
“Mesti cari Tirta ke mana lagi, ya, Mel?”
“Gimana kalau kita coba tanya ke Lurah atau RT kampung ini. Pasti mereka tahu dong, mana mungkin sama warganya sendiri nggak tahu, ya, ‘kan?” usul Mela.
“Bener itu apa kata Non Mela,” sahut Mang Ule. Aku mengangguk setuju.
“Iya, Non, sekalian lapor atas kedatangan kita ke desa ini. Kita belum buat laporan, loh.”
“Oh, iya juga, ya, Mang. Aku sampai lupa,” balasku. Mang Ule terkekeh.
“Ya sudah, kita langsung aja ke rumah Pak Lurah dulu!” ajakku.
“Emang kamu tahu di mana rumahnya?” tanya Mela. Aku menggeleng.
“Gimana, sih?” ucap Mela dan Mang Ule kompak.
“Kita tanya saja sama warga. Tuh, di depan ada orang. Nanti berhenti dulu, kita tanya sama mereka.”
“Siap, Non!” sahut Mang Ule. Sedangkan Mela melihat ke arah yang aku tunjuk.
“Siapa yang mau tanya?” tanya Mela. Aku mengedikkan bahu.
“Ya sudah, biar mamang saja!” tawar Mang Ule, dan langsung turun dari mobil lantas bertanya akan di mana kediaman Pak Lurah. Warga pun tak segan memberiahu di mana letak rumah Lurah sini.
“Terima kasih,” pungkas Mang Ule. Warga menyahut kompak. Lalu Mang Ule kembali ke dalam mobil.
“Gimana Mang?” tanya Mela.
“Aman, Non. Sekarang mamang sudah tahu ke mana harus melajukan mobil ini.”
“Cakep!” sahut Mela seraya mengacungkan jempolnya.
“Nama lurahnya Bandi, kata warga tadi,” lanjut Mang Ule menjelaskan. Aku dan Mela mengangguk paham.
Setelah melajukan mobil di jalan berkelok, menanjak dan menurun. Akhirnya sampai di halaman rumah yang lumayan luas. Rumahnya pun terlihat paling bagus di antara rumah lain yang terdapat di sekitarnya.
“Mamang yakin, ini rumah Pak Lurah?” tanyaku memastikan.
“Aman Non. Yakin ini rumah sesuai petunjuk warga tadi,” jawab Mang Ule mantap.
Baru saja kami bertiga hendak melangkah ke teras. Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian rapi keluar dari balik pintu bernuansa putih.
“Eh, ada tamu rupanya,” ucap Bapak berbadan tambun yang kini menyambut kami di teras.
Kami pun bergegas ke teras menyalaminya.
“Apa benar ini rumah Pak Lurah Bandi?” tanyaku memastikan.
“Iya, benar. Saya Bandi,” jawabnya. Kemudian mempersilakan kami masuk dan duduk. Pak Lurah pun memanggil istrinya guna membuatkan minuman dan menyiapkan cemilan untuk kami.
“Nggak usah repot-repot, Pak!” kataku basa-basi.
“Nggak repot, kok. Cuma air sama cemilan alakadarnya,” jawab Pak Bandi. Sambil menanti minuman dan hidangan tersaji, kami mengobrol ringan. Pak Lurah menanyakan kami ini siapa dan dari mana serta ada tujuan apa datang ke desa ini.
Aku pun menjelaskan tujuan kedatanganku ke desa ini. Selain untuk ziarah ke makam Tania, juga hendak meninjau pabrik singkong Ayah.
Tak lama istri Pak Bandi datang menyajikan minuman dan cemilan di meja sehingga obrolan kami terjeda.
“Ayo, silakan diminum dan dicicipi cemilan khas desanya,” titah istri Pak Bandi.
“Iya, Bu. Terima kasih,” jawabku.
“Ayo dicicip!” Kali ini Pak Bandi yang mempersilakan. Kami bertiga mengangguk kompak. Mang Ule langsung mengambil singkong goreng dan melahapnya. Dasar Mang Ule, malu-maluin aja!
“Beginilah keadaan di desa. Cemilan andalannya, ya, paling banter singkong goreng dan pisang goreng,” jelas Pak Bandi.
“Justru ini cemilan nikmat dan sehat, Pak,” sahut Mela sambil mengambil satu singkong goreng dan memakannya. Aku memilih hanya menyeruput tehnya saja. Entahlah, pikiranku kacau terus kepikiran Tirta. Sehingga hilang nafsu makanku.
__ADS_1
“Loh, Mbak Rania kok nggak makan gorengannya? Kenapa? Nggak suka, ya?” tanya Pak Bandi. “Ayo Mbak, dimakan!” lanjutnya sambil menggeser piring berisi singkong goreng ke hadapanku. Aku mengangguk saja. Lalu mengambil satu demi untuk menghargai tuan rumah.
“Oh, ya, kalau mau ke pabrik Ayah saya lewat mana, ya, Pak? Saya lupa jalannya,” tanyaku lanjut nyengir.
