TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Sah!


__ADS_3

Ayah murka menganggap Tirta sebagai sumber masalah yang terjadi padaku. Tirta diusir, Ayah tidak mengizinkannya untuk menemuiku lagi, pun sebaliknya. Aku gagal meyakinkan Ayah bahwa Tirta bukan sumber masalah seperti yang dituduhkan.


Tirta kini tinggal di rumah Bayu. Bahkan aku juga dilarang untuk bertemu dengan Bayu. Ayah benar-benar ingin agar aku putus hubungan dengan semua sahabatku yang ada di desa ini.


Sejak kehilangan Tania, Ayah memang sangat over-protektif terhadap diriku. Itu semua Ayah lakukan karena tidak ingin kehilangan putrinya lagi. Aku berusaha memaklumi itu, tapi tetap berusaha meyakinkan Ayah bahwa Tirta itu pantas membersamaiku dalam mengarungi kehidupan ini. Ya, aku masih sangat mencintainya, dan harapan untuk hidup bersama masih tetap ada.


Mela jiwanya sempat tersesat di alam astral. Sebelum Bayu juga akhirnya diusir dari rumah sakit, dia sempat menjemput Mela dari alam gaib dengan cara astral projection. Kini sahabatku itu telah sadar dari koma dan sudah pulih meski kadang masih sedikit linglung.


Mang Ule juga sudah pulih. Pabrik singkong Ayah kembali ramai. Aura hitam yang semula menyelimuti sudah hilang bersamaan dengan hilangnya keluarga Mbah Barjo.


Sedang arwahnya Sekar masih suka menampakkan diri di saat-saat tertentu. Tapi, tidak ada teror yang berarti darinya. Hanya sesekali menampakkan diri saja. Entah apa maksudnya, dia tidak bicara. Namun, tatapannya menyiratkan kemarahan.


Usai menjalani perawatan di rumah sakit, aku, Ayah, Mama, Mela dan Mang Ule pulang ke penginapan.


Di sana, usai makan malam aku menceritakan perjalananku selama pingsan. Ayah, Mama, Mela dan Mang Ule menyimak antusias. Ketika aku pingsan usai kepalaku membentur pohon kala itu, aku bertemu dengan Tania.


Tania memintaku agar aku mengikhlaskan kepergiannya. Dia bilang semua itu sudah menjadi ketetapan-Nya. Kala itu aku menjawab akan ikhlas saat pelakunya sudah mendapat ganjaran atas perbuatannya.


Tania kemudian membawaku ke tempat di mana jiwanya Mbok Tini dan Pak Ramat terbelenggu. Ya, jiwa mereka berdua tersesat di alam gaib menjadi budak iblis yang semula disembahnya. Itu semua terjadi karena Mbok Tini tidak bisa mememuhi syarat yang diajukan oleh iblis.


Harusnya Mbok Tini mempersembahkan 9 tumbal, tapi baru dapat tujuh dan sudah gagal. Untuk menggenapi jadi sembilan maka iblis tersebut mengambil jiwa Mbok Tini dan Pak Ramat. Sedang raganya sudah rusak di suatu tempat.


Usai menceritakan semuanya. Ayah menghubungi polisi dan mencaritahu kebenarannya. Memeriksa lokasi tempat terkuburnya jasad Mbok Tini dan Pak Ramat, yang ditunjukkan oleh Tania kala itu. Terbukti benar, di sana ditemukan tulang belulang yang kemungkinan besarnya milik kedua pelaku yaitu Mbok Tini dan Pak Ramat. Kami masih harus menunggu proses autopsi dari pihak berwenang.


***


Akhirnya hasil autopsi keluar, dan benar itu tulang belulang jasad Mbok Tini dan Pak Ramat. Aku merasa lega akhirnya mereka mendapat ganjaran atas apa yang diperbuat pada adikku. Tania. Mungkin benar, Mbok Tini dan Pak Ramat lolos dari hukuman penjara, tapi aku sudah cukup puas atas apa yang menimpa mereka.


Perihal suara-suara aneh itu masih terus menghantuiku. Aku juga masih sering melihat penampakan, tapi aku memilih mengabaikannya. Aku sudah lelah menuruti semua keinginan mereka yang tak kasat mata. Mereka biasanya meminta tolong padaku agar menyampaikan pesan yang belum sempat mereka sampaikan kepada keluarga atau orang-orang terkasih. Tapi mulai dari sekarang aku memilih berhenti bahkan berniat ingin menutup penglihatanku ini supaya bisa hidup normal seperti dulu sebelum indra ini terbuka.


