TUMBAL KETUJUH

TUMBAL KETUJUH
Bebas


__ADS_3

Hari-hari yang menegangkan telah terlewati. Kini, aku dan lelakiku terbaring di rumah sakit. Kondisi kami masih lemah usai menerima siksaan luar biasa dari Hendarto dan Rudi.


Kedua pria biadab itu telah wafat, karena lari terbirit-birit usai melihat penampakan Maya yang berubah wujud sangat mengerikan. Hendarto jatuh ke jurang yang ada di dekat vila terbengkalai tempat penyekapan kami berdua kala itu. Sedangkan Rudi, jatuh, tepat di area jantungnya tertancap tunggul kayu runcing dan meninggal seketika itu juga. Beberapa anak buah mereka yang terlibat penyekapan terhadap kami berdua, telah ditahan di kantor polisi. Kasus kematian Maya telah terungkap, pelakunya telah menerima ganjaran setimpal. Nyawa dibayar nyawa. Semalam, Maya mendatangiku di dalam mimpi, dia tersenyum bahagia, lalu melambaikan tangan padaku sebelum akhirnya menghilang ditelan cahaya yang begitu terang.


*****


“Bagaimana kamu bisa menemukan aku waktu itu?” tanyaku pada lelakiku, setelah kami dinyatakan sehat dan kini sudah berada di rumah. Kami sedang duduk santai di pinggir kolam.


“Maya yang memberitahu semuanya.”


Aku menarik diri dari rengkuhannya. Lantas menatap wajah lelakiku lekat. “Jadi, sekarang indera keenam kamu juga terbuka lagi?”


“Kurasa begitu,” jawabnya, “Mungkin mulai sekarang kita harus mulai membiasakan diri lagi dengan mereka yang tak kasat mata. Bukan hanya kita, tapi Bayu juga.”


“Hah?!” Aku terperangah mendengarnya, “Bayu juga terbuka lagi mata batinnya?” Suamiku mengangguk membenarkan.


“Mungkin, memang ini takdir kita.” Lelakiku menarik kembali tubuhku ke dalam dekapannya. Aku bantalan sisi dadanya. Dia sibuk membelai rambutku.


“Kok, bisa, Bayu juga terbuka lagi mata batinnya?” tanyaku sambil menatap wajah lelakiku.


“Kemarin yang nyelamatin kita, kan, Bayu dan Mela. Maya yang menuntun Bayu ke tempat kita disekap,” papar suamiku. Waktu itu, aku sudah tak sadarkan diri. Meriang dan kelaparan juga kehausan. Kekurangan cairan, makanya pingsan hingga berjam-jam menurut penuturan suamiku. Ketika sadar sudah di rumah sakit dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuh ini. Makanya, aku tidak tahu bagaimana proses penyelamatan kami dan siapa penyelamatnya. Untuk ke sekian kalinya, kami lolos dari kematian dan masih diberi keselamatan. Terima kasih, Tuhan, atas kesempatan keduanya.


****


“Rumah sebelah sudah sold out,” celetuk Ayah saat kami makan malam bersama di meja makan.


“Oya?” sahut Mama.


“Hmmm, tadi ayah liat ada orang baru menempati rumah sebelah. Suaminya nyapa sekilas doang pas sambil nurunin barang dari mobil,” terang Ayah.


“Pantesan, malam ini lampunya terang banget. Sudah ada yang nempatin rupanya.” Suamiku menyahut.

__ADS_1


Rumah sebelah memang sangat mewah dan megah, tetapi sudah lama kosong. Sudah lama juga dijual, tapi baru laku kali ini. Beberapa kali ada yang mau membeli, tetapi entah apa sebabnya hingga akhirnya pembeli membatalkan secara sepihak. Dari kabar burung yang aku dengar, konon rumah sebelah auranya negatif. Namun, sejauh ini aku tidak pernah merasakan keanehan itu, sih. Entah kalau belum.


*****


“Aku seneng banget akhirnya bisa ngumpul sama temen-temen lagi, Yang,” kataku memecah hening. Saat kami berada di dalam mobil sepulang dari nongkrong.


“Aku juga, Ay. Bersyukur banget ya, kita masih diberi kesempatan untuk hidup,” sahut lelakiku. Aku pun menyandarkan kepalaku di lengannya. Kuhirup aroma tubuhnya yang laksana obat penenang bagiku. Dia melirikku sekilas dan mengulas senyum, sedang tangannya fokus bertumpu pada setir.


Mobil berhenti saat sampai di depan pagar. Aku turun membuka pagar. Langkahku melambat saat mendengar suara tangis dari arah rumah sebelah.


