
Last part super panjang.
🌺🌺🌺
Aku tak sanggup berada di dalam rumah. Bayangan Tania terus saja berseliweran. Bahkan suara cekikik tawanya seolah terdengar jelas. Aku berjalan setengah berlari menuju teras. Lalu duduk di kursi menunggu Mama dan Ayah datang.
Sesekali aku menoleh melihat ke dalam melalui pintu yang kubiarkan terbuka lebar. Tania seolah sedang bermain boneka di sofa ruang tamu. Segera kupalingkan pandanganku ke halaman depan. Melihat aneka bunga yang bermekaran.
Aku menghela napas lega saat mobil Ayah memasuki halaman lalu masuk ke garasi. Akhirnya mereka datang juga.
“Loh, kok di luar? Ngapain?”
Aku hanya menjawab pertanyaan Mama dengan gelengan.
“Ayah minta maaf ya, tadi sampai lupa jemput kamu. Di pabrik banyak masalah tadi,” papar Ayah yang kini sudah berdiri di sisi Mama.
Aku mengangguk paham. “Iya Yah, gak papa kok. Lagian Rania bisa pulang sendiri.”
“Ayo masuk!” Mama merangkul bahu ini. Kami pun berjalan beriringan memasuki rumah.
🌺🌺🌺
“Yah, eum ....”
Ayah dan Mama melihat ke arahku. Mereka berdua urung menyuapkan nasi, antusias menunggu aku melanjutkan kalimat yang terjeda.
“Kenapa?” tanya Ayah, saat aku tak kunjung menyelesaikan ucapan. Sendok yang semula dipegang pun Ia letakkan di atas piring lagi. Begitu juga dengan Mama. Sejenak makan malam kami terjeda.
Aku menghela napas panjang berusaha mengumpulkan keberanian untuk bicara. “Ma, Yah, apa nggak sebaiknya kita pindah saja dari rumah ini,” usulku.
Mama dan Ayah saling pandang. Lalu Ayah menghela napas panjang. “Memangnya kenapa? Kamu sudah nggak nyaman tinggal di sini?”
Aku mengangguk. Karena memang begitu adanya. Aku tidak nyaman tinggal di rumah ini. Kenangan soal Tania selalu mengusik ketenangan jiwaku.
“Aku capek Yah, terus dihantui bayangan Tania terus.”
Ayah mengangguk-angguk, “ayah pun begitu, tapi kita masih perlu mempertimbangkan banyak hal, Nak. Sekolah kamu, pabrik ayah.”
Aku menunduk sedih. Benar juga, kalau pindah lagi lalu siapa yang akan mengelola pabrik singkong Ayah. Bagaimana dengan cita-cita mulia Ayah, yang ingin memakmurkan warga desa sini dengan membangun lahan pekerjaan di pabrik yang digadangnya sejak lama itu.
Aku menghela napas panjang lalu bersandar pada sandaran kursi. Bingung.
Mama menyentuh punggung tangaku yang masih bertumpu di atas meja. “Nanti kita pikirkan jalan keluar terbaiknya ya, Nak. Sekarang kita makan dulu yuk!”
Aku mengangguk. Sekuat tenaga menahan kaca-kaca yang menggenangi pelupuk mata. Lalu melanjutkan makan malam dengan malas.
🌺🌺🌺
Semalaman aku tak bisa tidur. Sarapan pun kutunaikan dengan malas. Setelahnya bingung nggak tahu mesti ngapain. Sekolah libur, ini hari Minggu. Biasanya ada kegiatan ekstrakurikuler, tapi hari ini libur total. Kemarin tidak ada pemberitahuan apa pun. Entah jika aku yang tidak fokus.
Aku terperanjat oleh sentuhan di kedua bahu ini dengan lembut. Detik kemudian memastikan siapa pemilik tangan. Mama.
“Sebaiknya kamu jalan-jalan keluar cari angin. Kelihatannya sumpek banget pikiran kamu.”
Aku mencoba memikirkan usulan Mama. Detik kemudian mengangguk. “Baiklah Ma. Aku keluar dulu ya, cari angin.”
Setelah Mama mengangguk, aku pun pergi menyusuri jalan desa. Sambil melihat-lihat pemandangan di sisi jalan nan asri. Embun pagi masih membasahi dedaunan. Kicau aneka burung terdengar merdu bersahutan. Hingga sampai di sebuah gubuk yang terletak di tengah-tengah sawah. Gubuk yang dulu pernah kudatangi bersama Tania. Langkahku pun terhenti dan aku duduk. Mengenang setiap adegan saat bersama Tania di sini. Aku menunduk pilu, menangis sejadi-jadinya.
