mengusap baju yang kotor juga mengusap dengkulku yang lecet-lecet akibat tarikan makhluk nggak ada akhlak tadi. Bayu mengarahkan sorot senter ke lututku.


“Perih, ya?” tanyanya.


“Ya, menurutmu? Perihlah!” ketusku.


“Mau diobatin dulu, nggak?”


“Pake apa?” sahutku ketus.


“Pake dedaunan atau apa gitu.”


“Nggak usahlah, Bay. Nanti juga sembuh. Sekarang kita lanjut cari Mela sama Mang Ule aja.”


“Ya sudah, kalau gitu. Ayo. Tapi, kamu yakin itu lututmu bisa buat jalan?”


“Bisa, Bay. Aman. Ayo!” ajakku. Kami berdua lanjut berjalan mencari keberadaan Mela dan Mang Ule.


“Mang Ule! Mela!” panggilku.


“Non, mamang di sini!” sahut seseorang dari arah pojok pekuburan. Bayu pun langsung menyorotkan senternya ke bawah pohon beringin. Mang Ule duduk lemas di sana. Aku dan Bayu langsung mendekat.


“Mang. Mamang kenapa?” tanyaku panik.


“Lemes banget, Non. Kaki mamang perih,” rintihnya. Bayu menyorotkan senter ke kaki Mang Ule, banyak luka lecet mungkin akibat tadi dia lari tak tentu arah.


“Lagian tadi Mamang kenapa malah lari pas aku sama Bayu nyamperin?” tanyaku.


“Tadi itu di penglihatanku bukan Non Rania dan Mas Bayu, tapi seperti makhluk besar hitam dan bermata merah menyala.” Aku dan Bayu saling pandang usai mendengar penjelasan Mang Ule.


“Itu tadi aku sama Bayu, Mang,” jelasku, “lagian tadi pas senternya mati kenapa Mamang dan Mela tiba-tiba menghilang?” tanyaku kemudian.


“Semua terjadi begitu saja, Non. Dalam sekejap mamang sudah berada di tempat lain terpisah dari Non Rania dan Bayu juga Mela. Mamang berusaha mencari kalian, tapi tidak kelihatan.”


“Sekarang bagaimana kondisi Mamang?” tanya Bayu.


“Sudah baikan. Tinggal kaki rasanya perih semua,” jawab Mang Ule.


“Jelas saja, la wong luka-luka begitu,” timpal Bayu.


“Tapi, Mamang bisa jalan nggak?” tanyaku.


“Bisa Non!” Aku dan Bayu lantas membantunya berdiri, dan kami lanjut mencari Mela.


Kini senternya tinggal satu yang dipegang Bayu. Senter milik Mang Ule pun hilang entah di mana jatuhnya. Aku menggunakan senter di ponselku untuk membantu penerangan jalan kami.


“Sssth!” desis Bayu memberi isyarat agar kami berhenti dan diam. Di kejauhan terdengar suara tangis seorang wanita yang begitu menyayat hati.


“Apa itu Mela?” bisikku.


“Bisa jadi. Ayo, coba kita samperin!” ajak Bayu.


“Mela! Kaukah di sana?” teriakku. Namun, tidak menyahut. Suara tangisnya malah semakin menjadi. Aku yang mendengarnya ikut sesak. Sungguh memilukan. Seolah sedang ditimpa masalah yang sangat berat.


Semakin dekat dengan suara tangis, sorot senter Bayu membentur sosok wanita yang sedang duduk berjongkok di sisi kuburan dan sedang menangis. Sosok itu membelakangi kami sehingga sulit mendeteksi wajahnya.


“Kayaknya itu beneran Mela kalau dilihat dari baju yang dikenakan, Bay, Mang,” kataku.

__ADS_1


“Sepertinya benar itu Non Mela,” sahut Mang Ule.


“Ya sudah, kita coba lebih mendekat lagi!” ajak Bayu.


Perlahan kami bertiga mendekati sosok wanita yang masih berjongkok dan menangis di sisi kuburan. Nisan di atas makam itu rusak.