“Kenapa, Yang?” tanya lelakiku. Aku memberinya isyarat lewat gerakan tangan agar diam. Aku melangkah perlahan ke depan pagar rumah sebelah. Suamiku sepertinya penasaran, dia pun turun dari mobil dan mengekor.


“Ada apaan, sih?” bisiknya di belakangku.


Aku menghentikan langkah. Suamiku juga ikut berhenti. “Kamu denger nggak, ada yang nangis?” lirihku. Suamiku terdiam sejenak. Menajamkan pendengaran mungkin. Detik kemudian dia mengangguk.


“Kita periksa ya, siapa tahu orang butuh bantuan,” ajakku. Lelakiku mengangguk setuju. Kami melangkah perlahan ke rumah sebelah. Sampai di depan pagar, kami memonitor ke dalam pekarangan rumah. Tampak bocah perempuan berambut panjang sedang duduk memeluk lutut di balik pagar. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu. Entah apa penyebabnya.


“Hai, namanya siapa?” tanyaku sambil berjongkok berusaha menyejajarkan posisi.


“Nia,” jawabnya singkat. Suaranya masih parau.


“Kenapa malam-malam gini di luar? Kenapa nangis?” cecar lelakiku.


“Satu-satu kalau nanya,” sentakku.


“Oke, maaf,” lirih lelakiku.


“Aku terganggu, nggak nyaman,” jawab Nia.


“Terganggu ... bagaimana?” tanyaku tak mengerti. Nia menunduk dalam, lalu menggeleng. Sepertinya dia tidak mau cerita.

__ADS_1


“Ya, sudah, sebaiknya Nia masuk ke dalam terus istirahat. Ini udah malem, sebentar lagi mau hujan. Nih, udah gerimis. Nia masuk rumah, ya! Kami juga mau masuk rumah,” tutur suamiku. Nia mengangguk. Kami pamitan dan berpisah dengan Nia. Baru saja aku sampai di balik pintu, hujan turun dengan begitu derasnya. Suamiku merangkul bahu ini, lalu berbisik, “Cuacanya mendukung.” Aku mencubit pinggangnya, dia mengaduh.


****


Di pagi yang cerah ini aku memutuskan untuk joging keliling kompleks. Daun-daun memang masih basah sisa hujan semalam, tetapi mentari bersinar gemilau, langit pun membiru. Sebiru cinta kami. Kebetulan juga ini hari libur.


Saat aku dan lelakiku melewati depan rumah Nia. Terlihat kedua orangtua Nia yang juga sedang bersiap hendak joging. Aku pun mengajak suamiku untuk berhenti tepat di depan pagar, guna menunggu mereka. Sekalian mau berkenalan dan membahas soal Nia semalam. Kasihan gadis kecil itu.


“Pagi, Bu, Pak,” sapaku setelah mereka keluar pagar. Suamiku hanya mengangguk ramah saja sambil mengulas senyum.


“Pagi,” balas mereka kompak. Aku lanjut memperkenalkan diriku, disusul suamiku. Kini, aku tahu nama tetangga baruku ini. Ibu Sania dan Pak Aditya.


“Maaf, ya, kami belum sempat silaturahmi. Rencananya sih, sehabis joging ini kami baru akan berkunjung,” papar Bu Sania kemudian.


“Oh, santai saja, Bu. Kami maklum kok. Namanya juga baru pindahan. Pasti kan, sibuk sekali, ya,” sahutku.


“Ya, begitulah, Mbak Rania, Mas Tirta.” Kali ini Pak Aditya yang menyahut.


“Oya, Nia mana, Bu? Apa dia masih sedih? Soalnya semalam dia nangis-nangis di situ.” Aku tunjuk tempat di mana semalam Nia menangis. Bu Sania dan Pak Aditya saling pandang. Raut wajah mereka tampak kebingungan.


“Eum, maaf, Nia siapa, ya?” sahut Bu Sania.


Aku dan suamiku saling tatap. Timbul perasaan tidak enak dalam hati ini. “Nia ... anak Ibu dan Bapak, ‘kan?”


Pak Aditya dan Bu Sania saling pandang, lalu menolehku. “Maaf, Mbak Rania, tapi kami tidak punya anak,” terang Bu Sania. Sontak aku menoleh ke arah lelakiku. Kami terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya, kami sepakat mengakhiri perbincangan dan memilih melanjutkan aktivitas.


“Yang, kamu semalam lihat kan, penampakan Nia itu?” tanyaku memastikan. Dan suamiku mengangguk mengiyakan.


“Siapa dia sebenarnya?” lanjutku penasaran.


“Sudahlah, tak usah dipikirkan, Sayang.” Tirta mengusap rambut ini, masih sambil berlari perlahan.

__ADS_1


__ADS_2