Sebuah tangan tiba-tiba mengulur di depan wajahku yang sedikit menunduk, secarik kain persegi empat terselip diantara jari jemari si empunya. Perlahan aku mendongak memastikan itu tangan siapa.
Ada gelenyar aneh saat menatap wajah dingin si pemilik sapu tangan berwarna biru tua bergaris putih ditepiannya itu. Tirta. Dahiku berkerut tak percaya. Bagaimana bisa tiba-tiba dia ada di sini? Dari mana dia tahu aku di sini? Atau kebetulan saja?
“Ini, pakailah!” ucapnya datar. Aku meraih kacu itu. Lalu kugunakan untuk mengusap air mata yang mengalir di pipi. Tirta kemudian duduk di sisiku.
“Terima kasih.”
Dia hanya menoleh sekilas sambil melengkungkan bibir sedikit. Detik kemudian ia kembali melihat lurus ke depan. Dimana di depan sana terhampar sawah nan menghijau. Di kejauhan terlihat ada beberapa petani yang sedang bekerja.
Pun denganku. Aku melihat ke arah yang Tirta lihat. Tangisku terhenti. Kumainkan sapu tangan milik Tirta. Aku lipat kemudian buka dan lipat lagi nggak jelas. Sampai menemukan sebuah bordiran nama dari benang berwarna putih di sudutnya. Tirta.
“Bagus,” gumamku. Sambil kuusap bordiran namanya yang terlihat rapi. Dia menoleh lalu turut melihat objek yang sama.
“Ini kamu yang bikin?”
Dia menggeleng. “Bukan.” Sejurus kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah sawah. “Itu ibuku yang buat. Dulu pas aku masih di dalam kandungannya,” jelasnya.
“Berarti ini sapu tangan legend dong.”
Lagi, dia menoleh ke arahku. Tatapan kami bertemu sekilas. Lalu kembali membuang muka ke arah lain. “Ya, bisa dibilang begitu,” ujarnya.
Detik kemudian hening. Kami sama-sama terdiam. Menikmati pemandangan persawahan nan asri dan sejuk.
Selang beberapa saat lewat Pak Tani. “Eh, ngapain berduaan di sini?” sapanya. “Pamali loh, berdua-duaan di tempat sepi begini,” lanjutnya. Sehingga aku urung menjelaskan.
“Sebaiknya kalian berdua cepat pulang, sebelum setan datang menghasut pikiran kalian,” tegas Pak Tani.
Aku mengangguk. “Iya Pak, terima kasih sudah mengingatkan.”
Pak Tani kemudian melanjutkan langkahnya. Berlalu dari hadapan kami tanpa permisi.
Aku berdiri dengan sekali hentakan. “Eum, sebaiknya aku pulang sekarang.” Detik kemudian aku mengayunkan langkah.
“Biar aku antar.”
Langkahku seketika terhenti mendengar kata Tirta. Lalu menoleh ke belakang dimana dia sudah berdiri selangkah di belakangku.
“Nggak usah nanti malah merepotkan.”
__ADS_1
Dia tak menggubris ucapanku. Kemudian berjalan mendahului.
“Ayo, kamu mau pulang atau mau jadi orang-orangan sawah?” pekiknya, saat menoleh ke arahku dan aku masih mematung di tempat semula.
Huh, dia nggak tahu kalau aku di sini sedang berusaha menstabilkan detak jantung. Aku menghela napas panjang lalu kuembuskan perlahan. Kemudian berlari kecil menyusulnya yang sudah beberapa meter di depan.
Eh, tunggu. Bukannya dia akan mengantarku? Lalu kenapa dia malah berjalan di depan. Seharusnya kan ladies first. Ini malah terbalik aku yang mengekor. Tapi tak apa. Justru dengan begini aku bisa puas memandangi punggungnya.
“Aduh!” pekikku, saat Tirta berhenti secara mendadak dan akibatnya aku membentur punggugnya.
“Ck, kalau jalan liat-liat!” omelnya. Dih, dia yang berhenti mendadak terus sekarang aku yang diomelinya. Dasar!
“Kamu yang berhenti mendadak. Memamgnya ada apa?”
“Ada ular.”
Aku menjerit histeris lalu bergelayut di kausnya sampai molor. “Mana? Di mana ularnya?” tanyaku, sambil melihat ke sekeliling tempatku berdiri. Masih sambil memegang ujung kaus Tirta.
“Itu di depan. Sudah lewat menyebrang pematang sawah kok. Ayo lanjut jalan!”
“Kamu yakin? Ularnya sudah nyebrang.”