“Bay, itu beneran Mela!” seruku girang. Aku bergegas mendekatinya, dan menepuk bahunya. Tangisnya pun seketika terhenti. Bayu menyorotkan senter ke arah kami berdua. Mela berbalik menatapku tajam.


“Kalian telah merusak kuburanku!” teriak Mela suaranya sangat mengerikan. Membahana.


“Kami minta maaf kalau sudah tanpa sengaja merusak makam di sini. Kami janji akan benerin nisannya, tapi siapa pun kamu yang merasuki sahabatku, tolong, keluar!” kataku sambil menunjuk sosok yang ada di dalam tubuh Mela.


“Tidak! Aku tidak akan keluar sebelum kalian benerin nisanku!” teriaknya penuh murka.


“Bay, benerin!” titahku. Bayu menyerahkan senternya ke Mang Ule, sementara dirinya membetulkan nisan yang tadi tanpa sengaja tertabrak olehnya saat menangani Mang Ule kerasukan.


Bruk!


Mela ambruk tak sadarkan diri setelah makhluk yang merasukinya keluar. Bayu bergegas meraih kepalanya dan disandarkan pada pahanya. Aku menepuk-nepuk pipinya perlahan mencoba menyadarkannya. “Mela, sadar, Mel!”


“Non Mela, bangun!” panggil Mang Ule.


Tak lama Mela meleguh lalu membuka matanya, dan langsung membelalak saat matanya membentur wajah Bayu. Detik berikutnya Mela beringsut duduk dan memegangi keningnya.


“Duduk aja dulu, Mel! Kalau masih pusing!” titahku.


“Ini kenapa kepalaku pusing banget, Ran?” tanya Mela parau, “perutku juga mual banget,” lanjutnya. Mela langsung mual-mual, tapi tidak keluar apa pun.


“Bay, tadi aku juga nggak sengaja robohin nisan di sana. Daripada kejadian kayak gini terulang lagi mending kita benerin dulu sebelum keluar dari pekuburan ini,” saranku, “gimana?” tanyaku kemudian.


“Boleh. Nanti sambil mengarah ke sana kita benerin,” sahut Bayu.


“Mel, gimana keadaanmu? Sudah bisa melanjutkan perjalanan lagi, belum?” tanyaku sambil memengang kedua sisi bahunya. Mela mengangguk lemah, detik berikutnya ia berdiri dibantu Bayu. Sengaja aku biarkan Bayu yang membantu. Biar mereka lebih dekat. Siapa tahu saja ngeklik.


Setelah menancapkan kembali nisan yang tadi roboh olehku, kami kembali melanjutkan perjalanan. Menggunakan satu senter milik Bayu itu pun sinarnya sudah mulai meredup. Punya Mela dan Mang Ule hilang entah di mana. Tidak ada waktu lagi jika harus mencari senter yang hilang terlebih dahulu. Aura di makam ini semakin malam semakin negatif dan panas.


Saat berhasil keluar dari area pekuburan, aku menghela napas lega. Rasanya seperti baru keluar dari dimensi lain.


“Istirahat bentar, gaes!” ajakku di sela napas yang terengah. Semua pun menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon rindang. Entah pohon apa. Tidak begitu jelas. Semua terlihat hitam dalam gelap.


Kuusap keringat yang sedari tadi membanjiri kening. Pun dengan Mela, Mang Ule dan Bayu. Kompak mengusap keringat masing-masing.


“Masih jauh nggak, sih, Bay, rumahnya?” tanyaku penasaran.


“Enggak, bentar lagi sampai, Ran. Lewatin kisaran satu hektar hutan jati, terus sampai deh di hutan pinus area perumahan keluarganya Sekar,” jelas Bayu.


“Lagian, kenapa sih, dukun itu memilih buat rumah mencil kek gini?” tanya Mela. Mewakili tanyaku.


