
Aku mengerjap saat sepasang telingaku samar mendengar namaku diteriakkan oleh beberapa orang.
“Rania! Hei, sadarlah!” Aku merespon dengan lenguhan saat kurasakan pipi ini ditepuk-tepuk oleh ... entah siapa itu. Pandangan mataku masih buram. Ah, rupanya itu tadi Mela. Kini pandangan mataku sudah kembali normal.
Aku berusaha duduk dan menyangga kepala yang terasa sakit. Lantas mengamati sekeliling. Rupanya aku sudah berada di kamar. Mela duduk di tepi dipan, di sebelahku. Mang Ule ada di tepi bagian bawah, di sisi kakiku. Sedang Sekar dan Tirta berdiri agak jauh dari ranjang.
Kuedarkan pandangan sekali lagi. Mbah Barjo dan istrinya belum terlihat. Kurasa mereka belum pulang dari ladang.
Sekar mendekat ke samping dipan, dan bersedekap. “Kenapa kamu bisa pingsan di depan kamar Bapakku?” cecarnya.
Aku mengalihkan pandangan ke Mela sejurus kemudian melihat ke arah Mang Ule. “Tadinya, aku dari dapur ambil minum. Pas sampai di depan kamar Bapakmu, tiba-tiba kepalaku pusing dan setelahnya aku tidak tahu apa yang terjadi,” dalihku.
“Rania ini memang punya penyakit. Suka tiba-tiba pusing, mimisan dan bahkan sampai pingsan,” bela Mela.
“Iya. Kasihan, sudah lama sakit begini, tapi sampai sekarang belum ketemu obat yang cocok.” Mang Ule ikut nimbrung. Tumben bisa kompak, meski tanpa di briefing terlebih dahulu. Sekar terlihat masih ragu dengan penjelasan kami, tapi akhirnya memilih pergi bersama Tirta meninggalkan kamar.
Setelah Sekar menjauh, Mela menutup pintu kamar dan .... “Eh, gimana ceritanya kamu bisa pingsan kayak tadi?” tanyanya dengan nada berbisik.
“Semua terjadi begitu saja, Mel,” jawabku dengan nada berbisik juga.
“Terus, gimana? Kamu sudah berhasil melenyapkan kitab dan jimat-jimat milik Mbah Barjo?” lirih Mela.
Aku menggeleng. “Masih negatif,” jawabku lesu.
“Terus gimana dong? Apa rencana selanjutnya?” tanya Mela, “jujur, aku sudah nggak betah di sini,” imbuhnya.
“Sabar, ya, semoga paling lama besok masalah kita di sini clear,” ujarku tidak yakin. Mela menghela napas panjang lalu mengangguk. Pun dengan Mang Ule.
***
Menjelang petang, aku ke dapur dengan alasan membantu masak untuk makan malam. Saat Mbok Patmi lengah, kutuangkan bubuk daun kelor ke dalam makanan yang siap saji. Ini sudah yang ketiga kalinya aku berhasil memasukkan bubuk kelor ke dalam makanan. Konon setelah minimal tiga kali atau maksimal tujuh kali maka akan melunturkan ilmu yang ada dalam diri seseorang. Semoga saja setelah ini satu rencanaku berhasil. Nanti atau besok tinggal meleburkan kitab dan jimat milik Mbah Barjo.
Syukurlah, masakan yang aku taburi bubuk kelor telah berhasil dimakan oleh keluarga dukun itu. Tapi, kenapa tidak bereaksi sama sekali, ya?
Konon jika bubuk kelor bereaksi maka target akan menggigil seperti orang demam, tapi Mbah Barjo dan keluarganya sejauh ini terlihat baik-baik saja. Apa mesti harus tujuh kali baru bereaksi. Jika begitu adanya bakal gawat. Karena bubuk kelornya sudah habis. Duh, gimana ini?
__ADS_1
***
Menjelang tengah malam, aku masih gelisah memikirkan rencana selanjutnya. Sambil mendengar barangkali Mbah Barjo bereaksi pasca makan makanan yang kutaburi bubuk kelor tadi. Tapi, masih sepi. Tidak ada suara gaduh atau semacamnya.
“Mel,” bisikku. Mela hanya merespon dangan lenguhan. Kemudian terlelap lagi. Dasar kebo!
Mendadak kebelet pengen buang air kecil. Aku turun dari ranjang perlahan agar tidak menimbulkan deritan. Kemudian melangkah pelan-pelan keluar kamar. Pun saat menutup pintunya kulakukan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara berisik.
Kemudian aku berjalan mengendap-endap menuju ke arah dapur. Rencananya mau keluar lewat pintu dapur itu untuk menuju sendang yang ada di belakang rumah. Namun, langkahku terhenti manakala mendengar seperti orang berbincang lirih.
Aku berjalan maju perlahan. Kemudian berdiri menguping di sudut tembok. Mengintip sedikit, kulihat Mbah Barjo dan Mbok Patmi sedang berbincang lirih di depan kamar ritual.