Dia hanya mengangguk sambil bergumam. Kemudian kami lanjut berjalan menyusuri pematang sawah yang memang dijadikan sebagai jalan oleh para petani.
Aku sengaja berhenti masih sambil memegang ujung kaus Tirta. Pengen lihat gimana reaksinya. Saat bajunya tertarik olehku. Dia hanya berhenti tanpa menoleh apalagi protes. Aku mengulum bibir menahan tawa. Dasar manusia kutub. Nggak bisa diajak bercanda.
“Bisa tolong lepasin, nggak, kaus saya.”
“Eum, iya, maaf.” Aku pun melepasnya.
“Itu bunga apa?” tanyaku, saat sebuah bunga berwarna ungu mekar di tengah belukar menarik perhatian.
Tirta pun menghentikan langkahnya. Lalu menoleh dan mengikuti ke mana arah tekunjukku menunjuk.
“Itu bunga rumput liar.”
“Bagus,” guamamku. Aku tak henti mengamati bunga cantik itu.
“Kamu mau bunga itu?”
“Hah, eum ....” Aku kikuk. Lalu menggeleng padahal dalam hati mau.
“Tunggu sini!” titahnya.
“Kamu mau ke mana?”
Dia langsung berjalan menaiki pematang sawah setinggi pinggang. Kemudian memetik bunga ungu itu. Lantas kembali menuruni pematang sawah, dan menyerahkan bunga itu padaku.
Aku gemetar bukan main. Jantung serasa mau copot. Berasa lagi ditembak tau, nggak.
“Te-terima kasih,” ucapku, saat bunga sudah berpindah ke tanganku.
Lagi, aku berterimakasih pada Tirta saat sudah sampai di depan gerbang rumah.
“Oh ya, sapu tangannya biar aku cuci dulu, ya.”
“Terserah.”
Tanpa pamit, dia langsung balik badan, melangkah pulang. Aku masih bergeming mengamati punggungnya yang semakin menjauh dan lenyap. Aku senyum-senyum nggak jelas sambil melihat bunga pemberian Tirta tadi.
“Gimana jalan-jalannya?” Mama menyambutku dengan pertanyaan.
Aku bergumam sambil mengedikkan bahu. Mama terlihat sedikit bingung dengan tingkahku.
“Aku ke kamar dulu ya, Ma.”
Meninggalkan Mama yang sedang duduk di teras melihat Ayah mencuci mobilnya. Aku ke kamar. Menaruh bunga ungu di sela lembaran buku harian.
Baru saja kudapatkan sedikit ketenteraman jiwa. Suara Tania kembali terngiang. Bayangannya seolah berseliweran lari ke sana kemari.
Aku tidak tahan dengan semua itu. Kuputuskan untuk menyusul Mama ke teras.
“Ma, pokoknya kita harus segera pindah dari rumah ini. Aku nggak mau lagi tinggal di sini.”
Mama menatapku penuh kebingungan. “Sini duduk!” titahnya, seraya menarik lenganku lembut, supaya duduk di kursi sebelahnya. Aku pun manut.
“Iya, tadi mama sudah berunding sama Ayah. Dan kami sepakat untuk mengikuti kemauan kamu.” Mama mengusap bahu ini lembut. “Tapi kita tidak bisa secepatnya pindah. Ada beberapa hal yang mesti Ayah urus. Sabar ya!” imbuhnya.
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Kemudian mengangguk lesu.
Rasanya berat jika harus pergi meninggalkan desa ini. Aku sudah merasa nyaman di sini sebenarnya. Namun, akan lebih sakit lagi jika memilih bertahan di sini dan terus dihantui bayangan Tania.
Terlebih saat ingat penuturan polisi bahwa semua barang bukti pembunuhan Tania mengarah ke Mbok Tini dan Pak Ramat, tapi terduga pelakunya sampai kini masih belum diketahui keberadaannya. Mereka berdua seolah lenyap ditelan bumi. Padahal polisi sudah mengerahkan segenap kamampuannya. Tapi sampai kini masih nihil. Belum menemukan titik terang akan di mana terduga pelaku berada.
🌺🌺🌺
Surat pindah dan lain sebagainya sudah Ayah urus. Bahkan surat perpindahan sekolahku juga sudah di tangan. Pabrik sudah Ayah serahkan pada orang kepercayaannya. Sebagian barang-barang seperti halnya baju sudah dipacking.
Ini hari terakhir aku pergi ke sekolah untuk mengucapkan salam perpisahan kepada semua teman-teman dan guru-guru.
