TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Teror Arwah Sekar


__ADS_3

Detik berikutnya Bayu merengkuh tubuhku. Mang Ule ikut terduduk lemas.


“Bay, Tirta, Bay,” ucapku di sela tangis sambil memeluk Bayu erat. Bayu membisu mengusap kepala ini. Mungkin dia bingung mau berkata apa lagi.


“Aku juga tidak menyangka kalau endingnya bakal seperti ini, Ran,” lirih Bayu.


“Yang sabar, ya, No ....”


“Tolooong!” Suara teriakan dari arah tebing membuat Mang Ule menghentikan kalimatnya.


“I-itu suara Tirta, Bay!” seruku.


“Iya, Ran.” Bayu melepaskan pelukannya. Kami bertiga lantas bergegas memeriksa tebing. Tangis bahagiaku pecah saat melihat Tirta tergantung di akar pohon.


“To-tolong!” teriak Tirta terbata.


“Cepat tolong Tirta, Bay!”


“Iya, Ran. Iya.” Bayu bergegas mengambil tali tambang yang tadi digunakan mengikat tubuh Mela di pohon besar. Ujungnya ditalikan ke pohon. Sedang ujung satunya diulurkan ke arah Tirta. “Pegang yang kuat, Ta, talinya! Kita akan tarik kamu,” teriak Bayu. Tirta nurut.


Setelah Tirta memegang ujung talinya, Bayu, Mang Ule juga aku berusaha menariknya. Penyelamatan berlangsung dramatis, dan memakan waktu cukup lama. Beberapa kali Tirta nyaris lepas dari tali yang dipegangnya.


“Huf, alhamdulillah,” ucap kami berampat kompak. Akhirnya Tirtaku telah kembali dalam keadaan selamat, meski terdapat banyak luka lecet di beberapa bagian tubuhnya.


Kubingkai wajah yang sudah sejak lama kurindukan itu, tatapan kami beradu. Sejurus kemudian kupeluk erat tubuh lelahnya. Sungguh, aku tak sanggup jika harus kehilangan dirinya untuk kesekian kalinya.


Sedang Bayu dan Mang Ule berbaring di tanah menatap langit yang menghampar di atas sana, mengistirahatkan badannya yang kelelahan.

__ADS_1


Tiba-tiba angin bertiup kencang, desaunya memekakkan telinga. Daun-daun kering beterbangan. Bayu dan Mang Ule duduk. Kami mengamati sekeliling.


“Siapa pun yang datang ke sini membawa pasangannya, maka aku bersumpah akan merenggut pasangannya!” Suara itu menggema dan mirip suara Sekar. Sejurus kemudian tawanya membahana. Membuat siapa saja yang mendengarkan merasa merinding.


“Ayo, kita segera pergi dari sini!” ajak Bayu. Detik berikutnya kami berdiri. Langkah kami terhuyung oleh tiupan angin yang semakin kencang.


Bayu membopong Mela yang masih belum sadar juga. Kami berlima lantas berjalan setengah berlari meninggalkan area makam tua itu.


Setelah jauh dari makam itu, aku menoleh ke belakang. Mataku membulat sempurna saat melihat makam itu pulih seperti sediakala. Tidak ada tanda bekas bakaran sama sekali. Situasinya pun sudah tenang. Angin tidak bertiup sekencang tadi. Namun, kabut mulai muncul dan perlahan menutupi area makam itu. Aku mempercepat langkah menyusul yang lainnya.


“Istirahat dulu di sini, ya!” saran Bayu. Setelah kuangguki, Bayu meletakkan tubuh Mela di tanah dan menyandarkannya di pohon jati yang besar. Kami duduk mengapit Mela. Bayu di sisi kanan, sedang aku di sebelah kiri Mela, dan Tirta di sebelah kiriku. Sementara Mang Ule berada agak jauh dari kami.


“Bay, kok Mela belum sadar juga, ya?” tanyaku mulai khawatir.


“Iya, juga ya?” Kami kompak melihat ke arah Mela, “Mela, sadar, Mel!” ucap Bayu kemudian.