“Wajar kalau lupa. Sudah lima tahun nggak ke sini. Di sini juga sudah banyak perubahan. Sejak saya jadi lurah di sini, saya berusaha memajukan pembangunan di desa ini.”
Aku dan Mela juga Mang Ule mengangguk-angguk.
“Bagus itu, Pak. Semangat Pak!” sahut Mela. Pak Lurah terkekeh bangga. Detik berikutnya Mela mengambil satu lagi singkong goreng dan melahapnya. Dasar! Kompak banget sama Mang Ule.
Pak Bandi lalu menjelaskan ke mana kami harus mengarah jika ingin ke pabrik singkong milik Ayah.
“Terima kasih, ya, Pak.”
“Iya, sama-sama Mbak Rania,” jawab Pak Bandi. “Kalau butuh bantuan dalam hal apa pun langsung saja hubungi saya. Insya Allah, siap bantu,” tawarnya kemudian. Aku mengangguk saja.
“Oh ya, Pak. Sekalian mau lapor untuk izin tinggal di desa ini selama beberapa hari ke depan,” lanjutku nyaris saja lupa karena asyik mengobrol ini itu.
“Siap siap! Nanti saya catat laporan kalian.”
“Terima kasih, Pak.”
“Ayo, dimakan lagi gorengannya!” titah Pak Bandi kemudian. Kami bertiga kompak mengangguk. Aku yakin, Mela dan Mang Ule pasti sudah kenyang. Selama aku dan Pak Lurah berbincang mereka berdua makan terus. Sampai di piring tinggal sisa beberapa potong saja singkong gorengnya. Rakus! Memalukan!
“Oh, ya, Pak. Kalau Tirta, Bapak tahu tidak sekarang dia tinggal di mana?”
“Tirta? Tirta yang mana, ya?”
“Itu loh, Pak, Tirta yang dulu teman sekolah saya, yang terkenal sebagai anak kurang waras,” jelasku. Maafkan aku, Ta, aku terpaksa bilang begini. Mau gimana lagi, dulu warga sini memanggilmu bocah edan.
Pak Bandi saling tatap dengan sang istri yang duduk di sisinya. “Oh, ya, Bu, sekarang jam berapa?” Pak Bandi mengamati jam yang menempel di dinding. Bu Lurah juga ikut mengamati. “Sudah jam segini. Maaf, saya mau segera ada rapat di balai desa,” lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
“Pak, saya mohon! Kalau Bapak dan Ibu tahu di mana keberadaan Tirta, tolong beritahu saya!” pintaku dengan tidak mengurangi rasa hormat.
“Maaf, saya buru-buru!” dalih Pak Bandi dan langsung beranjak dari duduk.
“Aneh banget. Masa Pak Lurah juga terkesan menghindar gitu pas ditanya soal temen kamu yang bernama Tirta itu. Sumpah, ya, aku jadi penasaran tau gak. Sebenernya apa sih, yang terjadi sama si Tirta itu?” cerocos Mela. Aku menghela napas panjang lalu melihat ke luar jendela.
“Sekarang kita mau ke mana dulu, Non?” tanya Mang Ule.
“Kita tanya warga di mana rumah Pak RT, Mang.”
“Buat apa lagi, Ran?” sahut Mela.
“Ya, tanya ke Pak RT soal keberadaan Tirta.”
“Ran, coba deh, lo pikirin. Kalau Pak Bandi yang pangkatnya Lurah di desa sini aja kayak tadi jawabannya pas lo tanya soal Tirta. Gimana RT, RW, pasti sama ajalah. Gue nggak yakin. Mending kita ke pabrik Ayah lo aja dulu. Menunaikan amanah dari Ayah lo untuk meninjau pabriknya.”
“Ya sudah, kita ke pabrik, Mang!”
“Siap, Non!” jawab Mang Ule lalu melajukan mobil ke arah pabrik.
Saat sampai di depan pabrik aku melihat ada semacam kabut hitam menyelimuti pabrik Ayah.
“Ada apa, Ran?” tanya Mela.
“Enggak. Nggak ada apa-apa.”
“Ya sudah, ayo masuk!” ajak Mela. Aku mengangguk.
“Non, mamang tunggu di mobil saja, ya!” pinta Mang Ule. Dia terlihat agak ketakutan mau masuk pabrik. Mungkin karena memang auranya sangat negatif. Jadi, Mang Ule merasa tidak nyaman di area pabrik ini.
“Ya sudah, Mamang tunggu di mobil saja,” jawabku. Lalu aku masuk ke dalam pabrik bersama Mela.
Sesampainya di dalam terlihat sepi. Hanya ada beberapa karyawan dan warga yang masih mau datang menyuplai singkongnya ke pabrik ini.
Aku langsung ke ruangan Pak Aldi orang yang Ayah percaya untuk mengelola pabrik ini.
__ADS_1
“Eh, ada Mbak Rania. Mari masuk!” Pak Aldi menyambut kedatangan kami dengan ramah. “Ayo, silakan duduk!” lanjutnya. Aku dan Mela pun duduk bersisian di sofa. Sedangkan Pak Aldi duduk di sofa seberang meja.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada pabrik ini, Pak? Kenapa penyuplai singkong sekarang menurun drastis?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Ini semua terjadi sejak ada pengusaha yang mendirikan pabrik baru tidak jauh dari sini. Hampir semua suplaiyer berpindah ke pabrik baru itu,” jelas Pak Aldi.