Sesampainya di sekolah, aku langsung mencari keberadaan Tirta. Untuk membicarakan perihal perpindahanku esok. Aku ingin dia orang pertama yang mengetahui hal ini.
Kebetulan kulihat Tirta sedang duduk di bangku memanjang depan perpustakaan. Aku segera menghampiri mereka dan duduk di tengah-tengahnya.
“Ada apa?” cecar Dian. Pasti dia membaca gestur tubuhku yang gelisah.
“Besok aku dan keluaragu mau pindah lagi ke kota.” Selepas bicara aku melirik ke arah Dian Dan Tirta. Keduanya tertegun. Sepertinya syok. Entahlah.
__ADS_1
“Bercandamu gak lucu tau, nggak!” ketus Dian, sambil mendorong bahu ini sehingga sisi tubuhku hampir membentur sisi badan Tirta.
“Aku nggak lagi sedang bercanda. Aku serius.”
Dian menatapku sedemikian rupa. “Kenapa?” tanyanya kemudian. Suaranya terdengar parau. Matanya muali berkaca-kaca.
Kulirik Tirta, ia hanya diam tanpa ekspresi seolah tak peduli aku akan pergi atau tetap tinggal.
“Di rumah itu aku nggak bisa tenang. Bayangan Tania selalu datang menghantui setiap saat.” Dian mengusap bahu ini. Detik kemudian dia memelukku erat dari samping. Kami terisak. Tirta masih bergeming.
“Kalau begitu sepulang sekolah nanti kita ukir kenangan manis,” ucap Dian, di sela tangisnya. Aku mengangguk saja.
🌺🌺🌺
“APA?!” pekik Bayu saat diberi tahu akan kepindahanku esok.
“Kenapa Ran? Padahal kamu kan baru saja pindah ke desa ini.” Nada suara Bayu terdengar berat.
Aku tak sanggup menjelaskan. Dian seolah menjadi juru bicaraku, ia menjelaskan semuanya. Bayu berusaha memahami. Kemudian kami melanjutkan langkah pulang.
Sepanjang perjalanan kami tak henti mengobrol tentang banyak hal. Kecuali Tirta yang hanya diam. Aku tak tahu dia hancur atau acuh. Aku hampir tak bisa membedakan ekspresinya.
Sesuai kesepakatan selepas pulang ke rumah masing-masing berganti baju dan mendapat izin dari orang tua. Kami berempat menghabiskan waktu bersama. Mengunjungi tempat-tempat yang selama ini sering kita datangi bersama. Mengukir kenangan manis.
Dian dan Bayu seolah kompromi memberi waktu untuk aku bicara berdua dengan Tirta. Mereka berdua menjauh dari tempatku dan Tirta duduk dengan alasan mau foto-foto.
“Aku minta maaf kalau selama ini aku banyak salah sama kamu.” Aku mencoba mengawali percakapan.
“Aku juga minta maaf,” jawabnya berat. Hanya itu.
Aku tak sanggup lagi dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Kemudian kami sama-sama terdiam. Menatap lurus ke depan melihat riak air danau. Tempat favorit kami.
Aku merogoh kacu yang ada di dalam saku celana jeans. Kemudian kuberikan padanya. “Oh ya, ini sapu tanganmu waktu itu. Sudah aku cuci kok.” Dia menoleh lalu merubah posisi duduknya jadi menghadap ke arahku. Detik kemudian dia menggenggam tanganku.
“Buat kamu aja. Untuk kenang-kenangan,” ujarnya. Tatapan mata kami beradu dalam hitungan detik. Lantas dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Terima kasih. Kalau begitu akan aku simpan sapu tangan ini baik-baik.” Dia menoleh dan menyunggingkan senyum seolah senang mendengar jawabanku. Lantas kusimpan kembali kacu biru tua ke dalam saku celana. Meski tak banyak bicara kami menikmati kebersamaan ini.
Menjelang magrib kami baru pulang ke rumah masing-masing.
🌺🌺🌺
Kini tiba saatnya aku dan keluarga pergi. Banyak warga yang berdatangan sekedar mengucapkan selamat jalan dan mewanti-wanti agar hati-hati. Termasuk pamong desa, dan tentunya Tirta, Dian dan Bayu.
Ayah dan Mama sudah masuk duluan ke dalam mobil masing-masing yang terparkir di depan gerbang.
Aku meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan sahabatku. Dian memelukku erat dan lama. Ia kembali terisak.
“Jangan lupakan kami, ya!” ucapnya masih sambil memelukku. Aku mengangguk.