“Menurut cerita dari warga. Dulu jamannya neneknya Sekar masih ada dia diusir oleh warga karena ketahuan mempelajari ilmu hitam,” jelas Bayu sambil melanjutkan langkah.


“Jadi, dari zaman neneknya itu bocah sudah jadi penganut ilmu hitam?” sahut Mang Ule.


“Iya,” jawab Bayu, “sssth!” lanjutnya memberi isyarat agar kami diam dan menghentikan langkah. Bayu mematikan senternya.


“Ada apa, Bay?” tanya Mela dengan nada lirih, “kenapa senternya dimatiin? Gelap tauk!” lanjutnya.


“Lihat itu di sana!” Meski gelap, samar aku bisa melihat ke mana arah yang ditunjuk oleh Bayu. Aku melihat ke depan. Beberapa puluh meter di depan sana ada kebun pinus yang di tengahnya terdapat kerlip lentera. “Itu yang ada lenteranya, nah, di sana itu rumah dukunnya,” jelas Bayu kemudian.


“Iya, aku lihat,” sahut Mela.


“Mamang juga lihat.” Mang Ule menimpali.


“Kalian bertiga harus ke sana tanpa aku,” ujar Bayu.


“Te-terus, kamu gimana?” tanya Mela, nada suaranya terdengar cemas.


“No problem. Aku akan menunggu di sini,” jawab Bayu.


“Di sini? Di tempat seperti ini?” tanya Mela tak percaya.


“Bukan, aku akan menunggu di sana!” Bayu menyenter sebuah pondok berbentuk panggung yang terletak di tengah hutan jati.


“Kamu yakin, Bay? Mau nunggu di sana? Gelap dan pasti banyak nyamuk,” sahutku.


“Tenang aku bawa lotion pengusir nyamuk, kok.” Bayu menunjukkan lotion sashetan yang ada di saku celananya.

__ADS_1


“Tapi, emang kamu nggak takut sendiri?” tanya Mela.


Bayu terkekeh. “Sudah biasa sendiri. Kalau soal gelap dan hantu, sudah kayak teman bagiku,” jawabnya kemudian, “oh ya, ingat saat di sana nanti, salah satu dari kalian saja yang menjawab jika ditanya. Kemudian lainnya cukup membenarkan atau mengiyakan saja,” lanjutnya.


Aku, Mela dan Mang Ule mengangguk paham.


“Nanti biar Rania saja yang jawab,” celetuk Mela.


“Iya,” jawabku.


“Setuju,” sahut Mang Ule.


“Tapi, lewat mana ke sananya, Bay?” tanyaku kemudian.


Lagi, Bayu menyorotkan senter ke jalan setapak yang membujur di depan kami. “Ini, kalian ikuti saja jalan ini. Nanti bakal sampai ke rumah dukun itu,” jelasnya.


Aku mengangguk paham. “Ya sudah, ini senternya. Cepatlah ke sana. Dan ingat, saat sampai di sana kendalikan dirimu, Ran! Jangan sampai memantik rasa curiga pemilik rumah. Oke!” Bayu mewanti-wanti, aku mengangguk mengerti. Lantas mengambil alih senter dari tangan Bayu. Setelah berpelukan dengan Bayu, aku, Mela dan Mang Ule melanjutkan langkah meninggalkan Bayu yang terus memantau langkah kami.


Saat kaki ini mulai melangkah memasuki hutan pinus, terasa berat seolah seperti ada yang membebani.


“Aduh, pundakku kenapa mendadak terasa berat begini,” rengek Mela.


“Sama Non, aku juga tanganku seperti ada yang membebani,” timpal Mang Ule. Langkah kami bertiga terseok-seok seolah keberatan sesuatu, tapi anehnya mata batinku tidak dapat melihat sosok apa yang mengganggu kami. Penglihatanku seolah terhalangi kabut hitam.


“Ran, senternya kok dimatiin?” seru Mela ketakutan.


“Mati sendiri, mungkin habis baterainya,” sahutku, “pake senter di HP aja,” saranku kemudian. Mela mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


“Ck, ponselku ngadat, Ran!” serunya panik.