“Apa kamu yakin?” tanya Mbah Barjo pada istrinya.
“Ya, aku sangat yakin, Pak. Bahwa perawan yang bernama Mela itulah yang diinginkan oleh Kanjeng Pangeran,” jawab Mbok Patmi.
Dahiku mengernyit, aku tidak tahu siapa yang dimaksud dengan ‘kanjeng pangeran’ itu?
“Semalam Kanjeng Pangeran menemuiku di alam mimpi, dan dia berkata agar kita menumbalkan Mela tepat di saat malam satu suro. Yaitu besok malam,” lanjut Mbok Patmi. Aku membungkam mulutku yang menganga tak percaya. Gawat! Mela mau dijadikan tumbal. Pantas saja sikap sepasang dukun tenung itu berubah baik pada kami. Ternyata ada udang di balik batu.
Oke, berarti besok siang semua rencana ini harus sudah clear supaya bisa segera pergi dari sini. Dan supaya Mela tetap aman.
Aku memilih kembali ke kamar pelan-pelan sambil menahan pipis. Daripada menimbulkan kecurigaan di hati Mbah Barjo dan istrinya.
Aku memilih berbaring di samping Mela setelah gelisah memikirkan rencana selanjutnya, dan otakku buntu. Serta secara tiba-tiba kantuk menyerang mataku yang semula susah dipejamkan.
***
Aku terbangun, meraba ke tempat Mela. Kosong. Aku langsung duduk dan melihat ke tempat di mana seharusnya Mela tidur.
“Mel, Mela!” panggilku, tapi tidak ada sahutan dari sahabatku itu. Ke mana dia? Tidak biasanya Mela bangun sefajar ini.
Aku ke luar kamar, memeriksa seluruh penjuru ruang. Bahkan sampai di dapur, tapi Mela tidak terlihat sama sekali. Rasa cemas mulai menggelayuti hati. Aku berjalan setengah berlari ke ruang tamu.
“Mang Ule, bangun!” Kubangunkan Mang Ule yang masih meringkuk di dalam selimut.
__ADS_1
“Hemh, ada apa, Non?” sahutnya. Lantas bangun dengan malas.
“Mamang lihat Mela, nggak?” tanyaku lirih.
“Saya, kan, baru bangun, Non. Nggak liat. Bukannya tidur sama Non, kok malah nanya ke mamang. Gimana to?” Mang Ule lanjut menguap.
“Kalau Mela ada di kamar, aku nggak akan mencari-cari dan nanya ke Mamang,” sahutku penuh penekanan.
“Sudah coba dicari ke sendang belakang rumah, belum, Non?” Tanpa menjawab, aku langsung berdiri dan bergegas ke sendang belakang rumah. Tapi, di sana juga tidak ada. Aku semakin cemas akan kondisi Mela. Terlebih saat ingat tentang pembicaraan Mbok Patmi dan Mbah Barjo semalam.
Aku kembali ke dalam rumah dalam keadaan bingung dan panik.
“Gimana Non? Non Melanya ada?”
Aku menggeleng lesu. “Nihil, Mang.”
“Duh, Non Mela ke mana, ya, kira-kira. Pagi-pagi sudah bikin khawatir saja,” gumam Mang Ule. “Oh, atau mungkin Non Mela keliling di perkebunan pinus kali,” lanjutnya kemudian.
“Ya sudah, Mamang coba cari ke sekeliling. Aku coba periksa dalam rumah ini sekali lagi.” Sesuai arahanku, Mang Ule langsung bergegas keluar rumah mencari Mela di sekeliling. Sedang aku, perlahan masuk ke dalam kamar Mbah Barjo. Sepasang suami istri itu sudah tidak ada di dalam kamarnya.
Sial! Sepertinya Mbah Barjo dan Mbok Patmi bergerak lebih cepat dari yang aku duga.
Kaki ini terasa lemas membayangkan bagaimana nasib Mela. Tidak! Aku tidak mau kehilangan sahabatku yang lain demi menyelamatkan lainnya. Aku ingin semua keluar dengan selamat dari rumah rasa neraka ini.
Kuusap air mata yang mengaliri pipi, lantas berjalan ke ruang ritual. Barangkali Mela di sekap di sana, tapi lagi-lagi kosong. Hanya ada beberapa macam sesajen seperti biasa, dan dupa yang selalu menyala di dalam ruangan itu.
Tepat saat aku keluar dari ruang ritual, Mang Ule datang dan menggeleng lesu. Pertanda pencariannya tidak membuahkan hasil.
“Kamar Sekar sudah diperiksa belum, Non?”
Aku tidak menjawab tanya yang Mang Ule lontarkan. Langsung berlari melihat kamar Sekar. Sial! Kosong juga. Bahkan Tirta juga tidak ada.
Fiks, hilangnya Mela ada kaitannya dengan kepergian Mbah Barjo dan Mbok Patmi juga Sekar.
Lantas, Mela dan Tirta dibawa ke mana?
__ADS_1