“Kalau sudah berdamai dengan tragedi yang menimpa Tania. Jangan lupa untuk menyambangi kami di sini,” sahut Bayu. Lagi, aku hanya mampu mengangguk. Masih dipeluk oleh Dian.
Setelah puas memelukku sampai terasa sesak, Dian melepaskan pelukannya. Lalu menyerahkan kotak kecil kenang-kenangan katanya. Aku terima saja. Kemudian berjabat tangan dengan Bayu, dan terakhir dengan Tirta.
Cukup lama aku dan Tirta saling pandang sambil bersalaman. Tidak ada kata berarti yang terucap, tapi tatapan mata kami sudah cukup meyampaikan pesan yang tak tersurat. Aku melihat kesedihan mendalam pada sorot mata Tirta. Bahkan mata teduh laksana laguna itu berkaca-kaca.
Semakin lama kurasakan jabatan tangan Tirta semakin erat seolah ungkapan agar aku tetap tinggal. Air mata yang sedari tadi kutahan luruh juga. Kubiarkan berderai begitu saja.
Bayu menyentuh kedua sisi bahu Tirta. “Sudah Ta. Kasihan orang tua Rania sudah menunggu lama.”
Perlahan genggaman tangannya mengendur lalu jabatan tangan kami terlepas. Kuseka air mata yang menganak sungai. “Aku pergi,” ucapku parau. Mereka bertiga mengangguk lesu.
Sekali lagi kupeluk Dian erat. Tangis kami kembali pecah. Lalu aku melangkah mendekati mobil Mama yang terparkir tidak jauh dari tempat Dian, Bayu dan Tirta berdiri.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil aku menoleh ke depan gerbang dimana ketiga sahabatku berdiri berjejer di sana. Berjarak sekitar 3 meter dari tempatku berada. Mereka menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan terutama tatapan mata Tirta. Aku hampir tak bisa menebaknya. Yang pasti perasaan kami campur aduk saat ini.
“Tenang Ta, kalau jodoh pasti kelak kalian bakal ketemu lagi,” ucap Bayu, seraya mengusap bahu Tirta. Aku dengar itu, dan entah kenapa selepas mendengar perkataan Bayu, hatiku menjadi lega.
Ya, benar, kalau aku dan Tirta memang ditakdirkan berjodoh pasti kelak akan bertemu lagi. Entah bagaimana caranya. Masih menjadi misteri.
Kuamati ketiga sahabatku yang masih berdiri di tempat semula dari kaca spion mobil Mama, yang merambat semakin menjauh dari ketiganya. Semakin lama bayangan mereka tak terlihat lagi di dalam kaca spion.
Mama mengusap pundakku. Menguatkan. Aku mengangguk memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja. Meski sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja.
Kurogoh sapu tangan milik Tirta. Kuamati sedemikian rupa. Terutama di bagian bordir ukiran namanya. Lantas kembali kusimpan ke dalam saku celana. Supaya tidak hilang.
Aku mengamati sekeliling lewat kaca mobil. Rupanya mobil Mama sudah merayap semakin jauh meninggalkan desa. Sementara mobil Ayah mengekor di belakang.
“Perjalanan masih panjang. Sebaiknya kamu tidur. Mama tahu semalam kamu tidak tidur, ‘kan?”
Aku tersenyum getir ke arah mama. Lalu kusandarkan kepala pada sandaran jok kemudian memejamkan mata berusaha tidur. Namun, malah terngiang kata Bayu tadi, ‘kalau jodoh pasti kelak akan bertemu lagi’.
Anganku kembali terlontar jauh dimana saat Tania masih hidup. Banyangan keceriaan dan kepolosannya tergambar jelas dalam benak. Cekikik tawa gemasnya terngiang di telingaku.
Tania adikku yang malang dijadikan sebagai tumbal ke tujuh oleh Mbok Tini dengan tujuan untuk membangkitkan anaknya yang sudah lama mati. Namun, bukannya berhasil membangkitkan anaknya, Mbok Tini malah berhasil membunuh tujuh anak tak berdosa lainnya. Selepas itu ia dan partner pemuja iblisnya (Pak Ramat) menghilang entah ke mana.
Perihal membangkitkan orang yang sudah mati itu hak Allah. Manusia seharusnya tidak melampaui batasannya.
#SELESAI
🌺🌺🌺
Tunggu season duanya ya, Sob. Insya Allah, habis lebaran. Kalau nggak lupa. Hehe.
Di season 2 kira-kira Rania bakal ketemu lagi nggak ya, sama Tirta?
Kalau ketemu lagi kira-kira bagaimana ya, awal mula perjumpaan mereka?
__ADS_1
Eng ing eng___
🌺🌺🌺