***


“Besok kita kembali ke kota,” ujar Ayah secara tiba-tiba saat kami tengah menyantap sarapan di ruang makan.


Aku menghentikan aktivitasku. Ada rasa sesak di dada saat teringat Tirta. “Apa Ayah sama sekali tidak memberiku izin untuk menemuinya sekali saja?” tanyaku lirih.


Ayah mendelik ke arahku. “Sudah ayah bilang, lupakan dia!” tegasnya.


Mama yang duduk di kursi sebelahku menggenggam tanganku lalu menggeleng pelan memberi isyarat agar aku jangan bicara soal Tirta lagi.


***


Usai sarapan, ketika Ayah pergi meninjau pabrik singkong. Mama melarangku agar jangan memaksakan kehendak di depan Ayah. Juga mewanti-wanti agar aku sabar menghadapi keras kepala Ayah.


“Mama akan bantu untuk meyakinkan Ayahmu, tapi kamu juga harus sabar,” ujar Mama. Aku mengangguk lesu.


Mama kemudian menyarankan agar aku pergi menemui Tirta.


“Sungguh, Ma?” tanyaku memastikan. Mama mengangguk. Aku langsung memeluknya dan mengucapkan terima kasih berulangkali. Tak lupa kukecup pipinya yang sudah timbul kerutan itu.


“Tapi, ingat! Jangan lama-lama!” Aku mengangguki ucapan Mama. Lantas pergi ke rumah Bayu ditemani Mela dan Mang Ule.


***


Sampai di rumah Bayu aku berbincang dengan keluarganya, menyapa orangtua sahabatku itu. Lantas mengajak Tirta untuk berbincang di luar. Sedang Mela, ia berbincang dengan Bayu. Sementara Mang Ule masih di dalam rumah berbincang dengan keluarganya Bayu.


“Kenapa kamu datang ke sini? Bukannya Ayahmu melarang kita bertemu,” kata Tirta mengawali pembicaraan. Dia sama sekali tidak mau menatapku. Entah karena marah, entah karena merasa tidak pantas. Aku tidak tahu. Tapi, dari sorot matanya aku melihat ada kesedihan di sana.

__ADS_1


“Besok aku kembali ke kota.” Tirta hanya diam, dia mengalihkan pandangannya. Kemudian kudengar dia menghela napas panjang.


“Semoga selamat sampai tujuan.” Hanya itu saja yang Tirta katakan. Itu pun tanpa menatapku.


Kugenggam tangannya. Lantas kuungkapkan semua isi hatiku. Bahwa aku masih sangat mencintainya, tak peduli bagaimana masa lalunya. Harapan untuk hidup bersamanya itu masih ada. “Aku juga akan terus berusaha meyakinkan Ayahku, Ta. Kuharap kamu mau sabar menunggu, dan jangan pernah berpikir bahwa kamu tidak pantas untukku.”


“Kamu berhak mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada aku, Ran. Kamu ....”


Segera kuhentikan ucapan Tirta dengan menempelkan telunjuk di bibirnya. “Aku tidak mau dengar apa pun. Ya, aku tahu di luar sana mungkin banyak lelaki lain yang jauh lebih dari segalanya daripada kamu, tapi hatiku memilih kamu, Ta. Cuma kamu yang kumau,” tandasku. Kami saking tatap beberapa saat. Detik berikutnya aku menghambur ke pelukannya.


Kutumpahkan segala rasa di sana. Di dalam rengkuhan Tirta. Aku terus mengoceh, meyakinkan dirinya. Kuluapkan segala isi di hati. Sampai akhirnya semangatnya dan asanya kembali. Tirta berkata akan menungguku. Aku lega mendengarnya. Kami juga sepakat akan terus berkomunikasi via telepon nantinya. Tanpa sepengetahuan Ayah tentunya.


Ya, untuk sementara waktu aku dan Tirta harus LDR dan kucing-kucingan dengan Ayah. Tapi, aku yakin akan ada masanya di mana kami berdua tak perlu lagi menjalani hubungan dengan cara menyedihkan begini.


“Dulu kamu pernah bilang bahwa ‘jodoh pasti bertemu’ kamu masih percaya, kan, dengan kata itu?” Aku mencoba mengingatkannya tentang perkataannya beberapa tahun lalu di depan gerbang rumah lamaku yang ada di desa ini. Tirta tersenyum lantas memgangguk samara. Kemudian dia memelukku erat.


“Aku akan setia menunggumu,” lirihnya masih sambil memelukku.


“Dan aku akan datang padamu suatu saat nanti membawa restu dari kedua orangtuaku,” sahutku masih dalam rengkuhannya.