Kutepuk-tepuk pipi Mela perlahan. “Mel! Bangun Mel!” Tapi, dia sama sekali tidak merespon. Kucoba periksa detak nadinya. Masih ada, tapi lemah sekali. “Bay, detak nadi Mela lemah,” lirihku panik.


“Ini nggak bener, Ran. Kita harus segera bawa Mela kembali ke desa dan harus kita bawa ke rumah sakit supaya dapat pertolongan.”


“Kamu bener, Bay, tapi gimana? Sedang jarak yang harus kita tempuh untuk sampai ke tempat mobil kita terparkir masih sangat jauh.” Aku mulai panik.


“Astaga!” seruku saat Tirta terbatuk dan bersamaan dengan itu keluar darah segar dari mulutnya. “Apa yang terjadi padamu, Ta?” Aku semakin panik.


“Apa yang kamu rasakan, Ta?” sahut Bayu.


Tirta memegangi dadanya. “Dadaku terasa panas dan sesak.” Suaranya seperti tertahan seolah dadanya tertimpa barang berat. Napasnya tersengal.

__ADS_1


“Ta, tahan, Ta!” ucapku sambil memeluknya. Dari mulutnya terus mengeluarkan darah segar.


“Bay, ini gimana Bay?” tanyaku bingung. Bayu dan Mang Ule sama bingungnya. Mela saja belum sadar. Sekarang kondisi Tirta juga melemah.


“Ak-aku eng-ngga-ak ku-ku-at,” ucap Tirta terbata. Detik berikutnya tubuhnya melemah dalam pelukanku.


“Bay, Tirta kenapa, Bay?” tanyaku setengah berteriak. Bayu segera mendekat dan mengambil alih tubuh Tirta yang lemas. Lantas menyandarkannya di sebelah Mela. Mang Ule ikut membenarkan posisi Tirta.


“Dia hanya pingsan, kok,” terang Bayu setelah memeriksa denyut nadi di pergelangan Tirta, “Semoga segera sadar!” lanjutnya. Aku menghela napas, lega mendengarnya. Tapi, air mataku tidak bisa berhenti. Rasanya aku ingin segera keluar dari hutan ini, tapi jarak yang harus ditempuh masih jauh. Sedangkan Mela saja belum sadar, dan kini Tirta malah ikut-ikutan pingsan juga.


“Ta, Mel, cepet bangun!” lirihku. Aku mengalihkan pandangan lurus ke depan. Mataku membulat saat melihat penampakan sosok menyerupai Sekar.


“Bay!” teriakku.


“Ada apa, Ran?” sahutnya. Sejurus kemudian Bayu menoleh ke arah yang kutunjuk. Kami berdua mematung.


Sedang Mang Ule yang semula menghadap ke arah Tirta dan Mela, kini balik badan dan ikut melihat ke arah yang aku tunjuk. “Ada apaan, Non?”


Secepat kilat sosok yang menyerupai Sekar masuk ke dalam tubuh Mang Ule. “Dia milikku!” teriak Sekar yang kini bersemayam di dalam tubuh Mang Ule. Sejurus kemudian dia menyekik leher Tirta yang masih dalam kondisi pingsan.


“Jangan! Jangan lakukan itu!” teriakku sambil berusaha melepaskan cekikan dibantu oleh Bayu.


“Lepaskan!” pekik Bayu. Tirta kejang-kejang seperti kehabisan napas, tapi belum sadar juga dari pigsannya. Aku dan Bayu berusaha sekuat tenaga melepaskan cekikan Sekar.


“Keluar kamu dari dalam tubuh Mang Ule!” teriakku sambil mencekik balik leher Mang Ule dengan harapan Sekar segera meninggalkan tubuh renta itu.


“Ran, sudah Ran! Lepaskan Mang Ule!” teriak Bayu. Aku melepaskan cekikanku. Tubuh renta itu ambruk ke tanah tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Bay, apa Mang Ule mati?” lirihku. Aku tak mampu mengendalikan getaran yang mengguncang tubuhku.


Bayu memeriksa denyut nadi Mang Ule, sejurus kemudian menatapku dan menggeleng lemah. Tubuhku limbung, terhuyung ke belakang. Bersandar pada pohon jati dan merosot terduduk lemas di sisi Tirta.


__ADS_2