“Tenang! Coba nyalain lagi!” titahku.


“Udah. Tetep nggak bisa, Ran!” Nada suara Mela semakin panik.


“Non, lihat itu!” seru Mang Ule.


“Apa, Mang?” tanyaku.


“Lihat ke atas!” Sesuai titah Mang Ule aku mendongak.


Mataku membelalak saat melihat penampakan bola api terbang di atas kepala kami bertiga. Banaspati.


“Lari!” teriakku. Kami bertiga berlari terseok menuju rumah dukun. Jantung berdebar tak karuan. Pikiran pun kacau balau. Keringat dingin membanjiri badan. Bola api itu terus mengejar kami bertiga hingga sampai di teras rumah si dukun.


“Tolong! Tolong! Tolong!” teriakku sambil menggedor pintu rumah sang dukun.


Sementara bola api itu terus berkobar di udara seolah siap menyerang kami bertiga.


Pintu akhirnya dibuka oleh seseorang dari dalam. Tepat saat pintu terbuka, bola api itu lenyap. Aku menghela napas lega. Kemudian aku menoleh ke arah sang pembuka pintu, detik berikutnya terpaku saat mataku beradu dengan matanya. Tirta. Ingin sekali aku memeluknya, menumpahkan rindu yang menggebu dalam dekapannya.


“Siapa yang datang, Sayang?” tanya seorang wanita dari arah dalam membuyarkan lamunanku.


“Kendalikan dirimu,” bisik Mela. Aku berusaha mengendalikan diri, tapi sulit. Air mataku tak terbendung lagi. Jatuh berderai setiap kali melihat kondisi Tirta.


Sesaat kemudian menyembul seorang wanita yang tadi memanggil Tirta dengan sebutan ‘sayang’. Kurasa dialah wanita yang bernama Sekar itu.


“Kalian siapa? Dan ada keperluan apa malam-malam datang ke sini?” ketus wanita yang berdiri di samping Tirta.


Aku, Mela dan Mang Ule saling pandang.


“Kami dari kota, dan tidak tahu kenapa malah tersesat kemari setelah sebelumnya kami tersesat di kuburan angker di sana,” jelasku sambil menunjuk ke sembarang arah.


“Benarkah?” sahut wanita itu. Detik berikutnya ia bergelayut manja di lengan Tirta. Hatiku memanas melihat pemandangan itu.


“Siapa yang datang? Kenapa tidak disuruh masuk?” sahut seorang wanita dari arah dalam rumah.


“Orang dari kota, Bu. Katanya tersesat,” jelas wanita di samping Tirta.


“Ajak masuk!” titah wanita di dalam rumah. Detik berikutnya wanita yang aku yakini bernama Sekar itu menyuruh kami masuk.


Suasananya sangat aneh saat aku sudah duduk lesehan di ruang tamu beralaskan tikar. Panas dan sesak. Padahal suasana di desa ini biasanya sangat dingin jika hari telah malam. Terlebih di area hutan pinus begini seharusnya sejuk, bukan?


“Gerah,” bisik Mela sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah guna mengusir rasa panas. Pun dengan Mang Ule ia melonggarkan kerah kaosnya dan meniupi dadanya.


Penghuni rumah berdinding papan ini keluar, dan duduk membentuk lingkaran di atas tikar. Termasuk Tirta. Dia duduk berhadapan denganku, di sisinya ada Sekar yang selalu bergelayut manja di lengannya. Rahangku mengeras, dan hati ini memanas. Rasanya ingin sekali aku menjambak rambutnya. Menyebalkan.

__ADS_1


Aroma kemenyan menguar mengiringi kedatangan pria paruh baya. Pria itu lantas duduk dan menatap kami bertiga penuh selidik. Aku yakin, dialah dukun itu.


Mungkin saja habis melakukan sebuah ritual sehingga aroma kemenyannya menempel di badannya dan terbawa sampai sini.


__ADS_2