Mela mengingatkan aku bahwa waktunya untuk pulang. Perlahan pelukanku dan Tirta merenggang. Lalu akhirnya benar-benar terlepas.


***


Perpisahan kembali terjadi antara aku dan Tirta. Dia masih tetap tinggal di desa, di rumah Bayu. Sedang aku dan keluargaku kembali ke kota.


Hari telah berlalu berganti minggu dan bulan sampai tahun, aku tak pernah lelah berusaha meyakinkan Ayah, bahwa Tirta adalah lelaki pilihan hatiku. Ternyata perjuanganku tidak mudah dalam meyakinkan Ayah, ada banyak masalah yang terjadi. Terkadang aku dan Ayah sampai harus meninggikan suara lalu hubungan kami menjadi beku.


Tidak hanya itu, Ayah bahkan berusaha menjodohkan aku dengan beberapa lelaki yang menurutnya jauh lebih baik daripada Tirta. Namun, hatiku sama sekali tidak tertarik dengan pria pilihan Ayah itu.


Aku nyaris putus asa tidak tahu lagi bagaimana caranya meyakinkan Ayah. Aku sudah kehabisan cara dan akal. Pernah berpikir untuk kabur saja dari rumah. Kawin lari dengan Tirta, tapi tetap tidak tega pada kedua orangtuaku.


***


Dahiku nengernyit saat di layar ponsel tertera nomor tak dikenal menelepon. Biasanya kalau Tirta yang menelepon menggunakan nomor Bayu. Daripada penasaran kuputuskan untuk mengangkatnya. Lagi pula takut telepon penting juga.


“Halo!” Kucoba mengawali pembicaraan. Tak lama seseorang di ujung telepo sana menyahuti dengan kata ‘halo’ juga. Lagi, dahiku mnegernyit dibuatnya setelah mendengar suara si penelepon. Suaranya terdengar tidak asing di telingaku.


“Tirta!” seruku, pria di ujung telepon sana terkekeh, “kamu pakai nomor siapa?” tanyaku kemudian. Dia bilang sudah punya ponsel sendiri hasil dari kerja serabutan di desa. Dia bahkan sekarang ada di kota yang sama dengan yang kutinggali. Sedang mengadu nasib bersama dengan Bayu.


Aku dan Tirta sering diam-diam bertemu. Dia bercerita bahwa tidak mudah mencari pekerjaan yang bagus hanya berbekal ijazah SMA. Tirta akhirnya keterima bekerja jadi pelayan restoran.


Dia pekerja keras, tak jarang sering keceplosan memberikan ide-ide cemerlang untuk kemajuan restorannya. Di tahun kedua dia bekerja, aku mendapat kabar bahwa Tirta kini naik pangkat dari pelayan biasa jadi pengawas. Lalu sekarang ia dipercaya jadi pengelola restoran itu.


Setelah melewati berbagai macam kesulitan, jatuh bangun dan berdarah-darah akhirnya Tirta sampai pada titik sekarang. Aku selalu berusaha berada di sisinya. Mendampinginya di setiap langkahnya.


***


Bulan berlalu, Tirta semakin sibuk. Kami jadi jarang bertemu, bahkan nyaris tak pernah ada waktu untukku. Setiap kali kuajak bertemu dia selalu beralasan sedang sibuk. Pikiranku mulai kacau. Prasangka buruk terus menghantui. Pertanyaan demi pertanyaan terus berjejal memenuhi benakku. Mungkinkah dia memiliki wanita lain?


Bahkan Bayu juga seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Setiap kutanyai tengang Tirta seperti selalu menghindar dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Gelagatnya semakin menguatkan kecurigaanku. Aku mulai lelah dengan hubunganku. Rasanya ingin menyerah saja.


***


Satu tahun telah berlalu. Sudah selama itu hubunganku dengan Tirta membeku. Kami jarang bertemu, bahkan nyaris tak pernah bertemu lagi. Aku tidak mengerti kenapa dia sesibuk itu sampai tidak ada waktu untukku. Kini aku sudah berada di ujung kepasrahan. Terlintas di benak untuk menerima pinangan lelaki lain saja.


Namun, sore itu tepat di malam saat aku ulang tahun, Ayah datang membawakan aku sebuah hadiah tak terduga. Di dalam box yang super besar.

__ADS_1


“Apa ini, Yah?”


“Buka saja!” titah Ayah. Mama hanya tersenyum.


Aku pun langsung membuka box besar itu. Saat sudah terbuka menyembullah seseorang dari dalamnya dan menyodorkan kotak berisi cincin sambil berkata, “Maukah kau menikah denganku?”