“Kenapa bisa begitu? Apa pabrik baru itu menjanjikan harga yang lebih tinggi, Pak?”
“Justru di situ anehnya, Mbak Rania.”
Aku mengernyitkan dahi. “Aneh bagaimana, Pak?”
“Pabrik baru itu mematok harga sedikit lebih rendah dari pabrik ini. Sebelumnya memang lebih tinggi, tapi sekarang sejak suplaiyernya rame justru menurunkan harga pembelian. Tapi, anehnya tetap ramai penyuplai.”
“Fiks, ini ada yang nggak beres, Ran,” sahut Mela.
“Aku juga berpikir begitu, Mel.”
“Waktu itu juga sempat ada orang yang memasang sesajen di belakang pabrik ini, Mbak. Entah tujuannya apa saya tidak tahu pasti. Tapi, kata orang itu semacam sajen guna-guna supaya pabrik ini bangkrut.”
Penjelasan Pak Aldi masuk akal. Mungkin saja kabut hitam yang menyelimuti pabrik ini penyebab timbulnya aura negatif di sini.
“Sejak penemuan sajen entah siapa pemasangnya itu. Semua karyawan dan penyuplai tidak betah berlama-lama di pabrik ini,” imbuh Pak Aldi.
“Saya juga merasakan hal itu, Pak!” sahut Mela. “Nggak betah, rasanya nggak nyaman banget di sini, Ran!” lanjutnya sambil mengusap tengkuk.
“Kenapa? Kamu merinding, Mel?” Mela mengangguki tanyaku.
“Kita pergi yuk, dari sini!” rengek Mela sambil menarik-narik lenganku.
“Iya, sebentar, Mel!”
“Kalau berhadapan dengan ilmu hitam atau sihir memang sulit, Pak.”
“Pernah ada yang menyarankan untuk mengadakan ruwatan di sini, Mbak. Tapi, sampai sekarang belum saya lakukan. Karena kata Pak Devan, saya disuruh menunggu koordinasi dari Mbak Rania.”
“Kalau bisa jangan diadakan ritual semacam itu, Pak. Nanti coba saya pikirkan gimana cara mengembalikan aura positif di pabrik ini.”
“Baik, Mbak Rania.”
“Ran, ayo kita keluar!” rengek Mela. Sepertinya dia sudah sangat tidak nyaman berada di ruangan ini.
“Ya sudah, kita pergi dulu, ya, Pak!” pamitku. Pak Aldi mempersilakan. Baru saja aku dan Mela mau keluar. Datang seorang karyawan memberitahukan jika Mang Ule kerasukan.
“Hah?! Mang Ule kerasukan?!” seru Mela. Lalu aku dan Mela, juga Pak Aldi bergegas ke depan melihat kondisi Mang Ule.
Mang Ule terus berteriak mengusir kami pergi dari sini. Sosok yang merasuki Mang Ule itu mengaku jika pabrik ini adalah rumahnya, dan tidak ada yang boleh tinggal kecuali dirinya.
“Sebelumnya sudah sering ada karyawan yang kerasukan begini, Mbak,” jelas Pak Aldi.
Aku yakin, yang merasuki Mang Ule dan para karyawan itu jin kiriman dari pemilik pabrik baru itu. Kenapa harus bersaing menggunakan cara picik seperti ini? Dasar pecundang!
Aku berusaha mengeluarkan sosok yang bersemayam di dalam tubuh Mang Ule menggunakan caraku sendiri. Sampai akhirnya jin itu berhasil aku usir dan kusuruh kembali ke asalnya. Mang Ule kini masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Pingsan.
Tugasku semakin banyak. Sedangkan tenagaku seolah terkuras habis pasca mengeluarkan jin dari dalam tubuh Mang Ule tadi. Aku perlu istirahat untuk memulihkan stamina.
“Mel, kita balik ke penginapan. Aku lemes banget!” ajakku saat Mang Ule sudah siuman.
“Iya, Ran. Ayo, kita masuk ke dalam mobil. Sementara biar aku yang nyetir,” usul Mela. Aku mengangguk setuju. Mang Ule masih lemah belum kuat mengemudi. Pun denganku.
Setelah berpamitan pada Pak Aldi dan karyawan lainnya. Kami bertiga pun pamit undur diri. Kembali ke penginapan dan istirahat.
“Ran, kenapa malah berdiri di situ? Katanya lemes mau istirahat?” tanya Mela saat aku diam berdiri di teras dan berkomunikasi dengan jin yang tadi merasuki Mang Ule.
Ya, jin dengan badan kemerahan, berkuku hitam panjang serta terdapat tanduk di kepalanya dengan mata merah menyala itu mengikuti kami sampai ke depan penginapan. Hanya mengamati kami dari kejauhan lalu menghilang.
Aku harus tingkatkan kewaspadaan. Sepertinya jin itu punya niat jahat.
__ADS_1