Aku membungkam mulutku tak percaya dengan semua yang terjadi. Badanku limbung ke belakang nyaris ambruk. Ayah dan Tirta?


Ayah dan Mama bersorak menyuruhku menerima. Mela dan Bayu juga tiba-tiba datang dan ikut bersorak. Tangisku pecah. Tirta keluar dari box, lantas mengusap air mataku.


“Hei, jangan menangis!” ucapnya, “jadi, gimana? Diterima tidak ini lamarannya?” lanjutnya.


“Kalian jahat! Sejak kapan kalian merencanakan semua ini terhadapku?” sungutku kesal.


“Terima dulu cincinya. Baru nanti ayah ceritakan,” sahut Ayah.


Tepuk tangan mengalun riuh saat Tirta usai memakaikan cincin di jari manisku. Kami lanjut berpelukan.


“Eits! Sudah-sudah!” Ayah melerai pelukanku dan Tirta, “lanjut nanti kalau sudah nikah,” imbuhnya. Tawa semua orang yang ada di ruang tamu rumahku meledak riuh.


Ayah kemudian menceritakan bagaimana awal mula pertemuannya dengan Tirta. Saat Ayah meeting di restoran tempat kerja Tirta. Keduanya lanjut berbincang dari hati ke hati.


Kemudian Ayah meminta pada Tirta untuk jangan menemuiku lagi. Tujuannya supaya Tirta fokus bekerja dulu. Tidak hanya itu Ayah bahkan menguji lelaki yang sekarang telah resmi menjadi tunanganku itu dengan menempatkan dirinya di posisi penting dalam kantornya.


Terbukti Tirta punya potensi, dan dari sana juga Ayah jadi punya banyak waktu untuk mengenal lebih dalam sosok calon menantunya itu.


“Kenapa Ayah lakukan itu?” tanyaku parau.


“Ya, karena siapa saja yang nantinya berhasil menjadi suamimu, dia tidak hanya harus mecintai putriku dengan tulus, tapi dia juga harus punya potensi dalam bidang bisnis dan lain-lain. Makanya beberapa bulan terakhir ini ayah sedang menempa calon lakimu supaya nantinya bisa diandalkan untuk mengelola bisnis ayah,” terang Ayah panjang lebar. Aku tak bisa berhenti menangis.


Parahnya Mama, Mela dan Bayu juga tahu tentang rencana Ayah itu, tapi tidak ada satu pun yang keceplosan terhadapku. Mereka semua tertawa penuh kemenangan. Menyebalkan.


“Gimana nanti kalau nikahnya kita barengan aja?” celetuk Mela.


“Kalian juga ....” Aku menujuk Mela dan Bayu. Keduanya mengangguk membenarkan bahwa sudah jadian. Keterlaluan, mereka banyak sekali menyembunyikan rahasia dariku.


***


Kata ‘sah’ mengalun riuh usai Tirta mengucapkan ijab kabul. Sejurus kemudian semua menengadahkan tangan mengamini doa penutup acara sekaligus doa untuk keempat mempelai. Ya, aku dan Tirta juga Mela dan Bayu. Kami benar-benar menikah berjamaah.


“Setelah ini buatkan cucu yang banyak untuk ayah dan Mama,” celetuk Ayah. Aku dan Tirta saling pandang lalu menunduk malu. Gelak tawa tamu undangan pecah.


Pernikahan bukanlah akhir, tapi awal sebuah titian panjang.


Badai telah berlalu meninggalkan rona pelangi yang sangat indah.


T A M A T


**Dari Penulis Untuk Pembaca


Terima kasih banyak sudah mengikuti kisah Tirta dan Rania sampai ending. Maaf, jika banyak kekurangan baik dalam segi penyampaian cerita atau penulisan.


Maaf juga, jika ending ceritanya kurang memuaskan. Semoga masih mau dan tidak bosan untuk mengikuti cerita saya yang lain. Maaf juga, untuk komentar yang tidak bisa saya balas satu per satu, tapi sebenarnya sudah saya baca, dan jujur, komentar kalian itu penyamangat.


Maaf juga, jika saya sudah membuat Anda semua lama menunggu next partnya. Harap maklum ide kadang suka buntu.


Pokoknya terima kasih banyak buat yang sudah terus mantengin cerita TUMBAL KETUJUH sampai episode ending. Maaf atas segala kekurangan. Tanpa kalian tulisan saya hanyalah butiran debu. I love you, gaes. 😘😘😘😘😘

__ADS_1


Salam sayang dariku untuk kalian semua tanpa terkecuali.😘**


__ADS_2